The Thrill Of love #32

0
128
views

“Jadi bunda harap Tiyah suka dimadu?”
Tanya Atiyah menatap bunda dengan menyipitkan bola matanya.

“Sepertinya itu lebih baik. Bunda yakin kalian pasti bisa menghadapi persoalan ini”
Jawab  bunda dengan pelan. Sungguh didalam hatinya sangat berat untuk memberi saran itu. Tapi ia akan memberi kan saran terbaik sesuai syariat islam.

“Atiyah gak mampu bunda. Kenapa harus dua istri. RasulAllah pun menikah yang kedua kalinya saat istri pertama sudah wafat. Itu menunjukkan hanya ada satu cinta Bunda,”
Cerita Atiyah dengan meninggi. Jujur di dalam hatinya sedikitpun tidak bisa menerima jika ia harus dimadu.

“Yang kedua dan seterusnya?”
Timpal bunda dengan serius.

“Bunda tidak bisa menyamakan Aldi dengan RasulAllah itu jauh sekali bunda.”
Jawab Atiyah kemudian

“Karena itulah bunda mau katakan dengan Tiyah. Aldi tidak sama dengan Rasulallah  lagipula tidak ada yang bisa menandingi nabi muhammad saw.Tiyah”
Jawab bunda dengan tersenyum.

Atiyah berdiri.

“Mau kemana?”
Tanya Bunda

“Atiyah perlu istirahat sebentar.”
Jawab Atiyah segera berlalu meninggalkan bunda yang sedang terduduk santai.
Padahal saat ini Atiyah benar benar tidak bisa mencerna dengan baik perkataan bunda nya. Atiyah harus pergi untuk meninggalkan kelanjutan cerita ini.
Ia tidak mampu menerima saran bunda.

📌📌📌

“Atiyah…!!!”
Teriak Bunda saat sore hari itu.
Faqih sampai terbangun mendengar teriakan bunda.

“Ada apa Bunda,?”
Tanya Atiyah setelah bangkit dari tempat tidurnya berjalan cepat sambil menghapus air matanya.
Yah Atiyah selalu menangis ketika menahan rindu dengan sang kekasih.

“Aktifkanlah hp kamu, banyak kabar yang belum kamu terima. Terutama keadaan suamimu saat ini,”
Ucap bunda saat baru saja selesai menerima telepon dari nomor yang tidak ia kenali dan ternyata dari Mia

“Apa pentingnya untuk Atiyah. Disana ada Mia yang akan mengurus Mas Aldi.”
Atiyah menjawab dengan perkataan yang berseberangan dengan kata hatinya. Karena ia baru saja menghapus air mata kerinduan yang menyerangnya setiap saat.

Mendengar jawaban seperti itu membuat Bunda memeluk anaknya dengan spontan

“Temuilah suamimu nak. Bagaimanapun bencimu kepada suamimu itu tidak baik. Ridho suamimu lah yang paling penting.temui lah nak”
Ucap bunda penuh harap

“Tidak akan bunda. Bunda percaya sajalah Mas Aldi pasti akan baik baik saja bersama Mia. Mereka akan bahagia. Percayalah bunda..”
Jawab Atiyah dengan punggung bergetar. Sesungguhnya sakit ia rasakan ini.

Bunda melepaskan pelukkannya kepalanya menggeleng pelan.

“Temuilah sayang suamimu lebih berhak atas dirimu. Bukan bunda. Cukup sudah waktu istirahat mu. Temui lah ”
Pinta bunda sekali lagi.

“Tidak bunda. Atiyah akan pergi dari rumah ini jika bunda tidak bisa menerima kehadiran Tiyah.!”
Ucap Atiyah dengan suara sedikit meninggi. Tangisnya kemudian pecah. Faqih berlarian memeluk Atiyah.
Mereka seperti keluarga yang sangat hancur.

📌📌📌

1 bulan sudah Aldi dirumah sakit tabungan Aldi sudah menipis. Kegiatan mengajarinya pun sudah selesai. Ia tidak bisa terus mengajar lagi keadaan kesehatannya benar benar telah menurun drastis
Dengan tangan bergetar Mia menghitung beberapa tabungan yang ia miliki yang ia rencanakan sebelumnya untuk biaya sekolah Aisyah.
Hatinya terus menangis melihat penderitaan suaminya yang semakin hari semakin kurus diam tidak bergerak. Tapi hembusan pelan napas itu ada dan membuat dirinya seperti diambang kehancuran.
Cinta ini benar benar menyiksa.

“Mama mama. Kapan ayah sadar?”
Tanya Aisyah membuyarkan lamunan Mia dirumah sakit.

Mia tersenyum menahan rasa sakit.
“Secepatnya. Aisyah bantu doa biar papa cepet sembuh. Mama yakin doa dari anak yang shalehah itu terkabul. Aisyah anak yang sholehah kan?”
Jawab Mia membelai rambut panjang Aisyah. Menguburnya dengan penuh kelembutan.

Aisyah mengangguk cepat.
“Aisyah selalu berdoa untuk papa ma. Selalu…”

Air mata Mia berlomba lomba saling mendorong melewati pipinya. Hatinya merasakan begitu pedihnya perasaan ini.

“Bangunlah mas. Sampai kapan mas harus begini?”
Tangis Mia memandangi wajah sang kekasih. Batinnya terus merasakan kesedihan ini.

📌📌📌

“Abiii….!”
Teriak Faqih malam itu.

Atiyah menyipitkan netranya ia heran melihat Faqih yang berteriak memanggil kata abi yang sudah jarang ia sebut beberapa minggu ini.

“Ada apa sayang?”
Tanya Atiyah memeluk Faqih yang baru saja bangun tidur.

“Abi mi. Abi datang menjemput kita. Mi.  Faqih kangen abi mi”
Kata kata kembali menusuk hati Atiyah. Sudah lama ia berusaha untuk melupakan suaminya. Meskipun cinta itu tertanam dalam di dasar hatinya  tapi Atiyah akan berusaha mencabutnya sekuat tenaganya.

“Abi sekarang lagi sibuk ia tidak disini..tidurlah kembali sayang”
Jawab Atiyah membujuk Faqih

Faqih menggelengkan kepalanya

“Faqih lihat dengan jelas mi. Abi datang mengajak kita pergi. Mungkin abi mau ngajak kita jalan jalan Mi,”
Jawab Faqih dengan semangat

“Tidak sayang. Faqih hanya bermimpi. Tidurlah sayang,”
Ucap Atiyah membelai kepala Faqih dengan lembut membuat Faqih nyaman dan kembali tertidur

Dibalik pintu bunda melihat semuanya. Melihat Faqih yang begitu merindui abinya membuat bunda semakin merasa bersalah telah ikut memisahkan antara dua orang suami istri.

Saat Faqih tertidur kembali. Bunda berlalu  ke dapur  sedangkan Atiyah melangkah pelan menuju ruang tengah ia akan melanjutkan kembali menonton acara televisi.

Bunda kemudian mendekat

“Temuilah suamimu nak”
Pinta bunda kali ini penuh harap

“Hanya mimpi bunda.”
Jawab Atiyah dengan pandangannya ke televisi

“Itu bisa menjadi sebuah isyarat,”
Kata bunda kemudian

Atiyah berhenti memandangi televisi setelah mendengar kata kata terakhir bunda nya.

“Maksud Bunda?”
Tanya Atiyah menyipitkan netra. Ia heran sangat heran sekali.

“Isyarat memanggil kalian”
Jawab bunda

“Kita bukan keluarganya bunda. Atiyah masih menunggu keputusan mas Aldi. Jika mas Aldi tidak mampu meninggalkan Mia. Maka Atiyah akan menggugat cerai ”
Jawab Atiyah mantap

“Bagaimana bisa ia akan melakukan sesuatu. Suamimu saat ini masih tidak sadar ”
Jawab bunda penuh keyakinan.

“Ia pandai bersandiwara bunda. Bunda harus percaya Atiyah.”
Jawab Atiyah tertawa dengan tawa palsunya.
Atiyah mirip seperti orang gila saat ini.

“Atiyah….”
Lirih bunda menyesali perkataan Atiyah.

“Mas Aldi pandai bersandiwara bunda. Mas Aldi sudah begitu lama membohongi Atiyah. Jadi Atiyah yakin mas Aldi sedang bersandiwara saat ini!”
Kata Atiyah dengan tangisnya yang mulai pecah.

“Berhentilah menduganya seperti Itu Atiyah. Semua tidak seperti yang kamu kira, mas mu Aldi sedang tidak sadar.,”
Ucap bunda memberikan pelukkan menghangatkan tubuh anaknya yang sedang terluka.

“Mas Aldi memang sudah lama tidak sadar bunda. Bahkan lama sekali Ia tidak sadar telah menyakiti hatiku bertahun tahun ia tidak sadar atas apa pun yang ia lakukan sama Tiyah. Ia sudah lama tidak sadar bunda.”
Teriak Atiyah dengan tangisnya semakin menjadi.

📌📌📌

Antara benci rindu dan cinta
sulit di temukan jika semua tertanam bersamaan di dalam hati

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here