Tuan Muda Duda #18

0
82
views
Tuan Muda Duda

 Putri berlari sekencang mungkin sesekali dia menabrak orang yang tidak sengaja menghalangi jalan.

“Mau kemana lo, haha … nggak bakal bisa terlepas lo dari kami,” ucap dua preman setengah berteriak saat melihat Putri yang melengos kelelahan.

Putri tidak menghiraukan keadaan panik membuat dia tidak bisa berpikir jernih.

~~~

“Ya Allah lindubgilah istri hamba dimana pun mereka berada,” doa Athar merasa sangat khawatir.

Langit yang semula bertebaran bintang sekarang mendadak sembunyi di balik awan hitam pertanda hujan akan turun.

Athar mengendarai motornya dengan kencang karena hujan turun dengan deras penglihatan Athar menjadi kabur.

‘Ya Allah bagaimana ini,’ paniknya lirih.

“Awas …!” pekik Athar saat melihat ada orang berlari tetapi wajahnya di arahkan ke samping.

Aaaaa ….

Bugh.

Brakk ….

Suara motor menabrak sehingga yang ditabrak jatuh melayang, Athar pun juga ikut terjatuh.

Bergegas Athar melihat siapa yang ditabraknya, Athar sedikit pincang dia tidak perduli dengan luka yang ada ditubuhnya dia ingin cepat-cepat melihat siapa yang ditabraknya entah mengapa dia merasakan begitu takut. Athar mendekat jalanan sepi membuat Athar ingin kabur tetapi hati kecilnya berkata harus bertanggung jawab.

“Tidak ….” Athar berteriak melihat orang yang ditabraknya adalah Putri.

Athar menatap wajah Putri bersimbah darah berharap Putri segera bangun.

“Bangun sayang ….”

Diciumnya kening Putri dengan lama dan dirangkulnya tubuh mungil istrinya itu. Tidak lama kemudian ada tukang bakso menghampiri mereka dan segera mencari bantuan.

Dua preman juga memastikan kalau yang ada dipangkuan Tuan Mudanya itu adalah Putri.

“Oke, tugas kita selesai tanpa mengotori tangan kita,” bisik preman bertubuh gempal pada temannya yang bertubuh cungkring.

Tidak lupa kedua orang suruhan itu memotret lalu mengirim pada bos mereka.

Setelah sekian lama mencari bantuan akhirnya ada juga taxi yang lewat segera tukang bakso itu melambaikan tangan.

Sebelum Athar masuk mobil dia baru menyadari bahwa ada anak buah papanya yang tersenyum sinis melihat keadaan itu.

“Kalian,” desisnya menatap garang pada dua preman itu.

Preman tersebut langsung lari, dapat Athar simpulkan bahwa mereka berdua yang sudah berniat jahat pada Putri dan mereka berdua juga yang sudah menculik Putri, itu pikir Athar.

“Awas kalian.”

Athar benar-benar tidak bisa terima kalau sampai terjadi apa-apa pada Putri dan calon buah hatinya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here