Untuk Revan #19

0
88
views

Malam Minggu


“HUAA…. anjir kok harus dilempar batu segala sih!” teriak Meli heboh menggema di kamar Vania sambil terisak. Dia sedang nonton drama korea.

Meli, Amanda dan Rini hari ini menginap di rumah Vania. Sesuai permintaan Vania, mereka harus menginap di rumah Vania jika mereka ingin ditraktir makan. Dan tadi siang, mereka bertiga sudah berhasil menguras dompet Vania.

“Berisik lo!” kesal Amanda sambil melempar bantal ke muka Meli. konsentrasinya saat bermain game terganggu oleh suara Meli yang cempreng.

“Sialan lo! Gue lagi dramatis gini!”

“Yaampun, sedih banget.” Rini ikut-ikutan heboh seperti Meli, bahkan air matanya sudah lolos.

Vania menggeleng melihat kedua temannya yang menangis. Adeganya memang sedih, tapi Vania tidak selebay Rini dan Meli.

Vania bangkit dari kasurnya, lalu mengambil beberapa makanan yang menumpuk di karpet lantai kamarnya. sembari memainkan ponselnya, Vania tidak henti mengunyah.

Vania menelan salivanya dengan susah payah saat melihat pesan lagi dari orang yang menerornya kemarin.

|08××××××|

Jauhi Revan!

Dahi Vania mengeryit saat menerima pesan tersebut, berani-beraninya dia menyuruh Vania menjauhi pacarnya sendiri. Hey! Memangnya dia siapa?

|VaniaAtmaja|

Ap hk lo nyrh gue jauhi Revan!

Tak butuh waktu lama, si peneror itu pun langsung membalasnya.

|08××××××|

Gw tahu, orang tua lo gk pernah peduli sedikit pn sama lo!

|08××××××|

send a pict

Orang tersebut mengirim foto Vania saat sedang berpelukan dengan Jasmine di depan rumahnya. Itu kejadian tadi siang saat Vania pergi ke rumah Revan. Berarti orang ini mengikuti Vania. Tapi siapa?

Vania terus berfikir sampai akhirnya orang tersebut mengiriminya pesan lagi.

|08××××××|

Lo itu cm ank yg haus kasih syg orng tua! makanya lo caper sama mmanya Revan! cwk gk tau malu!

Deg!

Sakit, sangat sakit saat membaca pesan tersebut, padahal Vania tidak cari-cari perhatian sedikit pun kepada Jasmine. Vania berfikir lagi, jika orang tersebut tahu bahwa kedua orang tua Vania tak pernah peduli dengannya, berarti orang yang menerornya adalah orang terdekat. Karena hanya orang-orang terdekatlah yang mengetahui bagaimana kondisi keluarga Vania. Tapi siapa?

|VaniaAtmaja|

Lo siapa?! jngn ganggu hdp gue!

|08××××××|

Selama lo msh sama Revan, gue akn terus ganggu hdp lo!

|VaniaAtmaja|

Lo nggak laku? Ngebet bngt ambil pny orang!

Si peneror tak membalas, dia hanya membaca pesan terakhir yang Vania kirim. Membuat Vania berdecih namun was-was. Takut orang tersebut berbuat hal yang tidak-tidak.

“Lo kenapa, Van?” tanya Amanda merasa aneh dengan gerak-gerik Vania.

”N-nggak, Man. Nggak papa.” Amanda hanya mengangguk, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

Drtt … drtt … drtt ….

Tertera nama ‘Revano Anggara’ dilayar ponsel Vania. Segera Vania mengangkatnya.

“Halo?”

“Turun.” Vania mengeryit tidak mengerti dengan ucapan Revan.

“Turun kemana?” tanya Vania.

“Kebawah, kamu di kamar, kan? Ini aku di ruang tamu rumah kamu,” ucap Revan membuat Vania segera keluar dari kamarnya. Benar saja, ada Revan sedang melambaikan tanganya ke arahnya. Vania lalu mematikan sambungan teleponnya dan berjalan menuruni tangga untuk menemui Revan.

Sedangkan Ketiga temannya saling tatap. “Revan kesini?” tanya Rini membuat Meli dan Amanda mengangguk.

“Kapan, ya? Gue diapelin pas malam minggu kayak gini,” ucap Rini menghalu sambil membayangkan puluhan kakak kelas cogan datang ke rumahnya.

***

“Kamu ngapain kesini?” tanya Vania saat sudah sampai di hadapan Revan.

Vania duduk di sebelah Revan. “Memangnya salah, ya? Malam minggu main ke rumah pacar?” tanya Revan membuat Vania menggeleng.

“Nggak gitu Re.”

“Ini,” ucap Revan sambil memberikan kresek hitam.

“Ini apa?” tanya Vania sambil menerima kresek hitam itu.

“Sate.”

“Buat siapa?”

“Temen-temen kamu ada disini, kan?” Vania mengangguk.

“Itu buat mereka, biar nggak ganggu kita,” katanya dengan senyum lebar.

Vania terkekeh. “Makasih.” Revan hanya mengangguk. Lalu Vania pergi ke atas guna memberi makan anak-anak rakus itu.

“Nih,” ucap Vania meletakan satenya di karpet yang banyak makanan. Mereka bertiga langsung bangun dari posisi enaknya. Dan langsung ribut mengambil sate-satenya. Kaum gratisan!

“Wihh… sate cuy,” ucap Amanda sambil memakan satu tusuk sate.

“Dari siapa?” tanya Rini sambil makan.

“Dari Revan,” jawab Vania membuat Rini mengangguk.

“MAKASIH RE!” teriak Meli tidak tahu tempat. Ini rumah orang, bukan rumah miliknya.

“Gila lo, makasih pake teriak,” ucap Amanda.

Meli nyengir. “Kan biar kedengeran.”

Vania menggelengkan kepalanya melihat kelakuan temanya yang minus. “Pacar lo memang pengertian, Van.” Vania hanya tersenyum atas perkataan Rini lalu pamit menghampiri Revan kembali.

***

“Udah?” tanya Revan membuat Vania mengangguk.

“Makasih katanya.” Revan mengangguk.

“Aku juga denger tadi ada yang teriak ‘Makasih’ Siapa?”

“Itu Meli.” Revan hanya mengangguk sambil berdeham.

Tanpa aba-aba, Revan langsung tiduran dengan paha Vania sebagai bantalnya dan bermain game. Vania hanya menggelengkan kepalanya.

“Kamu mau minum apa gitu? Biar aku ambilin.” tanya Vania membuat Revan menggeleng.

“Kenapa?”

“Nggak mau, aku cuma mau kamu deket aku terus,” jawab Revan membuat pipi Vania memanas.

“Gombal.”

“Serius Sayang.” Vania hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya seperti anak kecil.

Revan melirik Vania yang sedang menatap lurus kedepan, dia mengambil tangan kanan Vania lalu meletakannya dipuncak kepalanya, hal tersebut membuat Vania sedikit tersentak kaget.”Usap-usap rambut aku dong.”

“Kok manja sih?”

“Nggak mau?” tanya Revan dengan mata yang menatap Vania sambil mengerjap-ngerjap lucu. Kalau Revan seperti ini, jadi mirip kucing anggora.

Vania menghembuskan nafasnya.”Oke,” jawabnya sambil mulai mengusap-ngusap rambut hitam legam yang halus milik cowok itu dengan lembut. Revan manja juga ya!

Revan tersenyum, dia beralih pada ponselnya lagi.

“Kamu di teror?” tanya Revan karena tadi dia tidak sempat bertanya pada saat di rumahnya.

“Irfan yang bilang?”

“Kenapa kamu nggak bilang?” tanya Revan masih fokus pada ponselnya. Ada sedikit nada marah dalam ucapannya.

“Mungkin itu cuma orang iseng,” jawab Vania namun ada katakutan dan kecemasan dalam manik mata coklatnya.

Revan bangkit dan memposisikan dirinya menjadi duduk. “Kamu bilang, hal yang kecil bisa jadi besar. Tapi kamu sendiri nyepelein hal kayak gini.”

“Ini bukan main-main Vania,” ujar Revan sambil menatap Vania datar.

Vania menunduk. “Maaf.” Revan menghembuskan nafasnya kasar, lalu menarik gadis itu dalam pelukannya dan mengelus lembut puncak kepala Vania.

“Aku khawatir Vania.”

“Aku ngerti, maaf aku nggak sempet bilang,” ucap Vania merasa bersalah.

“Lain kali harus bilang.” Vania mengangguk lucu.

“Hp kamu mana?” tanya Revan tetap pada posisinya, Vania mendongak untuk menatap Revan. “Buat apa?”

“Pinjem sebentar.” Vania lalu memberikan ponselnya pada Revan, membuat lelaki itu sibuk berkutik dengan benda pipih tersebut, namun tangan kananya masih setia memeluk Vania dari samping.

“Kamu lagi apa si?” Revan lalu memberikan lagi ponsel Vania.

“Nggak, cuma kasih peringatan sama orang yang neror kamu.”

Vania membuka kolom chatnya dengan si peneror, namun Revan ternyata menghapusnya membuat Vania mendengus kesal. “Kenapa di hapus?”

“Biar kamu nggak liat,” jawabnya dengan kekehan pelan. Vania memutar bola matanya malas.

Vania teringat ada sesuatu yang ingin dia berikan untuk Revan. “Sebentar.”

“Mau kemana?” Vania tak menjawab, dia lari ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.

Tak lama Vania datang, lalu duduk manis lagi di sebelah Revan. “Ini,” ucapnya sambil memberikan kalung. Kalung perak untuk lelaki berbandul sayap garuda.

Revan tersenyum. “Pasangin,” ucapnya sambil mendrkatkan dirinya pada Vania.

Vania mendengus. “Manja banget, padahal bisa pasangin sendiri.”

“Suruh siapa tadi sibuk sama Bunda dan Kak Sheila,” ucapnya dengan nada cemburu. Cemburu pada Bunda dan Kakaknya karena mereka berdua menyita Vania tadi sore, sampai Revan terabaikan oleh Vania. Membuat Revan kesal sampai sekarang.

“Kamu masih kesel?” tanya Vania sambil memasangkan kalung tersebut. Setelah selesai, Vania melihat kalung tersrbut. Sangat cocok dipakai oleh lelaki bertubuh sixpack itu.

“Makasih,” ucap Revan dan Vania mengangguk lalu tersenyum hangat.

Revan menarik Vania dalam dekapannya lagi. “Siapa yang nggak kesel, pacarnya disita orang.”

“Tapi itu, kan. Bunda sama Kakak kamu.”

Revan memasang raut datar. “Nggak peduli. Lain kali, mereka nggak boleh sita kamu lagi, apalagi peluk-peluk kamu.”

Vania terkekeh, secemburu itukah Revan? Walau pada Bunda dan kakaknya sendiri? Sangat berlebihan. “Kamping kamu ikut, kan?” tanya Vania mengalihkan topik.

“Ya haruslah, kalau aku nggak ikut. Nanti banyak cowok-cowok centil yang godain kamu.”

“Kalau ada memangnya kamu mau apa?”

“Hajar mereka.”

Kening Vania mengeryit. “Nggak boleh kasar, Re,” ucap Vania lembut.

“Aku nggak suka, milik aku diganggu apalagi disentuh sama orang lain,” ucap Revan serius.

“Walau pun sama Bunda dan Kak Sheila?”

Revan berfikir. “Kayaknya untuk Bunda sama Kak Sheila aku kasih kelonggaran. Boleh peluk kamu tapi cuma satu detik.” Vania tertawa, apa-apaan Revan ini? Sebegitu tidak bolehnya Vania dipeluk oleh Bunda dan Kakaknya sendiri.

“Possesive banget.”

“Aku kan udah bilang, aku nggak suka milik aku disentuh sama orang lain,” ucap Revan membuat Vania mengangguk-nganggukan kepalanya. Keras kepala! Padahal, kan, Bunda dan Kakaknya bukan cowok.

“Segitu sayangnya kamu sama aku?”

“Ya iya lah,” jawab Revan gamblang.

Vania mengangguk sambil tersenyum hangat. “Boleh aku tanya sama kamu?”

“Boleh, apapun itu.”

“Kalo suatu saat aku pergi, gimana?” tanya Vania membuat Revan melonggarkan pelukannya dan menatap Vania lekat-lekat dengan dahi mengeryit. Revan sangat tahu arti kata ‘pergi’ itu apa.

“Kenapa kamu bilang gitu?” tanya Revan, ada nada kecemasan dalam ucapnya.

“Aku cuma tanya aja sama kamu, Re,” ucap Vania, entah kenapa, dia hanya ingin menanyakan hal tersebut.

Tidak, Revan tidak ingin gadisnya pergi lagi, cukup Ailen yang pergi. Revan tidak akan pernah melepaskan genggamannya lagi. Tidak akan pernah.

“Kamu mau pergi?” tanya Revan dengan sorot sendu. Dia sangat menyayangi Vania, hatinya kali ini tidak sedang main-main. Bahkan mungkin, menyayangi Ailen tak seperti Revan menyayangi Vania saat ini.

Vania mengerti ucapan Revan membuatnya menggeleng.”Nggak, Re. Cuma kita, kan, nggak tahu takdir kita gimana na–”

“Jangan pernah tinggalin aku,” potong Revan membuat Vania tersenyum tipis.

“Nggak akan, aku cuma pergi kalau memang aku harus pergi.”

Revan menatap manik mata coklat milik Vania dengan lekat dan mengusap lembut puncak kepala Vania dengan sebelah tanganya dan kini beralih ke pipi Vania dan mengusapnya secara lembut. Dia mendekatkan wajahnya dan sedikit menarik wajah Vania, membuat jantung Vania semakin tidak terkendali, terpaan nafas Revan dapat Vania rasakan menyapu halus wajahnya saat Revan kian mengikis jarak diantara keduanya.

Vania memejamkan matanya sebentar saat Revan mencium lembut pipinya cukup lama, setelahnya Revan kembali beralih menatap Vania.”Kamu tahu? Apa yang akan terjadi sama aku kalau kamu pergi?”

“Apa?”

“Hancur.”

“Aku akan hancur, Vania,” lanjutnya membuat Vania mengerti. Revan lalu memeluk Vania dengan erat seakan tidak membiarkan gadis itu pergi walau satu langkah.

Vania membalas pelukan Revan tak kalah erat. Dia sangat menyayangi Revan, hanya Revan lah, sosok lelaki yang tak pernah lelah untuk membuat Vania tersenyum.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here