Untuk Revan #24

0
69
views

Cepat bangun, Tuan Putri


“SUS! SUSTER!” teriak Revan saat sudah sampai di rumah sakit terdekat. Para tim Medis langsung berdatangan dan membawa Vania ke ruang IGD dengan brankar.
“Maaf, Anda harus menunggu diluar,” ucap salah satu Suster saat Revan hendak masuk ke ruang IGD.
“Tapi, Sus. Sa-“
“Revan, lebih baik kamu menurut,” ujar Pak Zidan yang alhasil membuat Revan harus pasrah dan menurut, Revan menatap nanar Vania yang perlahan tak bisa dia lihat lagi karena pintu tertutup.
Pak Zidan menyuruh Revan untuk duduk. Revan hanya diam, tatapannya kosong, pikirannya kacau. Penampilannya juga sangat kacau, banyak noda darah yang masih menempel dipakaiannya.
“Kamu harus yakin, Vania akan baik-baik aja,” ujar Pak Zidan, Revan hanya menatap Pak Zidan sekilas, kemudian dia kembali tenggelam dalam kebisuaanya.
“Maaf, Vania. Aku bener-bener gagal jaga kamu,” ujar Revan dalam hati, dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Revan merasa gagal, Revan merasa dia tidak becus melindungi gadisnya.
“Bagimana keadaan, Vania?” tanya Pak Helmi, Pak Helmi datang bersama Saka, Amanda, Rini dan Irfan. Mereka datang menyusul menggunakan mobil Pak Helmi.
Pak Zidan menggeleng lemah. “Vania masih dalam penanganan.”
“Segera hubungi orang tua Vania,” kata Pak Zidan kepada Pak Helmi selaku Wali kelas Vania. Pak Helmi mengangguk dan segera menghubungi Fahri Papanya Vania.
Amanda berjalan lesu menuju pintu IGD, dia menatap pintu itu dengan nanar dan air mata yang ikut turun. Sahabatnya, kini tengah berjuang di balik pintu ini. “Lo harus kuat, Vania. Lo harus kuat,” gumam Amanda sambil menyentuh pintu IGD dengan prasaan hancur.
“Andai aja, gue tahu. Kalo lo itu diteror. Mungkin, gue nggak akan bangunin lo,” gumamnya lagi merasa bersalah.
“Vania … lo harus kuat, Van.” Rini terus menangis tanpa henti.
“Rin, udah, Rin. Lo nggak boleh terus-terusan sedih,” ujar Irfan berusaha menenangkan.
“Tapi Vania, dia …” Rini tak sanggup berkata-kata lagi, hanya air mata yang mampu mewakili kesedihanya. Irfan berusaha menenangkan Rini.
Saka menghampiri Revan, dan duduk di sebelahnya. “Gue, gagal jaga dia, Sak,” lirih Revan.
Saka menepuk pelan pundak Revan sebanyak dua kali. “Lo nggak gagal. Ini semua diluar dugaan.”
Revan enggan bersuara lagi, dia hanya diam, membuat semua kasian melihat Revan yang seperti itu.
Beberapa waktu berlalu. Pintu ruang IGD akhirnya terbuka, yang menampilkan sosok pria yang sudah berumur kepala tiga, rupanya dia Dokter. Mimik wajahnya sulit ditebak, membuat semua cemas saat menghampirinya. “Bagaimana keadaan Vania, Dok?” tanya Revan tidak sabaran.
Dokter tersebut menghembuskan nafasnya. “Yang mana keluarga, pasien?” tanyanya.
“Saya perwakilan dari keluarga pasien, Dok,” ujar Pak Zidan.
“Pasien kehilangan banyak darah, dia harus segera mendapatkan donor darah. Kalau tidak, nyawa pasien dalam bahaya,” ucap sang dokter membuat semua shock.
“Lakukan yang terbaik, Dok,” ucap Pak Zidan, dia harus secepatnya mengambil keputusan, walau dia hanya sebagai seorang perwakilan dari keluarga Vania.
“Sayangnya, stok darah yang cocok untuk pasien sedang kosong. Maka dari itu saya mencari keluarga pasien.”
“Memangnya apa golongan darah pasien?” tanya Revan.
“O,” katanya.
“Apa ada disini? Yang mempunyai golongan darah O?” tanya sang Dokter membuat semua menggeleng.
Dokter tersebut memasang raut muka panik.”Mohon hubungi keluarga pasien, pasien benar-benar harus mendapatkan donor darah dengan segera.”
Pak Helmi mengangguk.”Sudah, Dok. Keluarga pasien dalam perjalanan.”
Revan memeukul dinding.”Sial!” umpatnya, dia kembali menangis mendengar kabar tersebut.
Semua harap-harap cemas menunggu kedatangan kedua orang tua Vania.
“Bagaimana keadaan anak saya?” Sontak semua serempak menoleh kearah sumber suara. Terlihat Fahri Atmaja beserta Istrinya Viola Atmaja yang sudah berderai air mata. Semua merasa sedikit lega karena yang ditunggu telah datang.
“Anda keluarga pasien?” tanya sang Dokter membuat Fahri mengangguk cepat.
“Pasien harus segera mendapatkan donor darah.”
“Baik, saya yang akan mendonorkan darah saya,” ucap Fahri.
Dokter mengangguk.”Mari ikut saya.” Fahri pun mengikuti kemana Dokter itu pergi.
***
“Lo gila?! Kenapa Vania bisa gitu?!” tekan seorang lelaki. Itu Rendi Gionala. Bersama Siska, Abel dan Nayla, mereka sekarang sedang berada dikawasan yang tidak terlalu jauh dari perkemahan.
Siska masih terisak. “Meli yang hancurin rencananya.”
“Meli emang gila!” ujar Abel membuat Nayla mengangguk.
Rendi mengacak rambutnya frustasi. “Bisa bahaya kalau ada yang tahu!”
“Apalagi Revan, dia nggak akan biarin kita gitu aja,” lanjutnya.
“Meli nggak akan berani ngomong, kalau kita juga terlibat,” kata Siska.
“Memangnya lo berani jamin?!” bentak Rendi membuat Siska terdiam.
***
Revan menggenggam tangan Vania yang terasa dingin, dia mencoba menyalurkan rasa hangat lewat genggamanya. Vania sudah dipindahkan ke ruang ICU, kondisinya kritis, bisa dibilang, Vania sedang mengalami masa koma.
Hati Revan sangat Sakit, sangat sakit melihat tubuh Vania dipasang oleh alat-alat penopang hidup itu. Revan tidak pernah menyangka, bahwa acara kamping ini menjadi acara yang paling berbahaya untuk Vania. “Maaf, aku gagal jaga kamu,” ucap Revan lirih dengan sorot mata sendu sambil mencium tangan Vania dengan lembut. Dia kemudian beralih meletakan tangan Vania disebelah wajahnya sambil terus menggenggamnya dan menatap wajah Vania yang begitu pucat tetapi tetap cantik bak Putri yang sedang tidur.
Jika dulu Revan selalu suka melihat wajah Vania yang tenang dan damai saat tertidur, maka sekarang tidak.
“Vania, kalau kamu cape. Kamu boleh tidur.”
“Tapi, jangan lama-lama.”
“Nanti aku kangen sama kamu.”
“Nanti nggak ada yang usap-usap rambut aku lagi.”
“Nanti nggak ada yang buat aku khawatir lagi.”
Revan memejamkan matanya dengan air mata yang ikut luruh.”Jangan, jangan lama-lama, aku nggak suka liat kamu tidur,” katanya begitu lirih terdengar.
“Hey, nanti Bunda bisa marahin aku kalau dia tahu aku nggak becus jaga kamu.” Revan terus berucap dengan suara parau, seolah Vania akan menjawabnya, seolah Vania hanya sedang tidur dan bermimpi indah, seolah Vania akan bangun dan menyapanya dengan senyum manisnya.
Hanya suara alat pendeteksi detak jantung yang memenuhi ruangan ini, beserta ucapan-ucapan Revan yang membuat hati para orang yang melihat dan mendengarnya dari balik kaca ruang ICU ikut teriris.
“Mas, Vania akan baik-baik aja, kan?” tanya Viola pada Fahri yang tengah memeluknya. Fahri terdiam, dia tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan Istrinya. Pandangannya tetap tertuju pada Putri kecilnya yang sedang tertidur di balik jendela ini.
“Jawab aku, Mas!” sentak Viola sambil menguncang lengan Fahri.
“Jawab aku!”
“Vania baik-baik aja, kan?!” Fahri semakin mempererat pelukannya, air matanya sudah turun. Dia tidak sanggup melihat putrinya terbaring tak berdaya dengan mata tertutup di ruangan tersebut, apalagi dengan alat-alat penopang hidup itu, membuat hati Fahri semakin teriris.
“Iya, Putri kita akan baik-baik aja. Dia kuat,” ujar Fahri walau sejujurnya dia tidak sepenuhnya yakin dengan ucapannya sendiri.
Amanda pergi, dia tidak sanggup melihat Vania yang terbaring lemah tak berdaya. Andai saja, andai malam tadi dia tidak membangunkan Vania. Mungkin Vania tidak akan tertidur saat ini di ruangan tersebut.
Saka yang melihat itu pun langsung mengejarnya. “Man, Amanda?!”
Amanda berhenti di taman rumah sakit, dia duduk disebuah kursi taman, lalu menangis sejadi-jadinya. “Ini semua salah gue!”
“Gue emang sahabat nggak guna!”
“Sahabat bodoh!”
“Gue nggak pantas jadi sahabat Vania!” racau Amanda sambil memukul-mukul dirinya, membuat Saka yang melihatnya langsung menahan tangan Amanda yang hendak memukul kepalanya.
“Jangan kayak gini.”
Amanda menatap Saka. “APA PEDULI LO?! GUE INI MEMANG SAHABAT NGGAK GUNA! SAHABAT BODOH! GUE NGGAK PANTAS DIANGGAP SAHABAT!”
“SEMUA GARA-GARA GUE, GARA-GARA GUE VANIA JADI KAYAK GINI!”
Amanda terus menyalahkan dirinya. Saka memeluk Amanda, bukan modus, dia memang murni ingin menenangkan gadis ini. “Man, kalau Vania liat lo kayak gini, dia akan marah.”
“Ini bukan salah lo, semua nggak terduga.”
Amanda menangis dipelukan Saka. “Gue bodoh, Sak. Gue bodoh!”
Amanda memukul dada Saka.”Ini semua gara-gara gue!”
“Gue nggak becus jadi sahabat.”
Saka tidak tega melihat Amanda yang seperti ini. Lebih baik, dia melihat Amanda yang jutek daripada melihat Amanda yang seperti ini. “Man, lo nggak boleh salahin diri lo.”
“Tapi ini semua gara-gara gue!”
“Ini semua bukan gara-gara lo, ini memang takdir, Amanda.” Saka mengelus lembut puncak kepala Amanda.
“Tapi, ini tetep salah gue!”
Saka semakin mempererat pelukannya, dia hanya diam sambil mengelus lembut puncak kepala Amanda. Biarkan Amanda meluapkan segala emosinya, biarkan Amanda menangis sekencang mungkin jika memang itu yang membuatnya tenang. Tugas Saka hanya satu, ada di samping Amanda itu sudah cukup.
Ada satu hal yang mengganjal dipikiran lelaki itu sedari tadi, namun dia tidak boleh berkata tanpa ada kepastian dan juga bukti yang nyata.
***
“Maaf, Om. Saya gagal menjaga Putri Om,” ujar Revan saat Fahri masuk ke ruang ICU. Sedari tadi Revan enggan untuk pergi dari ruang ICU. Beruntung ruang ICU bisa dimasuki dua orang.
Fahri menepuk pelan pundak Revan sebanyak dua kali, membuat Revan menatapnya. “Saya nggak salah percayakan Vania pada kamu. Kamu nggak gagal, ini semua diluar dugaan. Saya justru kagum sama kamu karena kamu rela masuk hutan demi menyelamatkan anak saya.”
“Jika tidak ada kamu, saya tidak tahu nasib Putri saya satu-satunya seperti apa,” lanjutnya sambil menatap Vania sendu. Pak Zidan memang sudah memberitahukan kronologis kejadian Vania hilang dan kenapa bisa Vania bisa ditemukan.
Revan terdiam, dia kira Fahri tidak akan bersikap seperti ini, dia kira Fahri akan kecewa terhadap dirinya. “Tapi saya benar-benar lalai jaga Vania.”
Fahri tersenyum tipis. “Kamu harus yakin dengan hati kamu, kalau Vania akan baik-baik saja. Saya juga yakin Vania akan baik-baik saja, walau pun sebenarnya saya sulit menyakinkan diri saya sepenuhnya.”
Setelah mengucapkan itu, Fahri keluar. Revan terdiam untuk beberapa saat, kemudian dia beranjak dari duduknya, Revan mengelus lembut pipi Vania. Perlahan, Revan mengecup puncak kepala Vania lembut. “Cepat bangun, Tuan Putri,” ucapnya begitu pelan dengan air mata yang kembali mengalir.
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here