Untuk Revan #18

0
83
views

Rencana


Terlihat empat perempuan sedang berbincang serius di ujung koridor belakang. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu.

“Jadi, kita sepakat? Buat hancurin si upik abu?” tanya seorang gadis. Itu Siska.

Kedua temannya Siska hanya menyimak sambil memperhatikan sekitar. Takut-takut ada orang yang datang kemari.

Sang gadis yang mengajak Siska dan antek-anteknya untuk bergabung dengannya, guna menghancurkan orang yang dia benci itu pun tersenyum sinis.

Lalu dia mengulurkan tanganya. “Sepakat.”

Siska tersenyum, dia pun membalas uluran tangan tersebut. “Oke.”

“Nggak nyangka gue. Lo bisa juga jadi orang jahat,” ucap Siska.

“Gue nggak rela, dia jadi milik Revan!” tekannya dengan tangan terkepal kuat.

Siska tersenyum penuh arti. Tidak perlu repot-repot mencari orang, dia sendiri yang datang kepadanya untuk menghancurkan seorang Vania Naquella Atmaja.

***

Vania mengekerutkan dahinya saat di dalam lokernya terdapat sebuah kotak hitam. Siapa yang menyimpannya? Seingat Vania, dia tidak pernah menyimpan sebuah kotak hitam di dalam lokernya. Dan, kenapa bisa ada orang yang menyimpan kotak tersebut? Padahal lokernya sudah dikunci. Lalu Vania mengambilnya dan membukanya.

Dahi Vania semakin mengkerutkan saat melihat isi kotak tersebut, lalu dia mengambil surat yang ada di dalamnya dan membaca surat tersebut. Tersadar, dia terpekik sambil melempar kotak tersebut.

Nafas Vania memburu akibat melihat isi kotak tersebut. Sangat menakutkan. Kotak tersebut berisikan selembar foto dirinya yang beberapa bagiannya sobek. Dan wajah Vania yang dicoret-coret oleh tinta merah.

Juga surat yang berisikan.

‘MUKAMU YANG CANTIK, AKAN HANCUR SEPERTI FOTO ITU!’

Surat tersebut ditulis dengan tinta merah tebal yang lebih terlihat seperti darah.

Vania menatap sekitarnya, takut-takut orang yang menerornya ada di sekitar dirinya. Koridor juga sepi, padahal ini masih jam istirahat, membuat Vania semakin was-was.

Ting!

Suara ponselnya berbunyi. Vania langsung membukanya. Namun, yang mengiriminya pesan bukan nomor yang dikenal.

|08×××××××|

Bagaimana? Sudah liat hadiah dariku?

Vania semakin takut, tidak salah lagi, pasti orang yang mengiriminya pesan adalah orang yang sama yang mengiriminya foto dan surat tersebut.

Setahu Vania, dia tidak memiliki musuh di sekolah ini. Memang ada beberapa Senior perempuan yang tidak suka dengan Vania, namun itu sudah biasa karena dari dulu memang seperti itu, dan semua aman-aman saja. Tapi kali ini? Apa mungkin mereka yang meneror Vania?

“Woi!” Vania terpekik saat seorang menepuk pelan pundaknya.

“Lo kenapa liatin gue kayak liat setan gitu?”

Vania mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab. “Lo ngagetin banget sih, Fan.”

Irfan terkekeh. “Gue cuma sapa lo gitu doang lo seheboh itu? Memangnya lo kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?” tanya Irfan namun Vania menggeleng membuat Irfan menatap Vania curiga.

Lalu pandangannya teralihkan, pada kotak, surat, dan juga selembar foto yang berserakan di lantai. Lalu dia mengambilnya satu persatu membuat Vania menepuk jidat. Bohong tidak liat situasi, bodoh!

Dahi irfan mengeryit saat melihat dan membaca surat tersebut. Tanganya terkepal kuat, bisa-bisanya ada yang meneror pacar sahabatnya. “Dari kapan lo diteror kayak gini?”

“Baru sekarang sih,” jawab Vania.

“Lo harus hati-hati, Van,” peringat Irfan.

Membuat Vania tersenyum cangung. “Mungkin aja itu orang iseng.”

“Lo bilang ini iseng? Ini udah nggak main-main, Van.” Vania menunduk.

“Lo punya musuh?”

Vania menggeleng. “Gue rasa nggak. Mungkin ada beberapa senior yang nggak suka gue, tapi dari dulu gue belum pernah di teror kayak gini.”

“Selain mereka?”

“Nggak ada.” Irfan menghembuskan nafasnya kasar.

“Gue anter lo sampe kelas.”

Vania menggeleng. “Nggak usah, Fan. Gue bisa sendiri,”

Irfan menatap Vania dengan tegas. “Nggak Vania! Lo harus gue anter, bisa jadi diperjalanan dia liat lo dan lakuin hal yang nggak-nggak sama lo!”

“Tapi, F-”

“Vania! Lo itu pacar sahabat gue. Itu artinya, gue juga wajib lindungin lo, termasuk Saka.” Vania tertegun dengan ucapan Irfan, ternyata Irfan baik walau kadang dia memang menyebalkan dan pecicilan.

“Oke.” Vania lalu menutup pintu lokernya tak lupa dia menguncinya terlebih dahulu. Setelahnya dia berjalan beriringan bersama Irfan menuju kelasnya. Kata Irfan, Revan sedang tidur di kelasnya, pantas saja Vania tidak melihat si jangkung itu.

“Lo dapat pesan aneh gitu nggak? Setelah lo dapet teror ini?” tanya Irfan membuat Vania mengangguk.

“Ini,” Vania memberikan handponenya dan memperlihatkan pesan dari orang yang tidak dia kenal.

“Sialan!” umpat Irfan.

Mereka sudah sampai di kelas Vania. “Makasih ya, Fan. Lo udah repot-repot mau nganter gue.”

Irfan tersenyum. “Sama-sama, kalau ada apa-apa bilang.” Vania mengangguk lalu Irfan pun pergi dengan membawa kotak hitam tersebut.

Tangan Irfan terkepal kuat. Dia jadi ingat soal ucapan Saka dan Revan tentang kedatangan David dan juga ucapan David yang akan mengganggu Vania. Apa mungkin? Ada mata-mata David disekolah ini?

Disatu sisi, orang yang melihat kotak pemberiannya dipegang oleh Irfan mengepalkan tanganya kuat. Sial! Kenapa harus ada orang yang ikut campur?

***

Brak!

Irfan meleparkan kotak tersebut tepat ke hadapan Revan dan Saka. Membuat keduanya kaget. Rupanya Revan sudah bangun.

Dahi Revan mengeryit saat melihat foto gadisnya dengan muka dicorat-coret dan juga surat.

“BANG*AT! SIAPA YANG LAKUIN INI?!” ucap Revan emosi sendiri.

Saka juga sama emosinya, namun seperti biasa. Dia kalem dan tidak langsung meledak seperti Revan.

“Cewek lo juga dapat pesan dari orang yang kirim dia teror ini,” ucap Irfan.

“Kenapa lo bisa tahu?” tanya Saka.

Irfan mulai menjelaskan kenapa dia tahu hal tersebut dengan panjang lebar sampai dia mengantarkan Vania ke kelasnya.

“Sialan! Berani banget dia teror cewek gue!” kesal Revan.

“Tenang, Re. Jangan emosi, kita harus cari tahu dengan kepala dingin,” ucap Saka memberi tahu. Ada benarnya juga.

“Apa mungkin, di sekolah ini ada mata-mata David?” ujar Irfan membuat semuanya berfikir.

“Kayaknya nggak deh. Vania baru diteror sekarang, kan? Kalau iya ada mata-mata David. Mungkin dari dulu Vania diteror. Secara, kan, David udah muncul lumayan lama,” jelas Saka membuat keduanya mengangguk. Saka memang pintar!

“Bener, tapi apa tujuannya dia neror Vania?!” ucap Revan masih emosi.

“Gue kira, ada yang nggak suka, lo jadian sama Vania, secara teror ini baru muncul setelah lo jadian sama Vania.” Saka benar lagi, teror ini baru muncul setelah Revan dan Vania resmi pacaran. Argh sial! Revan tidak bisa berpikir jernih kalau begini.

“Lo cukup jaga dia, biar kita berdua yang cari tahu,” lanjutnya.

“Iya Re. Tenang aja, kita berdua nggak bakal biarin hal dulu terulang,” sambung Irfan membuat Revan sedikit lega. Lihat saja, Revan tidak akan pernah membiarkan orang tersebut begitu saja.

Revan bangkit. “Lo mau kemana?” tanya Irfan saat Revan berjalan keluar kelas, padahal bel masuk baru saja berbunyi.

Revan diam membuat Saka mengerti namun tidak bagi Irfan. Dasar loading!

“Kacang mahal!” kesal Irfan karena Revan tidak menjawabnya. Saka hanya bisa menggelengkan kepalanya.

***

Vania merasa bosan dengan pelajaran Bu Mirna, yang menjelaskan mata pelajaran sejarah namun ujungnya malah curhat soal anaknya yang katanya paling cerdas. Menyebalkan, Vania mengetuk-ngetukkan bolpoinnya ke kepalanya.

Meli yang berada disebelahnya malah tidur dengan enaknya dengan buku yang menghalangi kepalanya sehingga lebih terlihat seperti orang sedang membaca.

Vania mendengus malas, tetapo detik berikutnya, pandangannya terkunci saat melihat Revan yang sedang menyenderkan tubuhnya di tembok dekat pintu masuk kelasnya, sambil memasukan satu tangannya kedalam celananya. Tak lupa dia tersenyum manis ke arahnya sambil melambaikan tanganya ke arah Vania.

Vania kaget, Revan bisa dihukum kalau Bu Mirna melihat dirinya tidak belajar saat jam pelajaran.

Vania berbicara tanpa suara. “Kamu ngapain disini?” tanyanya panik. Revan menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya ‘Aku?’.

Vania menganguk cepat. Lalu Vania menunjuk Bu Mirna dan Revan mengikuti arah telunjuk Vania. ”Kamu bisa dihukum.” ucap Vania lagi tanpa suara.

Revan menggeleng. Lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku kangen kamu,” ucapnya juga tanpa suara sambil menunjuk Vania dikata terakhir.

Vania menepuk jidatnya saat mengerti ucapan Regan. Revan ini, padahal pulang sekolah nanti dia bisa kan bertemu dengan Vania?

Vania mengibas-ngibaskan tanganya seolah mengusir Revan. Biarlah Revan marah, asal lelaki itu tidak dihukum oleh Bu Mirna. “Kamu pergi aja, nanti Bu Mirna bisa marah,” ucap Vania dengan suara tertahan sembari sesekali dia melirik-lirik Bu Mirna.

Revan menghembuskan nafasnya kasar, lalu melirik Bu Mirna dan pergi. Vania bernafas lega. Belum juga lima menit, Revan sudah muncul lagi membuat Vania kaget.

Namun kali ini hanya lewat, hanya lewat saja, namun pandangannya tak lepas dari Vania. Vania menghembuskan nafasnya kasar, benar-benar Revan ini.

Saat Vania menengok ke jendela sebelah kanannya, dia hampir saja menjerit kaget karena Revan ada di balik jendela dengan senyumannya. Vania menggeleng heran dengan kelakuan Revan.

Bu Mirna yang sedari tadi menyadari kehadiran Revan namun hanya diam saja akhirnya dia berjalan keluar kelas membuat Vania kaget dan memberi tahu Revan agar segera pergi dengan suara tertahan. Yang membuat Vania kesal, Revan masih saja diam di balik jendela dengan terus memandanginya. Ingin rasanya Vania menendang cowok itu sekarang juga.

Bu Mirna menatap Revan yang sedang asik memperhatikan kedalam kelas. “Revan!” teriak Bu Mirna. Vania menepuk jidatnya. Kan, ketahuan!

Dengan santai Revan berjalan menghampiri Bu Mirna dan mencium punggung tangan Bu Mirna. “Sore Bu,” katanya.

“Kamu ngapain disini?! Ini jam pelajaran, bukanya masuk malah keluyuran,” ucap Bu Mirna tegas.

Revan tersenyum. “Tengokin pacar saya, Bu,” jawabnya enteng.

Tuk!

Revan meringis karena Bu Mirna dengan tega memukul kepalanya dengan penggaris besi andalannya. Vania sedari tadi menenggelamkan kepalanya dilipatan tangannya. Sementara murid-murid menahan tawanya melihat Revan yang dipukul Bu Mirna.

“Kamu ini! Pacaran, pacaran! Belajar yang bener!”

“Memangnya salah ya Bu? Liat pacar sendiri?” ungkap Revan sambil mengusap-ngusap kepalanya yang sakit.

“Memangnya siapa pacar kamu? Huh! Siapa?”

Revan melihat ke dalam kelas. “Itu Bu, yang malu-malu kucing,” ucapnya sambil menunjuk Vania yang masih dengan posisi tadi. Demi apapun, Vania malu, bukan malu karena Revan pacarnya, melainkan malu karena dirinya kini menjadi tatapan seisi kelas.

“Vania?” Revan mengangguk membuat Bu Mirna mengerti.

“Kamu udah liat pacar kamu, kan?” Revan kembali mengangguk.

“Yasudah sana! Balik ke kelas!” titah Bu Mirna galak.

“Oke Bu. Tapi saya boleh minta tolong nggak Bu?”

“Minta tolong apa?”

“Minta tolong jagain pacar saya,” ucap Revan membuat seisi kelas menyorakinya.

Bu Mirna menggeleng dan menghembuskan nafasnya kasar. “Sudah, sudah! Kamu balik ke kelas sekarang!”

“Oke Bu.” Revan pun pergi, tak lupa dengan mengedipkan sebelah matanya saat Vania melihat dirinya.

“Cie, yang ditengokkin pacar,” goda Meli sambil menyenggol lengan Vania pelan.

“Apaan si!”

“Hmmm… possesive amat si pacarnya,” timpal Rini. Sementara Amanda hanya tertawa ringan dan menggelengkan kepalanya pelan.

Pipi Vania sudah seperti kepiting rebus sekarang, sangat merah membuat teman-temanya tertawa.

“Vania!” ucap Bu Mirna membuat Vania menoleh. “Iya Bu?”

“Bilang sama pacar kamu, kalau mau liat kamu. Halalin kamu sekalian, biar berkah kalau liat kamu terus,” ucap Bu Mirna membuat Vania tercengang.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here