Untuk Revan #15

0
124
views

Hari ke-2 untuk senyum Vania


Vania sudah siap dengan celana jeans dan juga hoody maroonnya, malam ini Revan akan menjemputnya. Katanya, ini adalah hari ke dua untuknya tersenyum dan melupakan masalahnya.

Sebagai polesan terakhir, Vania memoleskan lipstik pada bibir mungilnya agar tidak kelihatan pucat.

Ting!

Suara notifikasi ponsel membuat Vania segera membukanya, itu pesan dari Revan.

|RevanoAnggara|

Gue udh d dpn rmh, buruan turun.

Vania segera bergegas turun setelah ia mengambil sling bagnya. Dia mencari-cari Bi Inah, guna meminta izin. Namun ternyata Bi Inah sedang mengobrol dengan Revan di ambang pintu.

“Eh Non, ini pacarnya udah datang,” ucap Bi Inah membuat Vania kicep ditempatnya. Pacar katanya? Sangat jauh dari kenyataan.

“Apaan sih Bi.” Vania melirik Revan yang melambaikan tanganya sambil tersenyum manis, tak lupa dengan kedipan sebelah matanya. Kedip manja!

“Aku pamit pergi keluar ya, Bi,” ungkap Vania lalu mencium punggung tangan Bi Inah, membuat Bi Inah mengusap halus rambut Vania. Diikuti Revan yang juga ikut mencium punggung tangan Bi Inah.

“Aku izin bawa Vania ya, Bi.” Bi Inah mengangguk dan tersenyum.

“Dijaga, ya. Sama pulangnya jangan terlalu malam.”

“Oke Bi,” jawab Revan.

Lalu keduanya pun pergi. Hari ini Revan membawa mobil. Selain karena keinginan Jasmine yang tahu Revan akan mengajak Vania pergi, ini juga keinginan Revan agar Vania tidak kedinginan. Manis sekali Ibu dan Anak ini!

Sebelum Vania membuka pintu, Revan lebih dahulu membukakan pintu untuk Vania, membuat Vania terkekeh.”Makasih.”

“Sama-sama Tuan Putri.”

Lalu Revan berlari kecil menuju kursi kemudi. Saat Vania ingin memasang seatbelt, Revan terlebih dahulu memasangkannya, membuat Vania terdiam kaku. Astaga, rasanya jantung Vania berdisko hebat, pipi Vania bahkan sudah memerah. Bagaimana tidak? Hidung Revan dan hidung Vania hampir bersentuhan!

Revan menatap Vania hangat saat sudah memasangkan seatbelt, lalu dia tersenyum. “Gue ganteng, ya?”

Sial! Jiwa narsis Revan mulai keluar, membuat Vania memutar bola matanya malas. “Nggak!”

Revan menjauhkan tubuhnya, lalu menatap Vania merasa ada yang kurang. “Jepitan rambut yang gue kasih, nggak dipake?”

“Ini,” ucap Vania sambil memperlihatkan jepitan kupu-kupu putih itu. Revan mengambilnya membuat Vania diam. Revan terlebih dahulu merapikan rambut Vania membuat Vania hanya bisa diam sambil menstabilkan detak jantungnya yang semakin menjadi.

“Ayo, Van, lo jangan baper,” batin Vania berucap.

“Nah, kan, manis,” ujar Revan sambil tersenyum setelah memasangkan jepitan itu.

Revan lalu menjalankan mobilnya, menuju tempat yang akan membuat Vania tersenyum. Revan janji pada dirinya sendiri, besok akan menjadi penutupan yang paling sempurna dan penuh dengan senyuman.

Vania menatap Revan yang sedang asik menyetir. Sial! Vania tidak bisa mengelak bahwa saat ini Revan memang terlihat ganteng. Gimana dong?

Vania memegang dadanya. “Apa ini hanya prasaan gue?”

***

Revan memarkirkan mobilnya, lalu berjalan keluar terlebih dahulu untuk membukakan Vania pintu. Sederhana memang, namun perlakuan Revan membuat Vania memberi nilai plus pada lelaki itu.

Revan memegang tangan Vania, lalu membawanya ke tempat yang ditujunya. Vania membulatkan matanya saat dia dan Revan sudah sampai ditempat yang dituju.

“Re? Lo nggak salah bawa gue kesini?” tanya Vania sambil tak henti-hentinya melihat sekitar.

Revan sedikit khawatir, takut Vania tidak suka. “Lo nggak suka ya?”

Vania mengeleng lantas tersenyum. “Nggak, gue suka banget malah.”

Revan bernafas lega, dia kira Vania tidak suka tempat ini. Pasar malam. Ya, mereka berdua sedang berada di pasar malam.

“Ayo, Re, kita naik biang lala,” ucap Vania sambil menarik tangan Revan menuju biang lala dengan antusias.

Setelah membeli tiket, keduanya pun menaiki wahana tersebut. Biang lala mulai berputar. Vania melihat-lihat pasar malam dari atas yang kelihatan lebih asik bila dilihat dari atas saat biang lala berada dipuncak.

“Lo seneng?”

Vania mengangguk semangat. “Seneng banget, dari kecil gue suka sama pasar malam.”

Tangan Revan terulur mengacak rambut Vania gemas membuat Vania sedikit kesal karena rambutnya berantakan.

Setelah menaiki biang lala, Vania ingin bermain lempar bola. Yang apabila bola tersebut mengenai tumpukan kaleng, maka si pemenang bisa memilih hadiahnya.

Si penjual memberikan masing-masing tiga bola pada Revan dan Vania. Kedunya mulai melempar.

Lemparan pertama Vania gagal, lemparan kedua masih sama, begitu pun Revan. Kini, mereka masing-masing hanya memegang satu bola.

“Kita taruhan.”

Vania menengok. “Ayo.”

Revan tersenyum. “Yang kalah, harus dicium.” Seketila bola mata Vania membulat. Apa-Apaan Revan ini? Mencari kesempatan itu namanya.

“Nggak! Modus lo mah.”

Revan tertawa ringan.”Iya nggak. Yaudah, yang kalah harus jadi pacar gue.” Vania lagi-lagi melotot.

“Apaan sih lo! Udah ah, gue males mainya.” Vania lalu melempar bolanya asal, dan pergi begitu saja dengan wajah cemberut.

Revan terkekeh, puas sekali menggoda Vania. Lalu dia melempar bola terakhirnya dan berharap semoga bolanya tepat sasaran.

Dan benar saja, doa’a Revan terkabul, semua kalengnya jatuh. Dan itu membuat Revan tersenyum gembira.

“Wah, beruntung lo bro. Bolehlah, lo pilih hadiah sesuka hati lo,” ucap sang penjual yang kelihatannya sok gaul walau sudah berumur.

“Gue pilih itu, Bang.” penjual tersebut mengagguk.

***

Sementara Vania, dia sedang duduk sambil memakan permen kapas yang ukurannya lumayan besar sambil cemberut. “Sialan! Pipi gue, kan, jadi merah.”

“Hai cantik,” ucap seorang membuat Vania menoleh. Bukan orang, melainkan boneka beruang besar berwarna coklat yang lucu dengan pita dilehernya.

Vania tersenyum dengan mata berbinar. “Lucu banget, si,” ucap Vania gemas.

Boneka tersebut bergerak-gerak lucu. “Tapi kamu lebih lucu daripada aku,” ucapnya dengan suara anak kecil.

Vania tersenyum. “Ada salam dari kakak ganteng, katanya kamu manis,” ucap si boneka membuat Vania tertawa ringan.

“Siapa?”

“Namanya, Revano Anggara Putra.” Dan muncullah sosok Revan dari balik boneka tersebut.

Blush, pipi Vania seketika langsung merah. Benar-benar Revan ini, selalu saja bisa mengubah moodnya setiap saat.

“Nih buat lo,” ucap Revan sambil memberikan boneka tersebut.

Vania tersenyum, berusaha menutupi kegugupannya. “M-makasih.”

“Tadi lo menang?”

Revan mengangguk.”Dan itu hadiahnya.”

“Gue kasih nama boneka ini, Fakboi,” ucap Vania sambil tersenyum lebar.

Revan menatap Vania datar. “Apaan si lo, nggak asik.”

“Iya deh nggak. Gue kasih nama, Reva.”

“Reva?” beo Revan dengan dahi mengeryit.

“Iya, Revan dan Vania. Gimana? Bagus, kan?” ucap vania sambil mengelus-elus bulu boneka tersebut.

Revan tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Vania lembut. “Bagus, bagus banget malah.”

“Lo mau?” tawar Vania sambil menyodorkan sesobek permen kapas.

“Aaa…,” ucap Revan sambil membuka mulutnya.

Vania memasukan permen kapas itu kedalam mulut Revan. “Manja banget.” Revan hanya tersenyum.

Tak berapa lama permen kapas pun telah habis. Waktunya main kembali.

“Naik kora-kora yu?” Revan mengangguk lalu menggenggam tangan Vania untuk menuju wahana kora-kora.

Mereka mulai menaiki wahana tersebut setelah membeli tiket. Kora-kora perlahan maju, hembusan angin malam membuat beberapa helai rambut Vania beterbangan. Lagi, Revan selalu suka akan hal itu. Apalagi sekarang Vania terlihat sangat menggemaskan, dengan senyum manis dan juga boneka beruang yang ada dipangkuannya.

Vania tak henti-hentinya tersenyum membuat Revan juga ikut tersenyum. Lalu Revan mendekat, dan membisikan sesuatu ditelinga Vania.

“I love u, Vania,” ucapnya begitu pelan disertai hembusan angin yang menerpa.

Setelahnya Revan tersenyum dan menatap sekitar.

Tanpa Revan ketahui, Vania mendengar ucapan Revan barusan membuat dunianya seakan berhenti berputar.

Vania menatap Revan lekat. “Apa gue nggak salah denger?” gumamnya pelan.

***

“Lo mau pulang? Atau masih mau main?” tanya Revan saat sudah turun.

Vania kelihatan berfikir sebentar. “Hmm… kayaknya nanti aja, deh. Soalnya masih asik. Nggak pa-pa, kan? Ini juga masih belum terlalu malam.”

Revan mengangguk.” Iya nggak pa-pa, terus mau apa lagi?”

“Mau es krim,” ucap Vania manja membuat Revan langsung menariknya ke penjual es krim.

Mata Vania berbinar, melihat es krim dengan berbagai rasa, dia sangat suka es krim. “Mau rasa apa, Mbak?” tanya sang penjual.

“Coklat,” jawab Vania membuat si penjual mengangguk.

Revan menatap sekitar saat menunggu Vania memesan. Tatapannya bertemu dengan seorang yang dibencinya.

Seketika tangan Revan terkepal kuat. Dilihat David tengah tersenyum remeh kearahnya. “Van, tunggu sebentar, jangan kemana-mana.”

“Loh, lo mau kemana?”

“Ada urusan sebentar, nanti gue balik.” Revan pergi menghampiri David.

Kenapa si Iblis ini ada disini? Tidak bisakah dia menghilang saja dari muka bumi ini? “Mau apa lo?!” tanya Revan tajam saat sampai di hadapan David.

“Santai bro, gue cuma mau liat si cantik doang.” Revan langsung mencengkram kameja David kuat.

“Jangan coba-coba puji dia dengan mulut sampah lo!” tekan Revan membuat David tersenyum miring.

“Lepasin gue dulu. Ingat, ini tempat umum, lo bisa diserbu orang-orang kalau tiba-tiba mukul gue.” Revan menghempas David kasar. Tidak! Revan tidak takut jika diserbu orang-orang saat memukul David, hanya saja, Revan tidak ingin membuat momentnya dan Vania rusak.

“Pergi lo! Dan jangan pernah ikutin gue lagi,” tekan Revan lalu pergi menghampiri Vania.

Vania melihat Revan yang sedang berbincang dengan seseorang, tetapi Vania tidak bisa melihat jelas siapa orang yang sedang bersama Revan. Tapi kelihatannya Revan tidak suka dengan lelaki itu, ada apa ini?

Sampai saatnya, Revan kembali kesampingnya. “Itu siapa, Re?” tanya Vania.

“Nggak, itu cuma mantan temen.”

“Emang ada, ya? Mantan temen?”

“Ada, itu buktinya tadi mantan temen gue.” Vania terkekeh, lalu mereka berdua kembali bermain-main di pasar malam tersebut.

Mulai dari membeli kacamata couple, mengabadikan moment dengan Revan yang memakai bando kelinci yang terlihat menggemaskan. Bermain pancing ikan, memilih baju dan masih banyak lagi.

Tak ada tawa yang mereka lewatkan, tiap detik yang Vania lalui malam ini sungguh membuat Vania bahagia dan mampu melupakan masalahnya, walau terkadang, Revan suka membuatnya kesal.

Karena sudah larut malam, mereka berdua akhirnya pulang.

***

“Seru?” tanya Revan saat sudah berada di dalam mobil.

Vania mengangguk. “Seru banget.”

“Gue berhasil, nggak? Buat lo senyum?”

“Berhasil.” Vania menatap Revan lalu tersenyun,”Makasih ya, Re.”

Revan mengacak rambut Vania gemas.”Sama-sama.”

Revan mulai menjalankan mobilnya. Kali ini tak ada percakapan, Revan merasa bosan karena Vania tak kunjung bersuara. Belum sempat berbicara, Revan melihat Vania tengan tertidur sambil memeluk ‘Reva’ yang tak ingin dia lepas sedari tadi.

Revan hanya tersenyum melihat itu, lalu dia menjalankan mobilnya dengan laju santai, agar Vania tidak terganggu.

Sudah sampai, Vania masih tidur dengan begitu nyenyak. Revan jadi tidak tega untuk membangunkannya. Revan mendekat dan membuka seatbeltnya, dia merasakan nafas Vania yang teratur saat tidur.

Perlahan, Revan menyingkirkan beberapa anak rambut yang menghalangi wajah cantik Vania. Revan mengusap lembut pipi Vania. Dan.

Revan mencium puncak kepala Vania dengan lembut. “Mimpi indah, Tuan Putri.”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here