Tinggalkan Kapal!

0
3031
views

Ramai tulisan bapak Yusrizal tentang Nahkoda Kapal Pecah, dibalas dengan tulisan Mba Stephany Diany, tentang Nahkoda Buta Arah. Well, saya menyukai tulisan Mba Steph, mewakilkan para istri.

Kenapa saya suka? Karena saya mengalami memiliki suami eh mantan suami yang dulu masih menjadi suami, sukanya menuntut.

Menuntut apa? Menuntut istri bisa masak enak, menuntut istri enak di pandang, menuntut istri ramping, tetapi menuntut istri juga harus pintar cari duit buat ngempanin dia.

Nah, inilah salah satu ketololan saya sebagai istri dulu. Menganggap saya bisa melakukan semuanya ya saya bisa Mak! Sampai satu tahun tujuh bulan pernikahan saya sabar, diam dan menyenangkan suami. Tetapi apa yang di dapat?

Anak juga belum lahiran, badan saya melar, orang hamil sudah berat bawa perut, kerja, dia pulang minta masakin, saya turuti. Lillahi Ta’ala demi bakti dan Ridho Allah.

Apa yang terjadi?

“Kamu nanti habis melahirkan jangan gendut lah! Perawatan! Kalau bisa langsing kaya dulu jaman kita pacaran! ”

Saya masih diam mak. Ga lama, suami lagi berkata “Gamis yang bagusan dikit ga ada? Beli lah! ” masih diam.

“Dasteran mulu! ” keadaan saya bunting gede, capek pulang kerja, tapi dia maunya saya masakin. Saya masih diam.

Anak lahir? Suami masih mak dengan kalimat memuntutnya.

“Kapan kamu mau perawatan? Badan udah melar begitu. ”

“Kapan kamu mau kasih uang perawatannya? ”

“Kok aku? Kamu kan kerja? ”

“Hey! Saya bersabar ya, kamu minta kamu menuntut fitnes, perawatan, cantik kalau dirumah, gamis baru. Ok saya bisa lakukan tanpa uang dari kamu. Tetapi dengan syarat. Kamu jangan lagi minta uang dari saya, kamu jangan lagi minta ongkos dari saya buat kerja, kamu jangan lagi minta uang bensin sama saya kalau kamu mau kumpul sama teman-teman club kamu, dan sudah saatnya kamu nafkahi saya dan anak kamu! Inget dari awal menikah kamu ga nafkahi saya, dari aku hamil kamu ga nafkahi anak kamu dengan membayar biaya pemeriksaan. Ah satu lagi, saya menstop uang bulanan untuk orangtua kamu! ”

Titik saya menyerah! Bayi masih tiga bulan, dia tidak berubah. Dia adalah Nahkoda Kapal yang BUTA seperti kata Mba Steph, karena bukan berubah, menjalankan kewajibannya, tetapi menuruti perintah orangtuanya yang kesal dengan saya karena uang bulanannya saya potong, kejadian itu lah yang menyebabkan Nahkoda Kapalnya Pecah. Ulah Nahkodanya sendiri.

Apa yang saya lakukan? Seperti kapten Jack Sparrow bilang “Abandon Ship!”

Tinggalkan Kapal! Well, saya memilih meninggalkan Kapal bersama anak saya. Tenggelam dilautan hidup? Tidak, terombang-ambing karena ombak kehidupan? Tidak!

Allah, memberikan saya kapal baru dan saya menjadi kaptennya.

Buat apa bertahan dengan kapal yang ingin karam, buat apa bersama dengan kapal yang nahkodanya buta arah, bahkan baca kompas arah mana selatan, mana barat, mana timur dia tidak tahu, begitulah jika imam tidak mengetahui apa kewajiban dia kepada makmumnya, bagaimana peran dia sebagai seorang suami.

Mak, masih banyak Kapal bahkan Allah akan menyiapkan kapalmu sendiri. Biarkan saja Nahkoda Kapal Yang Buta, kapalnya menjadi pecah dan karam sendiri.

Kita? Berlayarlah dikehidupan dengan menjadi diri sendiri, kapten kapal sendiri.

Just Abandon Ship! Tinggalkan Kapalnya!

The seas may be rough but I am the captain! No matter what, how difficult, I Will always prevail ( Lautnya mungkin kasar tapi aku kaptennya! Tidak peduli apa, betapa sulitnya, aku akan selalu menang) – Jack Sparrow.

Ingat Mak, ga perlu takut menjadi kapten di kapal sendiri, Allah lah sebaik-baiknya pemberi arah kita hingga kita bisa menjadi kapten yang baik!

Tiga tahun menjadi kapten, bersama anak saya, selalu menyukai kalimat kapten idaman saya “Not all treasure is silver and gold, mate.” tidak semua harta itu adalah emas dan permata, buat saya harta itu adalah anak saya dan kebahagian saya dan anak saya, serta kebebasan untuk menderita batin!

“Abandon Ship! ” untuk kalian yang merasa lelah dengan pernikahan yang menimbulkan mudaratnya. Kalian berhak bebas dari tekanan batin atas pernikahan yang tidak membahagian kalian. Perceraian halal tetapi dibenci oleh Allah, namun apa Allah juga tidak menyukai jika melihat hambaNya menzolimi dirinya sendiri? Berdiam dengan kekerasan suami, kezoliman suami? Ibarat suami kalian kapten, tetapi kalian gundik yang mengayuhnya! Bangun, kalian berhak diperlakukan lebih dari itu!

by: Erliana Sunardi

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here