Untuk Revan #14

0
64
views

Revan mengusap wajahnya gusar, dia terus menghubungi Vania. Sial! Kenapa Vania tak kunjung menjawab telponya? Dia terus berjalan di sepanjang koridor dengan tak henti-hentinya menelpon Vania. Pasalnya, tadi Revan menjemput Vania ke rumahnya, namun ternyata Vania sudah pergi.

“Lo dimana sih, Van?” gumam Revan.

Saat sedang berjalan, tiba-tiba ada yang mengelayut manja dilengan Revan membuat Revan mengeryitkan dahinya. “Apaan sih lo!”

Perempuan itu kemudian menatap Revan dengan muka sok imut. “Kamu kenapa sih Sayang? Udah hampir seminggu kamu hindarin aku, dichat juga bilangnya ‘putus’, satu kata lagi. Nyesek tahu nggak!” ucapnya setengah kesal.

Revan memutar bola matanya malas. Saat ini dia tidak ingin diganggu oleh titisan para mantanya. Cukup! Revan ingin insyaf jadi playboy.

Revan melepaskan tangan Sesil. “Gue udah bilang putus, harusnya lo ngerti.”

“Aku nggak mau ngerti! Aku nggak mau kita putus!” rengek Sesil seperti anak kecil.

Revan tak memperdulikan Sesil, dia melaju meninggalkan Sesil tanpa menghiraukan Sesil yang terus meneriaki namanya.

“Revan!”

“Sayang!”

“Revan ish!”

“Huaa… Mama Sesil dikacangin!” ucap Sesil sambil menangis dan pergi dengan menghentak-hentakan kakinya. Seperti anak kecil.

Revan mengusap dadanya. “Lolos,” batinya bersorak.

Belum juga lima menit Revan merasa tenang, kini salah satu titisan mantannya kembali lagi dengan menghadang jalanya dengan keuda tangan terlentang dan muka kesal. “Berhenti!”

Revan mengacak rambutnya frustasi, kalau dia tahu hidupnya tidak akan tenang, mungkin dulu dia tidak akan menjadi Playboy. Nah, kan, penyesalan memang selalu datang diakhir.

“Ada apa si?!”

“Re tangan lo kenapa?” ucap Loli tiba-tiba menjadi jinak saat melihat tangan Revan yang diperban.

Revan kembali berjalan, sekali lagi dia malas bertemu dengan titisan para mantannya. Namun lagi-lagi tanganya ditahan oleh si Lolipop ini.

“Jangan menghindar! Lo kenapa bilang gitu?”

“Ya gue memang mau putus. Dah lah, banyak urusan gue.” Loli membulatkan matanya, Revan sialan! Berani sekali dia membuat seorang Loli jadi permainanya.

BUGH!

“Anjir!” Loli menonjok Revan membuat Revan meringis karena pukulannya cukup kuat, wajar saja, toh si Lolipop ini jago silat.

“Mampus lo! Makanya jadi cowok jangan sok ganteng,” ucap Loli lalu pergi dengan amarah yang menggebu, Revan mengusap dadanya mencoba untuk sabar.

“Sabar Re, sabar, ini ujian buat lo.”

***

“Ada apa? Lo kayaknya lagi ada masalah?” tanya Saka saat dia sudah sampai di rooftop. Revan yang menyuruhnya datang, sementara Irfan, dia sudah duluan ke kantin untuk mengisi perutnya.

Revan memposisikan dirinya menjadi duduk, ada kursi baru rupanya di rooftop. Apalagi ini lebih aman dan nyaman dibandingkan kursi yang kemarin. Tapi walau pun kursi kemarin tidak aman, ada untungnya juga sih untuk Revan.

Revan lalu menatap lurus sambil mengepalkan tangannya kuat. “Dia balik.”

Saka langsung menatap Revan dengan dahi mengeryit. “Siapa?”

“David.”

Satu nama itu mampu membuat Saka menendang kayu yang ada disebelahnya.”Sialan! Mau apa lagi dia!”

Saka juga sama bencinya dengan Revan kepada David, dia sudah menghancurkan segalanya. Apalagi dulu, orang yang Revan sayang, juga orang yang Saka sayang terkena masalah karena David. Iya, Saka juga sayang dia, namun lebih sayang seperti kepada adik.

Oleh karena itu, Saka selalu emosi apabila dia mendengar nama bajingan itu.

“Dia tahu Vania lagi deket sama gue. Dan kayaknya dia pernah ikutin gue.”

“Bahkan, dia tahu nama Vania,” lanjut Revan dengan nada datar.

Saka berdecih. “Banci!”

“Kita nggak bisa anggap dia remeh, Re. Lo tahu sendirikan dia orangnya kayak apa.”

“Gue tahu, makanya gue bilang sama lo.”

Saka menatap Revan dengan serius. “Lo harus jaga Vania, Re. Gue nggak mau sampai kejadian dulu terulang.” Revan mengangguk.

“Gue tahu, lo suka, kan, sama Vania?” tanya Saka mulai ketopik sensitif.

Revan diam tidak membalas. “Re, jujur sama gue. Lo nggak bisa bohong sama gue.”

“Setidaknya buka hati lo, dia juga nggak mau liat lo kayak gini,” tutur Saka tenang namun mampu membuat Revan berfikir.

Nyatanya, Revan menjadi playboy bukan karena dia memang murni menyukai ratusan para gadis. Namun dia mencoba mencari pelampiasan dengan memacari para cewek untuk melupakan seorang yang sangat dia sayangi.

Terdengar jahat memang, namun setidaknya Revan tidak menembak para cewek itu duluan. Jadi dia tidak perlu terlalu merasa bersalah.

Dan waktu itu, untuk pertama kalinya lagi, Saka melihat Revan yang marah karena seorang perempuan. Ingat waktu Revan menghajar Rendi habis-habisan? bahkan kepada mantan-mantannya saja jika mereka diganggu oleh cowok dan sampai nangis kejer Revan tidak peduli walau sering memperlakukan mereka dengan manis.

Dan karena Vania, Saka mampu melihat kemarahan Revan yang dulu. Amarah Revan yang selalu membela gadis kesayangannya, dulu. Dan sekarang terulang lagi.

Saka yakin, Revan tidak akan semarah itu jika tidak punya alasan yang kuat.

“Gue nggak mau dia kenapa-napa,” ucap Revan pelan dan lirih.

Saka mengerti, mungkin rasa takut Revan akan kehilangan masih belum hilang. “Gue ngerti, tapi gue ingetin sama lo. Ailen juga bahagia kalau liat lo bahagia.”

Revan menatap Saka, lalu dia menepuk pelan pundak Revan dan pergi dari rooftop, membiarkan Revan merenungkan ucapannya.

Revan terdiam, meresapi ucapan Saka. Apa benar dia harus membuka hatinya?

“Alen, aku harus gimana?” tanya Revan dalam keheningan. Berharap gadis yang selalu dia panggil Alen itu akan menjawabnya. Namun lagi-lagi harapan itu harus musnah, karena sampai kapanpun, gadis itu tidak akan menjawab semua pertanyaanya.

***

“Vania!” teriak Revan saat melihat Vania sedang berjalan di koridor sendirian.

Vania menghentikan langkahnya, lalu membalikan badanya. Pas sekali Vania ingin meminta maaf dan orangnya datang.

Revan menghembuskan nafasnya, lalu menyentil dahi Vania membuat Vania meringis. “Apaan si, Re?”

“Lo yang apaan, gue jemput tapi orangnya nggak ada.” Vania melebarkan senyumnya, sedangkan Revan menatapnya datar.

“Maaf, Re, gue bener-bener lupa.”

Revan menaikan sebelah halisya.”Yakin? Gue kecewa sama lo.”

Vania membulatkam matanya, bagaimana bisa Revan kecewa hanya karena Vania lupa bahwa Revan akan menjemputnya? Tapi wajar si kalau Revan marah.

Revan berbalik hendak pergi, namun Vania menahan tangannya. “Re, jangan gitu dong. Gue, kan, bener-bener lupa.”

Revan berusaha menahan tawanya, dia tidak kecewa, hanya saja dia ingin menjahili Vania. Ya walau pun, Revan agak sedikit kesal pada Vania.

Revan berbalik dengan muka sedatar mungkin, lalu dia berdeham. “Oke gue nggak bakal marah sama lo, tapi lo harus dihukum.

What! dihukum? apa-apaan Revan ini, seperti anak kecil saja. Tapi ya sudahlah, toh Revan selama ini baik dengannya. “Oke, apa?” ucap Vania pasrah membuat Revan mengembangkan senyumnya.

“Mulai sekarang dan selamanya, lo pulang pergi sekolah bareng gue.” Vania membulatkan matanya.

“Loh? Kok gitu sih?”

Revan menaikan sebelah halisnya. “kenapa? Mau nolak? Gue nggak nerima penolakann lo.”

Revan kemudian mengelus rambut Vania lembut. “Satu lagi, lo udah janji jadi penurut.”

“Tapi, kan, lo udah berhasil buat gue senyum, artinya janji gue udah selesai dong,” ucap Vania merasa tidak terima. Enak saja, kemarin saja Vania sudah tidak tahan ingin mencakar wajah Revan karena terus menggodanya.

“Itu baru hari ke satu, masih ada dua hari lagi.” Vania cemberut, bisa-bisa pipinya dibuat memanas setiap saat.

Tersadar, Vania baru sadar bahwa tangan kanan Revan diperban. “Tangan lo kenapa?”

Revan kemudian melihat tanganya sendiri lalu menggeleng. “Nggak pa-pa, cuma luka kecil.”

Vania berdecak, lalu dia mengambil tangan Revan untuk melihat keadaan tangannya. Luka kecil katanya? kalau ia kenapa diperban seperti ini.

“Lo kebiasaan! Suka bilang hal besar itu kecil.” Revan tertawa melihat Vania yang mukanya yang marah dan khawatir.

“Nggak pa-pa, Van. Ini cuma nggak sengaja,” alibinya.

“Emang kenapa si?” tanya Vania kesal.

“Jangan bohong!” lanjut Vania, kalau seperti ini, Vania jadi seperti sedang memarahi pacarnya yang ketahuan bohong sekarang.

Revan menghembuskan nafasnya kasar. “Gue pukul kaca.”

Vania membulatkan matanya, apa-apaan Revan ini? Melakukan hal yang sama sekali tidak berguna.

“Lo nggak ada kerjaan?! Pake pukul kaca segala, bodoh banget kelakuan lo! Nyakitin diri sendiri, tangan juga luka, mau nulis juga pastinya susah, u-”

Revan membekap mulut Vania yang terus mengoceh. “Udah ngomelnya?”

“Be-”

Lagi dan lagi Revan membekap mulut Vania membuat Vania diam, Revan lalu mendekat membuat jantung Vania berdegup kencang. “Jangan ngomel, lo itu nggak lucu kalau lagi ngomel. Udah kayak Ibu-Ibu tahu nggak.”

Refleks Vania memukul Revan membuat Revan tertawa. “Jangan samain gue sama Ibu-Ibu!”

“Iya, iya, Vania.” Vania berhenti memukul Revan.

“Lo kenapa kayak gini sih?” tanya Vania masih dengan nada tidak bersahabat.

“Karena lo, gue kayak gini,” ucap Revan membuat Vania bingung.

“Maksud lo?”

“Iya karena lo, karena gue takut lo pergi.” Vania terdiam, ucapan Revan begitu ambigu. Vania tidak mengerti.

Revan tersenyum, lalu menggenggam tangan Vania dan berjalan menuju kantin, Vania hanya diam sambil meresapi ucapan Revan tadi. Apa maksudnya?

Vania lalu melirik genggaman tanganya dan juga Revan. Revan begitu menggenggamnya hangat dan erat seakan tidak membiarkan Vania pergi satu langkah pun.

Vania lalu memalingkan mukanya, apa ini prasaanya saja? Atau memang benar?

Sementara Revan tersenyum dan melihat Vania sekilas. “Alen, mungkin Saka benar soal Aku yang harus membuka hati. Terimakasih Alen, karena kamu pernah menjadi alasanku tersenyum,” ucap Revan dalam hati.

Dia lalu mempererat genggamanya, Revan tidak akan pernah membiarkan genggamannya pergi lagi untuk kedua kalinya.

Tidak akan pernah!

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here