Untuk Revan #43

0
217
views

Note: Bakal ada banyak geng! Jai sedehananya gini!
Gleatser musuh Gardapati.
The Viking’s musuh Digister.
Revold musuh Legister.
Ginggirls geng ceweknya! Mereka ada dipihak Gardapati, Digister dan Legister.
SEKIAN!
___________________
“KELUAR LO PENGECUT!”
Semua orang tahu siapa yang berteriak. Vania semakin menangis, tubuhnya juga sangat sakit. Tapi dia juga bisa bernafas lega karena Revan datang.

David lantas keluar bersama Zero dan Justin, orang yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang. Dia bertepuk tangan karena melihat Revan juga dua teman lamanya sudah datang bersama tiga Pasukan yang dia bawa, dugaannya memang benar. Apalagi kehadiran Reno membuat David semakin semangat.
“Ayah kenapa bisa disini?” ujar Revan tidak mengerti saat dia datang dan melihat Ayahnya beserta orang-orang yang Revan tahu adalah bodyguard Ayahnya.

“Ayah akan jelaskan. Tapi tidak sekarang.”
“Reno Anggara, apa Anda masih ingat? Dengan keluarga yang Anda hancurkan satu tahun lalu?” ujar David membuat Revan bingung mendengarnya. Begitu pun yang lainya.
Menghancurkan? Kejadian satu tahun lalu? Apa maksudnya?

“Apa maksud lo! Mana Vania?!” sentak Revan.
“Jadi lo nggak tahu? Ayah lo Tuan Reno Anggara yang terhormat ini siapa?”
Revan semakin tidak mengerti, sementara Saka sudah bisa membaca situasi bahwa ini ada sangkut pautnya dengan urusan bisnis Ayahnya Revan.

Arkan, Satria dan Mahesa hanya meneliti situasi sambil melempar tatapan permusuhan pada Justin dan Zero.
“DIA ORANG YANG UDAH BUAT BOKAP GUE MASUK PENJARA DAN BUNUH DIRI DI DALAM SEL! DAN NYOKAP GUE IKUTAN BUNUH DIRI KARENA NGGAK TERIMA BOKAP MENINGGAL!”

“DAN SEKARANG! GUE SAMA ADEK GUE HIDUP TANPA ORANG TUA!”
“LO NGGAK AKAN PERNAH TAHU RASANYA HIDUP TANPA ORANG TUA!”
Ucapan David membuat Revan sangat kaget, begitu pun yang lainya. Revan kira David tidak seperti ini. Tapi semua di luar dugaan.

“David! Ayah kamu pantas dipenjara karena memang dia bersalah atas penggelapan uang perusahan!” ujar Reno memberitahu.

Revan semakin tidak mengerti, banyak hal yang tidak dia ketahui.
David tertawa. “Lo pikir gue peduli? Yang gue tahu! Lo adalah penghancur keluarga gue!”
“David! Sadar! Ini semua memang kesalahan Ayah kamu!” ucap Reno tapi David tidak peduli. Dendamnya harus terbalaskan. Terlalu sakit apabila dia melihat orang yang membuatnya keluarganya hancur baik-baik saja. Semua harus setimpal dengan apa yang dia dapatkan.

“Dan sebagai pembalasan, lo juga harus mati! Atau Anak lo yang mati!” ujar David sambil mengeluarkan pisau dan maju ke arah Revan dan Reno dengan langkah perlahan tetapi tatapan matanya begitu tajam.
Revan yang tidak tinggal diam menahan pergelangan tangan David yang hendak menusukan pisau ke arah Reno.
“Gue nggak akan biarin lo! Sakitin lagi orang-orang yang gue sayang!”

BUGH!
Revan membogem David membuat David tersungkur dengan mulut yang penuh darah. Pisau itu terlempar entah kemana.

“SERANG!”
Sontak Instruksi dari Arkana membuat ketiga Pasukan itu bersama bodyguard Reno menyerang David dan yang lainya. Perkelahian terjadi dengan begitu menyeramkan, banyak yang membawa senjata tajam, mereka tidak hanya membawa tangan kosong. Hari ini, seolah terjadi perang besar. Ratusan orang itu terus berkelahi menunjukan kemampuan mereka masing-masing. Banyak yang tumbang, banyak yang terluka.

Revan sedari tadi tidak berhenti menghajar David.”Mana cewek gue anj*ng!” sentak Revan sambil melayangkan tongkat baseballnya tetapi David berhasil menghindar.

David tersenyum. Jalanya sudah sempoyongan. Dia tertawa ringan.”Zero sama Justin udah cicipin dia,” katanya membuat Revan seketika semakin marah dan berutal.

“MATI LO ANJ*NG!” dia terus menghajar David tanpa ampun dengan melayangkan tongkat baseballnya, menendang, memukul dan membanting. Revan sudah gelap mata. Dia kalap, amarahnya sudah menguasai dirinya.

David tersenyum miring.”Gue rasa, Vania akan bernasib sama kayak Ailen,” katanya membuat Revan semakin brutal mendengarnya. Tidak, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Saka menarik Revan saat melihat David yang sudah tidak berdaya.”Lo bukan pembunuh!” tekanya membuat Revan berhenti dan menepis tangan Saka.

Revan beralih mencari Zero dan Justin. Mata tajamnya itu terus mencari sambil menghajar orang-orang yang menghalangi jalanya dengan begitu brutal. Baju dan jaketnya sudah banyak bercak darah, tongkat baseballnya sudah terdapat noda-noda dara, tangan dan wajahnya sudah ada beberapa luka. Tetapi baginya itu tidak berasa sama sekali.

BUGH!
“BANG*AT LO!” teriak Revan sambil terus melayangkan tongkat baseballnya pada Justin saat dia sudah menemukan Justin yang tengah berkelahi bersama Mahesa. Justin mencekal tongkat itu tetapi Revan menendang perutnya membuat Justin terhuyung.”LO APAAIN CEWEK GUE?! HUH?!” teriak Revan lagi sambil terus memukul Justin.
Justin tersenyum. Dia kemudian menjitat bibir bawahnya dengan seringainya.”Manis dan lembut.” Revan yang mendengar itu semakin marah. Dia melayangkang tongkat itu kewajah Justin membuat Justin seketika terkapar dengan hidung dan mulut yang banyak mengeluarkan darah.

“ANJ*NG!”
“MATI LO MATI!” Revan gelap mata. Dia tidak terima Vania diperlakukan seperti itu. Dia terus menghajar Justin tanpa ampun. Arkana dan Satria yang melihat Revan seperti itu lantas segera menariknya menjauh dari Justin yang sudah terkapar tak berdaya.

“Cukup!” sentak Satria tetapi Revan tidak peduli.
“LEPASIN GUE! DIA BERANI SENTUH MILIK GUE!”
“LO BISA BUNUH DIA BEGO!” bentak Arkana. Revan kali ini benar-benar sulit dikendalikan.
Revan yang kesal karena mereka terus menghalangi jalannya untuk menghajar Justin lantas membenturkan kepalanya pada kepala Arkana. Persis seperti waktu itu pada Panji.

Arkana yang tidak siap lantas refleks melepaskan cekalanya membuat Revan segera menghajar Satria yang masih menghalanginya. Mahesa yang hendak mencekal Revan sudah Revan tendang lebih dulu dengan begitu kuat.
Justin masih membuka matanya walau badannya sudah tidak bisa dia gerakan lagi, wajahnya penuh darah, beberapa bagian tubuhnya sudah berasa mati rasa akibat pukulan Revan.

Justin ingin bergerak mundur saat Revan benar-benar menatapnya dengan sorot membunuh. Gigi-gigi Revan dia gertakan sehingga menghasilkan bunyi bergemelutuk. Justin dapat merasakan aura mencekam dari kemarahan Revan. Dia akui, dia telah salah berani membangunkan Singa dari tidur nyenyaknya.

Arkana, Satria, Mahesa, Saka dan Irfan yang hendak menghalangi Revan untuk tidak terlalu brutal tidak bisa akibat beberapa anak geng terus menghajarnya sehingga mereka harus meladeninya.

Revan sedikit memiringkan wajahnya ke kanan sambil tersenyum miring, senyuman seperti seorang pshychopath yang sudah mendapatkan mangsanya. Dia mengangkat tongkat baseballnya yang sudah terdapat bercak darah itu kebibir Justin.”Mulut lo, memang perlu gue hancurin,” katanya tenang sambil mengangkat tongkat itu. Tetapi saat hendak mengenai wajah Justin seorang menendang tubuh Revan sehingga pukulan itu tidak jadi melayang.
Revan tidak suka ada yang menganggunya, mata tajamnya beralih pada orang yang sedang menatapnya dengan senyum setanya.

“Pakabar? Singa jalanan. Lo masih inget gue, kan?” ucap Zero sambil menatap Revan dengan pandangan meremehkan.

Zero tersenyum, dia mengusap halus bibir bawahnya dengan lembut.”Cewek lo cantik banget. Gue suka sama dia.” Zero mengantungkan ucapanya.”Apalagi gue udah main-main sama dia,” lanjutnya seketika membuat Revan menghampiri Zero dengan brigas.

BUGH!
BUGH!
BUGH!
“BRENGSEK!” Revan terus menghajar Zero tanpa ampun. Matanya merah, dadanya naik turun. Tongkat itu terus dia layangkan membuat Zero kewalahan, sesekali Revan sempat terpukul oleh beberapa anak geng Revold yang membantu sang ketua menghindar dari kemarahan Singa, tapi Revan yang sudah gelap mata menghajar siapapun yang menghalanginya untuk menghabisi Zero.

“Sialan! Dia bisa bunuh gue,” geram Zero dalam hatinya. Dia sekarang sudah terkapar tak berdaya.
Revan yang merasa tidak puas dengan tongkat baseballnya melempar tongkat itu hingga membuat tongkat itu mengenai kaca rumah tua itu sehingga pecah, orang-orang yang berada di dalam rumah tua itu sontak terkejut.
Revan menghampiri Zero dengan tatapan membunuh. Kali ini benar-benar bukan Revan yang semua kenal. Kemarahannya begitu besar.

KREK!
“ARRGHHH!” jerit Zero saat Revan menginjak dadanya dengan begitu kuat. Dia menekannya lagi dengan begitu kuat tak lupa dengan senyum setanya membuat Zero berusaha melepaskan kaki itu dari dadanya. Beberapa tulang rusuknya bisa dipastikan patah akibat Revan.

Reno yang melihat Putranya begitu brutal tidak pernah menyangka bahwa Revan akan semarah itu. Seumur hidup dia tidak pernah melihat Revan yang seperti ini. Hendak menghampiri untuk menyadarkan Revan tetapi seorang anak geng Gleatser menghajarnya membuat Reno mau tidak mau harus meladeni orang itu. Jangan salah, Reno juga jago bela diri.

“Itu akibatnya kalo lo berani bangunin Singa dari tidurnya. Apalagi lo udah berani sentuh milik gue!” ucap Revan tenang tetapi begitu menyeramkan.
Revan begitu puas melihat wajah Zero yang pucat pasi dengan penuh keringat dingin dan menahan sakit. Mereka tidak akan Revan ampuni.

“REVAN!”
Suara yang sangat Revan kenali itu mengalihkan perhatianya, Revan menoleh kearah rumah tua itu dengan kaku. Terlihat Vania dengam kondisi begitu mengkhawatirkan, lengan dan kakinya diikat sehingga dia hanya duduk berlutut, beberapa luka lebam dibagian wajah dan tubuhnya, kedua kakinya yang membiru, luka sayatan di pipi, kaki, dan lengan, rambut juga berantakan.

Hal tersebut membuat Revan semakin mengepalkan tanganya kuat. Apalagi melihat Rendi, Siska dan Meli. Revan tahu kedua cewek Iblis itu sudah keluar dari penjara, tetapi yang Revan tidak pernah menyangka, ternyata mereka bekerja sama.

Rendi tersenyum dengan seringainya, dia mengarahkan pisau kearah leher Vania membuat Vania semakin menangis dengan pandangan mata menatap Revan sendu. Melihat Revan yang terluka lebih sakit dari pada sekujur tubuhnya yang terluka.

“Cewek kesayangan lo itu bakal mati!” ujar Zero masih bisa tertawa walau rasanya dia akan mati saat itu juga.
Revan yang mendengar itu kembali mengalihkan pandangannya pada Zero. Kakinya yang masih berada di dada Zero Revan akan lalu menginjak dada Zero lagi dengan begitu kuat membuat Zero semakin menjerit kesakitan.”JUSTRU LO YANG BAKAL MATI!” sentak Revan lalu menendang Zero dengan kuat. Hendak memukul tetapi Mahesa dan Saka segera mencegahnya.

“LEPASIN GUE!” teriak Revan sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan Mahesa dan Saka.
“CUKUP! LO BUKAN PEMBUNUH!” bentak Saka tetapi Revan seolah tidak peduli.

“JANGAN KELEWAT BATAS RE!” sentak Irfan. Namun lagi, Revan tidak mau mendengarkan ucapan mereka semua.
Vania memejamkan matanya dengan air mata yang semakin luruh sambil terisak, kedua bahu gadis itu naik turun. Vania menunduk, dia tidak sanggup melihat Revan yang seperti itu, dia tidak mau melihat Revan yang seperti itu. Vania takut Revan kelepasan. Semua ini gara-gara dirinya, karena dirinya yang terlalu bodoh dan egois. Vania benci dirinya sendiri!

“Cukup Re,” ucap Vania pelan dengan suara paraunya.

Rendi, Siska dan Meli yang melihat itu semua semakin tersenyum puas melihat keduanya yang tersiksa. Keduanya sama-sama terluka, baik fisik atau pun batin.

“Udah,” lirih Vania lagi sambil terus menangis dan memejamkan matanya.
Bahkan dirinya masih menundukan kepalanya, terlalu sakit melihat Revan yang seperti itu.
“REVAN UDAH!” teriakan Vania membuat Revan berhenti menghajar Zero yang sudah tidak sadarkan diri.
“Udah Re udah.” Vania terus bersuara dengan suara-suara paraunya menyuruh Revan agar berhenti.
Nyatanya, hanya Vania yang mampu membuat Revan berhenti dan meredam emosinya disaat semua tidak bisa. Dan nyatanya, hanya Vania yang mampu membuat Singa bangun dan marah dengan begitu hebat. Hanya Vania, hanya Vania yang mampu melakukan semua itu.

Nafas Revan terengah, dia menatap Zero yang sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Dia berdiri, tetapi aura kemarahanya masih terasa nyata.

Rendi berdecih. Dia menatap Revan dengan sorot tajam. Ok, dia akan melancarkan rencana kedua.”REVAN!” teriaknya membuat semua mata teralihkan pada Rendi.

Anak Gleatser, The Viking’s dan Revold sudah hampir semua tumbang dan kalah oleh Pasukan Gardapati, Digister dan Legister juga bodyguard Reno.

Revan yang hendak maju untuk menyelamatkan Vania langkahnya harus terhenti saat Satria mencekal pundaknya. Revan menepis kasar tangan Satria dan menatapnya tajam.”Sesuai rencana,” ucapnya to the point membuat Revan kembali diam sambil mengepalkan tanganya kuat. Sial! Dia sudah tidak tahan ingin mengambil Vania.
Reno, Arkana, Satria, Mahesa, Saka dan Irfan sudah berdiri di samping kanan dan kiri Revan.
“Lo liat, cewek kesayangan lo ini!” ucapnya sambil melirik Vania sekilas.

“LEPASIN DIA!” teriak Revan tidak sabaran.

Rendi tertawa pelan.”Lo liat, pisau di depan mata lo.” Revan lantas beralih melihat sebuah pisau yang tergeletak di hadapannya, ada bercak darah di pisau tersebut.

“Kalau lo mau cewek lo selamat. Tusuk Ayah lo, maka gue akan lepasin kesayangan lo ini.”
“GOBL*K LO!” umpat Irfan merasa Rendi itu benar-benar tidak waras.

Reno terdiam, jika dia cepat menyadari dari awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Revan menengang di tempatnya, itu tidak mungkin. Dia tidak bisa memilih salah satu diantara mereka, keduanya sangat berarti baginya. Apalagi permintaan Rendi benar-benar sudah tidak waras.

“Revan, lakukan apa yang dia mau. Selamatkan Vania.” Sontak keenam cowok itu langsung beralih menatap Reno.
Revan menggeleng pelan.”Nggak bisa Yah. Revan nggak mungkin lakuin itu,” katanya lirih. Permintaan Rendi benar-benar sudah tidak masuk akal.

“Nyawa Vania lebih penting,” jawab Reno. Baginya, Vania terlibat karena masalah dirinya. Biarkan dia yang terluka, Reno tidak akan sanggup melihat Revan yang seperti dulu disaat dia melihat Revan yang begitu terpuruk karena Vania yang koma dan karena Vania yang sempat dinyatakan meninggal.
Revan semakin tidak bisa berfikir jernih. Dia harus apa? Dia harus bagaimana? Revan benar-benar tidak mungkin melakukan itu.

Arkana menggerakan jari telunjuknya memberi isyarat pada seorang.
“Kenapa? Lo nggak bisa pilih?” Rendi menggantungkan ucapanya lalu tertawa pelan.”Oke, kalau gitu gue basmi aja yang ini,” katanya sambil menyayat pisau itu pada leher Vania membuat Vania menjerit kesakitan.
“ANJ*NG LO!”

BUGH!
Belum juga Revan sampai karena beberapa anak geng menghalangnya, seorang sudah menendang Rendi dengan begitu kuat membuat Rendi seketika terkapar dengan pisau yang terlempar, cewek itu langsung melempar pisau itu sejauh mungkin. Dia Aqilla Argani, Ibu Komanda Ginggirls.

“GINGGIRLS! SERANG!” teriak Aqilla membuat puluhan cewek dari dalam rumah tua, dari belakang, samping kiri dan kanan mengepung Rendi, Siska dan Meli.

Meli dan Siska kelimpungan melihat banyak cewek yang mengepung mereka. Sementara Rendi bingung melihat para cewek yang membantu Revan dan yang lainya. Sedetik kemudian dia tersadar. Sial! Rendi lupa kalau ada geng cewek yang jago bela diri dekat dengan ketiga Pasukan itu. Argh! Rencananya pasti gagal.
Vania bernafas lega karena geng Ginggirls menyelamatkannya. Beberapa anak Ginggirls melepaskan ikatan pada tubuh Vania.

Aqilla tersenyum miring.”Sebagian urus itu, dan gue urus ini,” katanya sambil menunjuk Meli dan Siska lalu beralih menunjuk Rendi yang sudah kembali berdiri.

Mereka mengangguk mengiyakan lalu mulai melaksanakan perintah.

Siska dan Meli saling membelakangi, mereka berdua benar-benar dikepung. Disa, cewek itu memainkan tongkat baseball kesayanganya yang berwarna hitam dipadu garis pink dibagian cekalanya. Tongkat itu dia arahkan kedagu Meli lalu mengangkatnya sedikit.”Jadi ini, sahabat Vania. Sahabat yang paling menjijikan.”
Disa tertawa ringan.”Cih! Bahkan lo lebih menjijikan dari pada bangkai!” ucapnya tajam membuat Meli yang tidak terima lantas mengnepis tongkat itu. Saat hendak menampar Disa, Disa lebih dulu mencekal pergelangan tangan Meli. Disa tersenyum miring.”Nggak akan segampang itu lo tampar pipi gue,” ujarnya lalu mencengkram pergelangan tangan Meli membuat Meli menjerit kesakitan.

Sementara Siska, dia sudah lebih dulu anak Ginggirls kasih pelajaran. “Gitu doang nangis!” ucap salah seorang.

“Cengeng lo ah! Nggak seru!” kata cewek lainya.
“Jahat lo! Berani banget siksa Incess!” ujar Nathalia pada Siska sambil menendang Siska membuat Siska terjatuh.

“Ampun, gue… gue ngaku gue kalah, jangan siksa gue,” ucap Siska parau dengan air mata yang sudah luruh.
“Gue mohon, jangan siksa gue lagi,” ucap Meli yang sama-sama sudah terjatuh. Mereka memohon-mohon ampun membuat para anak Ginggirls tertawa.

“Heh! Makanya jadi orang tuh jangan munafik! Dikasih sahabat kayak malaikat, eh ini malah dijahatin. Dih, jijik gue,” ucap Disa sambil bergidik jijik.

“Amit-amit dah gue punya temen kayak lo berdua,” ucap salah satu Anak Ginggirls membuat mereka mengangguk.
Nathalia menggelengkan kepalanya pelan.”Nggak habis pikir gue sama lo berdua. Otaknya pada kemana si? Di culik Om-Om? Kok pada bego banget si! Udah tahu Vania kesayangan Singa. Eh malah lo siksa, ya Singa marah lah,” ujar Nathalia sambil berkacak pinggang.

Disa hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar penuturan Nathalia, diculik Om-Om katanya? Dasar Nathalia!
BUGH!

“Jiahh cowok kalah sama cewek!” ujar Aqilla sambil tertawa terbahak-bahak melihat Rendi yang sudah terkapar dengan muka babak belur.

Salah satu teman Aqilla tertawa.”Gayanya aja ngancem, tapi baru gini doang kalah, ahahaha cemen lo!” sarkasnya membuat para cewek yang tadi menyiksa Rendi tertawa puas.

Sial! Harga diri Rendi benar-benar dibuat jatuh oleh para cewek itu.

Aqilla menyimpan kakinya di punggung Rendi lalu menatap Arkana yang tengah berkelahi, saat Arkana menatapnya Aqilla mengacungkan jempo pertanda beres membuat Arkana tersenyum padanya.

Vania yang masih shock hanya bisa anak Ginggirls jaga karena takut ada yang mencelakainya lagi sebelum menyerahkannya pada Revan, Revan masih berkelahi dengan beberapa anak geng Gleatser dan Revold, sedangkan anak The Viking’s sudah kalah semua.

Selang beberapa menit, mereka selesai menghajar semuanya. Dengan nafas terengah, muka yang sudah babak belur, tangan yang penuh luka dan bercak darah juka jaket dan baju yang terdapat noda darah, Revan menghampiri Vania.

Vania hanya diam dengan bibir bergetar saat Revan menghapus air matanya lembut. Satu tangan Revan terkepal kuat saat melihat luka-luka pada wajah dan tubuh Vania. “Maaf, lagi-lagi aku terlambat,” ucap Revan pelan membuat Vania yang tidak sanggup berucap segera memeluk Revan dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.
“Ini semua salah aku! Aku yang terlalu bodoh! Aku yang terlalu egois!” ucap Vania penuh penyesalan. Andai saja, dia tidak punya ego yang tinggi, semua ini tidak akan terjadi dan Revan tidak akan seperti ini.
Revan mengelus puncak kepala Vania lembut.”Jangan bilang gitu. Kamu nggak salah.”

“Semua ini salah aku Re! Salah aku!”
“Udah, jangan ngomong kayak gitu lagi. Aku nggak suka kamu kayak gitu.” Vania tidak mampu menjawab ucapan Revan, dia hanya menangis dan menangis menyesali semua kebodohannya.
Mahesa yang menyadari sesuatu lantas membulatkan matanya.”REVAN VANIA AWAS!” sontak Revan yang tersadar langsung membalikan tubuhnya.

BUGH!
“REVAN!” semua terpekik histeris saat Rendi berhasil memukul tulang punggung Revan menggunakan balok kayu. Sebenarnya Rendi akan memukul Vania, tetapi Revan malah berbalik sehingga pukulan itu mengenai dirinya.
Arkana, Satria, Mahesa, Saka dan Irfan langsung bertindak.

Revan dan Vania saling tatap, keduanya hanya diam, Vania semakin menangis melihat Revan yang melindunginya, bibir Vania bergetar menahan isakan.”Revan,” lirihnya.

“Aku sayang kamu Van-” kata Revan pelan, ucapan itu menjadi penutup sebelum akhirnya Revan ambruk tidak sadarkan diri dipelukan Vania. Bahkan, Revan belum selesai menyebutkan nama Vania.
“REVANNNN!!” teriak Vania histeris, dia ikut jatuh karena kakinya terlalu lemas untuk menahan.
“Re bangun Re,” ucap Vania sambil menepuk pipi Revan.

Reno lantas segera menghampiri Revan.”Revan bangun Revan!”
Semua panik, semua langsung bertindak mengangkat Revan dan membawanya ke rumah sakit.

***

Mereka sudah sampai di rumah sakit. Brankar yang membawa Revan sudah di dorong menuju IGD.
Vania tidak pernah melepaskan genggamannya dengan Revan. Dia terus menggenggam tangan Revan.
Mereka mengikuti kemana brankar yang membawa Revan didorong.

Vania sejujurnya masih tidak sanggup untuk berjalan akibat kakinya yang masih terasa sakit, juga beberapa bagian tubuhnya yang masih terasa sakit. Tapi Vania terus memaksakan langkahnya, dia hanya ingin menemani Revan, dia tidak mau meninggalkan Revan.

Mata Revan sedikit terbuka, samar-samar dia bisa melihat orang-orang yang mengelilinya. Pandanganya menjadi kabur, yang dia ingat hanya Vania.”Van ….” Revan berucap begitu pelan dan lirih.
Vania yang mendengarnya lantas mengalihkan pandangnya.”Revan? Ini aku disini Re,” kata Vania parau sambil memegang sebelah wajah Revan.

Revan hanya diam, pandangnya mulai jelas dan bisa melihat Vania yang ada di sampingnya walau masih buram, matanya mengedip dengan begitu pelan.

“Kamu harus kuat Re,” ucap Vania pelan.
“Kamu harus kuat,” lanjutnya lagi.
“J-jangan … pergi …” Revan kembali berucap dengan suara pelannya, tangannya membalas genggaman Vania dengan sisa tenaga yang dia punya.

Vania mengeleng. “Nggak. Aku nggak akan pergi. Aku disini, di samping kamu.”
Revan tersenyum kecil, matanya kembali mengedip dengan begitu pelan sebelum akhirnya mata itu benar-benar kembali tertutup.

Semua yang menyaksikan itu hatinya ikut tersayat. Sampai kapan mereka akan diuji? Baru kemarin mereka merasakan kebahagian, tapi sekarang mereka harus kembali seperti ini.
“Maaf, kalian harus menunggu di luar,” ujar seorang perawat membuat Vania menggeleng keras.
“Nggak! Saya mau masuk! Saya mau temenin Revan!”

“Maaf Mbak. Mbak tidak bisa masuk,” katanya lagi.

Vania tidak mau, dia tetap terus memaksa masuk membuat para perawat itu segera mendorong masuk brangkar.
Aqilla berusaha menarik Vania yang tidak mau melepaskan Revan.”Van udah, biar kita tunggu disini.”
“Nggak! Gue mau temenin Revan!” sentak Vania parau tetapi brangkar tetap didorong membuat genggaman itu perlahan terlepas.

Hingga akhirnya, genggaman itu benar-benar terlepas membuat Vania tidak bisa melihat Revan lagi karena pintu ditutup.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here