True Love # 14

0
191
views
True Love

Sebuah Nama


“Jack.”

Sosok yang dipanggil Jack itu menoleh ketika seseorang memanggilnya. Alisnya terangkat ketika mendapati Rediaz dibelakangnya. Tidak menduga lelaki itu akan mengejarnya sampai di sini.

Saat ini mereka sedang berada di koridor menuju kantin.

“Ada apa?” Tanya Jack mengawali obrolan.

“Maaf. Mungkin ucapan gue udah menyinggung lo.”

Jack tersenyum kemudian menganggukkan kepala.

“Okey, gak masalah.”

Jack sama sekali tidak mengambil hati ucapan Rediaz. Bisa dikatakan dirinya memang tersinggung, tetapi dia tidak terlalu ambil peduli masalah itu. Memperbesar masalah kecil seperti itu hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Dan dia tidak menginginkan hal itu terjadi.

“Lo gak marah?”

“Gue nggak bisa marah Dy. Walaupun gue menginginkannya. Gue tetap nggak akan bisa marah” tutur Jack penuh dengan maksud terselubung.

Rediaz dapat melihat jelas betapa sendunya tatapan Jack barusan saat dia melontarkan kalimat itu. Walaupun tatapan itu hanya sekilas namun sudah cukup membuat Rediaz merasa penasaran.

“Kenapa bisa begitu?”

“Heheh, karena gue orangnya baik. Makanya gue gak bisa marah.” Dengan senyuman Jack membanggakan diri di depan Rediaz.

Rediaz mencibir mendengar jawaban dari Jack barusan.

“Hmm, jadi gimana apa tawaran persahabatan masih berlaku untuk gue?”

Jack diam seperti sedang menimbang-nimbang.

“Boleh deh.”

“Thanks.”

“Oke. Mau ke kantin kan? Bareng aja yuk.” Ajak Jack kemudian.

Rediaz hanya mengangguk. Kemudian segera melangkah bersama menuju kantin.

*****

“Aku lapar, sebaiknya aku pesan makanan dulu.” Beritahu Fransiscka.

Allata yang mendengarnya tersenyum kemudian mengangguk. Sedikit merasa lega karena akhirnya Fransiscka menyudahi ceritanya. Jujur dia katakan dirinya bosan mendengarkan curhatan Fransiscka yang itu-itu mulu.

Dan mengenai permintaan Fransiscka tadi apa dirinya sanggup melakukan hal itu. Masa iya dia harus pura-pura jadi pencopet hanya untuk mengambil dompet lelaki itu lalu melihat kartu namanya. Sungguh ide Fransiscka untuk mengenal lelaki itu tidak masuk akal.

Baiklah, dia harus membicarakan hal ini pada Fransiscka lagi.

Fransiscka kembali dengan membawa nampan berisi semangkuk soto dengan segelas juice orange. Meletakkan nampan di meja dengan hati-hati, kemudian dia duduk.

Mengaduk-aduk sotonya sebentar lalu mulai memakannya. Tentu saja dengan pandangan lurus ke arah Allata.

“Aku rasa ide mencopet itu buruk Sis. Aku tidak ingin berurusan dengan polisi.” Tercetus juga kalimat yang ingin dia katakan.

Bukannya marah Fransiscka malah tersenyum.

“Aku tahu ide ku terlalu beresiko untukmu Ta. Tetapi hanya dengan cara itulah aku bisa tahu namanya.”

“Aku yakin ada cara lain Sis. Cobalah dekati dia lagi. Aku yakin nanti kau akan mengenal namanya meskipun agak lama.”

“Tidak Ta. Kau harus lakukan itu untukku. Bukankah kau temanku, sesama teman harus saling membantu kan?”

Allata diam.

Diamnya sedang memikirkan cara lain untuk mengenal lelaki yang Fransiscka taksir. Jujur, dia tidak ingin melakukan ide Fransiscka yang begitu buruk.

“Aku sangat mencintainya Ta, kau tahu itu kan?”

“Aku tahu. Tapi aku tidak ingin mengambil dompetnya.”

Mendengar jawaban Allata yang tak terbantahkan. Fransiscka hanya bisa cemberut.

“Aku ada ide.” Beritahu Allata, membuat senyuman di wajah Fransiscka terbit.

Wajah cemberutnya raip dalam sekelip mata.

“Apa itu?”

Bukannya menjawab Allata malah tersenyum. Senyuman yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa penasaran. Ada apa dibalik senyumannya itu?.

“Kau akan tahu sebentar lagi.”

Usai mengatakan itu Allata bangkit berdiri meninggalkan Fransiscka dalam kebingungannya. Dalam hati bertanya-tanya apa yang akan gadis tomboy itu lakukan.

Tatapannya tak lepas dari sosok Allata yang berjalan mendekat ke arah seseorang. Fransiscka tidak dapat melihat dengan jelas wajah sosok itu karena tubuh Allata menutupinya, namun dirinya tahu sosok itu adalah lelaki.

“Hey Jack, lo di sini. Gue cariin tahu.”

Mendengar seseorang menyapanya Jack menoleh, tatapannya bertemu dengan seraut wajah Allata. Gadis yang baru dikenalnya tadi pagi karena memang mereka berada dalam kelas yang sama.

“Hey Ta, lo nyariin gue. Ada apa?.” Tanya Jack dengan tatapan tidak lepas dari seraut wajah manis gadis tomboy di depannya.

“Nggak ada apa-apa sih. Eh, siapa nih cowok?.” Tanya Allata sambil melirik ke arah Redyaz yang tampak acuh.

Jack mengikuti arah tatapan Allata yang tertuju pada Redyaz. Dia tersenyum lalu mempersilahkan Allata untuk duduk. Meskipun pada awalnya Allata menolak, tetapi demi sebuah nama dia rela melakukan hal ini.

Demi sahabatnya.

“Yaz, lo harus kenalan dulu nih dengan Allata. Dia teman gue di kelas Arsitektur.” Beritahu Jack.

Yaz?.

Yaz apaan?.
Yazman, Yazamnto, Yazmin atau Yazaman?.

Allata hanya mampu mendumel dalam hati, merasa tidak sabar ingin mendengar nama lelaki yang Fransiscka taksir ini.

Sementara di seberang meja tidak jauh dari mereka Fransiscka tampak melongo tak percaya dengan tatapan lebar ke arah Allata, ternyata gadis itu menghampiri cowok gebetannya.

Mau ngapain Allata di sana?.

“Jadi, siapa nama lo?” Tanya Allata dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Dia tahu cowok yang Fransiscka taksir dari Indonesia. Dari negara yang sama dengannya.

Redyaz mengangkat kepala, kemudian menatap lurus ke wajah Allata. Tatapannya begitu tajam dan menusuk. Namun dengan berani Allata melawan tatapan si cowok dingin di depannya.

Tatapan yang bertemu membuat Redyaz kesal. Dengan kasar dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Nggak penting.”

“APA?”

Terkejut. Allata tak sengaja mengeraskan suaranya. Tentu saja suaranya mengundang orang-orang menatap ke arahnya. Termasuk Jack yang kebingungan karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Ngapain lo teriak Ta?”

“Ngomong apa lo barusan?” Allata bertanya pada Redyaz yang tampak kembali acuh, dia mengabaikan pertanyaan Jack barusan.

“Gue rasa lo nggak tuli deh. Tentu lo denger yang gue katakan tadi.” Dengan menunjukkan wajah pongahnya Redyaz menjawab pertanyaan itu.

Tentu saja espresi di wajah Redyaz itu membuat Allata kesal. Dia mengetap bibir geram.

“Harusnya gue tahu ini yang akan terjadi. Bodohnya gue yang terus melakukan ini. Dan anehnya, kenapa juga sahabat gue tertarik sama cowok sedingin kayak lo?. Uh, lo benar-benar menyebalkan Yazaman.”

Usai mengatakan itu Allata berlalu pergi membawa hati yang kesal. Meninggalkan kedua pria tampan itu dalam keadaan bingung. Jack yang bingung karena tidak mengerti antara Redyaz dan Allata membicarakan apa, tahu-tahu Allata berlalu pergi dengan wajah yang kesal. Dan Redyaz yang bingung dengan kalimat terakhir yang gadis tomboy itu katakan.

‘Yazaman? Maksudnya apa?’ Kalimat tanya itu hanya terbesit di kepalanya, sama sekali tidak berniat mengutarakannya.

“Eh, kalian ngomongin apa barusan. Kelihatannya Allata kesal gitu. Pertanyaan gue juga nggak dijawab.”

“Entahlah, gue juga nggak ngerti dia ngomong apa?. Udahlah, gak usah dibahas. Yuk, gue cabut duluan ya. Bentar lagi ada kelas.” Pamit Redyaz sambil berlalu pergi meninggalkan Jack.

Sedangkan Allata kembali duduk di depan Fransiscka yang mulai menyerang dengan pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada Allata. Sama sekali tidak ingin menunggu. Sungguh dia sudah merasa penasaran, mulutnya sudah gatal untuk bertanya.

“Gimana?. Apa yang terjadi di sana?.Kalian ngomongin apa tadi?. Kelihatannya lo kesal banget.”

“Ya, sumpah gue emang kesal banget.”

“Kesal kenapa?”

“Karena cowok yang lo taksir itulah. Aneh ya, kok bisa sih lo suka sama cowok sombong itu. Gue aja yang baru hari ini ngomong sama dia udah kesal banget. Gimana elo yang udah berhari-hari ngejar dia tapi sampai sekarang nggak kunjung tahu namanya.” Ucap Allata mengeluarkan unek-unek yang ada di kepalanya.

“Dia sombong?”

“Ya, dia sombong. Tidak hanya itu, dia juga belagu dan menyebalkan.” Ucap Allata mengegebu-gebu. “Aku tidak ingin lagi berurusan dengannya Sis, kau jangan paksa aku lagi untuk berbicara dengannya. Karena itu tidak akan pernah terjadi. Aku membencinya, sungguh.” Beritahunya lagi.

Fransiscka hanya bisa meringis tidak mampu membalas satu kata pun ucapan Allata barusan.

“Setidaknya aku sudah tahu namaya Sis.”

“Serius? Siapa namanya Ta?.”

“Namanya…..,” Allata sengaja menggantung kalimatnya membuat Fransiscka semakin tidak sabaran untuk mendengarnya.

“Siapa Ta?.”

“Yazaman, itu namanya.”

“HAH???”


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here