Untuk Revan #31

0
91
views
“PAPA!”
 
Revan, Vania, Amanda, Saka, Rini dan Irfan sontak menoleh mendapati Anak kecil yang berlari kearah Revan dengan air mata yang sudah membajiri pipi cubynya.
 
Revan langsung menggendong Anak kecil itu kepangkuannya. “Kamu kenapa, Kal? Kok nangis?” tanya Revan sambil menghapus air mata bocah tersebut.
 
Bocah berumur empat tahun itu terisak. “Kak Reva ambil mobil-mobilan punya Haikal.”
 
“HUAAA…”
 
Revan menghembuskan nafasnya. Lagi-lagi Anak perempuannya itu selalu berebut mainan dengan Adiknya. Padahal dia Cewek, tapi kenapa dia lebih suka mobil-mobilan dan robot-robotan dari pada boneka barbie atau bermain masak-masakan seperti Anak perempuan pada umumnya.
 
Vania beralih menggendong Haikal dan memeluknya. “Jangan nangis ya, nanti Kak Reva balikin kok,” ucap Vania lembut sambil mengusap puncak kepala Haikal.
 
“Ngeng… ngeng…”
 
Bruk!
 
“Ih Reva! Jangan tabrak Barbie aku dong!” kesal seorang Anak kecil berbando pink bernama Prisila Amora, yang adalah Anak dari pasangan Amanda dan Saka.
 
“Suruh siapa halangin jalan!”
 
“Reva! Jangan Ancurin masak-masakan punya aku dong!” histeris Anak kecil lain yang berkuncir dua, namanya Navisya Anjani . Anak dari Rini dan Irfan.
 
“Sempit, Nav! Kalau mau masak-masak jangan disini!” kesal Reva sambil terus memajukan mobil-mobilan milik Adiknya dengan menabrak semua mainan Sisi dan Navi.
 
“Haikal! Ayo main lagi! Masa aku disuruh main masak-masakan sama Navi,” ujar Seorang Anak lelaki meneriaki Haikal yang masih dipangkuan Mamanya. Namanya Alex, Anak kedua Saka dan Amanda yang seumuran dengan Haikal.
 
Tangan kecil Haikal lantas menghapus air matanya lalu mengangguk lucu dan turun dari pangkuan Mamanya untuk bermain lagi bersama Alex.
 
Irfan menggelengkan kepalanya, lalu beralih mengusap perut Rini. “Semoga nanti Anak kita kalau Cewek enggak kayak Anaknya Revan, ya.”
 
“Amin,” ucap Rini.
 
“Maksud lo apa?” sewot Revan.
 
Irfan menghembuskan nafasnya. “Anaknya Singa masih umur 7 tahun udah bar-bar gitu. Gimana kalau udah gede?”
 
“Ck! Gitu-gitu juga Anak gue.”
 
“Reva kayaknya emang enggak kayak Anak Cewek lain, deh,” ucap Amanda membuat Vania mengangguk.
 
“Dari pada boneka, dia lebih milih robot sama pistol-pistolan,” ucap Vania.
 
“Dorr… dor… dor…”
 
Navi melempari Reva piring mainanya. “Ih Reva! Baju aku basah!” kesalnya karena Reva malah menembakan pistol air ke arah Navi.
 
“Reva! Barbie aku kok kamu coret-coret sih mukanya!” rengek Sisi dengan menatap nanar pada boneka Barbienya yang mukanya sudah penuh dengan coretan bolpoin akibat ulah Reva yang benci dengan boneka Barbie.
 
“Barbie kamu jelek, Si. Aku coret-coret deh biar cantik,” ucap Reva enteng sambil kembali bermain dengan pistol airnya.
 
“HUAA… MAMI!”
 
Rini, Amanda, Saka dan Irfan dibuat tertawa melihat kelakuan Reva yang dengan entengnya menjawab seperti itu, sementara Revan dan Vania meringis sendiri melihat kelakuan Putrinya. Mereka memang tengah berkumpul di rumah Revan dan Vania tepat di kursi taman belakang rumah. Rumah mereka berdua menjadi ramai dengan para Anak kecil yang selalu membuat ulah dengan tingkah lucu mereka.
 
Saka menggelengkan kepalanya. “Kayaknya sifat kejam Bapaknya nurun sama yang Cewek,” ucap Saka. Semenjak menikah dengan Amanda, dia menjadi sosok yang tidak dingin lagi.
 
Vania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aduh maaf, Man.”
 
“Santai aja, Van. Entar Sisi juga happy lagi.”
 
Rini tertawa. “Reva lucu banget ya.”
 
“Tuh, kan, gue bilang apa. Anak lo kecil-kecil udah bar-bar gitu. Gimana nanti kalau gede?”
 
“Yang aku takutin sih. Reva malah kayak Revan yang dulu kalau udah besar nanti,” ucap Vania membuat Revan mendelik.
 
“Enggak akan, Van.”
 
“Biasanya nih, kelakuan Anak enggak jauh beda sama Emak Bapaknya,” ucap Rini membuat Revan kesal. Dia serasa dipojokan akibat tingkah Reva yang masih kecil saja suka membuat pusing.
 
Malah dua hari yang lalu, Revan dan Vania dipanggil ke sekolah Reva karena Reva membuat seorang Anak Cowok menangis dengan kepala benjol.
 
Kata Reva saat Revan menanyai kenapa dia berbuat seperti itu Reva malah berkata seperti ini. “Salahin aja dia yang angkat rok aku! Ya aku tinju aja! Kan kata Papa punya ilmu bela diri itu buat jaga diri! Nah aku tonjok aja dia!” ucapnya mengebu-gebu dengan bersidekap dada.
 
Revan meringis sendiri saat Putrinya berkata seperti itu. Dia jadi menyesal telah menyuruh Anak Perempuanya itu belajar bela diri dari usia dini seperti dirinya dulu.
 
“Terus aja terus pojokin gue,” kesal
Revan dengan muka datar.
 
“Baperan lo mah,” ucap Saka.
 
Rini terkekeh. “Yaudah sih, semoga aja Reva kalau udah gede kayak Emaknya,” ucap Rini membuat semua mengangguk.
 
Saka menenguk Teh yang telah disediakan. “Enggak kerasa, kita-kita udah pada punya Anak aja. Malah sekarang kita masih bisa kumpul kayak gini,” ucapnya membuat mereka kembali pada ingatan masa lalu saat masih SMA.
 
Masa putih abu-abu yang penuh dengan lika-liku.
 
Revan terkekeh dan mengangguk. “Dulu aja si Rini sok-sok’an enggak mau sama Irfan. Eh tahunya malah jadi Suaminya sekarang.”
 
Rini berdecak. “Ya itu, kan, dulu. Ya gue mana tahu kalau dia jodoh gue.”
 
Irfan merangkul Istrinya itu. “I love u, Bunda,” ucapnya genit sambil mengedipkan sebalah matanya membuat Rini mendengus.
 
“Kalau mau i love u, i love u’an entar aja di rumah,” ucap Rini.
 
“Enggak Pa-pa kali, Rin. Jangan malu-malu,” ucap Vania sambil terkekeh.
 
Amanda mengangguk. “Malu-malu tapi mau lo mah. Gue aja santai-santai aja waktu Saka cium gue tadi di depan lo semua.”
 
“Apalagi itu,” ucap Amanda lagi sambil melirik Revan dan Vania dengan ekor matanya.
 
“Dari dulu selalu mesra-mesraan di depan kita, enggak memikirkan para umat jomblo lagi,” lanjutnya.
 
Rini mengangguk pasrah. “Oke deh, gue cuma agak gimana aja gitu.”
 
Irfan berdecak. “Enggak asik kamumah.”
 
Saka melirik Revan dan Vania. “Singa dari dulu manjanya emang enggak pernah ilang ya, kalau sama Tuan Putri.”
 
“Ya gitu. Di depan Anak aja, masih bisa manja-manja,” kata Vania sambil melirik Revan yang sedari tadi memeluknya dari samping dan meletakan kepalanya dipundak Vania sambil memejamkan matanya.
 
“Biarin, sama Istri ini,” ucap Revan tetap pada posisinya membuat Vania menggeleng. Sifat manja Revan memang tidak pernah berubah, malah semakin menjadi semenjak mereka menikah.
 
Tiba-tiba Haikal datang dan menjauhkan Revan dari Vania. “Papa jangan peluk-peluk Mama. Mama punya Haikal!” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya lucu dengan menatap tajam pada Revan. Lalu dia memeluk Vania dengan erat sambil tetap menatap Revan dengan ekspresi muka seperti itu.
 
Semua menahan tawa melihat Revan yang memasang muka masam.
 
Revan mengusap dadanya mencoba sabar. “Sabar, Re, sabar,” batinya berseru.
 
Revan menghembuskan nafasnya lalu dia mencondongkan tubuhnya untuk menatap Haikal. “Haikal, Papa pinjem Mamanya sebentar, ya? Haikal main lagi aja sama Alex,” ucap Revan lembut tetapi Haikal malah menggeleng.
 
“Enggak! Mama enggak boleh Papa pinjem! Mama cuma punya Haikal!”
 
“Sebentar aja,” ujar Revan lagi mencoba negosiasi.
 
Haikal menggeleng lagi. “Sekali enggak ya enggak!” kekeuhnya membuat Vania tertawa. Haikal memang keras kepala sama seperti Revan. Dan lagi, Haikal kadang possesive pada Vania yang tidak boleh Papanya sentuh sama seperti Revan yang possesive, contohnya saja itu.
 
Kadang, seharian Haikal bisa menyita Vania dan menjauhkan Revan dari Vania, membuat Revan selalu uring-uringan jika Haikal sudah seperti itu.
 
Rupanya mungkin sifat kedua Anak Revan dan Vania lebih dominan seperti Revan dari pada Vania.
 
“Cemburu gue sama Anak sendiri,” batin Revan berseru kembali
 
“Kal, Pa–“
 
“ENGGAK BOLEH!” potongnya sambil membentak membuat Revan menghembuskan nafasnya pasrah dan hanya bisa bersandar di sandaran kursi dengan kepala menengadah ke atas dan mata terpejam.
 
Irfan tertawa. “Jiah… kesayangannya disita sama Anak,” ledeknya membuat Revan kesal.
 
“Diem lo!”
 
“Mirip Revan banget anjir,” ujar Rini sambil terus tertawa. Mereka dibuat ngakak dengan tingkah Haikal yang kecil-kecil sudah possesive.
 
Vania melirik Revan yang kini tengah menatapnya dengan muka cemberut. “Van,” rengeknya.
 
“Ngalah sama Anak sendiri,” kata Vania.
 
“Enggak mau.”
 
“Ck! Kamu ya, ngalah kenapa sih, Re.”
 
“Enggak bisa.”
 
Vania menatap Haikal yang sedari tadi masih setia memeluknya. “Haikal? Main lagi ya? Sama Alex.”
 
Haikal menengadahkan kepalanya. “Enggak! Nanti Mama diambil sama Papa!” sinisnya sambil mendelik tajam ke arah Revan.
 
“Enggak akan kok.”
 
Haikal menatap Mamanya serius. “Beneran?” Vania mengangguk.
 
“Yaudah kalau gitu. Haikal main lagi aja sama Alex, tapi kalau Mama diambil sama Papa, bilang-bilang ya sama Haikal?” ujar Haikal dengan lucunya membuat Vania mengangguk.
 
“Iya.”
 
Haikal kemudian melepaskan pelukanya membuat Revan tersenyum senang. Haikal pun berjalan untuk kembali bermain, tetapi sebelum pergi, dia melempari tatapan permusuhan pada Revan.
 
“Punya Anak gitu amat sama Bapak sendiri,” batin Revan lagi-lagi berseru.
 
“Ngakak gue liat Haikal kayak gitu,” seru Saka membuat Revan mendelik.
 
“Lo yang seneng, gue yang enggak seneng!” Dengan cepat Revan kembali menarik Vania dengan posisi seperti tadi, membuat Vania hanya diam dan pasrah kalau Revan sudah seperti ini. Manja! Manja!
 
“Sama Anak sendiri pelit lo mah!” timpal Irfan.
 
“Enggak untuk berbagi!”
 
“Itu Anak lo!” ucap Irfan lagi.
 
“Ck! Pokoknya enggak untuk berbagi!” kekeuh Revan tidak mau dibantah.
 
“MAMI! REVA COPOTIN KEPALA BARBIE AKU, HUAA…”
 
“BUNDA! REVA BUANG SEMUA MASAK-MASAKAN AKU!”
 
“PAPA JANGAN MARAHIN REVA! MEREKA HALANGIN JALAN REVA BUAT MAIN MOBIL-MOBILAN!” teriakan terakhir dari Reva membuat Revan menghembuskan nafasnya lelah. Kelakuan Reva memang suka mengejutkan.
 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here