Untuk Revan #03

0
140
views

Revan untuk Vania

Mereka berdua masih berada di taman, tanpa obrolan. Hingga salah satu membuka topik.

“Lo kenapa nangis? Pake bilang bodoh segala lagi,” tanya sang lelaki.

Dia Revan, Revano Anggara Putra. the most wanted boy yang mempunyai cap palyboy kelas atas juga cap badboy yang melekat. Karena ceweknya ada dimana mana, bahkan disetiap kelas dan angkatan hampir ada.

Mempunyai tubuh tinggi tegap, rahang yang tegas, berkulit putih, berbibir tipis serta alis yang tebal dan tak lupa dengan hidungnya yang mancung, membuatnya cukup untuk menjadi idola para gadis.

Walaupun dia playboy, tapi para gadis tidak pernah peduli dengan itu dan malah berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya.

Selain karena statusnya sebagai most wanted, para gadis ingin memperebutkannya karena dia anak orang kaya. Ya, harta memang menjadi prioritas utama.

Dan diSMA cakrawala adalah kumpulan dari anak anak orang kaya juga orang yang dihormati. Jadi jika ingin masuk kesana, harus mempunyai status yang tinggi karena biayanya yang sangat mahal.

Vania sudah mengenal Revan sejak kelas X. Karena dulu, dia juga pernah menjadi incaran lelaki disebelahnya ini. Namun Vania menolak, karena tidak ingin menjadi korban Revan selanjutnya.

Vania menunduk.”Gue kayaknya emang bener-bener bodoh deh, Re.” ucap Vania sendu.

Revan menaikan sebelah alisnya, tidak mengerti dengan ucapan Vania.”Lo kenapa sih? Jangan rendahin diri lo kayak gitu.”

“Tapi itu kenyataanya, Re,” ucap Vania sambil menangis dan menatap Revan.

Revan seketika kaget melihat Vania yang menangis.”Udah gue bilang kan, lo itu jelek kalau lagi nangis,” ucap Revan tapi kali ini dia tidak menghapus air mata Vania.

Revan menghembuskan nafasnya kasar, dia sekarang mengerti kenapa Vania seperti ini “Lo diapain sama sibelagu itu?” tanya Revan dingin sambil mengepalkan tanganya dan menatap tajam kearah depan.

Vania menoleh dengan masih terisak, dia tau siapa yang dimaksud Revan. Karena Vania juga tau, Revan adalah musuhnya Rendi sejak dulu yang selalu dipanggil ‘si belagu’ oleh Revan.

Revan tidak suka dengan sifat sok kaya dan sok gantengnya. Walaupun itu memang benar, tapi menurut Revan. Hanya dialah yang paling ganteng diSMA Cakrawala, dan itu mutlak menurut Revan. Ok Revan terlalu narsis!

“Cepet jawab pertanyaan gue,” tanya Revan semakin dingin.

“G-gue, gue,” ucap Vania gugup, dia takut mengatakannya pada Revan.

Revan menoleh, menatap Vania yang sedang menunduk.”Lo gak usah takut, ada gue disini.”

Bukannya menjawab, Vania malah terisak.”Gue dimanfaatin sama Rendi, Re.”

“D-dia sama sekali gak pernah balas perasaan gue, Re,” ucap Vania sambil menangis, sekekita mata Revan membulat lebar.

Benar-benar lelaki brengsek, jadi selama setaun ini, Rendi hanya memanfaatkan Vania? Gadis cantik yang tidak tau apa-apa. Revan sangat tau, dia sering melihat Vania bersama Rendi. Revan dapat mengartikan dari sorot mata Vania saat bersama Rendi, dia sangat bahagia, dan dia sangat tulus mencintai Rendi.

Benar-benar brengsek, sebejad bejadnya Revan dia tidak pernah memanfaatkan seorang perempuan. Walaupun dia playboy, tapi dia tidak pernah memanfaatkan deretan para mantanya.

“Gue bener…. bener bodoh, Re,” ucap Vania semakin terisak.

Revan tidak tega melihat itu, dia kemudian perlahan mendekat kearah Vania, lalu merangkul Vania dalam pelukannya mencoba untuk menenangkan Vania. Kali ini dia tidak modus, dia murni ingin menenangkan gadis ini.

Vania tidak menolak, dia malah semakin menangis dipelukan Revan. Untuk sesaat, dia hanya butuh seseorang.”Kenapa gue harus sayang sama orang kaya dia, Re? Kenapa?”

“Salah gue apa, Re? Apa?” ucap Vania parau sambil menangis dipelukan Revan.

Revan mengelus puncak kepala Vania lembut.”Lo gak bodoh, dan lo juga gak salah,” kata Revan begitu lembut.

“Salah gue apa?”

“Ssttt… udah jangan salahin diri lo, lo itu gak salah, dianya aja yang bego.”

“Lo boleh nangis sepuasnya. Asalkan setelah ini, lo gak boleh nangis lagi,” ucap Revan masih dengan nada yang lembut.

Vania hanya mengangguk, dia tak mampu berkata kata lagi, dia hanya ingin menangis, menangis sejadi jadinya. Meluapkan segala kekesalan dan rasa sakit hatinya.

Sementara Revan, tanganya terkepal kuat, dia marah. Dia tidak suka ada orang yang mempermainkan seorang gadis. Dia berjanji, akan membalas Rendi secepat mungkin.

Ya walaupun, dia sendiri sering bergonta ganti perempuan. Tapi Revan tidak pernah membuat mereka menangis.

Dia tidak akan membiarkan Rendi begitu saja.

“Gue janji. gue bakal buat lo senyum lagi, apapun caranya,” Ucap Revan berjanji kepada Vania, tepat ditelinga vania.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here