True Love # 06

0
736
views
True Love

Kemelut Hati


Bastian membuka pesan yang Alena kirimkan tadi siang, helaan nafas berat ia keluarkan. Lagi-lagi dia mengingkari janjinya tentu gadis itu kecewa, bukan maksudnya untuk mengingkari janji. Namun begitu banyak kendala yang membuat dia harus membatalkan janjinya sendiri pada Alena.

Menghembuskan nafas Bastian bangkit lalu berjalan keluar dari kamar melangkah ke balkon, sepertinya dia harus menelpon Alena dan akan menjelaskan semuanya.

Semoga Alena bisa memakluminya.

Tut,,tut, sambungan terhubung.

Bastian melangkah mondar-mandir dengan gelisah menunggu detik demi detik berharap Alena mengangkat telponnya segera.

“Ayo dong dek angkat telponnya” masih terus berjalan mondar-mandir Bastian bergumam pelan.

Sementara itu Alena sendiri juga berada di balkon kamarnya, menatap gemerlapnya langit yang dihiasi bintang-bintang. Dia larut dalam kesedihan hingga tak mendengar deringan handphone di dalam kamarnya.

“Kapan Mas bisa ngerti perasaan aku? Aku juga pengen seperti pasangan yang lainnya. Bisa menghabiskan waktu berdua. Mas hanya bisa janji dan janji tanpa bisa Mas tepati. Aku kecewa sama Mas. Hiks,,hiks!”

Pada akhirnya Alena hanya bisa menangis melayan perasaan sedihnya yang berkepanjangan.

Bastian menghela nafas saat panggilannya tak kunjung dijawab, dia menatap handphonenya yang sudah mati, pikirannya berkecamuk memikirkan Alena.

“Marahkah kamu dek pada Mas? Mas minta maaf dek. Mas janji besok akan datang menjemput kamu dek. Mas akan jelasin besok pada kamu sayang!”

Memutuskan kembali masuk ke kamar Bastian melangkah pergi meninggalkan balkon.

****

Aku dan Daren tiba di rumah pukul sembilan malam, tadi di perjalanan kami memutuskan singgah di Restorant untuk makan malam.

Aku keluar dari mobil disusul Daren, bersama-sama kami masuk ke dalam rumah. Di dalam kami berpapasan dengan Mama Lovy yang kebetulan beliau baru dari dapur, itu terlihat jelas dari segelas air putih yang dia bawa.

“Malam Ma!” Sapaku dengan senyuman, Mama Lovy membalas hanya dengan anggukan.

“Dari mana kalian? Kok baru pulang jam segini?”

“Itu Ma, baru selesai check rumah yang akan kami tempati besok. Terus tadi singgah dulu di Restorant ngisi perut yang sedang lapar!” Jelas Daren mengambil alih untuk menjelaskan.

“Jadi kalian mau pindah besok?”

“Iya Ma. Lagi pula Clara udah suka dengan rumah itu, Daren juga udah suka banget!”

“Ya sudah kalau begitu, Mama masuk kamar dulu!” Pamit Mama Lovy lalu beranjak melangkah pergi meninggalkan kami, kemudian menghilang dibalik pintu kamar.

Sementara aku dan Daren kembali melanjutkan langkah naik ke atas melangkah menuju kamar.

Cekrek…

Pintu kamar terbuka aku dan Daren segera melangkah masuk. Aku segera menuju tempat tidur, tidak sabar rasanya ingin membaringkan tubuh lelah ku disana.

“Hoaaaa…., aku capek sekali sayang!” Beritahuku pada Daren yang sudah melepaskan bajunya.

Eh, aku segera melotot saat menyadari Daren tidak berbaju. Kenapa dia melepaskan bajunya?

Aku sukses dibuat tegang di tempat tidur melihat keadaan Daren yang tidak berbaju, aku meneguk air liur merasa tidak sanggup melihat keadaan Daren seperti itu.

“Sayang!”

Aku sukses berjengit saat dengan tiba-tiba Daren berbalik lalu menatapku.

“Kamu kenapa?” Tanya Daren yang sudah melangkah mendekat ke arahku, tentu saja hal itu membuat aku tidak senang duduk jadinya.

Dapat aku rasakan keringat membasahi wajahku, padahal suhu di kamarnya ini tidaklah panas.

Serrr..

Aku menutup mata saat tangan Daren sudah melekat di pipiku, dapat aku rasakan darahku berdesir ketika kulit tangannya menyentuh kulit wajahku. Dia menghapus jejak-jejak keringat yang membasahi wajahku.

“Kamu sakit? Keringat kamu banyak sekali!”

Aku membuka mata mendengar pertanyaan Daren barusan, segera ku dapati wajah khawatir Daren.

Melihat kekhawatirannya membuat aku tersenyum, kemudian aku menggenggam tangannya yang masih berada di pipiku.

“Aku gak papa kok sayang, aku baik-baik saja!”

“Serius?”

Aku mengangguk mantap membuat Daren bernafas lega, dia kemudian menggenggam tanganku lalu dibawa menyentuh bibirnya.

“Aku mencintaimu sayang, tetaplah baik-baik saja. Sungguh, aku tidak akan sanggup melihat kamu sakit!”

“Iya, aku akan berusaha untuk baik-baik saja!”

Daren tersenyum kemudian melepaskan tanganku yang digenggamnya, dia menatapku dengan pandangan yang aku tidak tahu artinya. Tetapi entah mengapa aku merasakan firasat yang tidak enak dengan tatapannya itu, sungguh ini membuat aku bergerak gelisah di tempat tidur.

“Sayang, abang mandi dulu ya. Setelah itu…,”

“Okey, masuklah cepat ke kamar mandi. Mandi yang bersih ya sayang!” Ucapku memotong kalimat yang akan diucapkan Daren.

Daren hanya mengangguk kemudian melangkah masuk ke kamar mandi, melihat tubuh Daren sudah menghilang dibalik pintu aku menghembuskan nafas lega.

Sementara dia sedang mandi. Aku bisa memikirkan sesuatu untuk mencegah dia menyentuhku malam ini. Jujur saja aku belum siap untuk melakukannya. Aku tahu Daren sudah menginginkannya sejak awal kami menikah, tetapi ketidaksiapanku membuat aku terus mencari cara untuk menggagalkan niatnya itu.

Kali ini alasan apa lagi yang akan aku berikan padanya ya, rasanya semua alasan sudah aku berikan padanya.

Aaahh, aku benar-benar merasa buntuh sekarang.

Cekrek..

Aku berpaling ke arah pintu kamar mandi yang sudah terbuka, Daren keluar dalam keadaan wajah yang fresh.

Daren melangkah mendekatiku hanya dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya, aku meneguk liur melihat perut sixpacknya, tidak ada jejak lemak sedikitpun diperutnya yang datar.

“Sayang, malam ini kita..,”

“Hmm, aku mandi dulu ya!” Pamitku segera ngacir ke kamar mandi meninggalkannya sendirian.

Daren memperhatikan pintu kamar mandi yang sudah tertutup, kemudian menghela nafas melihat tingkah Clara yang tidak berubah. Dia tahu Clara sengaja menghindarinya, mencari cara agar dia tidak menyentuhnya. Dia tahu gadis itu belum siap melakukannya, tetapi mau sampai kapan dia harus menunggu.

Sebelum dia menyentuh gadis itu, Clara belum bisa dikatakan adalah miliknya sepenuhnya. Dia ingin Clara menjadi miliknya.

Terkadang sempat terlintas dipikirannya kalau Clara belum benar-benar bisa melupakan Rediaz, karena itulah Clara selalu mencari cara untuk menggagalkan niatnya menyentuh dirinya.

“Ra, mau sampai kapan seperti ini?”

Aku bersandar di pintu kamar mandi yang sudah tertutup, hembusan nafas lega aku aturkan, setidaknya untuk sementara aku masih bisa menyelamatkan diri dari Daren. Hanya sementara catat itu, ‘HANYA SEMENTARA’ sampai aku menyelesaikan acara mandiku.

Setelah itu.., tidak,, tidak,,

Aku menggeleng keras tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi nanti, sepertinya aku harus segera mandi. Mungkin dengan mandi aku akan bisa kembali berpikir.

****

Jreng…jrengg..

Terdengar alunan gitar memecah kesunyian malam, di balkon kamarnya tampak Rediaz sedang duduk di kursi dengan sebuah gitar dipangkuannya.

Jari-jarinya begitu lincah bermain disenar gitar, pandangan matanya tampak menerawang jauh.

Kenang-kenangan yang ia lalui bersama Clara suatu ketika dulu kembali terlintas di kepalanya, mau tak mau air matanya turut mengalir mengingat hal itu.

Jika teringat tentang dirimu…
Berlinang air matku…
Ku rindu saat-saat bersamamu..
Kasih sayangmu padaku..

Namun kini kau bukan milikku…
Dan berakhir sudah cintaku…
Biarkan saja hatiku bicara…
Ku masih sayang padamu…

Aku selalu mendoakanmu…
Agar kau bahagia…
Bersama dirinya selamanya…

Semoga bahagia bersama dirinya…
Karena kau telah memilih dia…
Betapa sakitnya apa yang ku rasa…
Tuhan kuatkanlah hatiku yang terluka…

Semoga ku bisa tuk melupakannya…
Karena ku masih mencintainya…


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here