Untuk Revan #10

0
175
views

Tentang Revan


“Assalamu’alaikum Bunda… anakmu yang ganteng sejagat udah pulang,” teriak Revan menggelegar di rumahnya yang besar. Oke! Kita kategorikan Revan sebagai cowok narsis!

“Wa’alaikumsalam,” jawab Jasmine–Bundanya Revan, dia menghembuskan nafasnya, melihat anak keduanya itu selalu teriak- teriak seakan rumahnya ini adalah hutan.

“Kamu kebiasaan, deh, Re. Bunda kan udah bilang. Jangan teriak- teriak kalau datang, ini rumah bukan hutan,” tegur Jasmine yang sedang berada di dapur.

Revan hanya memperlihatkan deretan giginya yang rapih. Kemudian dia merasa mencium aroma yang tidak asing baginya. “Bun, Bunda lagi masak apa si? kok wanginya kayak Revan kenal.”

Jasmine tersenyum lalu berbalik untuk mengambil sesuatu.”Nih, Bunda buat bolu coklat kesukaan kamu.”

Mata Revan berbinar, makanan ini adalah makanan favoritnya sejak kecil. Walau kesannya seperti cewek yang suka bolu coklat, tapi Revan tidak peduli. Yang penting dia suka dan itu enak.

Revan langsung mengambil sepotong dan langsung melahapnya.
“Kamu ini! Kalau liat bolu coklat langsung comot aja! Itu tangan udah dicuci belum?!” geram Jasmine tak habis fikir.

Revan tersenyum.”Belum, Bun, tapi entar cuci tangan kok.”

Jasmine mengambil piring yang ada di meja makan yang berisikan bolu tersebut. Lalu dia menatap Revan garang.”CUCI TANGAN ATAU BUNDA ABISIN SEMUA BOLUNYA!”

Revan kaget, tumben Bundanya teriak-teriak seperti dirinya.

“Satu lagi ya, Bun. Revan na-”

“Nggak! Kamu nggak boleh sentuh sedikitpun bolu ini! Sana mandi! Abis mandi baru boleh makan.” Revan hanya menghembuskan nafasnya pasrah, dia tidak ingin Bundanya menjadi macan dadakan seperti tempo hari saat Revan pulang dengan muka babak belur.

“Iya deh iya.” Revan kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

Namun saat diambang tangga, Revan berhenti, lalu menatap Bundanya yang masih melihatnya dengan sorot mata tajam. “Oh iya Bun, kalau bisa jangan teriak-teriak, ini rumah bukan hutan.”

Setelah mengucapkan itu Revan langsung pergi sambil tertawa. Tersadar, Jasmine langsung berteriak.”REVAN! AWAS KAMU YA!”

Untung Revan anaknya, kalau tidak. Mungkin Jasmine sudah menyeretnya keluar rumah. Beginilah Revan, yang selalu membuat seisi rumah kesal dan pusing.

Tapi percayalah, jika Revan tidak ada di rumah, rumah akan menjadi sangat sepi.

***

Setelah mandi karena suruhan Bundanya, Revan tidak langsung kebawah untuk menyantap bolunya lagi. Namun dia malah bermain ponsel mahalnya di tepi kasur.

Ada lima puluh delapan notifikasi chat dan tiga puluh tujuh panggilan tak terjawab dari empat cewek yang berbeda-beda. Percayalah, itu semua pacar Revan.

Memang fakboi.

Revan menghembuskan nafasnya kasar, terlalu malas untuknya membalas pesan dari cewek- ceweknya. Tapi tenang, dia akan membalasnya.

Dengan malas, Revan membalas keempat pacarnya itu dengan satu kata ‘putus’ singkat, padat, jelas namun begitu menusuk bagi siapa pun yang menerima satu kata tersebut.

Revan kemudian membaringkan tubuhnya dikasur. Dia tidak memperdulikan notifikasi baru yang terus memenuhi ponselnya. Dia sudah bosan dengan keempat perempuannya itu. Percaya atu tidak, jika Revan memiliki pacar kurang dari sepuluh, itu artinya Revan masih memiliki batas.

Karena biasanya dia mempunyai pacar lebih dari sepuluh. Salahkan saja para cewek yang dengan relanya Revan duakan atau bahkan lebih. Dan jangan kira Revan yang menembak semua cewek itu duluan, bukan, bukan Revan. Namun para ceweklah yang menembak Revan duluan.

Karena Revan baik dan tidak ingin menyakiti hati para cewek-cewek tersebut, akhirnya Revan menerimanya dengan senang hati. Sangat baik bukan? namun itu menurutnya, bukan menurut orang lain.

Semua orang selalu memanggilnya Raja playboy atau si fakboi kelas kakap. Tapi Revan tidak peduli, ini hidupnya, dan jika orang berkomentar. Anggap saja monyet sedang lewat.

Sejujurnya, Revan hanya mempunyai satu mantan yang dia tembak secara langsung juga dia cintai secara tulus. Namun, takdir terlau kejam dengan dirinya, sehingga mereka dipisahkan secara sadis.

Revan cukup lelah dengan cewek- cewek yang selalu saja menganggu hidupnya, ketika Revan ingin berhenti menjadi playboy, malah ada cewek yang mendekatinya lagi, alhasil Revan selalu tergoda dengan bisikan setan.

Walau Revan tidak mencintai mereka, tapi Revan selalu memperlakukan mereka dengan manis, hal tersebut yang membuat mereka mau menjadi pacar Revan yang kesekian.

Revan memejamkan matanya, dia sudah bosan terus bergonta-ganti pasangan. Dia hanya ingin mencintai satu wanita saja, cukup satu.

Vania.

Satu nama yang akhir-akhir ini selalu melintas dipikirannya.

Tiga hari untuk membuat Vania tersenyum, mungkin itu cukup untuk membuat gadis itu tersenyum tanpa beban.

***

“Yaampun mie ayam gue!” kesal Amanda karena mie ayam yang baru dia pesan tinggal sedikit akibat Rini yang memintanya tanpa izin.

Rini terkekeh.”Ya elah, gue cuma comot dikit. Masih ada tuh, nggak gue abisin juga.”

“Tapi lo udah ambil makanan gue tanpa izin!”

Vania hanya memutar bola matanya malas melihat Amanda dan Rini tidak pernah akur jika soal makanan.

Vania melihat ke samping, dia kembali menghembuskan nafasnya. Melihat Meli yang sedang live di isntagram-nya.

“Hai guys! Gue sekarang lagi istirahat nih, liat tuh temen-temen gue,” ucapnya sambil memperlihatkan ketiga temannya kepada teman onlinenya itu. Alayers nggak tuh?

“Yang dua nggak usah dianggap ya guys! Mereka bukan temen gue. Temen gue cuma yang disebelah gue aja.” Dengan tega Meli mengatakan hal tersebut.

Vania hanya cemberut walau Meli memaksanya menyapa para teman onlinenya itu.

Seketika Rini dan Amanda yang sedang perang sendok itu langsung melirik Meli.”Gue juga nggak kenal sama lo!” ucap keduanya kompak.

“Yaelah becanda kali gue.”

“Terserah!” ucap Amanda da Rini kompak.

“Memang jodoh selalu sehati,” sahut Vania membuat Kedua sahabatnya mendelik tajam. Vania hanya nyengir tak berdosa.

“Udah deh Mel, nggak usah nge-live mulu. Makan tuh bakso lo, udah dingin tahu,” peringat Vania.

Dengan berat hati Meli menghentikan aktivitasnya tersebut.”Iya gue makan sekarang.”

“Lo nggak makan?” tanya Meli membuat Vania menggeleng.

Rini dan Amanda telah selesai perang sendok yang dimenangkan oleh Amanda. “Kenapa lo nggak makan?” tanya Amanda.

“Males.”

“Nanti kalau mag lo kambuh gimana, Van? Entar lo masuk UKS, entar kalau mag-nya parah gimana? Emang lo mau masuk rumah sakit? bla… bla… bla….”

Kehebohan Meli mulai kambuh. Rini yang kesal langsung memasukan sepotong bakso miliknya kedalam mulut Meli agar diam.

“Sialan lo, Rin!”

“Lo tuh kalau ngomong suka berlebihan deh.”

“Omaygat Rini! Perkataan gue bener dong,” ujar Meli merasa tidak terima.

Vania menghembuskan nafasnya lelah, tidak bisakah mereka akur? Vania pusing dengan perdebatan ketiga temannya yang tak pernah ada ujungnya.

Vania tersentak kaget saat tangan besar milik seorang memegang tangannya. Vania mendongakan kepalanya, Ternyata Revan.

“Apa?”

“Ikut gue.”

“Mau kemana?”

Revan berdecak.”Udah ikut aja.”

Malas berdebat, akhirnya Vania menurut.”Gue duluan ya,” pamit Vania. Dan diangguki oleh ketiga sahabatnya.

“Re, jagain sahabat gue. Kalau Vania lecet lo yang gue hajar,” ujar Amanda dan diacungi jempol oleh Revan.

Tangan Revan masih setia memegang tangan Vania. Banyak pasang mata yang melihat mereka saat di koridor, bahkan ada yang terang-terangan membicarakan mereka.

“Kita mau kemana si?”

“Bolos.” Mata Vania membulat, walau Vania pernah masuk BK beberapa kali karena berkelahi dengan seniornya yang songong. Tapi Vania tidak pernah mau membolos saat jam pelajaran. Jangan heran, sang princess pernah masuk ruang BK, salahkan saja para Senior yang terlalu songong dan mengajak ribut dirinya.

“Eh gue nggak mau bolos ya!”

Revan menatap Vania.”Kan lo udah janji mau turutin semua perkataan gue.”

Vania berhenti lalu menatap Revan yang ikut berhenti.”Tapi nggak bolos juga! Hue nggak mau ya!”

Vania hendak berbalik untuk kembali ke kantin namun tangan Revan yang besar lebih dulu mencekalnya dan mengurung Vania di tembok dengan kedua tanganya.

“Gue nggak nerima penolakan, dan lo harus ikut. Atau–” Revan mengangtungkan kalimatnya dengan senyum jahilnya membuat Vania penasaran.

“Atau apa?” tanya Vania sambil berusaha menahan detak jantungnya yang seakan mau melompat.

“Gue akan cium lo.” Seketika Vania mendorong Revan.

“Gila lo!”

“Ya makanya ikut gue!”

Vania berfikir sejenak, mungkin lebih baik dia ikuti apa maunya Revan. Daripada dia menjadi mangsa Revan. Tidak itu tidak boleh! Kenapa hanya karena ancaman seperti itu Vania mau? Ah tapi sudahlah, Vania tidak ingin mengambil resiko.

“Oke gue ikut,” jawab Vania pasrah membuat Revan tersenyum. Gampang sekali membujuk Vania.

“Yaudah ayo.” Revan kembali memegang tangan Vania namun Vania menahannya.

“Tas gue.”

“Biar Saka yang urus, lo tinggal jadi penurut aja.”

Vania memutar bola matanya malas. Dasar fakboi! Ada-ada saja mengancamnya dengan ciuman. Ah sudahlah, terlalu pusing memikirkan Revan yang terkadang membuatnya bahagia atau bahkan membuatnya kesal.

Revan memang selalu bisa mengubah mood Vania dalam sekejap.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here