True Love # 15

0
93
views
True Love

Namanya Rediaz


Amsterdam, Belanda.

Di kamarnya Fransiscka terlihat sedang berjalan mondar-mandir, sedari tadi dia sama sekali tidak bisa tidur. Hal itu karena dia sibuk memikirkan obrolannya tadi siang dengan Allata.

#Flashback_On

“Yazaman, itu namanya.”

“HAH??

Tentu saja Fransiscka kaget mendengar satu nama yang keluar dari bibir Allata.

Yazaman?.

Sangat tidak cocok dengan wajahnya yang rupawan.

“Masa iya namanya Yazaman. Lo nggak salah denger Ta?” Tanya Fransiscka mencoba memastikan lagi.

“Ya enggaklah. Lo pikir gue tuli?”

“Gue nggak mikir gitu kok. Hanya saja sulit banget gue percaya kalau namanya Yazaman. Kampungan banget gitu. Padahalkan dia ganteng.”

“Mau gimana lagi, gitulah kenyataannya. Nggak selamanya nama mempengaruhi rupa fisik seseorang Sis. Lo harus tahu itu.”

“Tapi Ta, kemarin gue sempat dengar saat dia nelpon dengan seseorang kalau dia itu membahasakan dirinya sebagai Dy..dy..”

“Dy apaan?”

“Uh, tunggu dulu Ta. Ini gue juga lagi mengingatnya.”

Fransiscka mencoba berpikir keras. Keningnya terlihat berkerut-kerut memikirkan ingatan yang sempat dia lupakan.

“Dyman kali.” Kembali Allata membuyarkan konsentrasi Fransiscka, membuat gadis bule itu cemberut kesal.

“Gue yakin namanya juga keren sesuai dengan fisiknya Ta. Bukan Dyman atau Yazaman yang lo katakan itu. Gue yakin lo salah dengar.” Penjelasan yang Fransiscka berikan membuat dia bosan.

Allata sama sekali tidak merasa tertarik mendengarnya. Siapapun nama lelaki itu dia tidak ingin tahu. Dia sama sekali tidak ingin mengenalnya.

“Tahu deh, malas gue bahas ini. Gue cabut duluan ya.”

#Flashback_Off

“Tahu deh ah, pusing gue. Mending gue tidur.”

Memutuskan untuk tidur Fransiscka naik ke tempat tidur. Dia akan segera tidur.

Mematikan lampu dia mulai mengambil posisi berbaring. Fransiscka mulai memejamkan mata dan terlelap.

*****

Allata melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya, waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Masih terlalu dini untuk tidur. Dia merasa bosan.

Memutuskan keluar dari kamar Allata berjalan menyusuri lorong Asrama yang sepi. Tidak ada orang lain selain dirinya di sana. Mungkin anak-anak yang lainnya sudah berada dibalik selimut yang tebal.

Udara malam di sini memang begitu dingin. Tak heran jika banyak anak-anak yang lebih memilih mendekam di kamar dari pada berada di luar seperti ini.

Merapatkan jaketnya Allata bersandar di salah satu tiang, kemudian mulai mengamati langit yang dihiasi bintang-bintang. Dan bulan bersinar terang malam ini.

“Indah ya.”

Allata menoleh pada seseorang yang barusan bersuara. Di sana dia dapati Jack juga sedang menatap ke arah yang sama. Bulan di langit.

Allata merasa bingung sejak kapan Jack ada di sampingnya?.
Dia sama sekali tidak menyadari kedatangan pria itu tadi. Atau dia yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri hingga akhirnya tak menyadari kedatangan Jack.

Merasa di perhatikan Jack menoleh menatap wajah gadis tomboy di sampingnya dengan senyuman.

“Ya.” Jawab Allata akhirnya, kemudian kembali menatap ke arah langit.

“Lo ngapain di sini sendirian? Bukannya tidur.”

“Bosan gue di kamar. Lagian gue belum ngantuk. Dan lo sendiri ngapain?”

“Gue?” Ulang Jack menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.

“Ya iyalah, kalau nggak elo siapa lagi coba. Masa iya gue nanya hantu.”

“Ya ya, gue barusan cari udara segar.”

Ya, memang Jack baru selesai berkeliling di sekitar Asrama. Rasa sesak yang dia rasakan di kamar membuat dia memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Mungkin udara dingin diluar bisa menyegarkan kembali pikirannya yang berserabut.

Merasa sudah mendingang Jack memutuskan kembali ke kamarnya, namun tidak sengaja dia malah melihat Allata. Bukannya kembali ke kamar, langkah kakinya malah membawanya ke samping Allata.

Gadis itu terlihat begitu asyik memerhatikan sesuatu, membuat dia juga ikut memperhatikan ke arah mana tatapan gadis itu. Yang dia dapati hanya bulan yang bersinar terang malam ini.

‘Indah.
Hanya kata itu yang terbesit dibenak Jack saat itu.

Jack kembali menoleh ke arah Allata, dia ingin menanyakan sesuatu. Tentunya ini berkaitan tentang kejadian tadi siang di Kantin kampus. Tentang kepergian Allata yang terlihat kesal. Gadis itu belum menjawabnya tadi.

“Ta.”

“Hmm.”

“Gue boleh nanya nggak.”

Allata menoleh menatap Jack yang tiba-tiba berubah serius. Apa yang ingin laki-laki itu tanyakan padanya?

“Tanya aja. Emangnya lo mau nanya apa ke gue?”

“Tentang kejadian tadi siang di Kampus. Gue penasaran lo ngomongin apa aja sama Redyaz. Lo kelihatan kesal banget.”

Allata yang tidak tahu siapa Redyaz menatap Jack lekat. Dia merasa tidak pernah bertemu dengan lelaki bernama Redyaz apalagi mengobrol dengannya.

“Siapa itu Redyaz. Gue nggak kenal.”

Allata bersedekap menunggu jawaban dari Jack.

“Cowok yang tadi siang bersama gue di Kantin, yang lo mau kenalan sama dia. Namanya Rediaz.” Beritahu Jack.

Allata mengangguk paham dalam hati ber’oh’ ria karena akhirnya dia tahu nama lelaki itu. Pasti Fransiscka akan senang mendengarnya.

“Jadi namanya Redyaz. Bukan Yazaman dong.”

“Yazaman?” Ulang Jack, merasa bingung.

“Gue pikir namanya Yazaman, habis saat itu lo manggil dia Yaz.”

“Apa?. Ya ampun Ta, lo gokil amat sih. Nama sekeren itu bisa-bisanya lo rubah jadi Yazaman. Hahaha, sumpah lo bisa di judesin orangnya lho kalau dia tahu.”

Jack tidak kuasa menahan tawanya, ini benar-benar lucu menurutnya. Bisa-bisanya Allata menyimpulkan sendiri nama untuk Rediaz.

Yazaman.

“Gue nggak peduli.”

“Ya, gue tahu itu. Lalu apa yang kalian bicarakan saat itu?” Kembali Jack bertanya tentang hal itu.

“Bukan hal yang begitu penting.”

“Tapi lo kelihatan kesal saat itu.”

“Gue kesal karena dia itu cowok yang begitu menyebalkan. Tak hanya itu dia juga sombong. Udah ya, gue mau balik ke kamar.” Pamit Allata, kemudian angkat kaki pergi dari situ.

Ditinggal sendirian membuat Jack tidak ada pilihan lain, selain kembali ke kamar.

*****

Di kamarnya yang temaram tampak Rediaz sedang gelisah di tempat tidurnya. Hal itu terlihat dari posisi tidurnya yang selalu berubah-ubah.

Sadar tidak akan bisa tidur Rediaz bangkit lalu duduk di pinggir tempat tidur.

Dia tidak bisa tidur. Entah mengapa setiap memejamkan mata wajah Clara selalu muncul. Dan itu membuat dia jadi tidak tenang.

Lama dia duduk termenung dengan tatapan yang menerawang jauh. Jauh sekali.

“Aaah.” Menghela nafas Rediaz meraih gitar yang tergeletak disampingnya, kemudian bangkit melangkah menuju balkon.

Mungkin dengan melampiaskan kegalauannya dengan bernanyi dia bisa sedikit tenang.

Di balkon dia mulai duduk di kursi yang memang tersedia di sana. Seakan memang sengaja dipersiapkan untuk kenyamanan para tamu.

Mengambil posisi yang tepat Rediaz mulai memainkan gitarnya.

*Oooh…ooohh…aaaa…aaaa…naaaa…
Lepas sudah apa yang aku rasa..
Kini tiada lagi dusta di antara kita..
Terpendam, terdiam dalam lubuk hati yang terdalam…
Doa dan harapan yang selalu aku panjatkan..
Saat kita bersama lalui canda dan tawa..
Mungkin semua bisa dan selalu kita bahagia..
Tapi sekarang kau tega membalas aku duka..
Pergi bersama dia yang kau anggap paling sempurna.
Oh tuhan..
Dialah yang paling aku sayang..
Sekarang dia pergi meninggalkan ku seorang..
Terasa sakit batin ini tak bisa aku pendamkan..
Kini aku hanya terdiam dan semua aku lupakan..

Fransiscka membuka mata saat telinganya mendengar suara-suara aneh dari kamar sebelah. Alunan musik yang terdengar merdu memaksa Fransiscka untuk melihat apa yang terjadi.

Dia melangkah menuju balkon. Dari sanalah suara itu berasal.

*Sungguh mati ku mencintaimu my girl..
Sumpah mati ku menyayangimu girl..

Fransiscka berhenti di pembatas yang menjadi penghalang kamarnya dan kamar sebelah. Pandangannya tertuju pada laki-laki yang tampak asyik memainkan gitar di pangkuannya.

Dia kenal lelaki itu.
Lelaki itulah yang dia taksir.
Ternyata selain tampan dan keren, dia juga memiliki suara yang begitu merdu.

“Ya ampun, aku makin cinta deh sama dia.”

Fransiscka terlihat begitu bahagia hingga tidak sadar bahwa kini Rediaz sudah berdiri dihadapannya. Menatapnya dengan tatapan sinis yang dia punya.

“Lo ketahuan ngintipin gue. Dasar perempuan.”

Fransiscka membuka mata ketika telinganya mendengar suara yang begitu familiar, namun nada suaranya terkesan dingin dan mengintimidasi.

Bukannya takut Fransiscka malah tersenyum senang.

“Hay, aku sayang banget sama kamu. Aku Fransiscka. Kasih tahu aku nama kamu dong.”

“Lo sayang gue?” Ulang Rediaz sambil menunjuk dirinya dengan jari telunjuk.

Masih tetap tersenyum Fransiscka mengangguk cepat.

“Gue nggak tu. Mending lo kubur perasaan lo itu karena gue sama sekali nggak tertarik sama lo.”

“Aku nggak akan nyerah. Karena aku yakin suatu saat entah itu kapan kamu pasti menjadi milikku. Aku nggak peduli berapa lama aku harus menunggu.”

Rediaz diam dengan tatapan kian melembut nmenatap Fransiscka. Sedikit banyak ucapan gadis itu membuat dia terkesan. Namun egonya yang terlalu besar membuat dia kembali bersikap dingin dan tak tersentuh.

“Serah lo deh.”

Dengan perasaan kesal Rediaz berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Fransiscka di sana sendirian.

Udara yang semakin dingin membuat Fransiscka masuk ke dalam kamar dengan perasaan cinta yang semakin besar untuk lelaki yang dia cintai.

*****

Fransiscka mengambil tempat duduk di depan Allata. Saat ini kedua gadis itu sedang di kantin. Allata yang meminta Fransiscka untuk menemuinya usai jam kuliah pertama berakhir.

Ada yang ingin dia sampaikan pada gadis itu. Dan Fransiscka harus tahu itu.

“Lo bilang mau beritahu gue sesuatu. Jadi, apa itu?”

Allata menatap sekilas ke wajah Fransiscka yang tampak begitu penasaran.

“Sesuatu yang akan membuat lo senang tentunya.”

“Iya, apa itu Ta. Beritahu aku cepat.”

“Gue udah tahu nama cowok itu Sis. Namanya itu..,”

“Siapa?.”

“Rediaz itu namanya.”


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here