Tuan Muda Duda #01

0
141
views
Tuan Muda Duda

“Bunuh wanita ini!” sergahnya lalu orang suruhannya itu mengangguk paham.

Athar pulang, dia disambut ramah oleh Putri dan ditemani segelas kopi yang asapnya masih mengepul. Putri meraih jaket yang berada di lengan Athar, Athar duduk sambil menyesap kopi, Putri memijat-mijat bahu suaminya itu.

“Hari ini dapat berapa, Bang?” tanya Putri.
Tanpa menjawab Athar membuka dompetnya dan menarik selembar uang kertas yang berwarna merah dengan raut wajah masam.
“Loh, kok cuma segini sih, Bang,” tukas Putri melotot.
“Ya kan namanya juga baru kerja,” jawab Athar.
Putri mengomel-ngomel.

“Kalau seperti ini gimana adek mau bayar kredit, Bang,” gerutu Putri geram.

“Adek sih, semua barang dikredit, baskom, kuali, gayung, baju apa lagi dan yang parahnya sisir rambut adek kreditin juga,” pungkas Athar jengah geleng-geleng kepala.

“Kalau tidak berkredit kapan kita punya segalanya, Bang.” Putri mencebik dan mendelik tajam.

“Ahk sudahlah, malas abang bahaa ini mulu ujungnya berantam juga,” ujar Athar melunak seraya bangkit dari tempat duduk menuju kamar.
“Huh, dasar suami nggak bersyukur selalu saja nyalahin istri.”

Putri masih memggerutu sedangkan Athar pura-pura tidak dengar.

~

Siang ini Putri pergi lagi ke cafe untuk bertemu kekasih gelapnya. Putri pergi mengendap-endap takut juga dia ketahuan sama suaminya.
“Sudah lama ya sayang, menunggunya?” tanya Putri tanpa menunggu perintah Putri langsung duduk.

Orang itu terperanjat setelah mengetahui siapa yang datang dia pun menyungging senyum. Orang memakai baju kantoran itu mengangguk.
“Sudah ada lima belas menit yang lalu,” jawabnya.

Mereka berdua bermesraan di cafe itu, pegang-pegangan tangan, suap-suapan dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang selalu menatap tajam dan mengintai.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here