Untuk Revan #45

0
266
views

Sebuah lagu untukmu


Note: Sekedar kasih kejelasan karena beberapa ada yang salah mengartikan/ nggak paham soal ucapan Revan yang bilang.

“Mereka udah berani sentuh kamu. Aku nggak suka itu. Karena kamu milik aku, dan hanya untuk aku.”

Nah itu maksud dari kata ‘Udah berani sentuh kamu.’ itu artinya bukan Vania udah nggak suci lagi. Tapi. Kalian baca sendiri, kan? Kalau Vania itu dipeluk sama Zero dibelai wajahnya, dan diusap kepalanya sama Justin. Nah maksud dari kata ‘sentuh’ itu kayak gitu.

Kalian tahu sendiri, kan? Revan possesivenya kayak apa. Arkana aja waktu itu mau kenalan tanganya ditepis kasar sama Revan. Bahkan Vania disita sama Kakaknya pun sampe uring-uringan nggak jelas, kan? Nah maksudnya kayak gitu. Bukan Vania udah nggak suci lagi.
Ngerti, kan, sekarang?
Sekian!
__________________
“Pake!”
“Nggak!”
“Pake aku bilang!”
“Nggak mau!”
“Pake Revan!”
“Nggak mau Vania!”
Saka, Irfan, Rini dan Amanda menghembuskan nafasnya melihat perdebatan keduanya yang sedari tadi tidak kunjung usai. Padahal hanya karena masalah kursi roda. Kenapa? Karena Revan tidak mau pulang menggunakan kursi roda.

Ya, Revan hari ini diperbolehkan pulang setelah bersemedi di rumah sakit selama lebih dari satu minggu lamanya. Tapi, akibat pukulan di tulang punggungnya membuat beberala saraf-saraf Revan agak sedikit terganggu yang membuatnya menjadi lemas dan seperti tidak bertenaga, bahkan mungkin berjalan saja dia masih lemas. Oleh sebab itu Vania menyuruh Revan pulang menggunakan kursi roda, padahal hanya sampai depan rumah sakit. Tapi sangat sulit membujuk cowok ini. Namanya juga Revan keras kepala.

Rasa-rasanya Vania ingin mencubit lagi roti sobek cowok ini kalau saja tidak mengingat bahwa dia masih belum pulih.

Vania menghembuskan nafasnya kasar, dia menatap Revan dengan senyum dipaksakan selebar mungkin. “Sayang, pake ya? Ini cuma sampe depan rumah sakit lo,” ucap Vania penuh penekanan sambil berusaha menahan diri untuk tidak meledak.

Revan tetap mengeleng.”Nggak mau,” jawabnya sambil menekankan disetiap kata.
“Sabar Vania sabar,” ucap Vania dalam hati.

Rini dan Amanda menahan tawa melihat Vania yang berusaha menahan emosinya.
Irfan bersidekap dada.”Cuma sampe depan rumah sakit doang Re,” katanya membuat Revan yang sedang duduk-duduk manis di ranjang itu segera menolehkan kepalanya pada Irfan.
“Dan itu nggak akan selamanya,” kata Saka.

“Sekali nggak ya nggak!” kekeuhnya tidak mau dibantah.
Saka hanya menghembuskan nafasnya kasar mendengar itu.
Irfan memutar bola matanya malas. Emang keras kepala Revan.”Yaudah Van, biar gue aja yang pake, lo yang dorong,” katanya enteng membuat Revan membulatkan bola matanya.
“Loh apa-apaan lo?! Kok malah lo yang pake! Suruh Vania yang dorong lagi!” kesal Revan.
“Dih, katanya nggak mau pake. Biar gue aja yang pake, Vania yang dorong. Kan lumayan nggak perlu jalan, didorong sama incess lagi,” ucapnya lagi sambil menaik turunkan halisnya.
“Iya nggak, Van?” tanya Irfan membuat Vania mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
“Ayo, Fan. Lo naik,” kata Vania sambil beranjak dari duduknya membuat Revan yang kesal lantas segera menarik Vania kesisinya lagi sehingga Vania menjadi duduk kembali. Apa-apaan? Dia yang sakit kok malah Irfan yang enak! Ini lagi, kenapa Vania mau saja. Harusnya Vania membujuk dirinya lagi dong, bukan malah menuruti saran dari Irfan.

“Kamu apa-apaan sih?! Kok malah nurutin Irfan!” ucap Revan tidak suka.
Irfan menghembuskan nafasnya.”Nah, giliran ceweknya dilirik dikit langsung naik darah.”
“Apa lo bisik-bisik!” sewot Revan membuat Irfan mendelik.”Sensi amat lo!” kesal Irfan. Saka hanya memutar bola matanya malas melihat perdebatan yang sama sekali menurutnya tidak ada faedahnya sama sekali.

“Masih mau nolak? Kalau gitu terus, yaudah aku dorong Irfan aja,” ucap Vania enteng membuat Irfan mengembangkan senyumnya.
“Eh jangan dong!” sambar Revan cepat.
“Yaudah makanya nurut!”
“Ya tapi aku nggak mau pake kursi roda!”
“Kamu masih lemes Re! Sampe depan rumah sakit doang!” kesal Vania. Susah sekali membujuk Revan kali ini.
“Pokoknya nggak mau!”
Rini dan Amanda saling tatap, kemudian mereka menggelengkan kepalanya pelan.
“Kalau gue jadi Vania, udah gue seret tuh si Revan,” bisik Amanda pada Rini.
Rini mengeluarkan kipas bulu-bulu pinknya, lalu mengipasi dirinya dengan gaya centilnya.”Huh! Kalau gue jadi Vania, gue udah meledak dari tadi. Di perhatiin malah nggak mau nurut,” ucapnya sama-sama berbisik, tapi kali ini dia berbicara sambil menghalangi mulutnya dengan kipas andalannya itu.

Pintu ruangan itu terbuka, yang mana memperlihatkan Jasmine dan Reno, juga Fahri dan Viola.
“E-eh kalian kenapa? Kok berantem?” ucap Viola membuat Revan dan Vania yang tidak sadar kalau kedua orang tuanya datang saking sibuk berdebat itu mengalihkan pandanganya.
“Loh, Mama sama Papa kapan datang?”

“Bunda sama Ayah juga kapan datang?” tanya keduanya terheran-heran membuat keempat orang tua itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa ringan.

“Kalian dari tadi debat mulu, sampe nggak sadar kalau kita datang,” jawab Jasmine membuat keduanya hanya tersenyum kikuk.

“Emangnya kenapa si? Kok pada nggak mau ngalah,” ucap Fahri merasa heran.
“Revan nggak mau pake kursi roda Om,” jawab Irfan membuat keempat orang tua itu menoleh padanya.

Salah satu tangan Reno berkacak pinggang.”Kenapa nggak mau?”
“Ya pokoknya Revan nggak mau!” jawab Revan cepat membuat Reno dan Jasmine saling tatap.
Anaknya memang keras kepala, harus ekstra sabar menghadapi Revan yang seperti ini. Jika tidak mempunyai kesabaran yang lebih, dipastikan Revan akan membuatnya meledak.
Fahri dan Viola menatap Vania, Vania yang mengerti tatapan itu lantas menggelengkan kepalanya pelan. Padahal biasanya Revan akan mudah nurut jika Vania yang membujuknya, tapi kali ini rupanya dia sedang susah dijinakan.

“Re k–”
“Nggak mau Vania!” potong Revan membuat Vania tidak jadi melanjutkan ucapanya. Ayolah, Revan benar-benar tidak mau kalau harus memakai kursi roda, menurutnya itu sangat terdengar berlebihan.

“Emangnya kamu kuat jalan?” tanya Reno membuat Revan menatap Ayahnya itu dengan pandangan sulit diartikan.

“Kuatlah!” jawab Revan yakin, walau sejujurnya dia tidak sepenuhnya yakin. Sial! Gara-gara Rendi dia harus seperti ini.

“Coba jalan,” ucap Reno menantang membuat Jasmine mendelik padanya. Reno yang mengerti tatapan Jasmine lantas hanya memberikan isyarat lewat gerakan mata agar menyuruh Istrinya itu mengikuti apa yang dia lakukan.

Biarkan, Revan harus kena getahnya dulu agar bisa dijinakan. Dasar Singa!
“Oke!” jawab Revan gamblang. Vania yang mendengar itu agak was-was. Begitu pun semua yang ada disitu.

Revan mulai berdiri. Masih baik, langkah kedua dan ketiga masih kuat, begitu pun langkah keempat, tetapi dilangkah berikutnya Revan hendak jatuh membuat Vania yang berada di sampingnya langsung menahan tubuh Revan beserta Jasmine yang releks ikut menahan. Semua sedikit tersentak kaget melihat itu.

“Nah, kan. Masih nggak mau nurut?” ucap Reno membuat Revan menghembuskan nafasnya kasar. Ck! Rasa-rasanya dirinya benar-benar terlihat lemah sekarang. Dan Revan tidak suka itu!
“Re, pake ya? Ini nggak akan lama kok,” ucap Jasmine membuat Revan menatap Bundanya itu. Jasmine dan Vania masih tetap menahan tubuh Revan.
“Sebentar doang Re,” lanjut Vania.

Revan menghembuskan nafasnya pelan. Mau bagaimana lagi? Mungkin dirinya memang harus menurut untuk memakai benda ini.”Oke,” jawab Revan ogah-ogahan.

Semua sedikit mengembangkan senyumnya mendengar penuturan Revan. Vania lantas membantu Revan untuk duduk di kursi roda itu. Lalu mereka pun pergi dari ruangan tersebut.

***
“Makan!”
“Nggak! Nanti aja!”
“Sekarang!”
“Nanti, aku nggak lapar,” kekeuh Revan sambil menjauhkan sendok makanan itu dari hadapanya.

Astagfirullah. Vania benar-benar dibuat emosi dengan kelakuan Revan hari ini. Tadi di rumah sakit, lalu saat hendak menuju kamar mereka berdebat lagi karena Revan tidak mau tidur di kamar yang berada di lantai bawah, kamarnya berada di lantai dua, otomatis harus naik tangga, dan kondisi Revan masih seperti ini. Tapi dengan keras kepalanya Revan tetap ingin tidur di kamarnya ini, yang alhasil membuat mereka hanya bisa menuruti keiinginan cowok ini dan membantunya menaiki tangga.

“Obatnya harus diminum Revan! Dan kamu harus makan dulu!” kesal Vania sambil mengertakan giginya gemas.

Revan tetap menggeleng.”Nggak mau, nanti aja.”
“Harus sekarang.”
“Pokoknya nanti!” kekeuh Revan.
“Jangan keras kepala mulu deh Re!” kata Vania kesal bukan main.
Revan terdiam dengan pandangan datarnya, bibirnya sedikit maju, dan itu malah membuat Vania gemas melihatnya. Tetapi, Vania berusaha menahan diri untuk tidak mencubit kedua pipi cowoknya itu. “Makan ya?” ucap Vania sambil kembali menyerahkan sendok kehadapan Revan.
Lagi dan lagi Revan menjauhkan sendok itu.”Aku bilang nggak mau ya nggak mau!”
Vania menghembuskan nafasnya kasar lalu beralih menyimpan sendok itu di piring yang ada di nakas.”Terus maunya apa?” tanya Vania jengah.

Revan yang berada di atas kasur sedangkan Vania dibibir kasur mendekatkan diri pada Vania lalu memeluknya membuat Vania sedikit tersentak kaget.”Maunya gini,” ucapnya sambil menyembunyikan kepalanya diceruk leher Vania.

Vania menghembuskan nafasnya lagi.”Mau sampe kapan gininya? Kamu belum makan, obat juga belum diminum.”

“Ya sepuas aku aja,” jawab Revan enteng membuat Vania lagi-lagi merasa kesal.
Revan mengambil tangan kanan Vania lalu meletakanya dipuncak kepalanya.”Usapin dong.” Manjanya sudah mulai membuat Vania memutar bola matanya walau pada akhirnya dia menuruti kemauan Revan sambi membalas pelukan cowok itu membuat Revan tersenyum.

“Re?” Revan hanya menjawab dengan dehemanya.
“Makan dulu.”
“Nggak mau,” jawab Revan masih keras kepalanya.
Entah harus bagaimana lagi untuk membujuk Revan agar mau makan, yang jelas rasanya Vania sekarang ingin menjambak rambut cowok ini kalau saja dia tidak memiliki hati. Selang beberapa menit, hanya kebisuan yang tercipta, hingga suara dengkuran halus membuat Vania sedikit tersentak.

Vania lantas melirik Revan. Cowok itu malah tidur dengan nyenyaknya, sepertinya saking enak dan nyamanya Revan sampai tertidur seperti ini.”Re? Re minum obatnya dulu. Jangan tidur dulu,” ucap Vania sambil menepuk pelan pipi Revan.

Tetapi Revan tetap bergeming, detik berikutnya dia sedikit terusik tetapi malah membuat posisi senyaman mungkin dengan Vania yang masih tetap dia peluk. Vania kira Revan akan bangun, tapi Revan justru malah tidur lagi dengan pelukanya yang semakin erat.

“Revan! Minum obat dulu!” ucap Vania lagi tetapi tetap saja Revan tidur dengan kepala yang kini beralih dia sandarkan dipundak Vania.

Vania menghembuskan nafasnya. Sepertinya percuma membangunkan Revan yang sudah tertidur seperti ini. Vania lantas kembali mengusap rambut cowok itu. Senyum Vania terukir ketika mengingat baru kali ini lagi dia bisa melihat Revan yang manja padanya.

Karena tidak mungkin dengan posisi seperti ini terus, Vania perlahan melepaskan tangan Revan yang melingkar dipinggangnya. Untungnya Revan tidak terusik. Perlahan, Vania membaringkan tubuh Revan walau dia juga harus ikut berbaring terlebih dahulu.

Vania lalu menyelimuti Revan sebatas dada. Senyumnya kembali terukir melihat wajah damai Revan, Vania terdiam untuk beberapa saat sambil memandangi wajah Revan dan mengusap halus wajah itu dengan ibu jarinya. Vania mendekatkan diri dan mencium kening Revan dengan senyum yang terus terukir.”Mimpi indah sayang.”

***

“BATU BANGET LO! GUE TENDANG JUGA LO!” kesal Sheila pada Revan yang tidak kunjung mau makan dan meminum obatnya.

“Suruh siapa Vania pulang. Gue nggak nyuruh tuh,” jawab Revan tak acuh.
Sheila menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nafasnya pelan. Revan hari ini benar-benar keras kepala bukan main. “Salah sendiri lo tidur!”
“Tapi gue nggak nyuruh Vania pulang. Lo juga kenapa tadi pake anterin dia pulang!” ucap Revan tidak mau kalah.

Sheila beranjak dari duduknya, mereka memang berada di balkon kamar Revan. Revan mengikuti pergerakan Kakaknya itu. Beberapa jam yang lalu Revan baru bangun, dan ternyata Vania sudah pulang membuat Revan tadi uring-uringan nggak jelas pada semua orang di rumah. Obat dan makanya sedari tadi belum juga dia minum.

Sheila mendelik saat Revan memperhatikanya.”Apa lo liat-liat?!”
“Sewot lo!” ucap Revan tajam lalu dia kembali lagi menghadap depan.
Pintu kamar Revan terbuka yang mana memperlihatkan Jasmine.”Gimana?” tanyanya pada Sheila membuat Sheila mengedikan sebelah bahunya cuek. Jasmine menghebuskan nafasnya kasar mendengar itu.

“Telpon Vania,” ucapnya membuat Sheila menganggukan kepalanya. Jasmine lalu kembali keluar kamar.

Sheila langsung menghubungi Vania.”Halo Van?”

“….”

“Lo kesini ya? Nanti supir yang jemput lo.”

“….”

Sheila menggembuskan nafasnya kasar.”Dia nggak mau makan sama minum obat sebelum lo datang.”

“….”

“Nggak tahu deh gue mau bujuk dia gimana lagi. Kepala batu tuh anak, bikin orang naik darah aja,” jawab Sheila setengah kesal.

“….”

“Oke. Bentar lagi supir jemput lo.”

“….”

Sheila lalu kembali mematikan telponya. Dia melirik Revan yang ternyata tengah menatap tajam kearahnya.”Apa lo liat-liat?!”

“Lo telpon Vania?!”
Sheila memutar bola matanya malas.”Menurut lo?!” kata Sheila kesal membuat Revan berdecak sebal karenanya, pantas saja saat Revan menelpon Vania dia sibuk. Rupanya dia sedang telponan bersama Kakaknya. Menyebalkan.

Sheila lantas berjalan keluar kamar dari pada harus menghadapi Adiknya yang bisa membuat kepalanya meledak karena sifat keras kepalanya.

Revan yang melihat itu lantas kembali menghadap depan, dia membaringkan tubuhnya dengan satu lenganya yang dia jadikan bantal. Revan memejamkan matanya menikmati sentuhan angin malam yang menerpa halus wajahnya.

Beberapa menit berlalu. Revan masih tetap menikmati angin malam itu.
“Bandel banget ya!” refleks Revan membuka matanya dan melihat Vania yang berdiri di sampingnya sambil membawa nampan. Bisa dipastikan Vania membawa makan dan juga obatnya.

Revan malah mengembangkan senyumnya selebar mungkin, sementara Vania hanya menatap Revan dengan pandangan kesal. Vania lantas duduk di samping Revan. “Makan!” titah Vania galak.

Dengan santainya Revan malah meletakan kepalanya dipangkuan Vania.”Makan dulu!” gemas Vania sambil mencubit pipi Revan dengan cukup keras membuat Revan sedikit meringis.
“Sakit tahu!” kesal Revan sambil mengusap pipinya yang tadi Vania cubit.
“Yaudah makan dulu!” gemas Vania.

Revan menghembuskan nafasnya lalu dia beranjak duduk.”Suapin,” katanya membuat Vania menghembuskan nafas jengah. Sudah Vania duga kalau Revan pasti akan seperti ini.
Vania lantas mengambil piring yang tadi dia letakan di sampingnya lau mulai menyuapi Revan dengan sabar.”Kamu kesini sama siapa?”

“Dijemput sama supir,” jawab Vania membuat Revan hanya mengangguk kecil.
“Kenapa tadi kamu pulang?” tanya Revan.

Vania menyuapinya terlebih dahulu.”Kamu kan tidur, Re.”
“Harusnya kamu nggak boleh pulang!”
“Kenapa emangnya?”

“Ya pokoknya nggak boleh sebelum aku izinin kamu pulang!” jawab Revan tidak ingin dibantah. Hari ini sepertinya semuanya harus meneruti kemauan Revan jika tidak ingin melihat Revan yang uring-uringan nggak jelas dan bisa membuat semuanya naik darah. Entah kenapa Revan seperti itu hari ini.

“Iya, iya, Revan,” jawab Vania sabar sambil kembali menyuapi Revan. Ampun, manja sekali Revan.

Setelah selesai makan, Vania menyerahkan beberapa obat yang harus Revan minum membuat Revan segera meminumnya. Saat Vania hendak membereskan piring dan obat-obatanya, Revan malah memeluk Vania dari samping dan meletakan dagunya dipuncak kepala Vania membuat Vania menghentikan gerakanya.

Vania selalu nyaman saat Revan mengelus lembut puncak kepalanya. Revan teringat sesuatu. Revan melepaskan pelukanya lalu beralih mengambil gitar yang sedari tadi ada di samping kirinya.

“Kamu mau ngapain?”
“Nyanyi,” jawab Revan sambil memetik asal gitarnya itu.
Vania mengeryitkan dahinya.”Buat?”

Revan menghembuskan nafasnya lalu menyentil dahi Vania sehingga Vania sedikit meringis karenanya.”Ya buat kamu lah,” jawabnya.
Vania terdiam untuk beberapa saat, hatinya menjadi berdesir mendengar itu.”Emangnya mau nyanyi apa?” tanya Vania sedikit kaku.

“Dengerin aja,” jawabnya sambil mulai memetik gitar itu dengan benar.
Vania hanya diam menunggu Revan bernyanyi. Ya Vania tidak bisa mengelak kalau Revan hari ini benar-benar tampan walau mukanya masih agak sedikit pucat.

|If someday your feet can’t touch the ground.
If someday youe arms can’t feel my touch.
If someday your eyes can’t see my face.|
Vania merasa tidak asing dengan lagu ini. Benar lagu ini adalah lagu ‘I still love you’ dari ‘The overtunes’ Vania tersenyum senang mendengarnya. Ini juga salah satu lagu kesukaan Vania.
|I’ll carry you,
be there for you,
anytime of day.|
Revan mengalihkan pandanganya pada Vania dengan senyumanya. Suaranya yang berat dan agak sedikit serak mengalun dengan indah ditelinga Vania.
|Forever is a long time.
But i’d keep my word that i say to you.
Together we can go far.
As long as i’m with you.|
Vania menikmati lagu yang Revan nyanyikan dengan iringan gitar yang semakin membuat Vania merasa seperti diawang-awang. Vania akui, Revan memang jago kalau soal bernyanyi dan bermain gitar.
|Cause i will fall for you.
No matter what they say.
I still love you, i still love you.|
Keduanya kini malah bernyanyi bersama tanpa senyum yang tidak pernah luntur dan tatapan mata yang tidak pernah teralihkan.
|You’d never be alone.
Now look me in the eyes.
I still love you, I still love you.|
|Till forever.|

Revan beralih memegang sebelah wajah Vania dan berhenti bernyanyi. Dia menarik wajah Vania sehingga dahi mereka menyatu.”I love you, Revan.”

Revan tersenyum mendengarnya. Dia sedikit memiringkan wajahnya.”I love you more, Vania,” jawabnya pelan sambil lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Vania.
Ya, Revan kembali melakukan apa yang dia lakukan pada saat di rumah sakit.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here