Untuk Revan #34

0
91
views

Aku khawatir Revan


 

“REVAN!”

Revan menghentikan langkahnya saat seorang menyerukan namanya dengan kencang. Dia berbalik dan mendapati Pak Maman tengah menatapnya tajam sambil berkacak pinggang.

“KE RUANGAN BAPAK SEKARANG JUGA!” teriaknya lagi membuat para murid yang mendengarnya terkekeh. Apalagi ini jam istirahat kedua.

“Iya, Pak. Tapi nanti,” jawab Revan sambil cekikikan dan kembali melanjutkan langkahnya dengan menyeret tongkat baseballnya.

“AWAS KAMU YA!” teriak Pak Maman kesal sambil mengusap dada melihat kelakuan muridnya yang kini membuat kepalanya kembali migren mendadak setelah sekian lama hanya membuatnya kesal saja.

Baju seragamnya entah kemana yang mana hanya menyisakan kaos hitamnya dengan celana abu-abu dan sepatu vans-nya. Tidak lupa dengan kalung pemberian Vania yang tetap setia tergantung dilehernya.

Tahu sendiri kalau cowok pake baju hitam gantengnya nambah.

Rambut halus hitam legamnya sedikit basah akibat keringat, tetapi itu malah membuatnya semakin tampan. Luka diwajahnya tidak dia hiraukan karena dia memang ingin si Tuan Putri yang mengobatinya.

“Pemandangan yang sungguh menyegarkan untuk mata ini yang sudah lelah,” ucap seorang Siswi yang duduk di kursi koridor kelas XI saat Revan lewat.

“Tapi sayangnya dia bukan milik gue,” katanya lagi dengan nada ngenes membuat temannya yang mendengar itu mendengus walau memang dia juga termakan pesona seorang Revano Anggara Putra.

Putra Bapak Reno Anggara yang suka bikin guru migren mendadak.

“Re! Lo abis ikut tawuran?” tanya Kevin saat melihat Revan dengan kondisi seperti habis tawuran membuat Revan menghentikan langkahnya.

Revan mengangguk sambil menyampirkan tongkat baseballnya dipundak kanan.”Lo kenapa nggak ikut?” tanya Revan heran saat tadi dia tidak melihat Kevin.

“Ya mana gue tahu. Gue tahu aja pas lo semua udah balik,” jawab Kevin ketus.

Revan terkekeh mendengarnya.”Makanya jangan tidur mulu! Udah tidur kayak orang mati lagi!” ucap Revan membuat Kevin hanya menghembuskan nafasnya kasar. Kevin kalau tidur memang seperti orang mati, sangat susah untuk dibangunkan jika bukan dia sendiri yang ingin bangun.

“Gue aja dikasih tahu sama Panji pas lagi jamkos. Yaudah karena gue pengen ya turun aja,” ucap Revan enteng.

Satu tangan Kevin bertolak pinggang.”Lagian tuh Anak SMA Kartika hoby banget cari ribut sama sekolah kita. Udah adem-adem nggak ada tawuran,” kata Kevin heran karena sepertinya Anak SMA Kartika dari dulu selalu mempermasalahkan hal yang sepele.

“Halah, sok-sok’an lo! Nggak ada tawuran galau pengen tawuran, giliran ada malah sok-sok’an jadi bener,” cibir Revan membuat Kevin hanya nyengir lebar mendengarnya.

Kevin teringat sesuatu. Dia menatap Revan sambil memicingkan matanya dengan senyum jahil.”Lo, kan, habis tawuran.” Kevin mengantungkan ucapanya membuat Revan sedikit risih ditatap seperti itu.

“Ya terus apa?!” ketus Revan.

Kevin terkikik.”Vania tahu dong kalau lo ikut tawuran. Secara kan, Pak Maman udah heboh dari tadi manggil semua Anak-Anak yang ikut tawuran,” jelas Kevin membuat Revan terdiam.

Benar juga. Vania pasti tahu dia habis tawuran, gadis itu kan, sudah menyuruh Revan untuk tidak seperti dulu lagi. Lalu kenapa Revan bisa lupa? Mungkin saking asik dan senangnya Revan jadi lupa bahwa Vania sudah melarangnya untuk tidak seperti dulu.

Kevin yang melihat raut muka Revan yang berubah semakin menahan tawanya.”Dia pasti marah sama lo, Re. Auto tidur di luar lo,” ucap Kevin menakut-nakuti. Dia paling suka melihat wajah Revan yang selalu tunduk oleh Vania.

Revan terdiam meresapi ucapanya Kevin. Sedetik kemudian Revan tersadar.

Tuk!

“Gue belum nikah sama dia bego!” sarkas Revan sambil memukul kepala Kevin pelan dengan tongkat baseballnya.

Kevin meringis sambil memegangi kepalanya.”Ya tapi dia pasti marah, kan? Sama lo.”

Revan menghembuskan nafasnya kasar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.”Kenapa gue bisa lupa kalau Vania larang gue,” katanya sambil sedikit meringis.

Kevin tertawa mendengarnya.”Gue yakin lo pasti berantem AHAHAHA,” ucap Kevin sambil kembali tertawa membuat Revan mendelik tajam pada cowok itu. Perlu dihajar emang Kevin!

“Ini tongkat masih ditangan gue loh, Vin,” kata Revan tenang dengan senyum jahatnya membuat Kevin seketika diam sambil menatap Revan takut-takut.

“Iya punten Bos. Nggak maksud,” katanya lalu berbalik, hendak berjalan tetapi Revan menarik kerah seragam Kevin membuatnya kembali mundur.

“Mau kemana lo, huh?” tanya Revan.

“I-itu gue mau ke toilet, kebelet gue,” kata Kevin sedikit gugup dengan cengiranya.

Revan memasang wajah datar mendengar ucapan Kevin sebelum akhirnya dia menyerahkan tongkat baseballnya pada Kevin. Dahi Kevin mengkerut bingung.”Apaan dah?”

“Titip!” kata Revan tajam membuat Kevin hanya mengangguk saja. Cari aman!

Sebelum pergi, Revan memberi peringatan pada Kevin lewat tatapan tajamnya. Revan kemudian berjalan meninggalkan Kevin menuju kelas Vania.

Saat baru lima langkah, Revan melihat Vania keluar dari kelasnya dan pergi ke arah kiri. Revan mengembangkan senyumnya, dia lantas mengejar Vania, tetapi saat sudah tidak jauh dari Vania, dia memperlambat jalanya. Rupanya Vania masih belum sadar bahwa Revan terus mengekor di belakangnya.

Hingga akhirnya, Revan menutup mata Vania membuat Vania yang kaget berusaha melepaskan tangan besar yang menutup kedua matanya.”Lepasin ini siapa sih?!” kesal Vania yang mana membuat Revan melepaskan tanganya dan langsung membalikan tubuh Vania. Posisi mereka sekarang saling berhadapan.

“Kamu?!” kaget Vania.

“Apa sayang?”

“Dih, sana pergi ah!” ketus Vania lalu melepaskan diri dari Revan dan berjalan kembali.

“E-eh mau kemana?” ujar Revan sambil menarik pergelangan tangan Vania.

“Lepasin Revan!” kesal Vania sambil berusaha melepaskan tangan Revan.

“Nggak!”

“Lepas!”

“Nggak mau!” kekeuh Revan tidak ingin dibantah.

“Lepasin Revan!”

“Kamu marah?” tanya Revan membuat Vania berhenti berontak.

Vania menatap Revan dengan kesal, pandanganya menjadi sendu saat melihat luka diwajah Revan. Tulang pipi yang lebam serta beberapa bagian wajah lainya yang lebam, tidak terlalu banyak, tetapi cukup membuat hati Vania sakit melihatnya, sudut bibir yang sobek serta pelipis kanan yang sobek. Semua itu semakin membuat hati Vania merasa sakit.

Vania turun melihat tangan Revan yang memegang pergelangan tanganya membuat Revan mengikuti arah pandang Vania. Lecet, dan tanganya yang lain juga berdarah.

“Aku nggak pa-pa, Van,” kata Revan saat melihat raut khawatir dari wajah Vania.

Vania yang mendengar itu menatap Revan dengan kesal.”Nggak pa-pa kamu bilang? Kamu luka, Re! Kamu bilang itu nggak pa-pa, huh?!” ucap Vania tajam.

“Maaf Vania,” sesal Revan.

Vania menghembuskan nafasnya kasar lalu dia menarik Revan. Revan hanya menurut saat Vania menarik tanganya entah kemana. Revan sekarang terlihat seperti kucing yang takut dengan majikanya.

Kevin bersama Panji, Saka dan Irfan yang melihat itu tertawa pelan. Ya kecuali Saka, dia hanya tersenyum kecil melihat itu.

Kevin yang memang sudah menduga akan terjadi hal seperti itu tertawa.”Udah gue duga. Bakal terjadi pertengkaran Suami Istri.”

Irfan menggelengkan kepalanya setelah tawanya reda.”Singa emang cuma tunduk sama Tuan Putri ya,” katanya sambil kembali tertawa.

“Mukanya anjir, melas amat,” kata Panji sambil memegangi perutnya yang terasa sakit saking ngakaknya melihat Revan yang seperti itu.

Saka menghembuskan nafasnya kasar.”Revan denger auto digampar lo semua,” katanya membuat mereka diam sambil menelan salivanya dengan susah payah. Hey! Tahu sendiri Singa ngamuk gimana.

Rupanya Vania membawa Revan ke UKS. Dokter Andini tidak sedang berada di UKS membuat UKS sepi siang ini. Vania menyuruh Revan untuk duduk di bibir ranjang, setelahnya Vania mengambil kotak P3K dalam lemari.

Saat tangan Vania hendak membersihkan luka pada wajah Revan dengan kapas yang dibasahi dengan rivanol, Revan mencekal pergelangan tangan Vania.”Jangan marah,” ucap Revan pelan. Vania tidak mengubris, dia menepis tangan Revan pelan dan melanjutkan aktivitasnya untuk mengobati luka Revan.

Revan tidak henti-hentinya menatap Vania yang sibuk mengobati lukanya.”Van?” tanya Revan lagi tetapi Vania masih tetap diam.

“Van jangan marah.” Vania masih bergeming.

“Vania?”

Revan meringis saat Vania menekan lukanya. Dia sengaja, karena terlanjur gemas dengan cowok ini.”Sakit, Van.”

“Sakit, kan? Makanya jangan sok-sok’an ikut tawuran!” sarkas Vania tajam.

“Luka aja masih dibilang nggak pa-pa!”

“Ngapain ikut tawuran?! Mau jadi jagoan?!”

“Nggak ada gunanya ikut kayak gitu! Malah siksa diri sendiri! Muka jadi luka kayak gini! Tangan juga lecet!” Vania terus bersuara memarahi Revan.

“Gimana kalau kamu di DO? Huh!”

Revan hanya diam mendengarkan apa yang Vania ucapkan. Baru kali ini dia dimarahi oleh Vania.”Maaf,” katanya pelan.

Kalau seperti ini, Revan benar-benar terlihat seperti kucing yang sedang takut pada majikannya yang galak.

Setelah emosi Vania reda, dia menempelkan hantsaplas pada pelipis kanan Revan yang sobek.”Vania?” tanya Revan tetapi Vania tidak mengindahkannya.

Revan yang tidak tahan Vania diamkan langsung memeluk gadis itu dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Vania, Vania sedikit kaget dengan perlakuan Revan yang tiba-tiba.”Jangan marah.”

Vania menghembuskan nafasnya kasar. Pada akhirnya, Vania memang tidak bisa mendiamkan Revan untuk waktu yang lama. Karena cowok ini memang selalu bisa mengubah suasana hatinya dalam sekejap.

Vania membalas pelukan Revan sambil mengusap rambut cowok itu.”Aku khawatir Revan,” ucap Vania lirih.

Vania tidak mau melihat Revan yang terluka. Itu selalu membuat hatinya ikut terluka.”Kamu tahu, kan? Aku nggak suka liat kamu luka. Kamu luka, aku juga ikutan sakit, Re. Aku nggak bisa liat kamu kayak gitu,” jelas Vania.

“Aku marah karena aku sayang sama kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa,” lanjut Vania lagi.

Revan masih tetap pada posisinya, dia menghembuskan nafasnya pelan.”Aku tahu, maaf udah bikin kamu khawatir.”

“Kalau kamu tahu kenapa kamu ikut tawuran? Tawuran itu bahaya, Re.”

Revan mengurai pelukanya, dia menatap Vania dengan pandangan sulit diartikan. Sedetik kemudian dia nyengir lebar.”Aku lupa kamu larang aku buat nggak kayak dulu lagi saking senengnya ada yang tawuran,” katanya enteng sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Astagfirullah. Vania harus banyak-banyak istigfar sekarang. Bagaimana bisa? Revan berkata seperti itu? Kadang Vania bingung dengan tingkah Revan yang memang terkadang suka mengejutkan.

Vania menghembuskan nafasnya kasar, mencoba tidak meledak lagi.

Revan yang merasa aura-aura negatif mulai muncul lagi menjadi was-was.”Kamu udah nggak marah, kan?” tanya Revan was-was.

Vania memandang Revan dengan datar, sedetik kemudian dia melayangkan cubitanya pada roti sobek cowok itu.”Bandel banget si! Orang lain takut ada tawuran ini malah seneng!” kesal Vania sambil terus mencubit Revan dengan gemas yang mana membuat Revan meringis kesakitan.

“Udah Vania udah, sakit ini,” ucap Revan membuat Vania melepaskan cubitanya dan memandang cowok itu dengan kesal.

“Dih katanya Singa, gitu doang kok sakit,” cibir Vania membuat Revan yang mendengarnya memasang wajah datar.

Dia mendekatkan wajahnya membuat Vania memundurkan wajahnya.”A-apaan sih kamu?”

Revan tersenyum jahil, dia menyelipkan beberapa anak rambut Vania kedaun telinganya membuat Vania semakin was-was.”Kamu mau aku terkam lagi, huh?” tanyanya berbisik sambil menyimpan kepalanya dipundak Vania.

Vania yang mendengarnya menelan ludah susah payah. Ah Sial! Pasti wajahnya sudah merah sekarang akibat mengingat kejadian semalam.

Revan yang melihat wajah Vania yang mulai merah terkikik geli.

“Apaan sih kamu! Ini sekolah ya!”

“Iya aku tahu ini sekolah. Kalau di rumah? Gimana?”

Vania refleks mendorong Revan menjauh membuat Revan tertawa karenanya.”NYEBELIN!”

“Iya nggak, becanda kok,” kata Revan membuat Vania mendengus mendengarnya.

Revan meletakan kepalanya lagi dipundak Vania.

Vania jadi teringat sesuatu, saat tadi pagi dia mendapat pesan dari seorang yang tidak dia kenal. Orang itu mengirim foto saat Revan seperti hendak bersiap akan balapan. Ya, Vania harus mendengarnya dari mulut Revan sendiri kalau semalam dia balapan atau tidak.

“Kamu semalam ikut balapan ya?” tanya Vania membuat Revan memposisikan dirinya menjadi benar.

Dia menatap Vania dengan kaget.”Bener ya?” tanya Vania lagi.

“Kamu tahu dari mana?” tanya Revan heran.

“Berarti bener ya? Kamu ikut balapan?” tanya Vania lagi membuat Revan mengangguk lemah.”Iya aku ikut semalam, tapi cuma malam tadi doang kok,” jawab Revan sambil menatap Vania dengan was-was.

Vania yang mendengar itu kembali kesal. Ingin kembali marah tetapi Revan sudah berkata dengan jujur.

“Kamu tahu dari mana?” tanya Revan heran. Vania mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Revan membuat Revan mengambilnya dengan ekspresi bingung.

“Liat aja pesan itu,” kata Vania membuat Revan melihat pesan yang tertera dilayar ponsel Vania.

08×××××
Send a pict

Jln cmpk, jm 1 mlm

Revan mengepalkan tanganya kuat saat membaca pesan tersebut. Sial! Siapa yang berani-beraninya memfoto dirinya saat sedang bersiap-siap digaris start? Pasti ada yang mau mengadu domba dirinya dengan Vania.

Revan tersentak kaget saat Vania mengobati luka lecet ditanganya.”Aku dapat pesan itu tadi pagi. Aku nggak mau langsung marah-marah nggak jelas. Makanya aku tanya sama kamu,” kata Vania sambil tetap mengobati tangan Revan.

“Maaf Vania. Aku malah ikut balapan sama tawuran lagi. Maaf udah buat kamu khawatir,” ucap Revan menyesal.

Vania terdiam, dia mengambil ponselnya dari tangan Revan dan menyimpanya, lalu Vania kembali mengobati tangan Revan yang belum diobati.”Aku nggak suka liat kamu luka, Re. Jangan kayak gitu lagi, aku takut kamu kenapa-napa,” kata Vania lirih.

Revan menghembuskan nafasnya pelan, dia menangkup wajah mungil Vania membuat Vania menatap Revan dengan sorot sendu.”Aku ngerti kamu khawatir. Maaf ya, lain kali aku nggak bakal gitu lagi.”

Vania mengangguk lemah dengan senyumanya membuat Revan mengacak gemas rambut Vania.”Berantakan tahu!”

“Biarin. Biar nggak ada yang lirik.”

“Possesive amat!” kesal Vania.

Revan mendekatkan wajahnya membuat Vania terdiam.”Karena kamu cuma milik aku. Dan aku nggak suka milik aku dilirik apalagi di sentuh sama orang lain.”

***

Amanda terus berjinjit untuk mengambil sebuah buku di rak paling atas. Tetapi sayangnya dirinya kurang tinggi, yang membuatnya harus ekstra mengeluarkan tenaga mengambil buku tersebut.

“Dikit lagi,” gumam Amanda pelan sambil terus menyentuh buku itu dengan jarinya sedikit demi sedikit agar bisa dia raih.

“Ck! Resiko kurang tinggi ya gini,” kesal Amanda sambil berdecak.

“E-eh kok buk–”

Brak!

Amanda menutup matanya dengan takut dan nafas naik turun saat buku itu jatuh dari rak tinggi itu. Tapi kok, nggak ada yang sakit ya? Amanda membuka matanya perlahan, dia melirik kepingganya saat merasa ada tangan seorang yang melingkar dipinggangnya.

Benar saja, tangan seorang sedang melingkar dipinggangnya. Amanda langsung menoleh ke belakang, takut-takut mahluk dari dunia lain yang memeluk dirinya.”KYAA–MPPH.”

“Nggak usah teriak, ini perpustakaan,” ucap cowok itu dengan membekap mulut Amanda.

Amanda langsung melepaskan diri dari Saka. Ya, memang Saka tadi yang menarik Amanda pada saat buku jatuh. Untung ada Saka, kalau tidak, mungkin tadi kepala Amanda sudah jatuh tertimpa buku tebal itu.”Lo ngapain disini?!” sewot Amanda.

“Ini tempat umum,” jawab Saka seadanya dengan nada datar.

“Terus tadi lo k–”

“Lo ambil buku di rak paling tinggi. Tapi nggak nyadar diri. Kalau nggak ada gue, mungkin kepala lo udah sakit karena kejatuhan buku ini,” ujar Saka memotong ucapan Amanda sambil mengambil buku tadi yang hendak Amanda ambil yang kini tergeletak di lantai.

Amanda terdiam kicep mendengarnya, bingung harus berkata apa. Antara kesal karena Saka menghinanya kurang tinggi dan malu karena Saka tadi memeluknya. Walau itu hanya kejadian yang tidak disengaja, tapi tetap saja Amanda merasa malu.

Saka memberikan buku itu pada Amanda membuat Amanda menerimanya dengan linglung.”Lain kali, kalau kurang tinggi minta bantuan orang,” kata Saka sambil berlalu dengan wajah datarnya, tetapi sebelum berlalu dia mengacak rambut Amanda gemas.

Amanda menarik nafas dalam lalu menghembuskan nafasnya kasar.”SAKA PRANAJA! KURANG AJAR LO!” kesal Amanda sedikit berteriak. Secara tidak langsung Saka mengatai dirinya pendek. Dan itu adalah penghinaan bagi Amanda.

Seorang berdeham membuat Amanda menengok kearah sumber suara. Terlihat Bu Puri sang penjaga perpus menatap Amanda dengan tajam membuat Amanda nyengir lebar sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.”Berisik ya bu?” tanyanya sambil sedikit meringis.

“Keluar,” ucap Bu Puri dingin dengan mata tajamnya.

Amanda mengangguk kaku.”I-iya, Bu. Maaf,” katanya gugup lalu segera pergi dari perpustakaan.

Di luar. Amanda menghembuskan nafasnya kasar sambil mempererat genggamanya pada buku yang dia bawa.”Awas lo Saka! Gara-gara lo gue jadi diusir!” kesalnya dengan mata memicing dan gigi-giginya yang dia gertakan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here