Two Sides

0
632
views

“Permisi, pernah liat perempuan ini?” segerombolan itu menatap fokus gambar di poster beberapa detik kemudian mereka kompak menggeleng sebagai jawaban.

Laki-laki yang bertanya tadi hanya mengangguk singkat lalu berjalan menjauh dari sana mencoba bertanya ke gerombolan lainnya, mungkin perempuan yang dicarinya sedang menyamar disekitaran sini.

Sedang tidak jauh dari tempat laki-laki berjas rapi itu berdiri terdapat seseorang yang sedang menatapnya was-was. Matanya terus fokus kearah sana takutnya nanti malah ketahuan dan dia dibawa pulang,

Kan engga seru, batinnya.

“Apakah mau sembunyi lagi tuan Putri yang sangat nakal?”suara lembut tapi bernada tajam itu membuatnya merinding seketika, ia berdiri dan berbalik menatap seseorang yang tak jauh darinya itu.

“Ehh kak Ghazi, ngapain disini kak? Bukannya lagi pergi sama ayah?” ujarnya sedang yang ditanya hanya menaikkan sebelah alisnya sambari melipat tangannya di dada dengan tatapan tajam kearah perempuan nakal itu.

“Beri aku alasan untuk persembunyianmu kali ini?” tanyanya mencoba mengalihkan keadaan sebelum perempuan berambut sepinggang itu lepas kendali.

“Huuuft, mereka bully aku kak. Aku engga suka! Engga mau kesana lagi.” curhatnya,

“Mereka ngapain kamu emangnya?”

“Mereka bilang katanya aku kalem yaudah aku pukul mereka bahkan sepertinya salah satu diantara mereka ada yang patah tangannya.”

Ghazi melototkan matanya bukan perempuan itu yang dibully tapi dia yang membully. Ada-ada saja kelakuan nakal perempuan ini.

“Keana… Pulang!” ucapnya tajam.

“Engga mau nanti ayah hukum aku lagi karena habis pukul orang tadi,” Keana, nama perempuan itu ia tetap kukuh dan tak ingin beranjak pulang.

“Jalan sendiri atau di seret dengan para suruhan ayahmu!”

Keana menghentakkan kakinya kesal dan berjalan kearah laki-laki suruhan ayahnya di pinggir jalan sana, awalnya suruhan ayahnya itu kaget melihatnya tetapi segera ia normalkan ekspresi itu menjadi datar dan membukakan pintu mobil untuk tuan Putri nakal ini.

“Ehh jangan jalan dulu ihh, kak Ghazi mana?” Keana menurunkan kaca mobilnya dan menatap sekitar mencoba mencari laki-laki bermuka datar diantara beberapa manusia yang sedang lalu lalang.

“Maaf tuan Putri, pak Ghazi kembali kekantor tadi. Ia hanya berpesan kami membawa anda kerumah dengan selamat.” ucap salah satu suruhan ayahnya didepan sana.

“Iihh kak Ghazi kebiasaan banget sih. Terus siapa yang tanya dia kalau aku kabur dari kelas musik?” hardiknya kesal

“Maafkan kami tuan Putri, tadi kami yang meneleponnya karena kami mengira anda kabur kesana!” mereka berdua langsung menunduk dengan rasa bersalah tetapi tetap dalam mode muka datar.

“Isshh. Kalian nyebelin banget sih bikin mood aku runtuh tau engga! Kalian balik dan liat sini!” kedua bodyguard itu berbalik dan mendekatkan kepalanya kearah keana.

“Kalian itu yaa! Jangan bikin mood aku rusak. Nyebelin banget.” keduanya hanya bisa meringis pelan karena Keana menarik rambut keduanya sebagai pelampiasan kemarahannya. Dan mereka sudah terbiasa akan itu.

“It is okey, kalian aku maafin. Hadap kedepan terus lanjut pulang.” keduanya mengangguk patuh dan menghadap kedepan kembali melanjutkan perjalanan tertunda tadi.

Sedang Keana bersiul senang sambari berselfie ria di ponselnya dengan banyak gaya lalu mengirimnya ke nomor pribadi seseorang. Dan foto itu bukan hanya satu tetapi puluhan foto dengan banyak gaya dan Keana yakin sebentar lagi ponselnya akan berbunyi.

“Naahhh. Akhirnya!” serunya senang sedangkan kedua bodyguard itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sudah sangat hafal dengan kelakuan seorang Keana Aliandra Mahesa.

“Hai Kak Ghazi!” sapanya riang pada pria seberang telepon sana.

“Berhenti mengirim gambarmu Keana!” Keana hanya tertawa senang mendengar ucapan sekaligus ancaman itu.

“Byebye kak” setelah mengklik tombol merah dibenda pipih itu Keana tertawa terbahak-bahak pasti wajah Ghazi sangat kesal saat ini.

****

“Hai para mahluk rumahku, mensionku Keana datang dengan keceriaan dan kebahagiaan yang akan menyenangkan kalian dengan mood seindah ini.” para penghuni rumah mendengar teriakan gemaan itu segera berjalan keluar dan berbaris rapi ditempat seperti biasanya.

“Naah gitu dong patuh sama tuan Putri yang terhormat. Beri salam!”

“Selamat datang kembali tuan Putri Keana yang cantik dan baik hati.” suara itu serempak dilakukan oleh para pekerja di mension itu tanpa terkecuali dan ini dilakukan setiap Keana kembali kesini,Aneh bin unik memang tetapi mereka tetap patuh dan ikut berpartisipasi didalamnya.

Sedang sang pemberi titah sedang tertawa cengengesan ditempat merasa sangat senang, melihat hal itu para pekerja serempak menatap bodyguard pribadi nyonyanya seakan mengerti tatapan itu keduanya mengangguk patuh.

“Kalau begitu kami undur diri Tuan Putri Keana” sebagai balasan Keana hanya mengibaskan tangannya dan menyuruh mereka bubar dan segera dilaksanakan.

“Bi Nala, tolong beri aku jus alpukat ya jangan terlalu manis soalnya moodku sudah manis sekali,” walaupun sikapnya kadang menyebalkan tetapi Keana takkan pernah bersikap kurang ajar pada orang yang lebih tua darinya. Kata ayahnya ia harus sopan meskipun pada pekerja sekalipun.

“Baik non, kalau begitu bibi permisi” Keana hanya mengangguk saja

“Kak Ghazi pasti kesal sekali sekarang. Pasti gambar itu belum terkirim semua dan ponselnya pasti bunyi-bunyi terus, rasain kak!” Keana membaringkan tubuhnya di sofa sambari mengotak-atik ponselnya memeriksa apakah memang perkataannya benar atau salah.

“Dimana Keana?” sayup-sayup Keana mendengar suara emosi sang Ayah dan sebagai anak yang baik Keana memejamkan matanya setelah sebelumnya menyimpan ponselnya di meja. Pura-pura tidur untuk menghindari amukan sang Raja utama.

“Keana bangun dan duduk dengan baik.” mendengar suara sang Raja sepertinya sangat marah maka Keana memutuskan membuka pejaman matanya dan duduk sopan di sofa.

“Berdiri dan jelaskan secara detail kejadian pas kamu di kelas pendidikan tadi.” Spontan Keana bediri dan ayahnya duduk di single sofa tak jauh dari posisinya.

“Gini yah, kan Keana baru turun dari mobil terus jalan santai masuk kedalam kelas tapi bukannya disapa mereka malah bilangin Keana bodoh dan selalu sembunyi dibawah pengawasan ayah, dan lagi mereka bilang katanya Keana itu bar-bar gini karena engga punya ibu. tentu dong Keana engga terima.” Keana mengepalkan tangannya seolah menujukkan secara gamblang emosinya tadi.

“Yaudah Keana Serang mereka, engga keterlaluan kok yah! Keana cuman narik rambut mereka terus nampar mulutnya biar dijaga. Itu aja, dan sekian cerita hari ini dari Tuan Putri Keana. Terimakasih.” Keana tertawa kecil menertawakan ucapannya sendiri lalu duduk kembali disofa dan kembali merebahkan tubuhnya disana.

“Engga keterlaluan? Mereka masuk rumah sakit Keana. Yang satunya tangannya patah yang satunya lagi keningnya berdarah.” Keana tidak memperdulikan ucapan itu dia malah asyik memainkan ponselnya. Mencoba tidak perduli ucapan ayahnya.

“Keana! Kerumah sakit sekarang dan minta maaf.” Keana masih tidak perduli ia malah memejamkan matanya.

“Keana! Bangun dan… ”

“Yang dalam fikiran ayah cuman harga diri dan harga diri. Emang ayah tau apa yang mereka katakan pas selesai aku tampar? Emang ayah udah dengar semua ucapan aku? Emang ayah ada disana pas kejadian berlangsung? Ayah udah nanya sama bodyguard itu apa yang terjadi? Itu hanya alibi mereka?” Keana berdiri dan bahkan ia masih bisa mendengarkan gemaan suaranya sendiri.

“Mereka bilang, tuhan tidak memberiku kasih sayang seorang ibu karena aku memang tidak akan pernah bisa pantas mendapatkannya. Mereka bilang aku hanya sampah dalam keluarga ini. Mereka bilang aku hanya beban untuk semua orang harusnya aku engga ada. Mereka bilang harusnya ibu engga ngelahirin aku didunia.” setelah mengucapkan kalimat itu dengan nada tajam Keana berlalu.

Keana membawa langkahnya keluar rumah dan masuk kedalam mobil dengan emosi yang berkecamuk, perempuan blasteran itu memejamkan matanya mencoba mengatur nada napasnya yang kian memburu.

“Ketempat latihan sekarang.” suara itu tak lagi terdengar jahil ataupun penuh dengan kalimat menyebalkan. Datar dan dingin.

****

“Dooorr… Dooorr… Doorr” suara tembakan itu saling menggema sedang sang penembak terus melakukannya berulang-ulang. Menjadikan tempat latihan itu menjadi berisik karena ia menembak tanpa jeda.

“Dimana Keana?” sayup-sayup suara itu ditangkap dalam Indra pendengarannya, sekilas ia menoleh menemukan laki-laki berkaos oblong hitam dengan jeans sobek-sobek dilutut.

“Keana berhenti sebelum kamu melukai seseorang. Cukup, sudah banyak peluru yang kamu keluarkan.” bukannya mendengarkan ucapan itu Keana yang sadari tadi menembak sasaran didepan sana makin memainkan pistol itu dengan cepat.

“Berhenti mengangguku, jika ada korban maka korban itu adalah dirimu.” ucapnya datar dan mengarahkan pistol itu ke kepala laki-laki disampingnya.

“Aiiss, siapa yang sudah membangunkan iblis.” Keana semakin menekan pistol itu bahkan sudah menarik pelatuk pistolnya.

“Berhenti Keana, dia sahabatmu kalau kau tidak lupa dan lagi. Dia tidak salah atas emosimu saat ini.” sahut seseorang dari arah belakang.

Keana melempar pistolnya dan langsung ditangkap dengan sigap oleh seseorang itu. Dan langsung ia arahkan pistol itu ke sasarannya.

“Dooorr.”

Ia tersenyum senang, selalu tepat sasaran dan tidak berakhir mengecewakan sama sekali.

“Untung kamu datang cepat Leona hampir aja aku mati sia-sia.” perempuan yang dipanggil Leona itu hanya tertawa kecil.

“Sama-sama axel.” Axel hanya menggeleng pelan melihat keganasan kedua sahabat perempuannya ini sebenarnya masih ada satu orang lagi dan mungkin orang itu masih ada di alam mimpi sana.

“Kamu kenapa Keana kok dateng malah buat keributan sih. Kalau kamu butuh pelampiasan emosi kenapa engga ngajak aku aja kita bisa main kareta udah lama aku engga main olahraga itu.” Axel merinding mendengar kata ‘main’ yang diucapkan oleh perempuan feminim tapi aslinya kejam itu.

Leona Agatha chelsea.

Sangat feminim dan intinya pas kalian lihat dia kalian pasti tidak menyangka jika dia sangat menguasai dunia pistol dan karate. Dan percayalah terkadang penampilan bisa menipu.

Suara Leona juga sangat lembut dan akan selalu seperti itu, tetapi saat ia menjadi iblis maka ia akan lebih kejam dari Keana.

“Engga deh na, aku cuman main pistol aja.” Axel lagi dan lagi merinding mendengar kata ‘main’ yang kedua sahabatnya ini katakan.

“Kalian lagi ngapain sih. Ganggu cogan tidur tau engga!” kesal seseorang dari dalam ruangan dengan wajah bantalnya.

“Sisi Iblisnya Keana bangun Xan, aku aja hampir skakmat sama dia.” wajah ngantuk itu langsung tersentak dan lari terbirit-birit masuk kembali kedalam ruangan.

“Aku engga mau jadi pelampiasan.” teriaknya dari dalam sana dan Axel hanya cengo ditempat melihat kekonyolan sahabatnya. Dia masih tidur atau udah bangun engga sih? Fikirnya.

“Aku nyusul Xander dulu.” setelah melihat keduanya mengangguk Axel berlalu bahkan jalannya terlihat tergesa-gesa sekali.

“Aku sampai saat ini masih bingung kenapa bisa sahabatan sama mereka berdua. Gilanya kebangetan.” Leona hanya tertawa mendengar ucapan nelangsa sahabatnya itu.

“Apa kejadian yang sama lagi?” sebagai balasan Keana hanya mengangguk sambari memainkan pistol ditangannya yang memang sudah diserahkan kembali padanya.

“Sabar Leona, ayahmu dengan segala sikap otoritariannya engga harus kamu balas dengan sikap batu seperti ini. Ingat! Seseorang bisa saja melakukan kesalahan.”

“Doorr” suara itu sebagai balasan ucapan Leona. Seakan mengerti Leona hanya tersenyum lembut.

“Tidak bisakah kalian menghentikan permainan itu.” keduanya menoleh dan mendapati Xander sedang menatapnya takut.

Keana mengarahkan pistolnya kearah Xander hingga membuat laki-laki gelagapan di tempat. Keana mencoba fokus dan menekan pelatuknya dan ia tertawa kecil melihat ketakutan itu padahal nyatanya pelurunya sudah habis.

“Kalian berdua gila!” seakan baru sadar bahwa ia dikerjai ia menghentakkan kakinya kesal dan masuk kembali kedalam basecamp mereka.

“Kau sudah merasa tenang?” tanya perempuan berambut sepinggang itu hati-hati sambari menepuk pelan pundak Keana

“Tentu. Terimakasih untuk keberadaan kalian.” Leona tersenyum lembut dan agak sedikit lega akan itu.

“Sama-sama. Aku, axel dan Xander selalu ada untukmu.” Keana maju dan memeluk Leona merasa sangat beruntung memilki sahabat seperti ini.

“Kalian pelukan tanpa mengajakku dan Axel?” keduanya melerai pelukannya dan serempak menatap tajam Xander.

“Ohooo… Santai para gadis aku hanya bercanda. Ohhh tidak. Axel tolong aku!!” Xander berteriak memanggil Axel sembari berlari kencang menghindari kedua gadis berbahaya itu. Dan mereka saling kejar-kejaran di lapangan.

Sedang Axel tertawa terbahak-bahak ditempat melihat Xander disiksa disana oleh kedua iblis yang bersembunyi didalam tubuh Leona dan Keana.

****

“Kau seharusnya membantuku bukan malah tertawa terbahak-bahak dipinggir lapangan tadi, rasanya badanku remuk semua habis dipukuli habis-habisan. Kalian itu sahabat apa musuh sih semangat banget tadi,” gerutu Xander sambari melangkah kearah matras single yang ada disudut ruangan. Membaringkan badannya yang rasanya ingin runtuh seketika.

“Uhhhh badanku.” ucapnya nelangsa dan Axel hanya berdecak pelan melihat reaksi berlebihan Xander.

“Leona, aku tau kenapa orang tua kamu ngasih nama itu,” Leona yang sadari tadi memperbaiki make up-nya didepan cermin kini menoleh kearah Xander yang sedang berbaring dimatras.
“Kenapa emangnya?” suara lembut Leona membuat Keana yang sadari tadi meninju samsak di depannya kini terhenti menatap perempuan itu dengan malas.

“Suara lembut kamu itu kayak bisikan iblis tau engga.” ucap Xander sedang tatapannya beralih menatap Keana yang sedang latihan tinju disana. Bahkan dapat xander lihat Keana memukul sekuat tenaga menganggap samsak itu adalah Ayahnya yang selalu saja membuatnya emosi. Itu perempuan atau laki-laki ya?, pikirnya.

Sebagai balasan Leona hanya tertawa kecil tanpa menoleh kearah Xander, ia lebih memilih mencari warna lipstik yang pas untuk ia pakai hari ini. Baginya kecantikan adalah sebuah prioritas utama.

“Na! Itu tangan lo engga sakit?” tanya Axel bahkan sesekali ia meringis saat melihat Keana memukul samsak itu dengan tenaga penuh, rasanya tangannya ngilu padahal bukan ia yang melakukan hal itu.

“Mending kamu diem kalau engga mau jadi samsak hidup.” Axel langsung bungkam enggan bersuara lagi memilih mengikuti kegiatan Xander yaitu menjemput alam mimpi.

“Ehh itu si Xander tidur padahalkan tadi dia mau ngasih tau kenapa aku dikasi nama Leona,” ucap Leona kaget saat selesai membereskan alat make up-nya ia berbalik malah menemukan laki-laki blasteran itu malah tidur. Lagi?

“Mungkin capek kali habis kita pukul tadi.” balas Keana tenang. Memilih mengusaikan kegiatannya lalu berjalan kearah matras lainnya.
Tempat mereka saat ini adalah sebuah ruangan dimana didalamnya terdapat 4 matras single. Ruangan ini sangat luas bahkan sudah mereka anggap sebagai rumah kedua. Jika ada orang yang lewat maka mereka mengira ini hanya tempat latihan padahal didalamnya sangat berbanding terbalik .

Disudut ruangan terdapat lemari+kaca dengan segala alat make-up disana dan tentu saja itu milik Leona karena menurutnya jika saat mereka kumpul dan tiba-tiba ada telepon mendadak maka ia bisa langsung dandan cantik disini.

Dan juga alat-alat playstation yang dibeli oleh Axel dan Xander agar bisa bermain disana, dan mengenai alat-alat olahraga itu adalah milik Keana yang hampir memenuhi ruangan itu.

“Permisi, ada pak Ghazi diluar.” Leona tersenyum menggoda kearah Keana dengan menarik turunkan alisnya sedang yang digoda bukannya salah tingkah malah membaringkan badannya tidak peduli.

“Kau bisa pergi.” penjaga tempat ini mengangguk lalu berjalan keluar.

“Kurasa Ghazi menyukaimu Keana.” ujar Leona sambari berjalan mengambil sarung tangan tinju yang ada di meja.

“Kadang aku paling tidak suka mendengar suara lembutmu itu Leona, benar kata Xander seakan bisikan iblis.” Lagi-lagi Leona hanya tertawa kecil.

“Bughh…” satu pukulan berhasil Leona layangkan.

“Kau mengingat matthew lagi?”

“Bughh…” pukulan kedua ia layangan tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

“Kamu lebih memilih berbaring disana daripada menemuiku?” suara dingin dan datar itu membuat Leona dan Keana menoleh serentak kearah pintu menemukan sosok yang paling dihindari Keana saat ini.

“Siapa yang mengijinkanmu masuk?” tanya Leona, tempat mereka ini tidak sembarangan orang yang bisa masuk kecuali jika salah satu dari mereka mengijinkannya masuk.

“Kedua laki-laki yang sedang tertidur itu, mereka meneleponku kalau sisi iblis Keana datang.” Keana bangun dari matras lalu beranjak ke tempat Xander dan Axel.

Ia mengambil bola volly lalu di di lemparkannya kearah keduanya. Tepat sasaran.

“Aduuhh.. Badanku.” sontak keduanya bangun dan memegang pinggang masing-masing.

“Siapa yang….”

“Aku.” potong Keana cepat memotong ucapan Axel. Keduanya langsung bungkam apalagi melihat Ghazi atau bisa dibilang pawangnya Keana ada disini.

“Pulang Keana.” Keana hanya berdecak kesal tetapi tetap ia turuti. Mengambil langkah segera berjalan keluar diikuti Ghazi dibelakangnya tetapi sebelum benar-benar melangkah keluar ia sempat menatap kedua sahabat laki-lakinya.

Memeragakan adegan seakan sedang menembak kedua laki-laki itu. Yang membuat keduanya langsung meneguk ludah takut padahalkan niatnya hanya ingin meredakan emosi Keana.

“Terimakasih sudah memberitahu.” walaupun bernada datar tetapi Axel dan Xander tetap mengangguk sembari mengucapkan sama-sama secara bersamaan.

“Iblis tetaplah iblis.” gumam Axel yang dibalas tawa kecil dari Leona.

“Dan iblis itu adalah sahabatmu jika kau tidak lupa.” lanjut Xander.

“Doorrr.”

ketiganya langsung lari keluar ruangan mendengar suara tembakan apalagi Keana dan Ghazi baru-baru saja keluar beberapa detik yang lalu.

“Apa yang….”

“Keana diculik, cepat ambil mobil kalian.” Ghazi segera menjawab padahal pertanyaan Leona belum sampai.

Axel dan Xander segera berlari mengambil mobil mereka sedang Leona masuk kedalam kembali mengambil sesuatu.

“Dimana Leona?” tanya Axel dari dalam mobil.

“Dia masuk kedalam kembali, sebaiknya kau tunggu dia aku akan naik mobil Xander. Karena ban mobilku mereka tembak tadi.” Axel hanya mengangguk.

Beberapa detik setelah mobil silver Xander berlalu Leona datang membawa tas perkakas make upnya.

“Kau masih memikirkan make-up mu saat masa darurat seperti ini.” tanyanya saat Leona selesai menutup pintu mobil.

“Diam. Segera kemudikan mobilmu kearah dimana Keana diculik, kaukan hacker?” hardiknya kesal.

“Bagaimana mungkin aku memegang laptop dan mengemudikan mobil diwaktu yang sama Leona.” kesalnya.

Leona segera membuka pintu mobil dan berjalan kesisi mobil.

“Keluar, biar aku yang mengemudi.” Axel hanya mengangguk dan berpindah posisi kebelakang.

“Lakukan dengan cepat Axel, Keana dalam bahaya.”

“Kau fokus saja mengemudi.”

Keduanya terdiam, Leona fokus mengemudi sedang Axel sibuk dengan laptop di pangkuannya.

****

“Apa kau yakin ini tempatnya?” Axel dan Xander sontak mengangguk cepat karena menurut mereka alat pelacak yang ada di belakang jam tangan Keana mengarah kemari.

“Tetapi tempat ini sepi sekali.” kali ini Leona yang bersuara dengan tangannya masih menjinjing tas berisikan make-upnya. Sedangkan Ghazi yang bertanya pertama kali tadi kini melangkah perlahan memasuki bangunan kosong didepan mereka.

“Yaudah yuk jalan. Mari kita bertamasya didalam sana!” ujar Leona senang bahkan kini melangkah dengan riang kedalam bangunan itu menyusul Ghazi. Axel dan Xander masih mematung ditempat melihat Leona yang begitu senang berada di tempat berbahaya ini bahkan cara jalannya saja sangat kelewat senang.

Keduanya berjalan perlahan menyusul sahabat perempuannya itu dengan mata yang terus-menerus menatap sekitar.

Tetapi keduanya mematung saat sampai didalam dari jauh sosok Keana diikat disebuah tiang sedang sang sandra hanya tertawa kecil ditempat sambil menatap kedatangannya dengan bahagia.

“Mereka benar-benar menguji kesabaran. Bahkan dengan beraninya memberikan bekas tamparan diwajah Keana-ku.” desisan Ghazi membuat Leona segera menatap tajam kearah para penculik yang ada disekitaran Keana. Axel dan Xander menajamkan penglihatannya dan ternyata benar ada memar diwajah Keana bahkan sudut bibirnya berdarah.

“Itu anak dijadikan sandra kok malah senyum-senyum ditempat sih.” gerutu Leona pelan.

“Mungkin kali ini dia mau memperlihatkan bagaimana jika seorang Ghazi marah besar.” jawab Xander enteng dan langsung disetujui anggukan oleh Axel. Sedang Leona hanya memutar bola matanya malas.

“Yuk. Udah lama juga engga main-main!” Leona melangkah kedepan setelah sebelumnya mengambil lipstik dalam tas kecilnya.

“Kalian berdua fokus ke Keana dan jalan kearah sana. Tenang aja saya akan halangi mereka.” Axel dan xander lagi dan lagi mengangguk kemudian berjalan kearah Keana. Ia sempat menoleh kearah Leona dan perempuan itu sudah menumbangkan banyak orang hanya dalam hitungan menit.

“Kalian kok payah banget sih,Disodorin lipstik kok malah tumbang.” ujar Leona saat salah satu penculik malah tumbang di depannya. Tapi setelah difikir kembali bentuknya memang lipstik sih tapi isinya adalah pisau kecil tajam dan ia langsung mengarahkan pisau itu kearah leher sang lawan.

“Payah.” hardiknya lagi saat si penculik berbadan besar malah tumbang didepannya. Kakinya menginjak dada si penculik dengan sepatu hak tingginya.

“Siapa yang menyuruhmu?” tanyanya tajam dan makin menekan injakannya.

“Jawab cepat atau….”

“Keluarga perempuan yang telah dilukai oleh perempuan itu.”jawabnya cepat.

Doorrr.

Leona mendongak dan menemukan Ghazi memegang pistol tak jauh darinya dan baru saja laki-laki yang masih berjas rapi itu membunuh penculik yang sedang di injaknya.

“Kau membunuhnya?”

“Tak ada maaf bagi mereka yang melukai Keana-ku.” Leona hanya berdecak malas. Ia tak membalas perkataan Ghazi ia kini melangkah kearah Keana yang kini sudah berada didekat Axel dan Xander.

“Kamu kok mau aja di hajar mereka si na!” tanya Leona saat sudah berdiri tepat didekatnya. Yang ditanya hanya tertawa kecil ditempat sedang tatapannya menatap Ghazi yang sedang berjalan kearahnya.

“Eh eh na, kamu kenapa?” ujar Axel cepat dan tangannya segera menangkap badan Keana yang ambruk di sampingnya. Sontak ketiganya panik bahkan Ghazi mempercepat langkahnya menuju tempat Keana.

Sedangkan Leona hanya berdiri di tempat seakan tak perduli dengan kepanikan ketiga orangnya didepannya bahkan perempuan berambut panjang itu malah memeriksa tas make-upnya siapa tau ada yang hilang.

“Keana kamu kenapa?” tanya Ghazi setelah membawa Kepala Keana berbaring di pahanya. Menjadikan pahanya sebagai bantal untuk perempuan itu.

“Keana bangun! Mereka melakukan apa sama kamu kenapa sampai kayak gini! Please Keana jangan pergi perasaan saya sama kamu itu udah besar banget. Kamu harus tanggungjawab!” Xander yang berada disisi kiri Keana sontak kaget mendengarkan perkataan itu sedang Axel sudah mematung ditempat.

“Kayaknya…. ”

“Keana kamu engga boleh kenapa-napa! Nanti pernikahan kita bagaimana? Sedang saya dan ayahmu sudah merencanakannya.” perkataan Leona dipotong cepat oleh Ghazi bahkan laki-laki itu terlihat sangat khawatir bahkan reaksinya sangatlah berlebihan.

“Kita harus bawa Keana kerumah sakit.” Axel dan Xander hanya mengangguk patuh ditempat. Ghazi sudah ingin mengangkat tubuh Keana tetapi langsung terhenti mendengar ucapan Leona.

“Kalian engga sadar engga sih kalau itu cuman dramanya Keana. Orang dia cuman pura-pura pingsan, engga liat apa dia tahan tawa gitu.”

Ketiganya menatap kearah Keana dan perempuan itu kini membuka matanya dan tertawa terbahak-bahak ditempatnya bahkan sampai memegang perutnya.

“Leona, kamu harusnya videoin muka khawatirnya kak Ghazi tadi….” Keana tidak bisa melanjutkan perkataannya karena menurutnya pertunjukkan tadi cukup memuaskan.

“Dan anehnya mereka bertiga langsung percaya seakan lupa bagaimana sikap asli seorang Keana.” itu bukan Keana tetapi suara Leoana karena pada nyatanya perempuan itu masih sibuk tertawa kecil di tempat.

“Kamu mau menikah denganku, Keana?” pertanyaan sekaligus lamaran itu membuat tawa Keana berhenti seketika bahkan Leona yang tadinya sibuk memoleskan lipstik di bibirnya kini menghentikan aktivitasnya dan tanpa disadari lipstik itu malah terpoles di pipinya karena menoleh seketika.

Axel dan Xander bahkan mematung. Ingin mengucapkan sesuatu tetapi bingung ingin mengucapkan apa? Sedangkan suasana ini benar-benar tidak jelas.

“Keana… Kamu mau menikah denganku?” pernyataan itu kembali terulang. Keana masih mematung ditempat bahkan bingung ingin mengatakan apa. Tetapi kemudian ia mengangguk  itu membuat Ghazi tersenyum tulus melihat hal itu Keana tersenyum malu-malu bahkan salah tingkah ditempatnya.

“Lamaran teraneh sepanjang masa.”
“Lamaran unik bin ajaib.”

Kedua kalimat itu diucapkan secara bersamaan oleh Axel dan Xander bahkan mereka berdua menggelengkan kepalanya secara berulang ditempatnya. Merasa takjub akan momen yang mereka lihat.

Leona yang sudah selesai membersihkan polesan lipstik dipipinya malah menatap Keana jengah bahkan rasanya ingin muntah. Tetapi ia tetap tersenyum ikut bahagia atas sahabatnya itu.

     THE END

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here