Untuk Revan #13

0
87
views

Masa Lalu


Saat sedang lampu merah, Rendi melihat Revan dan Vania yang sedang berboncengan sambil bercanda ria dengan tatapan tajam.

Tanganya mengepal kuat, kenapa Vania kelihatanya bahagia sekali? Sial! Gadis itu memang sulit untuk dibuat menyesal.

Siska yang sedang memoles lipstik ke bibirnya menoleh, ketika melihat Rendi terdiam sambil menatap keluar jendela mobil dengan tajam. Lalu Siska mengikuti arah pandang Rendi, dia tersenyum saat melihat Revan dan Vania.

“Lo cemburu, liat mereka bahagia?” tanya Siska dengan senyum miringnya.

Rendi menatap Siska dengan raut tidak suka.”Nggak! Ngapain gue cemburu, nggak guna!”

Siska tertawa ringan, kemudian menepuk pelan pundak Rendi. “Ayolah, Ren. Gue juga tahu, lo ngajak gue balikan karena apa.”

Rendi mengerutkan dahinya. “Nggak usah sok tahu!”

Siska geleng-geleng kepala sambil tertawa melihat Rendi yang gengsinya terlalu besar. Beginilah jika cowok gengsinya terlalu besar, menyusahkan diri sendiri, apalagi hati.

“Lo nggak usah ngelak, gue nggak sebego yang lo kira. Lo kira, gue mau balikan sama lo dengan gampangnya setelah apa yang lo lakulan sama gue?” Rendi menatap Siska tajam. Apa maksud dari pembicaraan gadis ini.

“Nggak semudah itu, gue cuma mau bantuin lo, sekaligus balas dendam.” Rendi mengerutkan dahinya tidak mengerti. Balas dendam?

“Lo mau balas dendam?” beosnya membuat Siska mengangguk.

“Lo juga mau balas dendam, kan?” tanya Siska membuat Rendi diam.

“Gue tahu lo ngajak balikan sama gue karena apa. Lagipula, jika kita kerja sama, itu akan sangat menguntungkan bagi gue dan lo.”

Rendi terdiam, masih mencerna ucapan Siska. Siska benar, dia tidak sebodoh yang Rendi kira, mungkin bekerja sama denganya akan menguntungkan juga baginya. Lagi pula, tidak ada salahnya mencoba bukan?

“Jadi gimana? Apa lo mau, kerja sama gue?” tanya Siska sambil mengulurkan tanganya.

Rendi tersenyum, lalu menjabat tangan Siska. “Oke! Kita sepakat.”

Rendi dan Siska tersenyum devil, mereka akan sama-sama menghancurkan orang yang telah menyakiti mereka berdua.

Lalu Siska membisikan sesuatu kepada Rendi, membuat Rendi tersenyum senang saat mendengarnya.

***

Setelah mengantar Vania pulang, Revan melajukan motornya menuju rumah, dia tidak ingin pergi kemana-mana, hari ini terlalu lelah untuknya.

Saat sedang asik mengendarai motor ninja kesayangannya, Revan dihadang oleh motor, membuat Revan langsung ngerem mendadak. Untung Revan jago dalam mengendalikan motor, jika tidak, mungkin di sudah terjatuh tersungkur diaspal.

Revan kemudian turun dan membuka helmnya, dihampirinya lelaki yang sudah membuatnya hampir celaka. “Turun lo!”

Lelaki tersebut langsung turun dari motornya. Namun setelah membuka helmnya, Revan kaget dengan seorang yang ada di depannya. Amarah Revan langsung memuncak ketika melihat orang yang sangat dia benci.

BUGH!

Tanpa aba-aba, Revan langsung memukul rahang lelaki tersebut membuatnya langsung tersungkur. “MAU APA LO?!” bentak Revan tajam.

Lelaki tersebut tersenyum setelah mengelap sudut bibirnya yang robek dengan tangan. “Sabar bro, gue cuma mau ketemu teman lama.”

Revan mencengkram jaket si lelaki tersebut.”BRENGSEK! NGGAK USAH BANYAK B-”

Seketika Revan terdiam saat ingin melayangkan pukulannya kembali, orang tersebut menunjukan selembar foto yang terdapat foto dirinya dengan seorang yang sangat familiar bagi Revan.

Vania.

Itu Foto Vania dan Revan tengah tertawa bersama, dengan Revan yang mengelus puncak kepala Vania.

Sial! Kenapa dia tahu Vania? Orang ini memang cari mati.

Revan kemudian menghempas jaket lelaki tersebut dengan kasar.”Mau apa lo?! Jangan pernah ganggu hidup gue lagi!”

David Mahendra. Musuh Revan di dunia balap motor. Dulu, Revan pernah masuk dunia balap motor liar, namun dia keluar saat tahu perbuatan David yang membuat Revan selalu ingin menghajar sibrengsek ini sampai mati.

Begitu pun Saka dan Irfan.

David kemudian menepuk pelan pundak Revan sebanyak dua kali, dia tertawa ringan. “Bagaimana? Kaget?”

Revan menepis kasar tangan David. “Jangan gangu dia! Dia nggak punya masalah sama lo!”

“Nggak punya? Jelas punyalah.” Revan kembali mengepalkan tanganya kuat, dia berusaha menahan emosinya.

“Karena dia berhubungan sama lo. Dan apapun yang berhubungan sama lo, itu masalah buat gue,” ucap David sambil tertawa.

“Berani lo sentuh dia satu rambut pun! Gue nggak akan segan hajar muka lo sampai hancur!”

“Wuih… Revan yang dulu mulai balik lagi ternyata.”

Revan tak ingin hilang kendali, dia kemudian pergi menuju motornya, saat hendak memakai helm, David berseru membuat Revan diam. “Kayaknya kalau dia jadi mainan gue seru juga.”

“Namanya siapa sih? Gue lupa,” ucap David sambil mencoba memikirkannya, lalu dia menjentikan jarinya,”Vania, iya namanya Vania. Cantik ya, kayak orangnya,” ucapnya sambil mengangguk kecil.

Revan kemudian melempar helmnya kasar, lalu berjalan dengan bringas ke arah David, sementara David tersenyum melihat Revan yang terpancing akan ucapannya.

“SIALAN LO!”

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Revan terus melayangkan pukulannya, membuat David babak belur. Namun, David tak melawan, dia hanya membiarkan Revan memukul dirinya habis-habisan.

“Mana Revan yang dulu? Gue rasa, sosok iblis lo itu belum muncul sepenuhnya,” ucap David dengan senyum miringnya, walau muka sudah sangat babak belur.

“BRISIK BANG*AT!”

Setelah puas, Revan berhenti memukul David. “Jangan pernah berani ganggu dia!”

Lalu Revan pergi setelah menendang motor David sampai jatuh. Revan melajukan motornya dengan kencang.

Pikirannya berkecamuk, dia kacau, dia takut. Kenapa mahluk iblis itu muncul kembali setelah sekian lama menghilang dari hidupnya.

Sepanjang perjalanan, Revan tak henti memikirkan Vania, gadis itu tidak tahu apa-apa, kenapa dia harus terancam dalam masalahnya. Sial! Andai saja dulu dia sadar lebih cepat. Mungkin sekarang tidak akan serumit ini.

Revan takut, sungguh takut jika kejadian dulu terulang kembali. Saat dimana dunianya seakan hancur dan leyap.

Revan tidak ingin kejadian dulu terulang. Cukup sekali saja, itu sudah cukup membuat diri Revan hancur.

***

“Woi broo?” sapa seorang perempuan sambil mengangkat satu tangannya. Dia Sheila Putri Anggara–Kakak Revan.

Bisa dikatakan, Sheila itu sedikit tomboy. Jadi beginilah, menyapa seorang adik saja seperti sedang menyapa seorang teman lelakinya.

Revan tak menghiraukan sapaan Kakaknya, dia hanya berjalan terus ke arah kamarnya dengan tangan terkepal dan sorot mata tajam. Emosi Revan masih belum reda.

Sheila mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sang adik yang biasanya selalu menjawab sapaannya. Akhirnya, Sheila memutuskan untuk pergi menghampiri Revan.

Sheila tahu betul sifat Revan seperti apa, diapun segera pergi menuju kamar Revan.

***

Revan kacau, dia takut, dia takut orang-orang terdekatnya menjadi korban lagi dari sumber permasalahannya.

Itu tidak boleh terjadi lagi.

“DAVID ANJ*NG!”

BUGH!

PRANG!

Revan meninju kaca lemarinya dengan sekali pukulan, membuat kacanya hancur dengan tangan Revan yang banyak mengeluarkan darah, juga ada beberapa kaca yang menempel dikulit tangannya. Namun Revan tidak peduli.

Revan kembali mengingat kejadian dulu, saat dimana dia kehilangan orang yang paling dia sayang, dan itu semua karena orang yang bernama David. Apalagi yang membuat Revan merasa bersalah sampai sekarang adalah dia sendiri yang menjadi sumber masalah ini.

Revan mengacak rambutnya frustasi.

Tok… tok … tok ….

“Re? Lo baik-baik aja, kan?” ucap Sheila dari balik pintu, tak kunjung ada jawaban Sheila pun masuk.

Betapa kagetnya dia saat melihat kamar Revan berantakan. Pecahan kaca berserakan, darah yang menetes dimana-mana.

Lalu Sheila menatap Revan dengan sorot khawatir. “Lo apa-apaan!”

Revan menatap Sheila tajam. “Nggak usah ikut campur! Lo nggak tahu apa-apa!” ucap Revan dingin.

Sheila tak menghiraukan ucapan Revan, dia lantas berlari keluar.

Revan lantas duduk ditepi kasurnya dengan tatapan kosong. David itu tipe orang yang nekat, dia tidak akan main-main dengan ucapannya.

Revan mengepalkan tanganya kuat, mukanya merah menahan amarah.

Tak lama Sheila datang dengan membawa kotak P3K.

Lalu Sheila mengambil paksa tangan Revan. “Lo bego? Kenapa lo siksa diri lo sendiri?!” bentak Sheila lirih sambil membersihkan luka Revan, dia paling tidak suka melihat orang-orang yang dia sayangi terluka.

Revan melirik Kakaknya. “Lo jangan nangis, Kak.”

Sheila meninju perut Revan membuat sang empunya sedikit meringis. “Adek sialan! Gimana gue nggak nangis kalau liat lo kayak orang gila gini!”

Revan tersenyum, ternyata Kakak nya tidak berubah. “Maaf.”

Sheila tak mampu berkata-kata lagi, dia langsung memeluk Revan. “Kalau ada masalah cerita, apa gunanya gue sebagai Kakak kalau lo nggak mau berbagi sama gue.”

Revan tertegun dengan ucapan Sheila, lalu membalas pelukan Sheila. “Iya.”

Kakaknya ini memang mampu menenangkannya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here