Untuk Revan #37

0
113
views

Siapa


Revan hanya diam dengan masih memeluk Vania. Dia membuka mata dan menatap Vania. “Maaf,” ujar Revan dengan tiba-tiba membuat Vania bingung.

“Buat apa?”

“Maaf aja.”

Rasanya, Revan merasa bersalah karena masih menyimpan foto Ailen. Seharusnya, dari awal saat dia memutuskan untuk menjalin kisah yang baru, foto itu sudah dibuang. Sekali lagi, Revan dan Ailen itu sudah beda.

Mungkin, secepatnya dia harus menceritakan tentang Ailen pada Vania. Vania harus tahu tentang Ailen.

“Kamu nggak jelas.” Vania kemudian melepaskan pelukan Revan dan beralih mengambil piring yang ada di nakas. “Makan dulu.”

Revan bangkit dari tidurnya dan duduk. “Suapin.”

“Makan sendiri,” ujar Vania sambil menyerahkan piringnya ke hadapan Revan.

Revan menggeleng seperti Anak kecil. “Nggak, maunya disuapin.”

“Jangan mulai deh manjanya.”

“Biarin, sama kamu ini.”

“Makan, Re,” ucap Vania gemas.

Revan kembali berbaring dengan memunggungi Vania. “Ya udah kalo nggak mau disuapin. Aku nggak mau makan.”

Sifat keras kepala dan manjanya Revan sudah mulai datang membuat Vania harus sabar menghadapinya.

Vania menghembuskan nafasnya kasar lalu menarik selimut Revan. “Diem!” ujar Revan. Ngambek katanya.

“Makan dulu ih!”

“Nggak!”

Lagi dan lagi Vania menghembuskan nafasnya kasar. Oke, dia kembali mengalah. “Iya aku suapin.”

Revan tersenyum penuh kemenangan, dia kemudian kembali duduk dengan segera. “Aaaa…”

Persis seperti Anak kecil yang meminta disuapi oleh Ibunya. Dasar Revan! Ada saja kelakuan manjanya. Vania lalu menyuapi Revan dengan bibir sedikit maju.

“Itu kenapa bibir dimaju-majuin? Mau di hukum?” Dengan segera Vania menutup bibirnya.

Revan mendekat. “Gimana?”

“Apaan sih kamu!” kesal Vania.

Revan tertawa lalu menusuk-nusuk pipi Vania dengan jari telunjuknya. “Itu pipi kenapa merah gitu kaya tomat?”

Refleks Vania menyentuh pipi-pipinya dengan satu tangan. “Ih apaan sih nggak!”

Revan kembali tertawa. “Kalau gini makin merah nggak?”

Sial! Pipi Vania makin merah akibat ciuman dipipinya. Argh! Kenapa Revan suka sekali menggoda dirinya yang membuat mukanya ini selalu merah. “REVAN!”

“Makan sendiri!” kesal Vania lalu meletakan piringnya di nakas dan berjalan hendak keluar kamar. Ayolah! Vania malu akibat wajahnya yang selalu tidak bisa diajak satu hati ini.

“E-eh jangan ngambek dong.” Revan bangkit dan hendak mengejar Vania, namun tiba-tiba kepalanya pusing membuatnya mengaduh dan memegangi kepalanya.

Vania yang mendengar Revan mengaduh menghentikan langkahnya saat hendak membuka pintu. Dia kaget saat melihat Revan yang pusing, lantas Vania kembali berjalan menghampiri Revan dengan tergesa-gesa.

“Kamu nggak papa?” tanya Vania sambil memegang tangan dan pinggang Revan.

“Udah nggak ngambek?”

Ck! Revan masih saja sempat-sempatnya menanyai Vania marah atau tidak. “Masih aja sempet nanya itu!”

“Duduk!” titah Vania galak, Revan menurut dan duduk di tepi kasur.

“Obat kamu belum diminum.”

Vania mengambil piring yang tadi dia letakan di nakas. “Makan!” ujar Vania sambil mengarahkan satu sendok makanan ke hadapan Revan. Revan menerima suapan tersebut.

“Jangan marah-marah,” ujar Revan.

“Aku nggak marah.”

“Terus tadi?”

“Aku kesel! Kamu kayaknya hobi banget bikin muka aku merah!”

Revan terkekeh. “Emang iya.”

Vania hanya mendengus sambil menyuapi Revan kembali. Manja sekali Revan!

“Di sekolah nggak ada yang gangguin, kan?”

Vania menggeleng. “Nggak.”

“Yang lirik-lirik kamu?”

“Soal itu ya pasti ada.”

“Siapa yang berani lirik-lirik kamu? Biar aku tusuk tuh mata! Nggak sopan banget lirik pacar orang! Mentang-mentang¬†pacarnya nggak sekolah!”

“Siapa, Van? Bilang?” ujar Revan dengan nada kesal. Siapa mereka? Berani-beraninya melirik pacar seorang Revano Anggara Putra! Itu tidak boleh, sangat dilarang keras!

Vania memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Revan salah mengartikan ucapan Vania.

“Revan yang ganteng. Memangnya kalau orang lewat depan kamu, kamu nggak bakal lirik dia gitu? Ya nggak mungkin nggak lah,” ucap Vania gemas, rasanya ingin Vania sentil ginjal cowok ini.

“Iya juga sih.”

“Tapi tetep aja mereka udah lirik kamu!” lanjut Revan tidak terima.

Vania menghembuskan nafasnya kasar. Dasar kepala batu!

“Terserah kamu deh, terserah!” ujar Vania. Urusannya bisa panjang kalau dia terus meladeni Revan. Vania lalu memasukan suapan terkahirnya ke dalam mulut cowok itu.

“Van? Siapa?”

Vania berdiri dan berjalan ke arah nakas, dia tidak mengindahkan ucapan Revan dan sibuk mengambil obat-obat untuk Revan minum. Vania harus menulikan telinganya untuk beberapa saat.

“Vania?”

Vania berbalik lalu memasukan satu obat ke dalam mulut Revan tanpa aba-aba. Membuat Revan yang hendak berbicara langsung diam dan meminum air yang Vania serahkan.

“Vania a–” Lagi, Vania memasukan obat lagi ke dalam mulut Revan.

“Bentar dulu aku mau ngomong!” kesal Revan setelah dia menelan obatnya.

“Nggak!” Dan obat terakhir pun berhasil Vania masukan lagi ke dalam mulut Revan. Setelah meminum air, Revan menatap Vania datar.

Sementara Vania memasang senyum semanis mungkin. “Udah, bayi gede bobok ya. Kan obatnya udah diminum,” ujar Vania sambil mengacak rambut Revan gemas.

Revan masih diam dengan tatapan datar.

Saat Vania hendak membereskan piring dan obat-obatnya. Revan malam menarik Vania sehingga Vania jatuh di kasur dengan Revan diatas Vania namun menyamping.

“Re a-aku mau pulang,” ujar Vania gugup.

Revan masih diam. Perlahan, dia membaringkan tubuhnya di sebelah Vania dan memeluk Vania dari samping.

Jantung Vania sudah berdebar nggak karuan. Bagaimana tidak? Revan memeluknya dengan posisi seperti ini . Apalagi ini di kamar lo!

“Aku mau tidur,” ujarnya dengan menutup mata.

“Tapi a–”

“Kamu harus temenin aku sampe aku tidur. Baru boleh pulang,” potong Revan sambil memejamkan matanya dengan kepala yang dia simpan dipundak Vania.

“Kalau Bunda liat gimana?”

“Bodo amat.” Vania mendengus mendengarnya. Dasar si keras kepala!

Revan mengambil satu tangan Vania dan meletakan tangan Vania dipuncak kepalanya.”Ngerti, kan?” tanyanya membuat Vania menghembuskan nafas pelan.

“Iya ngerti,” jawabnya membuat Revan tersenyum. Vania mulai mengusap rambut Revan dengan lembut agar cowok ini cepat tidur. Tidak baik berlama-lama ada diposisi seperti ini!

Revan yang mulai terlena dengan sentuhan lembut Vania dikepalanya perlahan mulai memasuki alam mimpinya, apalagi dengan reaksi obat yang sepertinya mulai bekerja membuat Revan semakin mudah memasuki alam mimpinya.

Beberapa menit berlalu. Vania melirik Revan, cowok itu sudah tertidur dengan nafas teratur, tetapi tanganya masih setia memeluk Vania.

Perlahan, Vania bangkit dari tidurnya dan melepas tangan Revan yang melingkar diperutnya dengan hati-hati. Vania berlapas lega karena Revan tidak terusik dengan gerakannya.

Saat hendak pergi, Vania menyentuh kening Revan terlebih dahulu, mencoba mengecek apakah dia masih demam atau tidak. Vania tersenyum lega, demannya sudah mulai turun. Kemudian dia menyelimuti Revan sebatas dada.

Vania mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Revan. “Cepat sembuh sayang,” bisiknya dengan senyuman.

Vania terlebih dahulu membereskan piring tadi dan juga obat-obatanya. Saat Vania hendak berjalan keluar, tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. Vania menyimpan kembali nampannya lalu berjongkok untuk mengambilnya.

Ternyata selembar foto, Vania membalikan foto tersebut. Seketika Vania seakan membeku di tempat.

Ini siapa?

Vania menatap Revan yang tertidur. Kenapa ada foto perempuan di kamar Revan? Vania meneliti wajah perempuan itu, tapi Vania tidak mengenal siapa perempuan ini.

Seketika Vania langsung mengingat lelaki tadi. Dia belum menceritakan tentang lelaki bernama David Mahendra itu kepada Revan. Sebenarnya tadi Vania ingin bercerita, namun niat itu harus terurung akibat Revan yang membuatnya kesal.

Apa mungkin Revan masih sama seperti dulu?

Vania menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh berfikir negatif terlebih dahulu. Vania memasukan foto itu ke dalam saku roknya. Mungkin dia akan bertanya setelah Revan sembuh nanti, dan juga menceritakan tentang David yang tiba-tiba mengajaknya berkenalan.

Vania kembali mengambil nampan tadi dan bergegas keluar kamar.

“Wiii ada lo ternyata.” Vania tersentak kaget saat Sheila tiba-tiba ada di hadapanya.

Vania mengusap dadanya. “Kak Sheila ngagetin banget.”

Sheila nyengir. “Sorry, gue kira lo nggak akan kaget.”

“Iya nggak papa.”

Sheila menatap nampan yang Vania bawa. “Lo udah kasih dia makan?”

Vania mengangguk.

Sheila menggeleng. “Mau aja lo sama dia. Ganteng nggak, suka kentut sembarangan iya.”

Inilah definisi Kakak kurang ajar sesungguhnya. Menjelek-jelekan Adik sendiri di depan pacarnya. Padahal nyatanya, tidak tahu benar atau salah.

Vania berfikir, apa dia harus menanyai Sheila tentang perempuan yang ada di foto tadi?

“Van?”

“Woy!”

“Lo denger gue ngomong nggak sih?” Vania tersadar dari lamunanya karena Sheila yang mengibas-ngibaskan tanganya di depan wajah Vania.

“E-eh iya, Kak? Kakak tadi bilang apa?”

Sheila menghembuskan nafasnya, gagal sudah dia menjatuhkan citra Adiknya dimata pacarnya. “Ah, lo mah, gimana sih.”

Vania merasa tidak enak. “Maaf Kak, aku t–”

“Nggak papa,” potong Sheila. Lalu dia berjalan menuju kamarnya. Vania menatap Sheila yang sudah masuk kamarnya lalu turun ke bawah untuk menyimpan nampan ini di dapur.

“Vania?” ucapan itu membuat Vania menoleh setelah Vania dari dapur.

“Iya, Bun?”

“Gimana Revan? Udah makan sama minum obatnya?”

Vania mengangguk. “Udah. Demamnya juga udah mulai turun.”

Jasmine tersenyum lega. “Syukurlah.”

“Bun, Vania pamit pulang dulu ya,” ujar Vania sambil menyalimi Jasmine.

“Nggak mau makan dulu? Bunda udah masak loh.”

Vania menggeleng dengan senyuman. “Nggak, Bun. Lain kali aja.”

“Yakin?”

“Iya, Bun.”

Jasmine mengangguk mengerti. “Kamu pulangnya dianter sama supir tadi aja, ya?”

Vania menggeleng. “Nggak papa, Bun. Vania bisa n–”

“Nggak bisa. Pokoknya kamu pulang harus dianter sama supir,” potong Jasmine.

Vania sedikit berfikir. Mau menolak tidak enak, tapi kalau mengiyakan merasa merepotkan.

“Nggak ngerepotin kok, Van,” ucap Jasmine seolah tahu pikiran Vania.

“Beneran nggak papa, Bun?”

Jasmine terkekeh. “Kamu kayak sama siapa aja.”

Vania tersenyum. “Yaudah boleh, Bun.”

***

Vania langsung masuk ke dalam kamarnya saat sudah sampai di rumah.

Saat di kamar, Vania langsung membanting dirinya di kasur. Vania menatap langi-langit kamarnya sambil memikirkan foto tadi.

Lalu dia mengambil foto itu dari saku roknya. Vania meneliti wajah gadis itu. Cantik, satu kata itu yang meluncur mulus dari bibir Vania.

Tapi siapa dia? Kenapa fotonya harus ada di kamar Revan?

Apa Vania harus bertanya pada Saka atau Irfan? Mungkin salah satu dari mereka berdua tahu siapa foto gadis ini.

Vania kemudian memposisikan dirinya menjadi duduk. Lalu Vania mengambil ponselnya dari dalam tas dan mencari kontak Saka di Aplikasi WhatsApp-nya. Bertanya pada Irfan mungkin bukan jawaban yang akan Vania dapat, melainkan celotehan atau perkataanya yang akan membuat Vania kesal.

Saat hendak mengetik dan mengirim foto gadis ini yang sudah Vania potret dengan kamera ponselnya tiba-tiba niat itu terurung.

Vania kembali mengeluarkan Aplikasi WhatsApp-nya. Mungkin, menanyai Revan secara langsung akan lebih jelas. Atau mungkin, Vania akan menunggu Revan mengatakannya langsung tanpa Vania tanya terlebih dahulu bertanya.

“Aku harap, dia bukan orang yang spesial untuk kamu, Re,” gumam Vania.

***

Seorang cowok yang memakai baju hitam dengan sebatang rokok yang dia hisap itu tersenyum smirk melihat kedatangan tiga orang andalanya untuk melancarkan rencananya.”Bagus, lo semua udah balik,” katanya dengan senyum senang.

“Tapi Nayla dan Abel nggak ikut. Mereka nggak mau terlibat lagi,” ucap seorang cewek yang berdiri di samping kanan seorang cowok.

David, cowok itu sedikit berdecih mendengarnya.”No problem. Lagian nggak ada mereka nggak akan buat gue rugi,” jawabnya.

“Foto yang lo maksud nggak mempan buat mereka?” tanya seorang cowok. Dia, Rendi.

David menggeleng.”Nggak, mereka kelihatan baik-baik aja. Tapi lo semua tenang aja, gue udah memulai rencana gue selanjutnya,” katanya dengan senyum miring.

David beralih menatap cewek yang berada di sebelah kiri Rendi.”Lo!” David menggantungkan ucapanya sambil menarik rambut cewek itu cukup kasar yang mana membuatnya meringis kesakitan.”Lo sempet mau hancurin rencana gue! Kalau gue nggak punya hati! Gue mana sudi libatin lo lagi!” ujarnya sambil melepas tarikan pada rambut cewek itu.

Meliana Pranata, cewek itu sudah keluar dari penjara beberapa hari yang lalu bersama Siska, Nayla dan Abel.

Sedangkan Rendi, dia kaya, mana mungkin orang tuanya tidak melakukan pengobatan terbaik untuk anaknya, jadi sekarang dia sudah sembuh dalam kurung waktu yang bisa dibilang tidak terlalu lama. Ya walau pun, kakinya saat ini masih harus pakai kruk untuk membantunya berjalan, tapi bisa dipastikan dia akan cepat sembuh. Soal tangan kedua cewek itu? Tangan mereka masih di gips, dan katanya beberapa hari lagi gipsnya akan dilepas.

“Gue nggak tahan liat dia seneng-seneng sedangkan gue menderita!” ujar Meli membuat David tertawa ringan mendengarnya.

Siska dan Rendi hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar itu.

“Lo masih belum puas, kan?” tanya David.

Meli mengangguk.”Ya.¬†Gue masih belum puas!”

“Tenang, lo akan main-main lagi sama dia. Termasuk lo berdua,” ucapnya sambil menunjuk Siska dan Rendi.

Rendi tersenyum tipis.”Gue nggak sabar pengen liat dia nangis dan kesakitan,” ungkap Rendi dengan senyum penuh arti.

Siska bersidekap dada.”Tangisan dan rasa sakit cewek itu adalah hiburan tersendiri untuk gue.”

Meli mengangguk membenarkan atas ucapan Siska.”Lo benar Sis.”

David yang melihat mereka bertiga seperti itu semakin tidak sabar menunggu hari itu tiba. David pastikan semua sudah siap dan sesuai rencana.”Gue yakin, Revan pasti bawa tiga Pasukan. Kita butuh tambahan orang,” ucap David pada Rendi.

Rendi tersenyum penuh arti.”Kita undang mereka semua,” katanya membuat mereka berempat tersenyum penuh arti.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here