Untuk Revan #32

0
69
views

Teman lama dan tentang masalalu yang kelam juga rasa takut


Vania turun dari motor Revan, dia begitu kaget saat melihat banyak anak cowok disini. Tapi anak cewek juga ada, beberapa dari mereka memakai jaket yang sama berwarna hijau army dengan bordiran ‘Ginggirls’ didada kiri dengan lambang sebelah sayap Angel.

beberapa anak cowok terlihat memakai jaket hitam hanya yang membedakan ada paduan warna. Ada yang memakai jaket hitam paduan warna gold dengan bordiran ‘Gardapati’ didada kiri. Ada juga yang memakai jaket hitam paduan warna biru gelap dengan bordiran ‘Digister’ didada kiri dan ada lagi yang memakai jaket hitam paduan warna merah dengan bordiran ‘Legister’ dipunggungnya. Warna paduan tersebut hanya terdapat pada kerah atau bordiran dan bagian-bagian tertentu sehingga lebih dominan hitam.

Kelihatanya mereka geng, pikir Vania.

Revan dan Vania datang bersama Saka yang berboncengan dengan Amanda dan Irfan yang berboncengan dengan Rini. Tadi Rini sempat menolak untuk ikut karena tidak mau berboncengan dengan Irfan, padahal wajah Irfan lumayan, tetapi entah kenapa Rini tidak mau. Namun akhirnya dia mau ikut akibat Vania yang memohon.

Revan menggenggam tangan Vania lalu keenamnya mulai melangkah. Saat baru beberapa langkah, Revan langsung disambut seruan heboh oleh para anak cowok, begitu pun Saka dan Irfan, ketiganya langsung ber-high five dengan para cowok yang menghampiri mereka.

Sementara ketiga cewek itu hanya diam kebingungan, mereka sudah saling kenal? Pikir Vania, Amanda dan Rini.

Seorang cowok yang memakai jaket bordiran ‘Digister’ ber-high five dengan Revan dilanjut pada Saka dan Irfan.”Pakabar lo? Jarang banget muncul,” ucapnya pada Revan.

Revan terkekeh pelan.”Seperti yang lo lihat. Ck! Gue, kan, udah vakum,” jawab Revan sambil berdecak membuat cowok itu hanya tertawa sambil mengangguk.

“Wih… ini cewek lo ya?” tanyanya lagi sambil melirik Vania.

Revan mengangguk membenarkan.

“Yang kemarin?” tanyanya lagi tetapi ucapanya menganggung dan hanya menatap Revan. Revan yang mengerti lantas kembali mengangguk membuat cowok itu hanya manggut-manggut mengerti.

“Di tunggu lo bertiga sama Dewa,” katanya lagi.

“Ya, gue tahu,” jawab Revan seadanya. Irfan hanya mengangguk sementara Saka hanya berdeham.

Cowok itu terkekeh pelan melihat Saka bersama Amanda.”Udah punya doi lo, Sak?”

Saka hanya mendengus sebal mendegarnya.

“Kalo lo.” Dia mengangtungkan ucapanya sambil menunjuk Irfan.”Lo pasti masih jomblo,” lanjutnya sambil tertawa.

Irfan menghembuskan nafasnya kasar.”Mentang-mentang muka gue pas-pasan, gitu amat lo sama gue,” ujar Irfan kesal.

“Anjir temen gue, datang juga lo pada,” seru seorang cowok yang memakai jaket bordiran ‘Gardapati’ sambil ber-high five dengan Revan, Saka dan Irfan. Ketiganya hanya tersenyum mendengarnya.

Cowok itu beralih menatap Vania.”Lo,” ucapnya sambil menujuk Vania membuat Vania heran.”Lo Princessnya SMA Cakrawala, kan?” lanjutnya.

Vania tersenyum kikuk.”I-iya,” jawabnya setengah gugup.

“Masyaallah, lembut banget anjir suaranya.”

Tak!

“Apaan lo anjir?!” kesal cowok itu karena Revan menjitak kepalanya cukup keras.

Vania yang melihat itu lantas sedikit menarik lengan jaket Revan membuat Revan meliriknya.”Nggak boleh gitu,” katanya pelan membuat Revan hanya menghembuskan nafasnya kasar.

Cowok yang berada di sebelah cowok yang kepalanya Revan jitak menepuk pelan pundak cowok itu.”Lo lupa dia siapanya?”

Cowok itu nyengir lebar.”Eh iya, gue lupa.”

“Auto ngamuk dia,” timpal Saka datar.

“Iya habisnya gue khilaf,” jawab cowok itu lagi dengan cengiran lebar membuat Revan hanya memasang wajah datarnya.

“Kalau gitu kenalan dulu dong,” katanya lagi sambil mengulurkan tanganya. Padahal dia sudah tahu nama Vania, namun rupanya dia ingin modus dulu. Ck! Memangnya siapa sih? Yang tidak kenal dengan nama Vania Naquella Atmaja?

Revan yang melihat itu langsung menepis kasar tangan cowok itu.”Kenalan ya kenalan, nggak usah modus!” ujar Revan ketus.

“Nah, dengerin!” ucap cowok di sebelahnya sambil menoyor kepala cowok itu.

Cowok itu menghembuskan nafasnya kasar.”Yaudah gini aja.” cowok itu menggantungkan ucapanya lalu mulai menyatukan kedua telapak tanganya sambil berdeham.”Assalamu’alaikum ukhti, perkenalkan, nama gue Arkana Dewanta.”

“Sekolah, SMA Mentari. Status, sudah memiliki pacar, tapi punya pacar juga nggak ada ahlak. Keahlian, baku hantam, bikin guru migren mendadak dan lain-lain. Jabatan, ketua geng Gardapati. Alamat rumah, k–”

“Kenalan apa ngisi biodata? Lengkap amat, Bang!” cibir Irfan membuat ucapan cowok bernama Arkana itu harus terpotong.

“Suka-suka gue lah!” kesalnya.

Vania yang mendengar Arkana memperkenalkan diri sedikit terkekeh, tapi Vania, Rini dan Amanda sedikit terkejut mendengar Arkana adalah seorang ketua geng, lalu kenapa Revan, Saka dan Irfan sudah kenal? Ck! Rasanya berbagai pertanyaan sudah Vania simpan rapi diotaknya untuk Revan nanti. Dia tersenyum.”Wa’alaikumsalam. Vania Naquella Atmaja,” jawab Vania membuat Arkana sedikit membuka mulutnya dengan mengedip-ngedipkan matanya kaget.

“Pegangin gue pegangin gue, gue operdosis senyumnya anjir,” hebohnya pada teman di sebelahnya membuat cowok itu mendengus dengan tingkah Arkana.

“BUNDA!!”

“ARKA!”

Keempat cowok itu tertawa setelah mendengengar seruan seorang gadis untuk Arkana setelah Revan berteriak menyebut ‘Bunda.’ Rupanya masih tetap sama. Sementara Vania, Rini dan Amanda seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun.

“IYA NGGAK!” jawab Arkana berteriak.

“Masih sama ternyata,” ucap Revan setelah tawanya reda.

Irfan tertawa terpingkal-pingkal.”Si Dewa masih aja gitu ahahaha,” katanya sambil kembali tertawa.

Sementara Saka hanya terkekeh pelan.

Cowok yang kerap disapa Dewa itu berdecak sebal.”Tau aja lo pada apa yang gue takutin,” katanya ketus lalu setelahnya dia melanjutkan perkenalannya pada Rini dan Amanda.

Sekilas info. Bagi para anggota geng Gardapati atau geng yang kerap disebut Pasukan Gada ini dan Anak-anak lainya yang sudah mengenal Arkana dan Aqilla pasti sudah tahu artian dari kata ‘Bunda’ untuk mereka berdua. Itu adalah kode untuk Aqilla alias pacar dari Arkana jika Arkana sedang genit. Dan jika Aqilla mendengar seruan itu, maka dia akan langsung menyerukan panggilan dirinya untuk Arkana dengan lantang.

“Nah kalau gue. Gue Mahesa Ganendra, ketua Digister,” ujar seorang cowok yang memakai jaket bordiran ‘Digister’ itu pada Vania, Rini dan Amanda. Eits! Terkusus untuk Vania dia hanya menyatukan kedua telapak tanganya seperti Arkana tadi. Kenapa? Karena mata Revan terus mengawasi. Sebegitu tidak boleh kah? Vania disentuh oleh cowok lain?

Mungkin sepertinya hanya Papanya Vania saja yang boleh menyentuh Vania sebagai Papa dan Anak. Possesive amat ya!

Seorang cowok yang memakai topi hitam dari dalam warung berdiri dari duduknya saat melihat teman-teman lamanya datang. Dia berjalan keluar warung untuk menghampirinya.”WOAH KANG SI–”

Revan memberikan tatapan tajam membuat cowok itu tidak melanjutkan ucapan dan langkahnya. Mulutnya masih agak sedikit terbuka, kali ini satu halisnya terangkat seolah bertanya ‘Kenapa?’ Revan yang mengerti lantas melirik Vania dengan ekor matanya membuat cowok itu ber’oh’

ria pertanda mengerti, lalu dia kembali melanjutkan ucapanya.

Dia ber-high five dengan Revan, Saka dan Irfan.”Pakabar lo semua? Gue rindu tancap ga–”

Tak!

Revan menjitak kepala cowok itu, walau menggunakan topi tetapi tetap saja berasa.”Mulut lo bisa di rem dikit nggak?!” kata Revan kesal karena temanya yang satu ini mulutnya selalu sulit untuk di rem.

“Re!” tegur Vania pelan saat melihat Revan berlaku seperti itu lagi.

“Iya Vania,” jawab Revan mengerti membuat Arkana dan Mahesa menahan kekehannya. Singa tunduk sama Tuan Putri!

“Mampus lo di tegur Ibu Negara,” kata Mahesa sambil menahan kekehanya membuat Revan hanya mendengus sambil memutar bola matanya malas.

Cowok yang tadi kena jitak Revan berdecak sebal.”Yaelah, lo baru ketemu lagi udah main jitak kepala gue aja,” kesalnya.

“Makanya punya mulut tuh harus bisa di kontrol,” ucap Irfan.

Cowok itu menghembuskan nafasnya kasar.”Bawaan lahir ya mau gimana?”

“Lakban aja. Aman tuh,” kata Saka membuat cowok itu mendelik tajam.

“Lo sekalinya ngomong pengen gue gampar, Sak!” katanya kesal.

“ARKA!”

Mereka langsung menoleh kearah sumber suara. Terlihat seorang gadis dengan jaket hijau army berbordir ‘Ginggirls’ di dada kiri dan ranbut yang dikuncir satu dan poni itu tengah menatap Arkana tajam sambil berkacak pinggang. Dia cantik dan manis, hanya saja sepertinya kelakuannya sedikit bad alias badgirl terlihat dari penampilannya saja. Rok diatas lutut, tidak terlalu ketat sih, baju yang sengaja pas dengan badannya yang body goals, make up lumayan cetar tetapi masih bisa dibilang sewajarnya, bibir merah itu sudah pasti.

“Apa sih Beb?” kata Arkana setengah kesal.

Gadis itu langsung memasang ekspresi ingin muntah.”Eneg gue dengernya,” ucapnya membuat mereka yang mendengarnya ada yang terkekeh sambil meringis, ada yang tertawa dengan enaknya.

“Punya pacar gitu amat astagfirullah,” ujar Arkana sambil mengusap dadanya.

Aqilla, pandangan gadis itu langsung teralihkan saat melihat Vania berada diantara mereka.”Lo!” ucapnya sambil menunjuk Vania.

Vania yang merasa ditunjuk lantas kembali menunjuk dirinya.”Gue?” tanya Vania membuat gadis itu mengangguk.

Gadis itu langsung menghampiri Vania dan memegang kedua lenganya. Vania merasa heran dengan tingkah gadis ini.”Lo Princessnya SMA Cakrawala, kan?” tanyanya terpekik heboh membuat Vania sedikit meringis mendengarnya. Memang harus seheboh itu ya?

“I-iya,” jawab Vania setengah gugup.

“OMG ASELINYA CANTIK AMAT!” ujarnya semakin heboh sambil memeluk Vania dengan gemas. Mereka yang melihat itu menghembuskan nafas kasar, ada juga yang menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Aqilla.

Arkana segera menutup mukanya dengan sebelah tangan sambil memalingkan wajahnya.”Bukan pacar gue,” gumamnya pelan membuat Mahesa dan cowok bertopi hitam itu menahan kekehanya.

Aqilla mengurai pelukanya, pandanganya beralih pada Rini dan Amanda.”Lo berdua temenya Vania ya?” tanyanya membuat mereka mengangguk kikuk.

Sementara Vania sedikit bingung, kenapa gadis itu tahu namanya? Padahal Vania sendiri tidak tahu gadis ini siapa. Ingatkan Vania bahwa dirinya itu selalu menjadi sorotan diberbagai sekolah!

“Aaa… ayo kita gosip-gosip manja,” ucapnya antusias sambil merangkul Vania dan mengajak Rini dan Amanda agar ikut denganya.

Tapi baru beberapa langkah, kerah jaket Aqilla ditarik oleh Revan membuatnya refleks melangkah mundur.”Eh apaan ini?!” kesalnya sambil membalikan badan.

“Lo pinjem punya orang nggak izin dulu! Nggak sopan banget!” kesal Revan sambil menarik Vania kesisinya lagi. Emang ya, Revan tuh possesive banget!

Aqilla mengedip-ngedipkan matanya kaget, pandanganya beralih pada Saka dan Irfan.”Loh, lo bertiga sejak kapan ada disini anjir?!” katanya kaget membuat para cowok mendengus mendengarnya. Aqilla emang kadang lemot atau tidak konek dengan sekitarnya.

“Mata lo memang perlu diganti, Qil,” kata Saka membuat Aqilla menggeleng pelan sambil mengusap dada.

“Kita bertiga dari tadi disini. Mata lo belekan ya?” kesal Irfan

Aqilla berdecak sebal.”Seenaknya lo kalo ngomong!” ucapnya pada Irfan.

Aqilla memang sudah kenal dengan ketiga cowok ini, begitu pun sebaliknya. Karena sedari dulu mereka sudah kenal semenjak Aqilla berpacaran dengan Arkana.

Aqilla menarik tangan Vania tetapi Revan menahanya.”Mau ngapain lo?!” tanya Revan ketus.

“Yaelah, gue pinjem cewek lo!”

Revan sedikit terdiam, dia beralih menatap Vania yang kini tengah menatapnya.”Nggak pa-pa, kan?” tanya Vania membuat Revan menghembuskan nafasnya pelan.

Dengan setengah hati Revan melepas Vania membuat Aqilla tersenyum lebar dan kembali merangkul Vania.”Ya udah nggak pa-pa,” ucapnya tidak rela. Segitu nggak maunya Revan lepasin Vania. Helo! Padahal Aqilla hanya ingin membawa Vania keteman-temanya.

“Tapi awas lo,” kata Revan sambil menunjuk Aqilla.

“Tenang, jangan sampe lecet, kan?” tanyanya.

“Itu lo tahu,” seru Revan.

“Seorang Aqilla Argani selalu tahu apapun,” katanya sambil tersenyum bangga.

Arkana berdecih.”Sebel gue dengernya,” cibirnya membuat Aqilla mendelik tajam pada Arkana.

“Ngomongin gue lo?!”

“Apa sih lo! Nggak jelas banget,” kesal Arkana.

“Dah lah, ribut mulu lo berdua,” ujar Mahesa jengah dengan keributan keduanya. Selalu saja dia menyaksikan ini, membuatnya kadang ingin menceburkan kedua sejoli ini kesumur.

Aqilla memalingkan mukanya dengan wajah jutek membuat Arkana hanya menatapnya dengan pandangan tidak suka. Lalu Aqilla kembali mengajak Rini dan Amanda.”Ayo guys kita gibah-gibah manjahh,” ucapnya dengan semangat 45 membuat Arkana semakin menatap Aqilla dengan pandangan tidak suka. Kelihatanya keduanya lebih pantas disebut musuh dari pada pacar.

“EH SAKA, IRFAN! GUE PINJEM JUGA CEWEK LO BERDUA!” teriak Aqilla ketika sudah jauh membuat Saka dan Irfan saling tatap dengan menaikan sebelah halisnya. Hey, mereka berdua bukan pacar Saka dan Irfan!

“Kelakuan pacar lo, Wa,” kara Revan sambil sedikit terkekeh.

“Dih apaan anjir bukan pacar gue,” jawab Arkana ketus. Kasian ya Aqilla.

Cowok bertopi tadi mengibaskan sebelah tanganya.”Halah, Aqilla marah aja uring-uringan nggak jelas. Sampe mau mewek kayaknya.”

“Lo nyebarin aib gue anjir!” ujar Arkana kesal.

Arkana beralih merangkul Revan membuat pandangan Revan yang semula melihat Vania yang sedang berbincang di teras depan rumah seorang dengan para cewek-cewek lainya teralihkan pada Arkana.”Jadi dia yang udah bikin Singa ngamuk di sekolah?” tanyanya membuat Revan hanya tersenyum kecil.

Ya, berita Revan yang mengamuk di sekolah itu memang sudah tersebar secepat kilat bersamaan dengan berita pelaku penusukan Vania. Ngomong-ngomong, sebentar lagi masa tahanan Meli, Siska, Nayla dan Abel akan segera berakhir karena Fahri memang tidak menghukum mereka terlalu lama.

“Gob*ok bener ya sahabat cewek lo,” ujar Mahesa membuat Revan hanya tersenyum kecut.

Cowok bertopi hitam itu menggelengkan kepalanya.”Pantes aja Singa ngamuk.”

“Sayang banget kayaknya sama yang ini,” ujar Mahesa.

“Bahkan lebih dari yang dulu, malahan yang ini spesial banget kayaknya,” ucap Saka membuat mereka yang mendengarnya sedikit terkejut. Karena setahu mereka, saat Revan bersama Ailen itu Revan kadang terlalu cuek walau mereka tahu Revan menyayangi Ailen.

Dan rupanya mungkin memang benar bahwa Vania itu sangat spesial untuk Revan. Terbukti dengan tadi saat mereka melihat perlakuan Revan terhadap Vania. Beda sekali dengan perlakuan Revan terhadap Ailen dulu.

“Ngusap dada gue, Re. liat cewek lo,” ujar Mahesa membuat Revan mengkerutkan dahinya.

“Kenapa emangnya?” tanya Revan datar.

“Ciptaan Tuhan yang paling membuat jiwa jomblo ini meronta,” katanya membuat semua tertawa tidak terkecuali Revan yang memasang raut datar.

Samuel Pradana, cowok yang memakai topi hitam itu berdeham.”Ngobrolnya di dalam warung aja lah. Lo bertiga nggak kangen apa sama mie rebus buatan Ateu?” tanyanya membuat ketiga cowok itu terkekeh pelan.

Lalu keenamnya mulai berjalan kearah warung. Cukup banyak orang yang menyapa Revan, Saka dan Irfan. Wajar sih, setelah sekian lama mereka tidak muncul baru kali ini mereka melihat ketiga cowok itu lagi.

“Satria mana? Kok gue nggak liat, padahal anak buahnya lumayan banyak yang datang,” ucap Irfan.

“Ada di dalem,” jawab Samuel membuat Irfan hanya ber’oh’ ria.

“Aduh aduh … Kang Revan si kasep baru kesini lagi,” ujar seorang Ibu-Ibu saat melihat Revan masuk ke warungnya.

Revan ber-high five dengan seorang cowok yang sedang asik ngerokok sendirian, begitu pun Saka dan Irfan.

Revan tersenyum mendengarnya.”Pakabar Teu?” tanyanya setelah duduk.

“Ya baik atuh. Kamana wae? Meni lama pisan nggak kesini. Eh Irfan sama Saka juga ada,” katanya dengan campuran bahasa Sunda saat melihat Saka dan Irfan. Ateu aseli orang Bandung, jadi wajar kalau ucapanya ada sedikit campuran bahasa Sunda.

Kenapa mereka memanggil Ateu? Karena Ateu sendiri yang ingin disebut seperti itu. Katanya, ‘Ateu’ itu adalah ‘Tante’ mereka harus menyebut seperti itu karena Ateu tudak ingin terlihat tua. Wanita dengan rambut berwarna merah maroon, dandanan yang persis seperti ingin mendangdut dan juga perhiasan emas yang dia kenakan yang selalu banyak membuatnya seperti toko emas berjalan itu adalah pemilik warung ini, juga rumah yang tadi Aqilla, Vania, Rini dan Amanda tempati.

Ateu itu janda loh, makanya Anak-anak kadang suka menggoda Ateu. Dan Ateu sudah menganggap mereka semua sebagai anaknya. Ateu punya panggilan khusus untuk Revan dan Arkana. Yaitu ‘Akang’ entah kenapa tetapi keduanya bodo amat walau keduanya terkesan seperti bujang tua.

“Ada Teu,” jawab Revan seadanya.

“HELO ATEU?! PAKABAR?!” tanya Irfan heboh.

“Baik atuh,” jawabnya antusias.

“Pesen mie-nya satu dong Teu,” ujar Irfan lagi.

Ateu mengangguk antusias.”Asyiap!” jawabnya semangat membuat Irfan terkekeh mendengarnya.

“AKU SUKA BODY GOYANG MAMA MUDAA.. MAMA MUDADADADA…,” senandung Ateu sambil berlalu ke dapur membuat mereka tertawa pelan mendengar Ateu yang memang korban aplikasi tiktok.

“Ada apa lo semua undang gue kesini?” tanya Revan pada Arkana, Maheda dan Satria.

“Sorry nggak undang lo ke basecam, malah ngundang lo kesini,” kata cowok yang duduk di sebelah kiri Revan yang tadi sedang merokok sendirian. Dia, Satria Aderald, ketua Legister.

“No problem, lagian gue juga kangen tempat ini,” ujar Revan sambil sedikit terkekeh.

Revan, Saka dan Irfan memang sengaja diundang kesini oleh Arkana. Hey, mereka bertiga cukup disegani oleh ketiga geng ini. Apalagi Revan, dia sangat disegani. Sayangnya, dulu Revan malah masuk geng ‘Gleatser’ alias geng yang diketuai oleh David.

Bagaimana mereka bisa berteman dengan ketiga geng ini? Mari kita jelaskan.

Revan yang dulu masuk geng ‘Gleatser’ memang tidak pernah mau tunduk dengan siapapun sekali pun itu ketua dari geng tersebut. Karena dari awal David mengajaknya bergabung dengan gengnya Revan tidak akan pernah mau tunduk dengan siapa pun. Saka dan Irfan berbeda, mereka dari awal memang masuk geng tersebut, mereka berdua selalu dilakukan layaknya budak oleh David bukan layaknya teman atau anggota. tetapi dengan hadirnya Revan mereka jadi mengikuti jejak Revan, karena Revan yang membuat mereka sadar akan hal itu. Mereka menjadi seenaknya terhadap David dan bodo amat kalau David itu ketua.

Bahkan mereka bertiga malah berteman dengan para ketua geng lainya. Seperti pihak netral, sekalipun mereka masuk dalam geng Gleatser yang banyak musuhnya.

Revan yang selalu tidak pernah kalah dalam hal adu balap motor di jalanan tengah malam dan selalu bisa mengalahlan siappun sekali pun orang itu bisa disebut sudah ‘Senior’ mendapat julukan ‘Raja jalanan’ hal tersebut kadang membuat kubu lawan tidak terima dan selalu terjadi adegan baku hantam.

Revan selalu mampu mengalahkan mereka dengan tangan kosong tanpa campur tangan orang lain, walau pun yang Revan hajar bukan tiga atau empat orang. Hal tersebut membuat Revan kembali mendapatlan julukan ‘Singa’ atau ‘Singa jalanan’ karena jika mereka melawan Revan yang seperti itu. Itu sama saja mereka melawan Singa yang sedang kelaparan bahkan bisa dibilang Singa yang kesetanan.

Revan sadis? Iya, Revan sadis, bahkan dia sering membuat lawanya terkapar di rumah sakit. Tenang, hanya sampai koma.

Revan yang selalu bisa menyelesailan malasah apapun dalam gengnya membuat David benci pada Revan. Kenapa David tidak mengeluarkan Revan, Saka dan Irfan? Karena ketiganya bisa diandalkan dalam tawuran atau semacamnya. Revan, Saka dan Irfan keluar dari geng tersebut karena suatu masalah yang sangat sensitif bagi Revan.

Ketiganya menjadi pihak netral tapi tidak untuk geng Gleatser.

Ketiga cowok ini pernah membantu geng Gardapati atau yang sering disebut Pasukan Gada dalam menyelesaikan suatu masalah dengan geng Gleatser. Arkana sendiri yang memintanya.

Dengan geng Digister. Mereka pernah membantu menyelesaikan masalah peneroran oleh geng The Viking’s yang mengakibatkan satu angotanya meninggal. Mahesa sendiri yang meminta.

Dengan geng Legister. Ketiga cowok ini ikut andil dalam menyelesaikan masalah penculikan Aurelia Jovanda pacar dari Satria Aderald sang ketua yang hampir terbunuh. Kali ini mereka yang ikut sendiri karena Revan tidak sengaja melihat gadis yang kerap dipanggil Ara itu diculik langsung oleh anggota musuh dari geng Legister yang tak lain adalah geng Revold.

Bukan sekali dua kali mereka membantu geng ini, itu hanya sebagian besar yang bisa dibilang penting.

Mereka pernah diajak bergabung dalam ketiga geng ini? Tentu saja, bahkan ketiganya diajak secara langsung oleh ketua dari ketiga geng ini dengan terhormat, dan mereka langsung menjadi pasukan inti jika bergabung. Sayangnya, ketiga cowok ini tidak mau memilih masuk diantara ketiganya, bagi mereka, cukup ada disaat mereka membutuhkan dan menjadi teman baik selamanya itu sudah cukup.

Dari situ mereka menjadi lebih akrab, mereka awalnya memang berteman tetapi tidak seakrab ini. Sudah dibilang, kan? Ketiga cowok ini dulu masih bisa berteman dengan ketua geng lainya walau mereka masuk dalam geng Gleatser. Aneh, tapi itulah mereka.

Warung ini memang selalu ramai oleh ketiga geng tersebut. Ada Pasukan Gada dari SMA Mentari, ada geng Digister dari SMA Angkasa, ada geng Legister dari SMA permata. Tidak hanya itu, anak SMA Cakrawala juga ada yang bergabung dengan ketiga geng ini. Ingat Panji dan Kevin? Mereka berdua masuk dalam Pasukan Gardapati. Ada juga anak SMA Khatulistiwa dan SMA Kartika yang ikut bergabung dalam ketiga geng tersebut. Jadi anggotanya bukan hanya di sekolah mereka saja, dan ketiga geng ini bisa dibilang sangat berteman dengan baik.

Bisa dibilang, warung Ateu menjadi tempat berkumpul utama bagi ketiga geng tersebut dan kelima sekolah tersebut. Hanya saja, hanya Anak-anak tertentu yang bisa nongkrong disini. Kenapa? Karena warung ini berada dalam naungan tiga geng tersebut. Jadi tidak bisa sembarang orang ikut nongkrong seenaknya.

“Tujuan lo semua undang gue kesini kenapa?” tanya Revan lagi setelah menyalakan sebatang rokoknya.

Satria menghembuskan asap rokoknya ke udara.”Memangnya salah? Undang temen lama kesini?”

Revan sedikit terkekeh.”Nggak. Ada yang perlu dibantu?”

Mahesa menggeleng atas ucapan Revan.”Re, lo nggak mau turun lagi ke jalan?” tanyanya membuat Revan terdiam.

Kini hanya ada mereka berempat di dalam warung, karena Irfan sudah asik menyantap mie-nya dengan Samuel, Darren, Alvaro, Bima dan Johan di depan warung. Mereka inti Pasukan Gada. Samuel adalah wakil ketua Gardapati.

Sementara Saka sedang berbincang hangat dengan Anak-anak lainya.

“Semenjak lo vakum. Nggak ada yang bisa dapet julukan ‘Raja jalanan’ lagi,” ujar Arkana.

“Sebegitu hebatnya gue? Sampe nggak ada yang dapet julukan itu lagi?” kata Revan sambil tertawa pelan.

Satria berdecak sebal mendengarnya.”Males gue kalau ni anak udah mulai songong,” katanya membuat Revan tertawa.

Mahesa mulai menyalakan rokoknya.”Turun lah, Re. Malam ini aja,” ujarnya setelah rokok itu menyala.

Revan terdiam sambil berfikir. Malam ini saja, rasanya boleh juga. Sudah lama sekali dia tidak tancap gas.

“Gimana? Mau nggak?” tanya Arkana.

“Malam ini doang?” tanyanya membuat ketiganya mengangguk.

Revan bertunggang kaki sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara.”Lawan siapa?”

“Anak Gleatser,” jawab Arkana membuat Revan tersenyum miring.

“Kayaknya gue bakal nyapa temen lama gue,” ujar Revan dengan senyum smirknya membuat ketiganya tersenyum senang mendengarnya. Ok, malam ini Revan akan menginjakan kakinya lagi di jalanan tengah malam. Hanya malam ini.

Arkana melihat kearah rumah Ateu yang terdapat para anak cewek, tai ada juga beberapa anak cowok yang bergabung.”Kenapa tadi lo pelototin Sam pas mau sebut lo Singa?” tanyanya sambil beralih menatap Revan.

“Gue nggak mau Vania denger siapa gue yang dulu dari mulut orang lain. Itu sebabnya gue suruh Sam tutup mulut tadi,” jelas Revan membuat semua kaget mendengarnya.

Satria menatap Revan dengan heran.”Bego! Jadi dia belum tahu siapa lo dulu?” Revan mengeleng pelan.

“Lo harus ceritain, Re. Jangan sampe hubungan lo rusak cuma gara-gara Vania tahu masalalu lo dari mulut orang lain,” ucap Mahesa memberi tahu.

“Termasuk soal Ailen,” lanjut Arkana.

“Karena apapun itu. Lo harus bisa terbuka sama cewek lo. Ya walau pun gue sendiri kadang tertutup sama Ara, tapi soal ini nggak bisa ditutup-tutupi, Re,” kata Satria membuat Revan mengangguk.

Revan menghembuskan nafasnya kasar.”Ya, gue bakal ceritain semuanya setelah ini,” ucapnya pelan.

“Apalah daya gue yang jomblo,” ujar Mahesa melas sambil mengusap dada membuat ketiga cowok itu tertawa.

“Makanya jadiin pacar aja tuh si Natha,” kata Arkana.

“Ogah!” balas Mahesa cuek.

“Tapi btw, kayaknya cuma Vania yang bisa bikin lo tunduk. Bahkan Ailen dulu nggak pernah bisa bikin lo berhenti hajar orang. Tapi Vania, gue udah tahu seberapa spesialnya dia buat lo dari cara lo memperlakukan Vania tadi,” jelas Mahesa membuat Revan tersenyum kecil mendengarnya.

Revan beralih menatap keluar kearah teras rumah Ateu, dia tersenyum kecil melihat Vania yang tertawa bersama para cewek lainya.

“Ya, cuma dia yang bisa buat gue tunduk.”

***

“Vania, kenapa lo bisa cantik banget si?” tanya seorang cewek yang memakai bando ungu dengan ujung rambut diombre ungu dan pink. Dia memakai jaket yang sama dengan Aqilla. Namanya Nathalia Mahesti, cewek yang tadi Arkana suruh Mahesa untuk dijadikan pacarnya.

Mereka geng ‘Ginggirls’ kumpulan para cewek cantik dari SMA Mentari, SMA Angkasa dan SMA Cakrawala yang jago bela diri walau cewek dan jago naik motor. Sebagian besar dari mereka memakai motor matic yang sudah di modifikasi sesuai kesukaannya masing-masing, ada juga yang memakai motor sport.

Geng cewek ini memang bisa dibilang dijaga oleh ketiga geng tadi.

Ibu komanda alias Ibu ketua juga pacar dari Arkana Dewanta sang Ketua geng Gardapati. Ya, Aqilla adalah ketua geng ini.

Disa, gadis yang berada di sebelah kanan Vania tertawa.”Pertanyaan lo polos banget Nath,” ucapnya.

Nathalia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.”Eh? Emang iya ya?” tanyanya polos.

Vania hanya tersenyum menjawabnya. Rini dimana? Dia sedang tiktokan dengan anak Ginggirls lainya. Sementara Amanda sudah asik mencoba motor sport milik Nabila.

“Oh iya, Van. Lo beneran ditusuk sama Meli temen lo?” tanya Aqilla membuat senyum Vania perlahan pudar.

Vania mengangguk lemah. Aqilla menggelengkan kepalanya tidak percaya.”Tega banget.”

“Mereka di penjara ya?” tanya Aurel. Iya, Aurel pacarnya Satria. Karena memang Aurel sudah akrab dengan anggota Ginggirls walau tidak ikut gabung dikarenakan Satria sering membawanya kesini. Apalagi dengan para anggotanya yang ramah semakin membuat mereka gampang akrab. Contohnya saja sekarang Vania, Rini dan Amanda gampang akrab dengan mereka walau baru beberapa jam yang lalu berkenalan.

“Iya. Masa tahanan mereka sebentar lagi berakhir. Papa nggak mau bebasin mereka, padahal gue udah maksa,” jawab Vania lemah.

Terkejut? Tentu saja mereka terkejut dengan ucapan Vania. Bagaimana bisa Vania berbicara seperti itu.

“Van, lo nggak salah mau bebasin mereka?” tanya Disa.

Vania menggeleng.”Nggak, lagi pula walau pun Meli tusuk gue sampai gue sempet dinyatakan meninggal. Dia pernah jadi sahabat gue, gue udah pernah lewatin susah dan seneng sama dia,” jawab Vania lirih sambil kembali mengingat kenangan-kenangannya bersama Meli.

Lagi-lagi, mereka terkejut dengan ucapan Vania. Selembut itukah hati Vania? Memang pantas mendapat julukan Pincess atau Tuan Putri. Karena memang hatinya selembut itu.

Nathalia sedikit membuka mulutnya.”Lo baik banget si,” katanya sambil memeluk Vania.

Vania hanya tersenyum sambip mengeleng setelah Nathalia mengurai pelukanya.”Gue nggak sebaik itu. Gue juga pernah benci sama Meli, tapi gue nggak bisa benci lama-lama sama dia.”

“Wajar lo benci sama dia,” kata Aqilla membuat Disa dan Aurel mengangguk.

“Tapi beneran deh. Kalau gue ada diposisi lo, gue udah nggak sudi mikirin dia lagi,” kat Aurel.

“Rasanya koma gimana si?” ceplos Nathalia dengan polosnya membuat Aqilla dan Disa rasanya ingin menendang Nathalia sekarang juga. Sementara Aurel hanya menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas lelah.

Vania menjadi diam, ingatanya kembali muncul membuat rasa takut itu kembali muncul. Hal tersebut membuat Aqilla, Disa dan Aurel menjadi was-was tidak terkecuali Nathalia yang memang polos dan lemot.

“Van? Lo nggak pa-pa?” tanya Aurel cemas tetapi Vania hanya diam.

Disa berdecak.”Lo sih!” kesalnya pada Nathalia.

“Loh. Kok gue?!” tanyanya heran.

“Vania?” tanya Aqilla sambil menguncang bahu Vania pelan tetapi tetap Vania hanya diam dengan wajah cemasnya.

“Revan,” gumamnya pelan membuat keempat gadis itu saling tatap.

“Panggil Revan!” titah Aqilla membuat Disa segera melesat ke warung Ateu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here