Untuk Revan #05

0
292
views

Si badboy yang baik

Vania sampai di lapangan, benar saja. Dia melihat banyak orang di lapangan sedang menonton Revan dan Rendi yang tengah berkelahi.
Vania tidak bisa melihat mereka berdua walau berjinjit. Dia kemudian memaksa masuk kedalam kerumunan untuk bisa sampai ke tepi lapangan.
Vania melihat mereka berdua saat berhasil menerobos kerumunan. Rendi yang dipegangi oleh Pak Maman namun tidak berontak sama sekali dan Revan yang dipegangi oleh Saka dan Irfan sahabatnya yang Vania ketahui, dan beberapa guru juga beberapa murid yang masih saja berontak.
Tanpa pikir panjang, Vania langsung berlari menghampiri mereka semua.
“Nak Revan istigfar, Nak. Istigfar,” ucap Pak Helmi sambil memegangi Revan.
“Udah, Re. Stop,” ucap Irfan.
“Re udah, Re,” sambung Saka.
“Revan! Udah Revan udah!” ujar Bu Mirna.
Mereka semua terus berusaha menenangkan Revan yang masih berontak dengan mencekal tanganya. Beginilah Revan, jika sudah emosi, susah untuk dikendalikan, kecuali ada orang yang benar-benar istimewa dalam hidupnya yang bisa menghentikannya, atau setelah Revan puas, maka dia akan berhenti.
Vania sampai, dia langsung memegang bahu Revan tanpa melirik Rendi sedikitpun.”Revan, udah stop! Jangan kayak gini.”
“Re, udah!”
“Revan!”
Revan tak menghiraukan Vania, menatapnya pun tidak, Vania harus bisa membuat Revan menatapnya. Tanpa peduli ada guru ataupun banyak murid yang melihat, Vania langsung menangkup kedua pipi Revan agar Revan bisa menatapnya.
Berhasil, Revan menatap Vania, dan itu membuat Revan berhenti berontak. Bu Mirna dan Pak Helmi yang sudah kewalahanpun menghembuskan nafasnya lega.
Sementara Rendi hanya bisa berdecih melihat itu.
Saka dan Irfan hanya bisa saling tatap. Kemudian mereka semua melepaskan cekalannya pada Revan.
Vania menatap Revan lekat. “Udah, stop. Jangan kayak gini.” Tanpa terasa air mata Vania jatuh.
Revan yang melihat itupun tidak suka.”Jangan nangis lagi!” ucapnya lirih sambil menghapus air mata Vania.
“Makanya, lo jangan berantem lagi, gue gak suka liat lo kayak gini.”
Revan hanya tersenyum. Dan sedetik kemudian.
BRUK!
“REVAN!” pekik Vania karena Revan jatuh dipelukannya dengan mata tertutup. Vania yang tak mampu menahanyapun ikut jatuh. Beruntung tidak terlalu kencang.
Posisi mereka berdua sekarang sedang berada dibawah, dengan kepala Revan yang berada di paha Vania.
“Re, bangun, Re.” Vania menepuk pelan pipi Revan.
“Revan! Bangun!”
Semua kaget melihat Revan pingsan.”Saka! Irfan! Ayo kita bawa Revan ke UKS!” perintah pak Helmi.
“I-iya pak,” jawab keduanya.
Akhirnya Revanpun dibopong ke Uks.
“Rendi, kamu juga harus ke UKS, luka kamu perlu diobati,” ucap Bu Mirna memberitahu.
“Gak perlu bu. Saya permisi.”

***

Revan telah berada di UKS, dia masih tak sadarkan diri walau sudah diperiksa oleh dokter yang berjaga diUKS, Sekolah ini selalu menyediakan fasilitas terbaik. Jadi tidak heran, jika yang berjaga di UKS saja seorang dokter.
Vania sangat Khawatir, dia masih tetap duduk di kursi sebelah Revan.
“Vania?” Vania menoleh karena panggilan Bu Mirna.
“Kamu jaga Revan, ya. Ibu sama Pak Helmi dan yang lainya gak bisa jaga dia disini.”
“Iya Bu.”
“Makasih, ya. Kalau gitu, Ibu permisi dulu ya,” pamitnya dan diangguki oleh Vania.
Hanya tinggal mereka berdua di UKS, karena tadi Saka dan Irfan pamit kebelakang terlebih dahulu.
Vania menatap Revan yang penuh luka lebam dengan sudut bibir sobek dan pelipis kanan yang sedikit sobek.”Bangun dong, Re. Jangan buat gue khawatir.”
“Lo nggak kasian apa? Liat gue tadi nangis.”
“Re?” Vania berusaha membangunkan Revan dengan merecokinya. Namun Revan tak kunjung bangun.
“Kenapa pake berantem segala sih? Hobi banget kayaknya berantem.”
Vania lupa, Luka Revan belum diobati, karna tadi dokter hanya memeriksa Revan saja. Akhirnya Vania beranjak dari duduknya untuk mengambil kotak P3K di lemari.
Setelah mengambil kotak P3K, Vania membersihkan luka Revan terlebih dahulu dengan tisu yang diberi rivanol, Vania sangat hati-hati mengobati Revan.
Sesaat dia meringis sendiri melihat luka Revan yang banyak. “Banyak banget lukanya. Dasar cowok, sukanya rusakin muka sendiri.”
“Ngobatin ya ngobatin aja, gak usah bawel.”
Seketika Vania berhenti dan langsung menatap Revan dengan sorot bahagia. Akhirnya Revan bangun.
“Akhirnya, lo bangun juga,” ucap Vania lega.
“Lo khawatir sama gue?” tanya Revan membuat Vania gelagapan.
“E-enggak, enggak. Gue gak khawatir sama lo,” jawab Vania berbohong.
Revan berusaha bangun untuk memposisikan dirinya menjadi duduk dengan susah payah. “Eh, lo mau ngapain?” tanya Vania dan berusaha membantu Revan duduk.
“Katanya gak khawatir sama gue, kok tadi nangis?”
“Kan udah gue bilang, jangan pernah nangis lagi.”
Skakmat! Vania mati kutu, dia tidak tau harus berkata apa lagi “Euh, t-tadi gue cuma.”
“Cuma apa?” tanya Revan mengintimidasi dengan senyum jahilnya walau sesekali Revan meringis karna lukanya.
Vania bingung, dia harus jawab apa? “Aduh Vania, lo bego banget sih!” batin Vania bersuara.
“Kan, gak bisa jawab.”
Vania menghembuskan nafasnya kasar. “Oke, gue kalah. iya, gue khawatir sama lo,” ucap Vania pasrah dan itu membuat Revan mengembangkan senyumnya.
Vania kembali mengobati luka Revan dengan hati-hati walau Revan masih tetap saja meringis. “Peduli juga lo sama gue.”
Vania berhenti mengobati Revan, dia menatap Revan.
“Gue peduli, karena lo juga peduli sama gue,” ucap Vania sembari melanjutkan lagi aktivitasnya.
Revan hanya tersenyum kecil tanpa menjawab, walau pun bukan jawaban yang dia harapakan, setidaknya Vania tidak membiarkannya mengobati lukanya sendiri.
Setelah Vania selesai menempelkan hansaplas ke luka yang parah, Vania membereskan kotak P3K, Revan hanya menatap Vania sampai akhirnya dia membuka mulut. “Kenapa tadi lo datang?”
Vania mendongak. “Gue gak mau, lo bertindak lebih, itu bisa bahayain diri lo sendiri.”
“Bukan karena lo takut, gue habisin Rendi?” tanya Revan.
Vania terdiam. Sejujurnya, Vania merasa sedikit khawatir dengan Rendi jika Revan terus menghajarnya, tapi untuk apa mengkhawatirkan dia, sekarang itu sangatlah tidak penting.
Hanya saja, Vania takut jika Revan membahayakan dirinya sendiri karena dirinya.
“Kenapa gak jawab? Bener, kan, apa yang gue bilang?”
Vania menunduk.”Gue memang sedikit khawatir sama dia.”
Benar, kan, Revan sudah menduganya, bahwa Vania Pasti khawatir dengan Rendi.
“Tapi untuk apa gue mikirin dia lagi? Dia juga udah nggak peduli sama gue,” ucap Vania membuat Revan tertegun, ternyata Vania tidak seperti perempuan lain, yang jika sudah di sakiti masih tetap peduli. Walau pun, Vania memang sedikit khawatir terhadap Rendi, tapi setidaknya itu hal yang wajar.
Revan hanya tersenyum.” lo tau, gue hajar dia karena apa?”
Vania mendongak dan mengangguk. “Makasih ya, lo udah lakuin itu untuk gue,” jawab Vania sambil tersenyum membuat hati Revan menghangat.
Revan membalas senyuman Vania, lalu beralih mengelus puncak kepala Vania. “Jangan pernah mikirin dia yang cuma buat lo sakit hati. Gue gak suka, liat lo sakit karena dia.”
Vania tak mampu berkata-kata, dia hanya mampu terdiam dan menatap Revan dengan pandangan dalam. Ternyata, Revan itu sangat baik, bahkan dia rela babak belur seperti ini hanya karena Vania alasanya. Padahal Vania bukan siapa-siapa, tapi kenapa Revan sebaik ini?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here