Untuk Revan #23

0
204
views

Maaf Revan


Sejauh apapun kamu pergi, sejauh apapun kita berpisah. Jika hati ini tidak pernah salah, maka dimana pun kamu berada. Aku, akan tetap menemukanmu| [Revano]
Vania memegang perutnya yang terasa amat sangat sakit. Kemudian dia melihat telapak tangannya. Darah, banyak sekali darah yang terus keluar dari tubuhnya.
“Uhukkk … uhukk ….” Vania kembali terbatuk dengan darah yang ikut keluar.
Susah payah Vania berdiri dengan memegang sebuah kayu yang tergeletak di pinggirnya. Keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya sedari tadi.
***
“Maaf Anak-anak. Pencarian terpaksa harus dihentikan. Karena ini sudah sangat larut, berbahaya apabila kita melan-“
“NGAK BISA GITU, PAK!” teriak Revan membuat semua mata tertuju pada Revan. Muka Revan sekarang sudah merah menahan marah. Saka dan Irfan juga sudah memegangi Revan yang hendak maju dan berulah.
“Tenang, Re,” tegur Saka.
Pak Zidan menghembuskan nafasnya kasar. “Maaf Revan, Bapak ngerti, tapi kalau kita semua terus mencari di tengah malam seperti ini kita semua juga bisa dalam bahaya.”
“Vania juga dalam bahaya, Pak!” bentak Revan.
“Revan! Bapak tidak bisa membahayakan semua orang! Bapak juga akan menghubungi tim penyelamat!” jawab Pak Zidan membuat Revan mengepalkan tangannya kuat.
Revan melepas tangan Saka dan Irfan dengan begitu kasar, membuat keduanya hampir terjatuh. Kemudian dia merampas senter seseorang dengan begitu kasar. “Lo mau kemana?!” teriak Irfan.
Revan berhenti. “Kalau kalian nggak bisa cari Vania! Biar gue sendiri yang cari dia!” tekan Revan tanpa berbalik.
“Ya ampun sayang! Kamu jangan masuk hutan i-“
“BERISIK!” bentak Revan kepada Sesil yang tengah memegangi tangannya dengan sorot mata memohon. “Re …”
“Lepas!” Revan melepaskan tangan Sesil dengan kasar, membuat Sesil seketika itu juga langsung menangis.
“REVAN!”
“REVAN! JANGAN MASUK!”
“REVAN!” teriak para guru, juga beberapa orang. Hendak mengejar, namun Revan sudah pergi tanpa mendengarkan suara-suara orang yang meneriakinya.
“Vania ….” lirih Rini sambil menangis. Sedari tadi Rini dan Amanda tak berhenti menangis membuat Saka dan Irfan menenangkan kedua gadis itu.
“Pak, ada satu hal yang kita nggak sadari dari tadi,” ucap seorang lelaki kelas XII itu Dion-Ketua Osis SMA Cakrawala.
“Ada apa?” tanya Pak Zidan.
“Meli kelas XI IPA 3. Siska, Abel dan Nayla kelas XI IPA 4, juga ikut menghilang,” ucap dion membuat Pak Zidan kembali panik.
Semua orang mulai berbisik, dan bergosip.
Rendi mengepalkan tangannya kuat. Sial! Pikirannya mulai kacau, apa mungkim mereka bertindak terlalu kasar pada Vania? Nyatanya Rendi tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, bahwa dia memang khawatir pada Vania.
***
Belum sempat melangkah satu langkah pun, Vania sudah terjatuh. Membuat Vania meringis. Bahkan, untuk bergerak sedikit pun rasanya sulit, sangat sulit.
“Revan ….” lirih Vania sambil memejamkan matanya juga air mata yang ikut mengalir, suaranya bahkan hampir tidak terdengar.
Mata Vania terbuka kembali, dia menatap bintang-bintang di langit malam yang begitu indah dengan sakit yang terus terasa sampai akhirnya mati rasa. Perlahan, bibir pucat Vania mengukir senyum. Dia membayangkan bagaimana dulu Revan selalu berusaha mengejarnya.
“Vania cantik, gue suka.”
“Vania lo itu beda, lo itu menarik, makanya gue tertarik.”
Vania semakin mengembangkan senyumnya saat mengingat bagaimana Revan dengan lantangnya mengucapkan itu di koridor sekolah, saat dulu masih kelas X.
Manik mata coklat itu kembali tertutup dengan perlahan. Revan, lelaki itu yang sekarang memenuhi pikirannya. Vania kembali mengingat kejadian-kejadian manis saat bersama Revan.
Marah, pasti lelaki itu sedang marah-marah sekarang kalau dia tahu Vania tidak ada, tidak ada kabar satu jam pun cowok itu sudah marah, apalagi ini. Senyum kecil kembali terbit dibibir Vania.
“Kemana aja si?”
“Ngilang lama banget.”
“Nggak boleh ngilang gini, aku khawatir.”
“Satu jam itu lama, Vania.”
“Tuan Putri cuma milik Revan!”
“Jangan gemes-gemes kalau sama orang lain. Nanti orang lain suka sama kamu.”
“Anak pinter.”
“Usap-usap rambut aku dong.”
“Aku sayang kamu Vania.”
Ucapan-ucapan Revan terus terngiang-ngiang dikepala Vania.
“Revan, jika aku tahu kamu sebaik ini. Mungkin, dulu aku nggak akan pernah menyia-nyiakan waktu,” batin Vania berucap.
Jangankan untuk berbicara, bergerak sedikit saja rasanya sulit. Tubuh Vania sudah mati rasa, apa mungkin? Kisah Vania dan Revan hanya akan sampai disini?
Vania menangis, menangis dengan sejadi-jadinya walau tanpa suara dan hanya isakan-isakan kecil yang terdengar. “Pa … maaf, maaf, jika Vania selalu bersikap buruk sama Papa. Maaf, Pah. Jika Vania tidak bisa menjadi Putri kecil Papa lagi.”
“Mama … jika Vania pergi, Vania harap Mama mau maafin Vania. Vania sayang banget sama Mama, walau Vania suka marah-marah sama Mama.” Air mata Vania sudah tidak terbendung.
Bahkan, Vania hanya mampu mengucapkan itu semua dalam hatinya.
Tidak ada Revan yang selalu bersikap manis dan possesive terhadapnya, tidak ada Rini si bawel dengan kipas bulu-bulu pink andalanya, tidak ada Amanda si judes, dan yang paling penting, tidak akan pernah ada yang namanya Meliana si cerewet lagi. Sesaat, Vania tersenyum miris melihat Meli yang seperti itu, namun Vania juga sedih, kenapa? Kenapa Meli harus seperti ini?
Sendiri, sepi, gelap, dingin, semua itu Vania rasakan, tubuhnya semakin lemas dan tak bertenaga akibat darah yang terus menetes dari perutnya.
“Tuan Putri?”
“Tuan Putri nggak boleh pergi!”
“Kamu tahu? Apa yang akan terjadi sama aku kalau kamu pergi?”
“Hancur, aku hancur Vania.”
Vania semakin menangis begitu mengingat ucapan-ucapan Revan yang melarangnya pergi. Dengan sisa tenaga dan tangan gemetar, Vania susah payah berusaha memegang syal pemberian Revan dengan erat. “Revan … maaf. Mungkin, Tuan Putrimu tidak akan ada lagi disisimu,” batin Vania berujar.
Perlahan, Vania menutup matanya dengan air mata yang ikut mengalir, dia sudah tidak sanggup membuka matanya lagi . “M-maf … Rev-aan ….” lirih Vania begitu pelan. Sampai akhirnya, kesadaran Vania benar-benar hilang.
***
“VANIA?!”
“VANIA KAMU DIMANA?!”
“VANIA?! INI AKU REVAN!” teriak Revan, Revan berhenti sejenak. Walau ini sudah lebih dari tengah malam, Revan tidak peduli, dia ingin menyelamatkan Vania walau dia juga akan celaka.
Dia, tidak akan pernah melepaskan genggamannya lagi. Tidak akan pernah.
Hendak melangkah, namun Revan seperti menginjak sesuatu, dia kemudian mengambilnya. Ini, ini jepitan rambut yang Revan berikan waktu di bus. Revan menggengamnya erat, dia yakin, ini sebuah petunjuk. Hatinya tidak akan pernah salah, prasaanya tidak akan pernah salah. Pasti, Revan pasti menemukannya.
“Tunggu aku Vania. Aku pasti datang,” gumam Revan sambil menggenggam jepitan itu semakin erat
Dengan harapan dan keyakinan, Revan melangkah kemana hatinya memerintah. “VANIA?!”
“VANIA?! INI AKU REVAN!”
“JAWAB VANIA!”
Revan terus berjalan dengan hanya ditemani lampu senter. Sendirian, di tengah hutan yang lebat. Bagaimana pun, Revan akan terus mencari Vania.
Hingga beberapa waktu berlalu, Revan masih belum menemukan Vania. Revan berhenti, dia kembali menggenggam jepitan itu dan menatapnya dengan sendu, matanya sudah memerah. “Vania, apa kamu juga akan pergi?” tanya Revan lirih.
Tidak, Revan tidak boleh berfikir seperti ini, dia tidak boleh berhenti mencari. Revan yakin, Revan yakin akan menemukan Vania. Tuan Putrinya tidak akan pernah pergi.
Saat melihat kearah kiri, pandangan Revan terkunci. Jantungnya seakan ikut berhenti. Vania? Apa mungkin itu Vania? Jika memang benar, tolong katakan, bahwa dia baik-baik saja.
Dengan sisa tenaga yang Revan punya, dia berlari sekuat mungkin kearah gadis yang tengah tergeletak disebuah rerumputan. Susah payah Revan menerima kenyataan bahwa gadis yang di hadapannya bukanlah Vania. Tapi, mau bagaimana pun Revan menolak, ini tetaplah Vania.
Nafas Revan seakan tercekat, dadanya seakan begitu sesak.
Revan jatuh terduduk di hadapan Vania, dia tidak sanggup, dia tidak sanggup melihat orang yang paling berarti dalam hidupnya terluka. Diusapnya pipi manis itu dengan tangan gemetar, seketika air matanya jatuh. Revan menangis, Revan menangis karena Vania.
Vania Naquella Atmaja, kamu telah berhasil membuat seorang Revan berada dititik paling rendah. Bahkah, kepergian Ailen tak mampu membuat Revan menangis.
Tidak peduli jika kalian bilang Revan cowok pengecut atau cengeng, karena nyatanya, seorang Revano Anggara Putra telah berada dititik paling rendah. “Maaf Vania, aku terlambat,” ucap Revan begitu lirih.
Revan langsung memeluk Vania dengan prasaan hancur. “Vania … bangun.”
“Aku datang, Vania, aku datang.”
“Sayang …. bangun.” Revan terus memeluk Vania dengan air mata yang ikut turun.
“Kamu bilang, kamu nggak akan ningalin aku.” Ditatapnya wajah cantik itu dengan prasaan hancur, banyak luka, banyak darah. Siapa yang melakukan ini? Siapa yang berani menyakiti Tuan Putrinya?
“Bangun… sayang ….”
Revan penepuk pelan pipi Vania dengan air mata yang semakin turun.”Buka mata kamu sayang. Ini aku datang.”
“Do you hear me? Open your eyes.”
“Vania? Kamu denger, kan? Sayang?”
“Wake up.”
Revan kembali memeluk Vania dengan erat dan prasaan begitu hancur, dia terisak sambil terus berucap lirih menyuruh Vania agar segera bangun.”Don’t leave me,” ucapnya pelan.
Tiba-tiba, Revan merasakan sesuatu, lalu dia melihat telapak tangannya. Darah, banyak sekali darah. Revan menyentuh perut Vania, benar, darah ini mengalir dari perut Vania. Sial! Ini luka tusuk, siapa yang tega berbuat seperti ini?
Revan mencari-cari sesuatu, tatapannya beralih pada syal pemberiannya. Diambilnya syal tersebut, lalu diikatkan diluka tersebut agar darahnya tidak terus keluar.
Dengan sekuat tenaga, Revan mengendong Vania. Hendak bangun, namun Revan terjatuh. Dia terlalu lemas, keadaan Vania yang seperti ini membuat Revan lemah. Tidak, Revan tidak boleh lemah, dia harus menyelamatkan gadisnya.
Revan kembali bangkit dengan Vania digendongannya, dengan penuh keyakinan dan harapan, Revan membawa Vania dengan kedua tangannya. Kedua kaki Revan mulai melangkah dengan prasaan benar-benar hancur.
“Sayang, di atas banyak bintang loh.”
“Bangun, Vania. Kamu nggak mau liat bintang-bintang itu?”
“Hey, kali ini aku nggak suka liat kamu tidur.”
“Bangun.” Revan terus berucap dan berjalan di tengah hutan yang begitu lebat.
“Kamu tahu? Dari dulu prasaan aku sama kamu nggak pernah berubah. Meskipun ada yang sempat tempatin hati aku. Tapi kamu, selalu punya ruang dihati aku.”
Itu adalah kejujuran Revan yang dia ucapkan walau Vania tidak mendengarnya, walau hanya angin malam yang begitu menusuk yang mau mendengarnya, walau hanya kesunyian yang mampu menjawabnya.
Revan kembali kesal dan sedih saat mengingat Vania diperlakukan seperti itu oleh Rendi.”Itu sebabnya aku marah, saat aku tahu kamu disakitin sama Rendi.”
“Itu sebabnya aku selalu berusaha buat kamu senyum. Karena aku nggak mau liat orang yang aku sayang sedih.”
“Dulu. Aku mundur karena aku tahu alasan kamu bahagia bukan aku.” Jeda sejenak.”Aku rela kamu sama Rendi asalkan kamu bahagia. Tapi dia.” Revan menggantungkan ucapannya nafasnya seakan tercekat.
“Dengan gampangnya dia sakitin kamu, disaat aku pikir dia yang akan bahagiain kamu.”
Revan terisak kecil.”Dan itu, itu adalah kebodohan terbesar aku Vania. Kebodohan terbesar aku yang rela lepas kamu gitu aja,” katanya pelan sambil menatap Vania dengan prasaan hancur dan air mata yang terus mengalir.
“Dan sekarang. Kamu cuma milik aku, dan aku nggak akan pernah lepasin kamu lagi.”
Revan menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajah Vania dengan prasaan hancur, lalu Revan tersenyum, senyum yang amat menyakitkan. “Tunggu sebentar lagi sayang, kamu nggak boleh pergi.”
***
“Bagimana, ini, Pak? Vania masih belum ditemukan. Revan juga masuk hutan, bagimana jika terjadi sesuatu pada mereka,” ucap Pak Maman pada Pak Zidan.
Pak zidan memijat pelipisnya lelah. “Saya sudah tel-“
“PAK, REVAN DATANG PAK!” teriak seorang murid, membuat semua langsung terfokus pada kedua orang yang baru saja datang dari hutan dengan kondisi, berantakan. Benar, keyakinan dan keteguhan Revan mampu membawa mereka kembali pada kawasan perkemahan.
“VANIA!” Rini histeris saat melihat kondisi Vania begitu mengkhawatirkan.
“Van …” lirih Amanda. Keduanya benar-benar terpukul melihat kondisi Vania sekarang.
Pak Zidan datang dan begitu kaget melihat kondisi Vania, begitu pun para guru. “Pak, Vania harus dibawa secepatnya ke rumah sakit,” ucap Revan tersenggal tanpa mau melepaskan Vania dari gendongannya.
“Baik, bawa Vania kemobil saya,” titah pak Zidan, Revan langsung mengikuti pak Zidan dari belakang.
Amanda hendak mengejar, namun Saka menahanya. “Lepas!”
Saka menggeleng, perlahan dia menarik Amanda dalam pelukannya. “Tenang, Amanda. Vania pasti baik-baik aja. Lo nggak usah takut.”
Amanda berontak di dalam pelukan Saka. “Nggak! Nggak! Lepas Saka, Lepas! Gue mau ikutin, Vania!”
Saka tidak bersuara, dia hanya memeluk Amanda semakin erat. Perlahan Amanda mulai tenang, dan hanya menangis dipelukan Saka sambil memukul dada Saka pelan. “Saka … gue takut, gue tak-“
“Shtt … lo nggak usah takut, lo harus yakin bahwa Vania akan baik-baik aja,” potong Saka sambil mengelus lembut puncak kepala Amanda.
Sementara Rini, dia sudah dibawa ketenda Medis, karena dia pingsan saat Vania dibawa oleh Revan.
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here