Untuk Revan #38

0
70
views

Tentang Mereka


Vania duduk melamun di kursinya sambil mengetuk-ngetukan bolpoinya di meja dengan satu tangan menopang dagunya. Pikiranya terus berkecamuk, di otaknya hanya terlintas pertanyaan ‘Siapa cewek itu?’ hanya itu beserta beberapa pertanyaan lainnya yang kenapa foto itu bisa berada di kamar Revan.

Guru mata pelajaran selanjutnya belum masuk membuat kelas sedikit ricuh.

Sedikit info. Revan masih belum sekolah hari ini, dia masih sakit.

Rini dan Amanda yang melihat Vania lebih banyak diam lantas saling pandang dengan tatapan heran. Tidak biasanya Vania seperti ini.

Rini mengibas-ngibaskan sebelah tanganya di depan wajah Vania.”Van? Woi! Lo kenapa?”

Vania tersadar dari lamunanya.”Eh iya? Kenapa, Rin?” tanya Vania setengah kaget.

Rini menghembuskan nafasnya kasar.”Lo kenapa sih? Dari tadi bengong mulu.”

Vania menggeleng.”Nggak pa-pa kok,” jawabnya berbohong. Vania hanya tidak ingin bercerita untuk saat ini, dia akan menceritakannya nanti setelah dia tahu cewek itu siapa.

Amanda memandang Rini dengan curiga.”Lo bohong ya? Ada masalah apa lo?”

Vania kembali menggeleng.”Nggak, Man. Gue baik-baik aja kok, cuma sedikit pusing doang,” ucapnya lagi-lagi berbohong.

Amanda merasa tidak percaya, namun ekspresi wajah Vania membuatnya hanya mengangguk saja.

Amanda teringat sesuatu.

Brak!

“Apaan sih lo!” kesal Rini karena Amanda tiba-tiba memukul meja cukup keras.

Amanda berkacak pinggang sambil menatap Vania dengan raut muka tidak suka. Vania yang ditatap seperti itu merasa heran.”Lo kenapa, Man?” tanya Vania heran.

“Lo yang kenapa!”

“Lah, emangnya Vania kenapa?” tanya Rini bingung.

“Lo tahu, nggak? Para cewek iblis itu udah keluar dari penjara!” kesal Amanda membuat Rini agak bingung. Cewek iblis? Siapa?

Sementara Vania hanya terdiam mendengarkan ocehan keduanya. Dia sudah yakin Amanda yang akan meledak duluan karena tahu keempat cewek itu sudah keluar dari penjara. Dan ternyata benar.

“Cewek Iblis? Siapa sih?” tanya Rini tidak mengerti.

Amanda merasa geram dengan Rini yang otaknya mulai loading.”Cewek Iblis yang udah celakain Vania!” ucapnya dengan menggebu-gebu.

Seketika Rini membuka mulutnya kaget.”SEJAK KAPAN?! KOK GUE NGGAK TAHU?!” katanya heboh mebuat beberapa teman sekelasnya ada yang menatap heran kearah mereka bertiga.

Amanda menghembuskan nafasnya kasar.”Tanya aja sama Vania!” jawabnya ketus. Dia sangat kesal karena mendapat kabar seperti itu tadi pagi.

Sebenarnya Amanda tahu kabar itu dari Saka, karena memang tadi dia berpas-pasan di koridor dan Saka sempat mengajaknya ngobrol. Ya walau bukan obrolan biasa, obrolan yang bisa dibilang pertengkaran. Yang satu menyebalkan, yang satu lagi bar-bar. Gimana mau ngobrol santai coba?

Rini beralih memandang Vania dengan tatapan minta penjelasan.”Sejak kapan, Van? Kok gue nggak tahu?” tanya Rini kesal.

Vania menghembuskan nafasnya lebih dulu.”Beberapa hari yang lalu,” jawab Vania tenang.

Amanda memutar bola matanya malas.”Kenapa pake dibebasin sih? Udah aja penjarain seumur hidup!” kesalnya.

“Man, mereka masih di bawah umur. Papa penjarain mereka biar mereka kapok,” tutur Vania.

“Yaelah! Kenapa Papa lo nggak penjarain mereka lebih lama lagi sih?” tanya Rini heran.

“Papa nggak akan setega itu,” jawab Vania. Sekarang, tahu, kan? Dari mana sifat baik hati Vania.

Amanda memutar bola matanya jengah.”Pantes aja hati lo lembut. Ternyata turunan,” ujarnya setengah kesal.

“Emangnya kenapa si?” tanya Vania heran. Memang ada apa? Memang harus segitu hebohnya?

Rini menghembuskan nafasnya kasar mendengar penuturan Vania. Vania ini tidak takut apa? Kalau mereka mencelakai dirinya lagi?

“Lo nggak takut mereka berbuat jahat lagi sama lo?” tanya Rini membuat Vania terdiam.

Sejujurnya, sama sekali tidak terlintas dipikiran Vania mereka akan berbuat jahat lagi padanya. Dia yakin mereka akan berubah setelah mendapatkan hukuman yang mungkin membuat mereka kapok dan tidak akan lagi melakukan tindak kriminal.”Mereka pasti berubah,” jawab Vania membuat kedua temanya itu memutar bola matanya malas.

Vania kadang terkesan yakin dengan ucapanya namun semua itu kadang kala menjadi bomeran tersendiri untuknya.

***

Vania sedang berjalan sambil memasangkan headseat ditelinganya. Hari ini dia memilih berjalan kaki terlebih dahulu sebelum dia memesan taksi untuk pulang.

Tadinya Saka atau Irfan dan kedua sahabatnya mengajak Vania pulang bersama salah satu dari mereka. Namun sifat keras kepalanya membuat mereka tidak bisa berkata-kata lagi. Padahal, Revan sudah mewanti-wanti agar pulang bersama Irfan atau Saka atau yang lainya, tapi Vania tidak mengikuti ucapan Revan. Entahlah, dia hanya ingin menikmati waktu sendiri sambil memikirkan siapa gadis itu.

Gadis dalam foto itu yang membuat Vania akhir-akhir ini menjadi sering melamun dan banyak pikiran.

Vania terus berjalan sambil sesekali menendang batu krikil dan bersenandung.

Tiba-tiba, ada seorang yang menarik headseat Vania, membuat Vania refleks menoleh.

“Lo?!”

“Hai?” sapanya, itu David.

Vania memalingkan wajahnya, lalu kembali berjalan tanpa menghiraukan David. David masih tetap setia mengikuti langkah Vania. “Omongan gue bener, kan? Kalau kita bakal ketemu lagi.”

Vania diam enggan menjawab, dia sedikit risih karena David masih berjalan beriringan denganya. Kenapa David terus mengikutinya? Kemana motor lelaki itu?

“Anak SMA Khatulistiwa,” gumam Vania dalam hati saat tadi dia melihat bet yang David kenakan.

“Lo kenapa sendiri?” tanya David.

“Bukan urusan lo,” jawab Vania ketus.

David sedikit terkekeh. “Lo ketus banget si sama gue, gue nggak bakal apa-apain lo kali.”

“Lagian lo ngapain ngikutin gue?”

“Karena gue mau buktiin ucapan gue kemarin.”

Kembali hening, mungkin Vania akan segera memesan taksi online agar David tidak terus mengikutinya.

“Lo pacarnya Revan, kan?” tanya David membuat Vania yang hendak memesan taksi menatap David. Bagaimana dia tahu?

“Kenapa lo tahu?”

Davis balik menatap Vania. “Lo selalu jadi sorotan Vania. Termasuk di sekolah gue. Dan Revan, dulu temen gue. Jadi gue tahu lo pacarnya Revan.”

“Revan temen lo? Dulu?” tanya Vania. David mengangguk.

Vania mulai berjalan, Davi kembali mengikuti kemana Vania melangkah.”Kalau sekarang?”

“Nggak. Kita udah jauhan.”

“Kenapa?” tanya Vania.

“Ada sedikit masalah.” Vania hanya mengangguk, enggan bertanya lebih.

David menatap langit-langit. “Nggak nyangka ya gue, lo bisa gantiin posisi cewek dia dulu. Padahal, dia itu sayang banget sama Ailen, sampe-sampe jadi fakboi gitu gara-gara putus sama Ailen,” ujar David membuat Vania tercengang.

Ailen? pacar Revan dulu? Menjadi fakboi gara-gara Ailen?

“Siapa Ailen?” tanya Vania membuat David menoleh.

“Loh, lo nggak tahu siapa Ailen?”

Vania menggeleng, lalu dia mengambil sesuatu dari saku roknya dan memperlihatkannya kepada David. “Apa cewek ini yang namanya Ailen?”

David mengambil foto itu dari tangan Vania. “Lo dapat dari mana?”

“Lo nggak perlu tahu. Jawab pertanyaan gue!” ucap Vania sedikit kesal.

“Iya ini Ailen.”

Vania terdiam, banyak berbagai pertanyaan yang muncul dikepalanya.

“Lo bisa ceritain semua tentang Ailen dan Revan waktu dulu?” tanya Vania sambil menatap David penuh harap.

“Mangsa sudah masuk, Vid,” batin David berseru.

David tersenyum penuh arti. “Bisa. Kita cari tempat yang enak buat cerita.”

Vania mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Semoga, semoga apa yang Vania takutkan tidak terjadi.

***

“Halo, Tuan,” ucap seorang pria berbadan kekar pada seorang di balik telepon.

“……..”

“Ada seorang lelaki yang mengajak Nona berbicara. Kelihatanya itu Anaknya Arya Mahendra.”

“…….”

“Baik, Tuan.” Lalu lelaki itu menutup teleponnya dan kembali mengawasi Vania dan David yang sedang mengobrol.

***

“Lo nggak mau gue anter?” tawar David setelah mengambil motornya.

Vania menggeleng. “Nggak, gue bisa pulang naik taksi.”

“Lo yakin?”

Vania mengangguk yakin. “Makasih udah mau cerita.”

David mengangguk, lalu mengacak rambut Vania gemas. “Berantakan, Vid!”

David tersenyum. “Nanti hati-hati.”

Vania terkekeh dan mengangguk. Kemudian David pergi melajukan motornya.

Saat di perjalanan, tiba-tiba ada yang menghadang David dengan mobil, membuat David refleks mengerem. Untung David ahli dalam bermotor, kalau tidak pasti dia sudah terjatuh.

Ada tiga orang berbadan kekar dengan stelan baju hitam seperti bodyguard. Mereka menghampiri David. Salah satu dari mereka mencengkram pundak David. “Ikut kami!” ujarnya.

David tersenyum smirk di balik helm. “Lo semua suruhan Reno?”

“Anda tidak perlu tahu! Mari ikut kami!” pria yang tadi mencengkram pundak David hendak menyeret David namun David menahanya dan menendang pria itu tanpa turun dari motornya.

Dua pria lain yang melihat itu langsung bertindak, namun belum sempat mereka mencekal lengan David, David terlebih dahulu menancap gasnya.

Ketiga orang itu langsung masuk mobil dan mengejar David.

“Nggak semudah itu kalian bisa tangkap gue,” ujar David sambil terus memacu laju motornya.

Saat di pertigaan, David membelokan motornya ke arah kiri, tapi mobil yang mengikuti David gagal mengejar David dikarenakan kucing nyebrang tidak liat-liat. Membuat pria yang menyetir itu mendadak ngerem.

“Sial!” umpatnya sambil memukul stir.

***

Setelah kepergian David, Vania kembali berjalan. Waktu sudah semakin sore, tapi Vania enggan memesan taksi atau kendaraan lainya.

Menikmati waktu sendiri sambil mengingat apa yang David ceritakan tentang Revan dan Ailen saat dulu.

Jadi, apa dia hanya sebagai pelampiasan Revan saja? Tapi kenapa sikap Revan selalu manis yang membuat Vania sulit untuk membedakan apa dia benar-benar sayang atau tidak pada Vania.

“Ailen itu cinta pertamanya Revan. Bahkan, Revan rela lakuin apa aja untuk lindungi dan turuti semua permintaann Ailen. Begitu pun sebaliknya.”

“Ailen itu temen gue, satu sekolahan sama gue. Dia itu paling suka nari sama dance. Dia juga ketua ekskul dance di sekolah gue.”

“Tapi takdir siapa yang tahu, Ailen malah pergi ninggalin Revan selamanya.”

“Ailen bunuh diri. Akibat kakinya dinyatakan lumpuh setelah dia ngalamin kecelakaan. Dia bener-bene putus asa akibat harapannya untuk nari dan nge-dance lagi itu mustahil”

“Dan itu semua buat Revan hancur, bener-bener hancur. Dan yang gue denger, setelah Ailen pergi, Revan jadiin cewek sebagai pelampiasannya doang buat lupain Ailen dan nggak larut-larut dalam kesedihannya.”

Ucapan-ucapan David terus berputar dikepala Vania. Apa dia juga menjadi salah satu gadis pelampiasannya Revan, Kalau bukan? Kenapa foto Ailen masih Revan simpan? Sebegitu sulitkah memulai kisah yang baru tanpa ada kata masalalu?

Apa Revan akan sama seperti Rendi? Yang meninggalkannya setelah melambungkannya ke udara setinggi langit?

Vania terus berjalan. Pikirannya kacau, Vania takut, Vania takut jika dia di hadapkan pada sebuah kata perpisahan lagi. Apa mungkin kisahnya ini akan berakhir sakit lagi?

Vania ragu, Vania ragu jika memang Revan benar sayang padanya. Foto itu menjadi salah satu keraguan Vania selain cerita yang David sampaikan.

“Re, apa kamu memang cuma jadiin aku sebagai pelampiasan kamu aja?”

“Apa kamu, cuma jadiin aku sebagai bayang-bayangnya Ailen?”

“Apa kamu juga akan pergi dan buat aku hancur untuk kedua kalinya?” Vania terus berucap sambil berjalan dan memeluk dirinya sendiri.

Kemudian, dia berhenti dan menatap langit sore dengan mata sendu. “Semoga, besok keraguan dan ketakutan aku ini hilang.”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here