Untuk Revan #36

0
119
views

Sebuah Foto


Revan sedang berbaring di kamarnya sambil menutup mata akibat demam, namun suara ketukan pintu membuatnya membuka mata dan memposisikan dirinya menjadi duduk. “Masuk aja.”

Pintu terbuka dan memperlihatkan Reno yang kelihatanya baru pulang kerja. Reno duduk ditepi kasur. “Masih demam?” tanya Reno.

“Sedikit.”

Reno menghembuskan nafasnya terlebih dahulu, dia harus membicarakan ini secepatnya, lebih cepat lebih baik. “Revan, ada sesuatu yang ingin Ayah tanyakan.”

Revan menatap Reno heran, sepertinya ada hal serius yang ingin Reno tanyankan. “Tanya apa?”

“Ayah minta kamu jawab pertanyaan Ayah dengan jujur.” Revan mengangguk saja.

“Apa kamu pernah ikutan geng motor liar?” Pertanyaan Reno mampu menbuat Revan terkejut, bagaimana bisa Ayahnya tahu soal ini?

“Dari mana Ayah tahu?” tanya Revan datar. Rasanya, saat mengingat semua itu membuat dada Revan sesak, ingin marah namun semua hanya sia-sia.

“Kenapa kamu mengikuti geng-geng yang tidak penting seperti itu? Apa manfaatnya?” tanya Reno sedikit meninggikan suaranya.

Pandangan Revan lurus ke depan. “Ayah tahu sendiri Revan dulu sebandel apa. Dan Ayah juga pasti tahu jawabannya karena apa,” jawab Revan dengan nada dingin, mengingat semua itu sama saja membuat hatinya kembali tersayat.

Reno menghembuskan nafasnya. “Ayah mintaa maaf Revan, jika dulu Ayah sering menyakiti kamu.” Mungkin, ini karena kesalahan dirinya yang dulu selalu tak pernah ingat pada keluarganya sendiri. Reno benar-benar menyesal.

Iya, Reno dulu memang seperti Fahri dan Viola yang gila kerja. Namun dia sadar, berkat Istrinya Jasmine yang mampu menyadarkan dirinya. Akibat dari perbuatannya, Revan menjadi sangat bandel dan sulit diatur, itu semua dia lakukan karena ingin mendapatkan perhatian dari Reno dan supaya Reno sadar kalau dia masih memiliki keluarga.

“Iya.”

“Ada satu hal lagi yang ingin Ayah tanyakan.”

Revan hanya diam.

“Apa kamu pernah, berpacaran dengan gadis yang bernama Ailen Mahardika?” Pertanyaan Reno mampu membuat Revan menatap Reno dengan sangat terkejut. Kenapa Ayahnya juga tahu soal Ailen?

Ck! Revan lupa, informasi seperti itu pasti sangat mudah untuk Ayahnya dapatkan.

“Nggak usah bahas itu, Yah,” ucap Revan sambil memalingkan wajahnya. Kenapa harus Ailen yang Reno bahas?

“Kenapa? Ayah ingin dengar dari mulut kamu sendiri.” Revan malas berdebat, dia kembali membaringkan dirinya di kasur tanpa mau menjawab pertanyaan Reno.

Reno kembali menghembuskan nafasnya, mungkin soal ini harus dibahas lain kali jika waktunya sudah tepat, kelihatanya topik ini sangat sensitif untuk Revan. Dia kemudian beranjak dari duduknya, sebelum menutup pintu, dia melihat Revan terlebih dahulu yang sudah menutup matanya lagi.

Revan membuka matanya saat Reno sudah pergi. Pertanyaan Reno mampu membuat Revan kembali mengingat kenyataan pahit itu, kenyataan yang membuat Revan masih belum bisa menerima semua itu.

Revan mengambil sesuatu dari dalam nakas. Sebuah foto, itu foto Ailen yang tengah tersenyum. Revan akui dia masih menyimpan foto Ailen, satu lembar, hanya satu lembar. Entah kenapa dia sangat sulit untuk membuang foto tersebut. Seharusnya dia tidak boleh seperti ini. Dia sudah mempunyai Vania, dirinya tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan dan sebuah penyesalan.

Sebenarnya Revan masih belum ikhlas Ailen pergi, dia juga masih menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tersebut. Seharusnya dia menyudahi semua ini, jika Revan masih belum ikhlas Ailen pergi, berarti hati kecilnya masih menyimpan rasa untuk Ailen walau sedikit. Itu salah, benar-benar salah, tidak seharusnya Revan seperti itu, sekarang Vania, hanya Vania yang seharusnya Revan pikirkan. Dia dan Ailen sudah beda.

Revan tersenyum tipis. “Alen, kamu mungkin tahu aku masih aja salahin diri aku sendiri, dan masih nggak terima sama semua itu.”

“Mungkin sekarang, aku akan bilang sama kamu. Aku ikhlas kamu pergi Alen, kamu juga berhak bahagia disana. Dan aku, nggak akan lagi salahin diri aku sendiri,” ujar Revan sambil menutup mata, entah kenapa saat Revan menutup matanya dia melihat seorang gadis tersenyum kepadanya sambil melambaikan tangan kearahnya.

Dia Ailen Mahardika, gadis itu terlihat sangat bahagia dan cantik dengan memakai gaun putih, Revan membalas lambaian tangan Ailen sambil tersenyum, perlahan gadis itu pergi dan menghilang seiring cahayanya hilang. Revan membuka matanya, senyumnya masih tercetak jelas dibibirnya. “Selamat tinggal Alen.”

***

“Van, lo pulang sendiri?” tanya Rini membuat Vania mengangguk.

Hari ini Revan tidak sekolah, akibat demamnya masih belum turun. Tadinya dia akan sekolah, tapi Vania memarahinya yang mana membuat Revan akhirnya menurut.

“Pulang sama gue aja.”

“Nggak papa, Rin. Gue pulang naik taksi aja. Lagian, Bunda Jasmine suruh gue ke rumahnya.”

Amanda menatap Vania sambil bersedekap dada. “Pokoknya lo pulang sama si Rini! Lo nggak boleh pulang sendiri!” Jika saja Amanda hari ini tidak ada jadwal ekskul basketnya, mungkin dia sudah menyeret Vania pulang bersamanya.

“Gue beneran nggak papa. Gue bisa naik taksi kok.” Amanda dan Rini saling tatap sambil menghembuskan nafasnya. Vania memang kadang keras kepala.

Mereka bertiga berjalan beriringan keluar kelas.

“Lo nggak dijemput gitu sama supir pribadi Papa lo?” tanya Amanda.

Vania menggeleng membuat Amanda berdecak. “Lo gimana sih!”

“Gue anter lo aja deh. Nggak tenang gue kalau lo pulang sendiri,” kata Amanda.

“Biar gue tungguin dia sampe nemu taksi, Man,” ujar Rini membuat Amanda berfikir.

“Udah, lo sekarang mending cepet kumpul sama anak basket lainya. Nanti lo bisa telat;” ujar Vania, Amanda masih menimang-nimang. Amanda hanya takut kalau terjadi apa-apa dengan Vania, insiden penusukan oleh sahabatnya sendiri membuat Amanda jadi was-was dan takut jika Vania pergi kemana-mana sendiri.

Vania menepuk pelan pundak Amanda. “Man, gue nggak papa kok”

Amanda menatap Vania dengan ragu. “Lo yakin?” Vania mengangguk mantap.

“Lo percayakan sang Incess pada seorang Rini, dijamin aman sentosa,” ujar Rini sambil menepuk dadanya bangga.

Amanda menghembuskan nafasnya. “Oke. Tapi awas lo, sampe Vania belum pulang, lo harus tetap jagain dia.”

Rini memberi hormat pada Amanda. “Siap! Komandan!” Amanda pun pergi ketempat dia dan anak-anak basket lainya berkumpul.

Vania menggelengkan kepalanya dengan tingkah laku kedua sahabatnya. Semenjak kejadian itu, Amanda dan Rini menjadi lebih perhatian terhadap Vania sebagai seorang sahabat. Vania sangat senang, walau pun dia juga sedih karena Meli tidak ada lagi diantara mereka.

Vania dan Rini mulai berjalan ke gerbang. “Lo mau nengok Revan?” tanya Rini memecah keheningan.

“Kata Bunda, Revan nggak mau minum obatnya sebelum gue datang.”

Rini menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Vania. “Nggak nyangka gue, ternyata si fakboi bisa insyaf karena lo.”

“Itu takdir.”

“Tapi si Revan possesive banget ya sama lo. Waktu upacara aja lo nggak boleh panas-panas.”

Vania terkekeh. “Itu namanya Sayang.”

Rini cemberut. “Ish! Gue jomblo kapan kelarnya coba.”

“Jadian aja sama si Irfan, apa susahnya,” ucap Vania dengan kekehan.

“Ya nggak sama Irfan juga kali,” jawab Rini sambil mendengus malas.

Vania celingak-celinguk mencoba melihat apakah ada taksi atau tidak. Entah kenapa hari ini taksi tidak ada yang lewat, padahal biasanya taksi selalu lewat sini. “Van, lo nggak pesen taksi online aja gitu? Atau ojol?”

Vania menggeleng.”Biasanya taksi suka lewat sini, tapi kok sekarang pada ngilang, ya?”

“Rin, lo dijemput?”

Rini menganggukan kepalanya. “Ikut gue aja, ya. Dari pada lo naik taksi, gue anterin deh sampe rumah Revan.”

Vania lagi-lagi menggeleng membuat Rini berdecak. “Kepala batu banget sih lo!”

“Eh itu kayaknya jemputan lo deh, Rin,” ucap Vania sanbil menunjuk mobil yang menuju ke arah mereka berdua.

Mobil itu berhenti tepat di depan Vania dan Rini. Lalu kaca mobil turun yang memperlihatkan seorang supir. “Non Rini.”

“Sebentar ya, Pak.” Sang supir menganggukan kepalanya.

Rini beralih menatap Vania. “Ikut gue ya?”

“Please,” mohon Rini namun Vania tetap menggelengkan kepalanya.

“Gue naik taksi aja.”

“Ck! Oke gue tungguin lo sampe lo nemu taksi.”

“Udah Rini, lo mending pergi. Gue nggak papa, kasian itu supir lo nungguin.” Rini menggeleng, membuat Vania menarik Rini untuk masuk kemobilnya.

“Apaan sih, Van.”

Vania membuka pintu mobilnya. “Masuk, Rin.”

“Nggak.”

“Masuk.”

“Nggak, Vania!”

“Masuk, Rin!” Vania memaksa Rini masuk walau Rini berontak, lalu Vania menutup pintu mobilnya. “Jalan, Pak!” ujar Vania dan diangguki oleh sang supir. Mobil pun berjalan membuat Rini menganga dengan kelakuan Vania.

“E-eh apa-apaan lo!” kesal Rini sambil menyembulkan kepalanya keluar jendela mobil , Vania malah melambaikan tangan kearahnya dengan senyuman.

Vania bernafas lega saat Rini sudah pergi, dia hanya tidak ingin membuat Rini harus menunggu taksi dengannya.

Saat hendak memesan taksi online, tiba-tiba ada motor yang berhenti di depan Vania. Vania masih terus fokus pada ponselnya, tidak meperdulikan sekitar. “Nama lo, Vania, kan?” ujar seorang saat sudah berada di samping Vania.

Vania mengangkat wajahnya, lalu menatap lelaki disampingnya sekilas dan kembali fokus pada ponselnya. “Hmm.” Hanya itu yang Vania jawab.

Lelaki itu tersenyum. “Ternyata, yang disebut-sebut Princessnya SMA Cakrawala emang bener-bener cantik ya,” ujarnya lagi.

“Makasih,” jawab Vania tak acuh.

Lelaki tersebut mengulurkan tangannya ke hadapan Vania membuat Vania sedikit mengangkat kepalanya. “David Mahendra,” ucap lelaki itu memperkenalkan diri.

Vania menatap lekaki itu sekilas, lalu membalas uluran tangan tersebut. “Vania Naquella Atmaja,” jawab Vania dan langsung melepaskan tangannyan. Enggan berlama-lama.

David menarik sudut bibirnya. “Lo nunggu jemputan?” Vania menggeleng.

“Mau bareng sama gue?” Vania kembali menggeleng. Apa-apaan lekaki ini, memangnya dia siapa? Sok akrab sekali.

“Oke, kalau gitu gue pergi dulu.” Vania enggan bersuara dan hanya menatap lelaki itu jengah. David pergi dan mulai menaiki motornya. Sebelum dia memakai helmnya dia terlebih dahulu menatap Vania. “Oh iya, gue pastiin kita akan ketemu lagi.” Setelah mengucapkan itu David memakai helmnya dan pergi.

Vania menatap kepergian David dengan heran.

“Permisi,” ujar seorang membuat Vania menoleh.

“Iya?”

“Apa benar Nona ini yang bernama Vania?”

“Iya saya sendiri, ada apa ya, Pak?” tanya Vania heran, sepertinya ini seorang supir pribadi, terbukti dari seragam yang dia kenakan.

Pria setengah baya itu tersenyum. “Saya supir pribadi keluarga Anggara. Tuan muda Revan yang menyuruh saya menjemput Nona.”

Vania terkejut dengan ucapan supir tersebut. Untung dia belum memesan taksi. Namun Vania sedikit ragu, apa benar ini supir pribadinya keluarga Revan?

Ting!

Bunyi notifikasi ponsel membuat perhatian Vania teralihkan, Vania membuka pesan dari Revan yang baru saja dia dapat.

|RevanoAnggara|
Supir udah jemputkan?

|VaniaAtmaja|
Itu beneran kamu yang suruh?

|RevanoAnggara|
Iya, biar kamu aman dan selamat.

Vania tersenyum, Revan memang selalu bisa membuatnya tersenyum.

“Mari Nona.” Vania mengangguk lalu sang supir membukakan pintu untuk Vania dan pergi.

***

“Assalammu’alaikum,” ujar Vania saat baru datang dikediaman rumah keluarga Anggara.

Jasmine datang dari arah dapur. “Wa’alaikum salam. Akhirnya kamu datang,” ujar Jasmine sambil memeluk Vania.

“Keadaan Revan gimana, Bun?”

Jasmine menghembuskan nafasnya lalu menggeleng. “Dia kalau udah keras kepala susah dibilangin. Dari tadi nggak mau minum obat sebelum kamu datang.”

Vania menggeleng tidak percaya. “Yang bener, Bun?” Jasmine mengangguk yakin.

“Sekarang juga belum makan. Kamu ke kamarnya aja ya, sekalian suruh dia makan sama minum obatnya,” ujar Jasmine membuat Vania sedikit terkejut. Ke kamar Revan katanya?

“Nggak papa, Bun?”

Jasmine tersenyum. “Nggak papa sayang.”

Kemudian Jasmine mengajak Vania untuk mengambil makan terlebih dahulu. Setelahnya Vania berjalan menuju kamar Revan yang ada dilantai dua. Kamar Revan berada di sebelah kiri pintu kedua dari empat pintu.

Tok … tok … tok …

Vania mengetuk pintu kamar Revan terlebih dahulu. “Masuk,” ujar Revan dari dalam.

Vania membuka pintu dengan perlahan, dia membawa nampan berisikan makanan kesukaan Revan serta obat dan minumnya.

Vania meletakan nampan tersebut di nakas. Kemudian dia menatap Revan yang menutup matanya. “Re kamu m–”

Dengan tiba-tiba Revan menarik Vania sehingga Vania jatuh dalam pelukan Revan dengan posisi Revan masih tertidur. “Sebentar,” ujar Revan sambil mepererat pelukanya.

Vania hanya diam, suhu badan Revan yang panas dapat Vania rasakan. “Makan dulu, Re.”

Revan hanya diam dengan masih memeluk Vania. Dia membuka mata dan menatap Vania. “Maaf,” ujar Revan dengan tiba-tiba membuat Vania bingung.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here