Untuk Revan #06

0
78
views

Sampah

Vania sudah sampai di rumahnya yang mewah, dia perlahan membuka pintu dan masuk dengan lesu.

Sepi, hanya satu kata yang tergambarkan di rumah ini. Rumah besar yang hanya ada Vania dan Bi-Inah pembantunya, Sedangkan orang tua Vania? Mereka selalu sibuk dengan perkerjaannya masing-masing sampai lupa pulang ke rumah atau bahkan menanyakan kabar Vania lewat telpon.

“Kamu udah pulang?” tanya seorang membuat Vania menghentikan langkahnya diambang tangga.

Vania perlahan menoleh kearah sumber suara, ternyata Viola-Ibunya Vania. Vania terdiam, dia berfikir, sejak kapan ibunya ingat pulang?.

Vania tak mengindahkan ucapan Ibunya dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa ingin menjawab sedikitpun.

“Vania! Kamu kalau mama tanya ya jawab! Jangan diam aja!” ucap Ibunya Vania sembari berjalan menghampiri Vania.

Vania berhenti, kemudian dia menatap Ibunya. “Buat apa Vania jawab?”

“Itu, nggak penting!”

“Kamu bicara sama Mama harus yang sopan, Vania!” bentak Ibunya membuat Vania tersenyum miris.

Untuk apa dia pulang? Jika hanya untuk memarahinya saja? Itu hanya membuang-buang waktu saja.

“Emang Mama sama Papa pernah ngajarin aku sopan santun? Setau aku, Mama sama Papa cuma peduli sama pekerjaan dan gak pernah ingat aku!”

“Jadi wajar, kalau aku nggak punya sopan santun. Karena aku gak pernah di didik sama Mama dan Papa!” ucap Vania tenang namun begitu menusuk dihati Ibunya.

“Jaga bicara kamu!”

“Papa sama Mama kerja juga buat Kamu, Vania!”

Vania menatap Ibunya lekat.”Aku nggak butuh harta, Ma. Yang aku butuhin cuma Mama dan Papa ada disamping aku! Itu udah cukup!” Vania pun pergi meninggalkan Ibunya begitu saja walaupun Ibunya terus meneriaki namanya.

***

Sesampainya Vania di kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Vania menutup matanya, mencoba menikmati kesunyian di dalam kamarnya yang luas.

Sesaat dia teringat, masalahnya dengan Rendi hari ini cukup membuatnya pusing.

Vania sama sekali masih tidak menyangka, Rendi begitu tega terhadap dirinya. Memanfaatkan Vania setaun lamanya.

Pantas saja, Rendi selalu meminjam uangnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Dengan alasan Ibunya sakit, atau pun alasan lainya. Dan bodohnya, Vania percaya dengan mudahnya. Padahal Vania tahu Rendi itu orang kaya.

Namun dia tidak boleh larut dalam kesedihan, itu tidaklah baik.

Vania membuka matanya, lalu perlahan dia memegang kalung yang tergantung dilehernya yang berliontin ‘Rv’ yang berarti ‘Rendi dan Vania’. Dia melihat kalung tersebut lalu tersenyum miris.

Dia jadi teringat, saat dimana Rendi memberikannya kalung tersebut. Tepat dua bulan yang lalu, dihari jadi mereka yang ke satu taun.

Flasback on

Malam itu, disebuah caffe yang bernuansa romantis terdapat dua pasangan muda yang sedang makan malam. Itu adalah Vania dan Rendi.

Terlihat Vania mengenakan dress selutut berwarna merah maroon dan rambut tergerai indah juga Rendi yang mengenakan jas hitam yang rapih.

Mereka berdua menikmati makan malam tersebut dengan prasaan bahagia yang diiringi alunan musik romantis dari pemain biola, juga lilin dan bunga yang melingkari meja mereka berdua dengan membentuk hati.

“Ini semua kamu yang siapin?” tanya Vania membuat Rendi mengangguk.

“Kamu suka?”

“Suka banget, makasih ya.”

“Sama-sama sayang,” ucap Rendi sambil mengusap puncak kepala Vania lembut.

Mereka berdua pun menyantap makanannya dengan prasaan bahagia tetapi dengan semua kebohongannya.

Saat Vania makan, tiba tiba Rendi menghampirinya, dan membungkuk di belakang Vania dengan posisi kepalanya di sebelah kepala Vania. Jarak mereka sangat dekat.

“Kamu mau ngapain?”

Tiba tiba, Rendi memasangkan kalung dileher Vania yang berliontin ‘Rv’. Vania melihat kalung tersebut dan memegangnya.

“Bagus banget,” ucap Vania dengan sorot bahagia.

Kemudian Rendi membisikan sesuatu di telinga Vania dengan lembut.”Happy Aniversary yang ke satu satun, sayang.”

Vania tersenyum, dia lalu menatap Rendi yang sudah duduk dimejanya.
“Makasih ya, Ren.”

“Sama sama sayang.”

“Rv?”

“Rendi dan Vania.” Vania tersenyum, malam ini Rendi begitu romantis.

Malam itu, menjadi malam terakhir Rendi dan Vania berjalan berdua. Karena setelahnya, Rendi menjadi berubah.

Flasback off

Vania kemudian menghapus air matanya kasar yang turun tanpa diduga. “Lo gak boleh tangisin cowok kayak dia, Van!”

Vania memegang kalung tersebut, lalu menariknya hingga putus. Dia menatap kalung tersebut dengan sorot benci. “Gue gak sudi liat barang pemberian dia lagi!” ucapnya lalu membuang kalung tersebut tepat ke tong sampah dipojok kamarnya.

Lalu dia bangkit, dan mengambil semua barang pemberian Rendi yang dia pajang di lemari hiasnya kecuali baju dan aksesoris. Cukup banyak barang yang diberikan Rendi.

Seperti, boneka, dress dan gaun pesta yang salah satunya couple bersama Rendi. Anting, kalung, gelang, musik box. Ah sudahlah, cukup banyak barang yang diberikan Rendi hingga Vania harus memasukannya kedalam kardus besar karena tong sampah tidak cukup.

Lalu Vania keluar dengan masih mengenakan seragamnya. Bi Inah yang melihat Nona mudanya itu membawa dus besar kebingungan. “Non, Non bawa apa?”

“Eh bi, ini aku mau bakar sampah.”

“Oh, kalau mau bakar, bakar aja di tong sampah yang depan rumah Non.” Vania mengangguk.

“Hati-hati Non.”

Vania terkekeh, Bi Inah memang lebih perhatian di banding kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, Vania lebih akrab dengan pembatunya ketimbang kedua orang tuanya. Dan juga, Bi Inahlah yang merawat Vania sejak kecil, jadi tidak heran jika Vania sudah menganggap Bi Inah seperti Ibunya sendiri.

“Aku cuma ke depan doang kok bi.”

“Eh iya bi, aku pinjam korek ya,” ucap Vania.

“Oh iya ini.” Vania pun mengambil korek yang berada ditangan Bi Inah.

“Oh iya satu lagi. Ada minyak tanah nggak Bi?”

“Ada Non, nanti Bibi ambilin. Non kedepan aja dulu, nanti Bibi anterin kedepan.”

“Ok Bi.”

***

Vania sudah berada di depan rumahnya. Lalu dia membuang semua barang pemberian Rendi ke tong sampah.

Bi Inah datang dengan membawa sebotol minyak tanah.” Ini Non minyak tanahnya.”

“Makasih Ni.” Bi Inah mengangguk, lalu dia mengeryitkan dahinya bingung karena melihat barang- barang Vania yang mau dibakar.

Bi Inah tau, barang itu adalah barang pemberian Rendi pacarnya Vania karena Vania memang selalu bercerita tentang Rendi kepada Bi Inah. Namun kenapa Vania mau membakarnya?

“Non? Kenapa barang dari pacar Non mau dibakar?” tanya Bi Inah saat Vania sedang menuangkan minyak tanah.

“Aku udah putus sama Rendi bi.” Bi Inah membulatkan kedua bola matanya kaget.

“Kok bisa sih non?”

Vania menunduk.”Dia cuma manfaatin aku doang Bi.”

“Astagfirullah,┬átega banget pacar Non.” Vania hanya tersenyum miris, Bi Inah pun mengusap kedua pundak Vania, mencoba menenangkan Vania.

“Yang sabar ya Non. Bibi yakin, Non pasti dapet lelaki yang lebih baik dari Den Rendi.” Vania hanya tersenyum dan mengangguk.

“Bibi kedalam dulu ya Non, mau masak untuk makan malam.”

“Iya Bi”

“Eh tunggu Bi.” Bi Inah berhenti dan menengok kebelakang. “Ada apa Non?”

“Mama masih ada di rumah Bi?”

“Nyonya sudah pergi, tadi pamit sama Bibi, tapi nggak tau kemana.” Sorot mata Vania meredup, bukannya membujuk Anaknya, ini malah pergi lagi.

“Oh, Yaudah Bi, makasih.” Bi Inah mengangguk dan melanjutkan kembali langkahnya.

Kemudian Vania melanjutkan aktivitasnya untuk membakar barang pemberian Rendi.

Vania menyalakan korek apinya, lalu membakar seluruh barang pemberian Rendi.

Apinya besar, seperti besarnya kebencian Vania terhadap Rendi, Seperti sakit hatinya Vania terhadap Rendi. Vania berjanji, dia akan membuktikan kepada Rendi bahwa dia bisa bahagia tanpa dirinya.

“Lo akan nyesel, karena udah berani main-main sama gue,” ucap Vania.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here