Untuk Revan #44

0
105
views

Singa baik, bangun. Tuan Putri disini


Vania menatap pintu itu dengan nanar, Revan sudah tidak bisa dia lihat lagi. Entah bagaimana nantinya. Yang jelas, semua mendo’akan yang terbaik untuk Revan.

Tubuh Vania luruh ke bawah, dia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri. Apalagi dengan melihat Revan yang seperti itu membuatnya tidak sanggup untuk hanya sekedar menopang berat tubuhnya.
Semua yang melihat Vania seperti itu kaget. Aqilla dan Disa lantas segera membantu Vania berdiri dan mendudukannya di kursi.

“Van, kita obatin luka lo dulu,” ucap Aqilla membuat Vania menggelengkan kepalanya pelan.
“Nggak, gue nggak mau tinggalin Revan.”

Aqilla dan Disa lantas saling pandang.”Van, lo perlu diobatin dulu. Gue yakin Revan pasti baik-baik aja,” ucap Disa mencoba membujuk lagi.

Vania hanya diam tidak menjawab, gadis itu hanya menangis sambil terisak. Sekarang, hanya sebuah penyesalan yang terus menghujam Vania. Andai, andai dia mau mendengarkan perkataan Revan waktu itu. Tapi apalah daya, semua sudah terjadi.

Reno menatap nanar pintu ruang IGD tersebut. Semua karena permasalahan yang berawal dari dirinya, semua karena dia yang telat menyadari hingga Revan dan Vania yang menjadi sasaranya. Air mata Reno seketika luruh, harusnya dirinya yang merasakan itu, bukan Putranya.”Maaf Revan, semua gara-gara Ayah,” batin Reno berseru lirih.

Reno menghampus air matanya, dia beralih menatap Vania yang menangis dengan kebisuanya. Disa yang melihat Reno akan duduk di samping Vania lantas segera beralih duduk di kursi lain. Reno menatap Vania.”Van? Kamu obatin luka kamu dulu ya? Biar Ayah dan yang lainya yang nunggu Revan,” ucap Reno mencoba membujuk Vania.
Luka-luka Vania perlu diobati. Reno tidak tega melihat Vania yang seperti itu. Vania yang tidak tahu apapun harus terlibat karena masalah dirinya.

Vania menggeleng.”Nggak Yah. Vania mau disini temenin Revan,” jawab Vania tetapi pandanganya hanya lurus menatap ke depan.

Reno menghembuskan nafasnya kasar. “Van, luka kamu perlu diobati. Kamu yakin Revan akan baik-baik aja, kan?” tanya Reno membuat Vania yang kini beralih menatapnya mengangguk lesu.
“Kalau kamu yakin, obatin luka kamu sekarang. Kalau Revan tahu kamu nggak mau diobatin, dia pasti marah sama kamu,” lanjut Reno membuat Vania kembali terdiam. Ya, benar, Revan pasti akan mengomelinya jika dia tahu Vania tidak mau diobatin.

Reno menatap Aqilla membuat Aqilla yang mengerti lantas beralih menatap Vania.”Ayo, Van. Biar gue anter.” Vania hanya menurut dengan kebisuanya. Aqilla dan Disa lantas mengantar Vania untuk mengobati luka-lukanya.
Setelah Vania pergi, Reno menghembuskan nafasnya.”Terimakasih, kalian sudah membantu saya dan anak saya menyelesaikan masalah ini.”

“Walau akhirnya Revan yang harus seperti itu,” lanjut Reno lesu.
“Om nggak perlu bilang makasih. Kita semua teman Revan, udah seharusnya kita bantu Revan,” jawab Saka membuat semua yang ada disana membenarkan. Reno hanya tersenyum mendengarnya, dalam hati dia bersyukur anaknya mempunyai teman seperti mereka.

“Revan pasti baik-baik aja Om. Om jangan terlalu khawatir,” ucap Irfan.
Reno hanya mengangguk kecil menjawabnya. Teringat, dia belum mengabari Istrinya, Fahri juga Viola. Reno lantas segera mengambil ponselnya dan menghubungi mereka bertiga.

***

Sekarang, Revan sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kondisi Revan memang tidak terlalu parah, beruntung dia tidak mengalami cedera pada saraf tulang belakang. Jika itu terjadi, maka akibatnya akan sangat fatal. Hanya saja, akibat dari kejadian itu juga benturan di kepalanya membuat Revan tidak sadarkan diri. Tidak koma, hanya, entah kapan Revan bangun, semua tidak bisa memastikan Revan akan bangun secepatnya atau tidak.
Vania masih belum kembali, dia masih mengobati lukanya di ruangan lain.

Hanya ada Reno, Jasmine dan Sheila yang berada di dalam ruangan, karena sebagian harus menunggu di luar. Beberapa ada yang sudah pamit karena Reno menyuruh mereka mengobati luka-luka bekas perkelahian tadi.
Soal keributan tadi, Reno menyerahkannya pada tangan kananya yaitu Hans. Entah para bocah itu akan di penjara atau tidak, Reno tidak peduli. Dia tidak ingin mengurus itu semua, dia hanya ingin mementingkan keselamatan Revan terlebih dahulu.

Jasmine mengusap lembut rambut Revan, dia menangis, dia tidak sanggup melihat Revan yang seperti ini.”Re, ini Bunda sayang. Bangun, Bunda nggak suka liat kamu yang kayak gini,” ucap Jasmine parau.
Jasmine hanya bisa menangis terisak, dia sama sekali tidak tahu mengenai kejadian ini. Ternyata selama ini keluarganya terancam, dan sekarang, Putranya yang harus terbaring lemah seperti ini. Reno yang tidak tega melihat Istrinya begitu terpukul lantas segera memeluknya.”Maaf, semua karena aku Revan jadi seperti ini.”
Jasmine tidak menjawab, dia hanya menangis dan menangis di pelukan Reno.

Bibir Sheila bergetar menahan isakan. Walau Revan selalu membuatnya naik darah, tapi Sheila sangat menyayangi Adik menyebalkannya ini. Melihat Revan yang seperti ini membuat Sheila ikut sakit, tidak pernah Sheila melihat Revan yang tertidur kaku seperti ini. “Re bangun dong. Jangan tidur lama-lama. Dari tadi lo tidur mulu! Nggak asik lo! Gitu doang tidur! Bangun bego! Lo suka banget kayaknya bikin semua nangis!” sarkas Sheila, perkataanya memang seperti orang yang marah-marah, tetapi dia mengucapkan itu dengan tangisan yang tak kunjung reda.

Vania kembali setelah luka-lukanya diobati. Fahri mendorong kursi roda yang Vania duduki karena kaki Vania masih lemas untuk berjalan, Viola terisak kecil melihat Vania yang terluka. Kejadian ini benar-benar mengejutkan.

Aqilla dan Disa hanya mengekor di belakang karena tadi mereka berdua yang mengantar Vania untuk mengobati lukanya.

“Revan mana?” tanya Vania membuat semua yang menunggu di depan ruang rawat Revan mengalihkan pandanganya pada Vania.

Rini dan Amanda yang baru saja datang karena mendapat kabar seperti ini langsung berhambur memeluk Vania sambil menangis.”Gue lega lo selamat,” ucap Rini tetapi Vania hanya diam.
“Lo kayaknya suka banget bikin gue nangis,” kata Amanda sambil mengurai pelukanya begitu pun Rini.
Vania menatap keduanya dengan sendu, kedua manik mata coklatnya mulai berkaca-kaca.

Satu tetes…

Air mata itu kembali luruh.”Rin, Man,” ucap Vania parau.
Dia menundukan kepalanya dengan butiran-butiran bening itu kembali luruh.”Revan, dia celaka gara-gara gue,” katanya pelan dengan kedua bahu naik turun.

Amanda mengeleng, dia berjalan ke samping Vania sambil mengusap kedua pundak gadis itu.”Bukan salah lo, Van. Ini semua di luar dugaan.”

“Tapi Revan kayak gitu gara-gara lindungi gue!” sentak Vania parau membuat Viola yang kini berdiri di hadapan Vania menangkup wajah Putrinya dengan kedua tanganya.
“Sayang denger Mama. Jangan salahin diri kamu sendiri. Kamu yakin Revan pasti baik-baik aja, kan?” kata Viola lembut.

“Vania takut, Ma. Vania takut.”
Viola menghapus air mata Vania dengan kedua ibu jarinya.”Kamu harus yakin Revan baik-baik aja. Karena dulu, Revan selalu yakin kalau kamu akan bangun. Dan sekarang, giliran kamu yang harus yakin sama harapan kamu, sama seperti Revan waktu itu,” jelas Viola membuat Vania semakin terisak.

Benar. Jika dulu Revan yang selalu berharap Vania akan segera bangun, maka sekarang Vania yang akan selalu berharap Revan cepat bangun. Jika dulu, Revan yang selalu menanti Vania untuk bangun, maka sekarang Vania yang akan menanti Revan bangun. Entah kapan, entah berapa lama, Vania akan menunggu, Vania akan menunggu sampai akhirnya penantian itu berakhir, sama seperti Revan waktu itu.

Arkana menghembuskan nafasnya kasar.”Gue kira nggak akan kayak gini,” lirihnya pelan.
“Singa nggak mungkin selemah itu,” jawab Mahesa.

Satria mengangguk atas ucapan Mahesa.”Ya, Singa nggak akan selemah itu.”
Saka hanya termenung bersama Irfan. Mereka hanya terdiam membisu tanpa menghiraukan sekitar, sahabatnya entah sampai kapan dia akan tidur. Rasanya, melihat Revan yang tidak sadarkan diri seperti ini benar-benar hal yang mengejutkan. Seorang Revan yang mereka berdua selalu kuat, nyatanya hari ini terbaring lemah tak berdaya.

***

Vania menatap nanar seorang yang sangat berarti baginya, dia masih duduk di kursi roda. Vania mencoba berdiri dan naik ke atas ranjang dengan susah payah. Vania membaringkan tubuhnya dengan posisi menghadap Revan, tanganya memeluk tubuh itu dengan erat, kepalanya dia sandarkan pada bahu tegap cowok itu. “Maafin aku Re. Karena kebodohan aku kamu jadi kayak gini,” katanya pelan dengan bibir yang mulai bergetar.

“Jangan tidur lama-lama ya Re. Aku nggak bisa liat kamu yang kayak gini.”

“Kalau kamu tidur terus, nanti siapa yang marah-marah nggak jelas karena aku ngilang? Nanti siapa yang usil sama aku? Nanti siapa yang possesive sama aku? Nanti siapa yang usap rambut aku? Siapa Re? Siapa?” ucap Vania dengan pelan di kata terakhirnya, kali ini dia kembali menangis, menyesali semua kebodohanya, menyesali semua tindaknya pada Revan akhir-akhir ini.

“Gini ya? Rasanya kamu nunggu aku bangun dari koma. Nggak enak, sedih, sakit, takut. Semua itu aku rasain sekarang.”

Vania sedikit menengadahkan kepalanya untuk melihat Revan. Tanganya kini beralih memegang sebelah wajah Revan, di usapnya wajah itu dengan lembut menggunakan ibu jarinya. Mata teduh itu kini hanya tertutup, mulut yang selalu berucap manis itu kini hanya tertutup rapat. Entah kapan mata itu akan kembali terbuka, entah kapan mulut itu akan kembali berucap. Yang jelas, Vania rindu saat-saat dirinya bersama Revan.
Vania mendekatkan wajahnya pada wajah Revan sehingga dahinya menyatu dengan wajah Revan.”Maaf untuk semuanya Re. Maaf untuk semua yang udah aku lakuin sama kamu. Aku…” Vania mengantungkan ucapanya, dia memejamkam matanya dengan air mata yang ikut turun.

“Aku nyesel, aku nyesel karena nggak dengerin ucapan kamu,” lanjutnya dengan begitu pelan sambil terisak kecil.

“Maaf, maafin aku Re.”
“Bangun sayang, aku disini, aku nggak akan pergi.”
“Please, jangan hukum aku kayak gini.”
“Kamu harus cepet bangun. Singa, kan, kuat.”
Vania terus berucap pelan dengan suara paraunya. Dan sama seperti Revan waktu itu, hanya ada kebisuan yang menjawab semua ucapan Vania, hanya keheningan yang menjawab semua ucapan Vania. Rasanya dadanya begitu sesak, ribuat belati seolah menusuk hatinya. Revan yang selalu ada di sampingnya kini hanya tertidur kaku. Revan yang selalu bersikap manja kini hanya terdiam, Revan yang selalu bertingkah usil kini hanya tertidur.
Sampai kapan Revan seperti ini? Vania tidak sanggup jika melihat Revan terus-terusan tertidur. Baru beberapa jam Revan tertidur rasanya sudah membuat Vania raganya seakan mati. Lalu bagaimana jika Revan terus-terusan tertidur seperti ini?

Vania mengangkat wajahnya lalu mencium kening Revan dengan begitu lembut dan lama, Vania memejamkan matanya diikuti air mata yang ikut luruh.”Singa baik, bangun. Tuan Putri disini.”

***

Tiga hari berlalu, Revan masih tetap tertidur dengan nyenyaknya. Sepertinya dia terlalu lelah hingga tidur selama ini.

Jasmine sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap Revan dengan pandangan sendu.”Re? Kamu nggak kangen sama Bunda? Tidur kamu terlalu lama Re. Bunda nggak bisa, liat kamu kayak gini terus,” lirihnya dengan air mata itu yang kembali luruh.

“Bunda mohon sama kamu. Kamu harus kuat, kamu harus bangun sayang.”

Jasmine terisak, baru kali ini dia melihat Revan yang seperti ini. Revan yang selalu kuat kini hanya terbaring lemah dengan alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya. Hati Jasmine sakit, sangat sakit melihat Putranya yang selalu mengisi rumah dengan segala tingkahnya kini hanya tertidur dan tertidur.

Soal David, Zero dan Justin. Mereka berdua sama-sama terkapar di rumah sakit. Ketiganya koma, bagaimana mungkin mereka tidak koma dengan Revan yang menghajar mereka habis-habisan. Kondisi David dan Justin memang tidak separah Zero, wajar Zero sampai koma begitu, toh Revan menghajar dia sangat brutal.

Sedangkan Rendi, bisa dipastikan dia masuk penjara bersama Meli dan Siska. Ya, kedua cewek itu kembali di penjara. Mereka dipenjara atas perintah Fahri atas dasar percobaan pembunuhan. Fahri benar-benar menyesal karena sudah membebaskan kedua cewek itu dari penjara. Fahri kira mereka akan jera, tetapi nyatanya itu salah besar. Ya walau mungkin hukumanya tidak akan terlalu berat karena mereka masih di bawah umur.

Sedangkan David, Zero dan Justin. Mereka koma, jadi hukuman mereka mungkin akan dijatuhkan setelah mereka sadar. Dan Reno tidak ingin tahu apapun mengenai urusan ketiga bocah ini, seluruhnya dia serangkan pada Hans tangan kananya.

Vania yang baru saja datang melihat Jasmine begitu terpukul lantas mengusap kedua bahu Jasmine membuat Jasmine sedikit terlonjak kaget. Jasmine bahkan sampai tidak sadar bahwa Vania datang. “Bunda yang kuat ya. Revan pasti bangun. Anak Bunda, kan, kuat,” kata Vania menenangkan Jasmine dengan senyum manisnya tetapi senyum itu senyum palsu yang Vania paksakan untuk terukir, kedua mata sendunya itu tidak bisa berbohong.
Jasmine memegang satu tangan Vania yang berada di pundak kirinya.”Iya, Revan pasti kuat.”
“Ayah sama Kak Sheila kemana, Bun?” tanya Vania.

“Ayah harus pergi ke kantor, nanti siang dia baru bisa kesini. Kalau Sheila, dia ada kuliah pagi,” jawab Jasmine lesu. Sejujurnya tadi Reno tidak mau pergi ke kantor, namun karena mendesak dan sangat penting, alhasil dia tidak bisa menolak atau menunda. Sheila juga tidak mau kuliah tadi, tapi Jasmine tetap menyuruhnya pergi yang alhasil membuat Sheila mau tidak mau harus pergi.

Vania hanya mengangguk menangapi.

“Keadaan kamu gimana sayang? Udah lebih baik?” tanya Jasmine pada Vania.
Vania mengangguk lesu.”Udah Bun. Sekarang udah lebih baik.” Jasmine tersenyum lega mendengarnya. Teringat, dia harus menyelesaikan beberapa hal yang harus dia urus.

“Vania, Bunda titip Revan ya? Bunda ada urusan sebentar.”
“Iya Bun,” jawab Vania.

Jasmine beranjak berdiri, dia mendekat kearah Revan lalu mencium lembut kening Revan.”Sayang, Bunda pergi dulu ya sebentar. Ada Vania kok yang jaga kamu,” katanya pelan setelahnya Jasmine mengusap lembut rambut Revan dengan senyum tipisnya.

Vania yang melihat itu mati-matian menahan air matanya agar tidak luruh di depan Jasmine.”Bunda hati-hati di jalan ya.” Jasmine mengangguk sambil tersenyum setelahnya dia pamit pergi.

Seketika itu air mata Vania kembali luruh tak terbendung, dia menutup mulutnya menahan isakan walau pada akhirnya isakan itu terdengar.”Mau sampai kapan kamu tidur Re? Sampai kapan?” tanya Vania lirih, dia memalingkan wajahnya ke samping.

Dengan masih terisak, Vania kembali menaiki ranjang itu, kali ini kepalanya Vania simpan di dada bidang cowok itu, tanganya kembali memeluk tubuh itu.”Bangun Re. Aku, aku nggak mau kamu kayak gini terus.”
“Maaf, semua gara-gara aku.” Lagi dan lagi kata maaf Vania lontarkan walau mungkin kata maaf dan sebuah penyesalan tidak akan merubah keadaan menjadi lebih baik.

“Sayang kamu pasti denger aku, kan? Bangun, semua nunggu kamu bangun, semua sedih liat kamu kayak gini.”
Selanjutnya hanya Vania yang terisak tanpa bisa kembali berucap. Karena terlalu lelah, sampai tidak sadar Vania tidur dengan posisi seperti itu.

Beberapa jam berlalu, Vania masih tertidur, yang lain juga belum datang membuat suasana ruangan hanya hening selain alat pendeteksi detak jantung yang terus berbunyi.

Perlahan-lahan mata itu terbuka, sedikit demi sedikit pandangannya yang kabur mulai kembali. Dia sedikit meringis karena sekujur tubuhnya yang terasa kaku dan sakit. Tetapi, pandanganya teralihkan pada seorang gadis yang tertidur di dadanya dengan begitu nyenyak sambil memeluknya erat. Pandanganya kembali beralih menatap sekeliling. Ruangan serba putih, infusan yang tertancap di lengan kirinya, alat bantu pernafasan yang menempel di hidungnya juga beberapa alat yang menempel ditubuhnya. Ini di rumah sakit?

Revan kembali meringis saat kepalanya begitu terasa sakit, selang beberapa menit pusing itu perlahan-lahan mulai menghilang. Dia kembali mengingat kenapa dirinya bisa berada disini.

Tangan kanan Revan beralih menyibak rambut yang menghalangi wajah Vania dengan begitu pelan. Rasanya masih lemas.

Senyum Revan terukir melihat wajah damai Vania, pipi gadis itu masih terdapat hantsaplas akibat luka sayatan, dahi gadis itu juga masih sedikit lebam. Revan mengusap wajah cantik itu dengan ibu jarinya.”Van?” katanya pelan dengan suara yang sedikit serak.

Vania hanya tertidur membuat Revan yang tidak tega membangunkannya hanya memeluk gadis itu dan mengusap puncak kepalanya lembut.

Vania yang merasa terusik karena merasa ada yang mengelus lembut puncak kepalanya terbangun membuat dia segera menengadahkan kepalanya takut-takut itu hanya mimpi. Vania terdiam kaget saat melihat Revan yang sudah bangun dan menatapnya sambil tersenyum.

“Hai?” sapanya membuat bibir Vania bergetar dengan air mata yang ikut turun, dengan segera Vania memeluk kembali Revan dengan begitu erat.

Revan membalas pelukan itu tak kalah erat.”Kenapa nangis?” tanya Revan pelan sambil mengusap lembut puncak kepala Vania.

Vania terisak.”Maaf, gara-gara aku kamu jadi kayak gini. Gara-gara aku yang bodoh dan nggak mau denger ucapan kamu, kamu jadi celaka kayak gini. Ini semua salah aku, kalau aja ak–”

“Udah Van. Aku udah pernah bilang, kan? Kalau aku nggak suka kamu kayak gini,” potong Revan membuat Vania menengadahkan kepalanya. Dia memposisikan dirinya menjadi duduk.

Vania menggelengkan kepalanya pelan.”Tapi tetep aja, kamu kayak g–”
“Shtt… jangan salahin diri kamu sendiri, kamu nggak salah,” potong Revan lagi sambil beralih mengusap lembut air mata Vania.

“Jangan nangis lagi,” ucap Revan lagi membuat Vania hanya terdiam sambil terisak kecil.
“Aku panggil dokter dulu, ya?” ucap Vania membuat Revan segera menggeleng.
“Loh kenapa?”

“Nggak mau, nanti aja,” jawab Revan, suaranya bahkan masih pelan tidak seperti biasanya.
“Tapi kamu perlu di periksa, Re. Kamu baru bangun.”
Revan menaikan sebelah halisnya tidak mengerti.”Baru bangun? Emangnya aku pingsan berapa hari?” tanya Revan bingung.

“Kamu pingsan hampir empat hari.”
“Empat hari?” beonya membuat Vania mengangguk pelan. Pantas saja sekujur tubuhnya terasa kaku.
“Aku panggil dokter dulu ya.” Vania hendak beranjak dari ranjang tetapi tangan Revan mencekal pergelangan tanganya lembut.”Kenapa hmm?” tanya Vania lembut.
“Jangan panggil dokter, disini aja,” katanya.
“Tapi ka–”
“Please. Nanti aja. Aku pengen kamu disini,” ucap Revan lagi membuat Vania berfikir. Vania menghembuskan nafasnya pelan, dia akhirnya mengangguk mengiyakan membuat Revan mengembangkan senyumnya.
“Sini, tidur lagi,” ucap Revan sambil merentangkan salah satu tanganya membuat Vania sedikit tersenyum melihatnya. Vania lantas kembali pada posisi tadi membuat Revan mencium puncak kepala Vania lembut.
“Re?” Revan hanya menjawab dengan dehemannya.

Vania terdiam untuk beberapa saat.”Maaf untuk semua yang aku lakuin sama kamu, maaf karena aku terlalu egois dan nggak mau denger penjelasan dan ucapan kamu,” ucap Vania lirih.
Revan menghembuskan nafasnya.”Nggak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf. Dari awal aku yang salah karena nggak terbuka sama kamu,” jawab Revan lesu.

“Seharusnya dari awal aku dengerin penjelasan kamu, Re.”
Revan sedikit mengukir senyumnya.”Kamu pasti denger soal Ailen dari David, kan?” tanyanya membuat Vania terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berucap ‘Iya’ dengan suara pelanya.
“Kamu kenal David dari mana?” tanya Revan lagi.

Vania menghembuskan nafasnya pelan.”Waktu kamu sakit, saat aku akan datang ke rumah kamu, tiba-tiba David ngajak kenalan gitu aja di depan gerbang sekolah. Dan lagi, waktu kamu masih nggak sekolah. Aku jalan sendiri, tiba-tiba David datang sama ngajak ngobrol gitu. Aku awalnya risih, tapi pas David bicara soal kamu sama Ailen, aku kepancing karena waktu itu aku nemuin foto Ailen di kamar kamu. Aku pengen dia cerita soal Ailen sama kamu dulu, ya dia ceritain semuanya.”

“Kamu jalan sendiri?” tanya Revan membuat Vania mengangguk.
“Maaf, waktu itu aku nggak nurut sama kamu.”
“Lain kali jangan diulangi,” ujar Revan memperingati membuat Vania mengangguk.

“Soal foto, jujur aku memang masih nyimpen foto Ailen, tapi cuma itu. Nggak tahu kenapa aku susah banget buang foto itu. Tapi sekarang aku sadar, nggak seharusnya aku kaya gitu disaat aku udah punya kamu,” jelas Revan, hati Vania memang sedikit tertohok dengan kejujuran Revan. Tapi lebih baik jujur dan menyakitkan untuk sementara dari pada terus berbohong yang nantinya akan menyakitkan selamanya. Vania juga tertegun dengan ucapan terakhir Revan.

“Maaf Vania, semua gara-gara aku, kalau aja waktu itu aku udah buang foto Ailen, mungkin ini semua nggak akan terjadi.”

Vania menengadahkan kepalanya. “Re, aku juga salah, aku minta maaf. Mungkin, kalau aku dengerin penjelasan kamu lebih dulu, situasinya nggak akan serumit ini.”

“Sekarang, aku mau denger soal Ailen dari mulut kamu sendiri,” ujar Vania ingin mendengar dari mulut Revan sendiri walau dia sudah tahu, mungkin cerita ini akan menyakitkan karena membahas seorang yang sangat berarti di kehidupan Revan dulu, tapi Vania tetap ingin mendengarnya. Karena Vania yakin, hati Revan sudah tidak terjebak di masalalu lagi.

Revan tersenyum kecil.”Iya,” jawabnya sambil kembali mencium puncak kepala Vania lembut.
“Dulu, awal aku ketemu sama Ailen itu di area balap motor waktu aku akan balapan, aku liat dia datang sama David.” Vania hanya mendengarkan apa yang Revan bicarakan.

“Setelah ketemu di area balap, aku nggak sengaja ketemu dia di caffe, dari situ kita kenalan. Singkat cerita, kita jadi makin deket sampai akhirnya pacaran.”

“Dia satu sekolah sama David, sekaligus temen deketnya David. Ailen itu suka nari sama nge-dance, dia juga ketua ekskul dance di sekolahnya. Ailen juga paling suka nari di bawah hujan,” ujar Revan sambil mengingat masalalu itu.

“David juga bilang gitu,” ujar Vania.
“Tapi Ailen bunuh diri akibat dia putus asa gara-gara nggak bisa nari lagi. Ailen ngalamin tabrakan yang buat kakinya lumpuh,” ucap Revan membuat Vania menatap Revan, ada sorot sedih dimata lelaki itu. Tetapi yang Vania tidak pernah menyangka Ailen bisa melakukan itu. Kepala Vania kini beralih dia simpan dipundak Revan sambil menatap cowok itu mendengarkan apa yang dia ceritakan.

“Dan aku selalu salahin diri aku sendiri karena penyebab semua itu aku. David nabrak Ailen gara-gara dia nggak terima kalau aku suka ngatasin keributan dengan tangan aku sendiri tanpa bantuan siapa pun, dan David sebagai ketua geng ngerasa nggak terima.”

Tunggu, jadi David ketua geng?
“Jadi David ketua geng?” tanya Vania membuat Revan mengangguk.
“Kamu liat ada sebagain anak yang pake jaket hitam dengan bordiran ‘Gleatser’ kan?” tanya Revan membuat Vania mengangguk mengiyakan.”Itu gengnya David, dan itu geng yang dulu aku, Saka dan Irfan pernah masuk,” lanjut Revan membuat Vania terkejut mendengarnya. Pantas saja David bisa mengundang orang sebanyak itu. Rupanya dia ketua geng, tapi yang Vania tidak pernah menyangka. David tega melakukan itu pada Ailen. David memang tidak punya prasaan.

“Disitu juga ada anak The Viking’s sama Revold. Mereka musuh Digister sama Legister. Kalau Gleatser itu musuhnya Gardapati,” ucap Revan lagi membuat Vania mengerti sekarang.
“Jadi David? Dia yang buat Ailen lumpuh?” Revan mengangguk, Vania tidak menyangka David sekejam itu pada temannya sendiri.

“Dan aku sendiri yang nemuin Ailen udah nggak bernyawa di dalam kamarnya,” ujar Revan membuat Vania terkejut bukan main.

“Jangan diingat kalau itu buat kamu sakit, kamu selalu bilang itu sama aku, kan?” Revan tersenyum dan mengangguk.
“Itu masalalu aku sama Ailen, Van. Mungkin apa yang diceritain David sama aku itu pasti beda, kan?” tanya Revan membuat Vania mengangguk.

“Beda walau masih ada yang sama. Tapi sekarang, aku udah nggak peduli apapun lagi, karena aku udah denger dari mulut kamu sendiri,” jelas Vania dengan senyumanya membuat Revan ikut mengembangkan senyumnya.
Revan sekarang bisa bernafas lega karena Vania sudah kembali ke sisinya. Tangan Revan bergerak merapikan rambut Vania.”Ada satu hal yang nggak pernah kamu atau siapapun tahu, Van.”

Vania mengeryitkan dahinya bingung, kepalanya sedikit dia angkat sehingga sejajar dengan wajah Revan.”Apa?”
Revan menarik tengkuk Vania membuat dahi dan hidung mereka menyatu, tanganya kini beralih mengusap pipi manis itu dengan ibu jarinya, sentuhan lembut itu membuat Vania merasa nyaman.” Semenjak aku suka sama kamu. Ternyata rasa itu masih tetap sama. Entah itu dulu, disaat kamu dan Rendi jadian, bahkan sampai kamu putus dan jadi milik aku. Rasa sayang aku sama kamu dari dulu nggak pernah berubah. Walau dihati aku sempat ada yang hadir, tapi nyatanya kamu selalu punya ruang dihati aku, seberapa keras aku menyangkal pun, kamu memang selalu punya ruang di hati aku.”

Vania sedikit melebarkan matanya mendengarkan penuturan Revan. Jadi, dari dulu sampai sekarang Revan masih tetap menyayanginya? Vania kira rasa Revan memang sudah hilang semenjak dia dan Rendi pacaran. Tapi ternyata Vania salah. Vania tidak pernah menduga Revan masih tetap menyayanginya dari dulu. “Kamu serius?” tanya Vania masih tidak percaya dengan semua ini.

Revan sedikit tersenyum, tanganya kini beralih mengusap lembut puncak kepala Vania.”Aku serius Vania. Kamu tahu hal yang paling bodoh yang pernah aku lakuin?”

“Apa?”
“Relain kamu sama Rendi, karena dulu yang aku pikir kebahagian kamu adalah Rendi. Tapi ternyata aku salah, Rendi malah buat kamu sakit.” Revan tersenyum kecut.”Itu sebabnya aku marah dan hajar dia saat aku denger dia nyakitin kamu. Itu adalah kebodohan terbesar aku, dan aku nggak akan lepasin kamu untuk kedua kalinya,” lanjutnya.

Vania lagi-lagi terkejut dengan kenyataan yang dia dapatkan, ternyata Revan sampai seperti ini hanya untuk membuat Vania bahagia, sampai dia merelakan Vania untuk Rendi hanya demi kebahagian Vania. Nyatanya dari dulu Revan memang selalu mementingkan kebahagian Vania walau dulu Vania tidak pernah menyadarinya.
Mata Vania mulai berkaca-kaca. Demi apapun, dia sangat beruntung mendapatkan cowok seperti Revan. Tangan Vania beralih mengusap wajah Revan dengan ibu jarinya.”Makasih untuk semua yang kamu lakuin buat aku. Aku nggak pernah nyangka, kalau kamu kayak gitu.”

“Andai aku tahu lebih awal, Re.”
“Udah takdirnya gini, Van. Jadi kamu nggak perlu sesali waktu yang terbuang, karena pada akhirnya, kita emang ditakdirkan bersama.” Vania tersenyum mendengarnya.

“Dan sekarang, kebahagian aku cuma kamu, Re,” ucap Vania sambil mencium kening Revan membuat Revan semakin mengambangkan senyumnya.

Tiba-tiba Revan melepaskan selang oksigenya membuat Vania terkejut.”Kok di lepas? Kamu, kan, belum sembuh,” ucap Vania sambil mencegah tangan Revan tetapi Revan tetap melepaskanya.
“Ribet Vania. Lagian ini cuma oksigen doang,” katanya sambil kembali pada posisi tadi.
“Eh tapi kamu ma–”
“Kamu waktu itu diapaain sama Zero dan Justin?” tanya Revan memotong ucapan Vania, dia tahu apa yang dilakukan keduanya. Hanya saja, Revan ingin dengar dari mulut Vaia walau Revan yakin Vania tidak akan menjawabnya. Dahi Vania mengkerut bingung mendengar penuturan Revan.
“Zero? Justin? Siapa?” tanya Vania bingung.

Revan lupa, Vania pasti belum tahu siapa mereka berdua.”Zero orang yang aku hajar di depan mata kamu, dia ketua geng Revold. Sedangkan Justin, dia ketua The Viking’s, kamu pasti inget, kan? Sama dua cowok yang pake jaket dari kedua geng itu yang selalu barengan sama David? Yang pake jaket The Viking’s itu namanya Justin,” jelas Revan membuat Vania kembali mengingat-ngingat.

Selang beberapa menit Vania teringat membuat Vania terdiam untuk beberapa saat.”Iya, aku inget,” jawab Vania lesu.

Vania hanya diam tidak menjawab pertanyaan Revan tadi. Revan kembali menarik tengkuk Vania sehingga dahi dan hidung mereka kembali menyatu. Pandangan keduanya kini kembali saling bertemu dan mengunci. “Aku tahu apa yang mereka lakuin sama kamu.”

Vania hanya diam walau dia sedikit terkejut mendengar penuturan Revan. Revan tahu lalu kenapa dia bertanya?
“Maaf, aku telat datang.”

“Nggak pa-pa, Re. Yang penting kamu datang,” jawab Vania dengan sedikit mengembangkan senyumnya.
Revan terdiam, tanganya kini beralih mengusap lembut bibir Vania membuat Vania hanya terdiam dengan pandangan mata tetap terkunci pada Revan.”Mereka udah berani sentuh kamu. Dan aku nggak suka itu. Karena kamu cuma milik aku dan hanya untuk aku.”

Detik selanjutnya Vania terdiam kaku dengan apa yang dilakukan Revan, walau pada akhirnya dia membalas perlakuan itu tak kalah lembut.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here