The Thrill Of love #31

0
155
views

sebuah kafe kecil dengan suasana sederhana jadi pilihan dua orang yang saat ini sedang bertemu.
2 gelas jus apel di depan mata tampak belum di sentuh oleh mereka.

“Silahkan di minum dulu.”
Ucap pria yang bernama Zaid dengan rasa penuh keheranan.
Ini pertemuan yang sangat tiba tiba baginya

“Terima kasih mas. Tapi ku mohon tolong ceritakan semuanya tanpa disembunyikan.”
Pinta Atiyah dengan keadaan duduk lurus dan menggendong putri yang tertidur di pangkuannya.

“Cerita Apa?”
tanya Zaid ragu

“Cerita hubungan mas Aldi dengan Mia,”
Ungkap Atiyah dengan tegas

“Apa yang Tiyah tahu tentang Mia dan Aldi?
Tanya Zaid yang tidak lain tidak ingin terjebak kembali dengan sebuah permainan sahabatnya itu.

“Atiyah sudah tahu kalau hubungan mas Aldi dengan Mia adalah sepasang suami istri sama seperti Hubungan Atiyah dengan Mas Aldi”
Ucap Atiyah tegas

Zaid membungkam mulutnya. Untuk berkata terasa sulit baginya. Zaid berusaha tenang

“Ceritakan saja mas.”
Ungkap Tiyah dengan raut wajah yang menyakinkan. Seperti faham posisi Zaid saat ini

“Semua terjadi begitu saja Atiyah. Mas gak bisa menceritakannya soalnya mas bingung harus di mulai dari mana?”
Jawab Zaid dengan tatapan sendu.
Ia benar benar merasa kasihan dengan Atiyah saat ini. Tapi dimatanya Aldi lah yang harus disalahkan dari semua persoalan yang telah terjadi.
Dan Mia menurut Zaid Mia hanya wanita yang saat ini seperti korban baginya.
Korban cinta yang tidak mendapat kepastian.
Zaid tertunduk lesu sesaat. Mengingatnya membuat ia khawatir rasa Cintanya kepada Mia akan tumbuh kembali. Karena menceritakan semua masa lalu sama saja menceritakan kenangannya dan kebersamaanya dengan Mia.

“Mas bisa menceritakan saat awal mas Zaid kerumah kami dengan wanita bernama Mia dan anak kecil yang berusia 3 tahun”
Kata Aisyah mencoba bertanya.

“Yah seperti yang kamu lihat Tiyah kami tampak seperti sepasang suami istri,bukan?”
Tanya Zaid dengan tertawa kecil yang sangat kaku

Atiyah menyipitkan matanya. Ia kurang mengerti apa maksud dari perkataan Zaid.
Suasana hening seketika. Mereka larut dalam pikirannya masing masing

“Baiklah. Begini Tiyah. Kami seperti sepasang kekasih hmmm, begini kami seperti sepasang suami istri tapi bukan nyata melainkan sepasang kekasih khayalan. Yah begitulah sepertinya ungkapan yang pantas mas sebutkan ”
Cerita Zaid kemudian

“Sudah berapa lama itu terjadi.?”
Tanya Atiyah

“Maksudmu pernikahan suamimu?”

“Iya.”

“Suamimu sudah menikah saat saat menunggu kamu sedang menyelesaikan study mu”

“Jadi…..anak itu….”

“Anak itu yah anak Aldi,Atiyah. Anak mereka Aldi dan Helmia.”

“Berarti aku bukan istri pertama untuknya?”

Air mata Atiyah kembali lolos dengan cepat Atiyah menghapusnya.
Ia menahan tangisnya. Tubuhnya bergetar

“Helmia memang cinta pertamanya Aldi, Tiyah . Tapi ia tetap menjalankan pernikahan dengan kamu Tiyah karena amanat dari papanya. Ia sudah kehilangan ibunya. Baginya papanya adalah segalanya buatnya. Apapun ia lakukan untuk papa nya walaupun harus menikahi Tiyah”
Cerita Zaid dengan jelas.

“Ini menyakitkan mas..”
Ungkap Atiyah penuh sesak. Ia meremas bajunya dengan kuat.

“Aldi berusaha melabuhkan hatinya untuk Tiyah. Walaupun cinta itu tidak ada ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Alhamdulillah sepanjang kehidupan rumah tangga kalian Aldi justru semakin jatuh cinta kepadamu.Tiyah”
Cerita Zaid lagi

“Itu pasti bohong. Baiklah kalau begitu”

“Itu tidak bohong. Mas sudah mendengar dari mulutnya sendiri ia berusaha mempertahankan kalian berdua Karena ia benar benar mencintaikan kalian berdua.”
Ungkap Zaid

Atiyah tertawa mengejek dengan pelan
“Mencintai tidak bisa seperti itu mas itu bukan mencinta namanya tapinya mendua mas”
Kata Atiyah

“Mereka halal,Tiyah”
Jawab Zaid pendek

“Walaupun dia halal saya gak peduli! Ini tetap saja menyakitkan apapun itu ini sakit sekali rasanya!”
Teriak Atiyah dengan suara yang meninggi membuat putri sedikit bergerak

“Sabar. Putri mu sedang tertidur”
Ucap Zaid menenangkan Atiyah.

DRRRTTT……

getaran ponsel Zaid berbunyi

My love calling

“Sebentar… .”
Kata Zaid melirik Atiyah kemudian segera berlalu meninggalkan Atiyah sejenak
“Iya .. hallo assalamualaikum sayang?”

Atiyah mendesah di dalam hatinya. Kata sayang yang sempat ia dengar dari Zaid membuatnya muak dengan seorang berjenis kelamin laki laki.
Atiyah meminum jusnya sampai habis ia sangat haus siang ini sangat panas.
kemudian Atiyah beranjak dari tempat duduknya melenggang keluar tanpa pamit dengan Zaid setelah membayar 2 gelas jus yang minumnya dan Zaid.

📌📌📌

Flash back on

“Hallo assalamualaikum mas”

“Wa’alaikum salam”

“Masih ingat dengan Atiyah?”

“Ingat lah. Malah mas tahu ini nomor kamu yang menghubungi mas. Ada apa ya.?”

“Mas Zaid bisakah kita ketemuan sebentar saja. Ada yang ingin Atiyah tanyakan dari mas Zaid”

“Yah boleh saja saat ini mas sedang di jalan mau pulang.Kita mau ketemuan dimana?”

“Tiyah gak terlalu faham menurut mas sebaiknya kita ketemuan dimana? Nanti Tiyah pesan taksi online aja. Mas sebutkan nama tempatnya. Kalau bisa kafe aja yang adem. Tiyah mengajak putri.”

Hati Zaid tiba tiba merasa tidak enak. Ada apa Ini?
Kenapa tiba tiba Atiyah ingin bertemunya dengan mendadak. Mengajak putri pula?
Kemana suaminya?

“Mas…”

“Heh..Iya. tar mas hubungi lagi”

“Diyah gak bisa lama lama. Please,”

“Hmm..Baiklah kafe Filmore Coffee

“Ok kalau begitu. Mas Zaid bisa catat namanya di chat ya, Tiyah tunggu”

Zaid menganggukkan kepalanya kemudian mengakhiri percakapan via telepon dengan istri sahabatnya itu.
Hatinya ragu ketika mengetik nama kafe yang ia maksud ke nomor Atiyah. Tapi ia harus melakukannya.
Mungkin Atiyah perlu bantuan dirinya pikirnya saat itu.

Flashback off

📌📌📌

Zaid melangkahkan kakinya ke arah meja tempat ia memesan dengan Atiyah.
Tapi ia terkejut karena Atiyah sudah tidak ada lagi di tempat itu.
Membuat Zaid khawatir.
Padahal baru saja ia mendengar mendapat kabar dari istrinya bahwa istri Zaid mempunyai kejutan buat Zaid.
Tapi Zaid berat melangkahkan kakinya untuk pulang.
Ia tiba tiba memikirkan Atiyah. Zaid merasa kasihan Atiyah mengendong anak bayi. Itu pasti membuatnya susah. Hari ini cuaca sangat panas.
Apa yang telah terjadi?
Zaid melangkah kearah motornya. Kemudian memacu kendaraannya dengan pelan dengan netranya mencari cari bayangan Atiyah.
Ia takut terjadi sesuatu kepada Atiyah.
Hasilnya nihil.

“Arrgghh… ! Padahal baru saja aku tinggal. Apa sebaiknya aku telepon saja semoga dia baik baik saja”
Ungkap Zaid menghentikan motor matic nya dan mengeluarkan ponselnya menekan nomor Atiyah.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam.mas”

“Atiyah kamu dimana?”

“Atiyah baru saja mendapatkan taksi mas.ini sudah dalam perjalanan pulang.”

“Pembicaraan kita belum selesai. Kenapa kamu pulang cepat tanpa menghubungi Mas?”

“Emang mas Zaid siapa nya Atiyah?”
Tanya Atiyah dengan geram
Zaid menelan air salivanya sendiri baginya ini terlalu malu buat dirasakan.

“Ok kalau begitu apapun masalah Atiyah didalam keluarga Atiyah. Percayalah Aldi sangat mencintai Atiyah.”

“Yah. Terima kasih”

“Ya udah hati hati dijalan ”

“Terima kasih. Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

Percakapan Atiyah dan Zaid terhenti. Atiyah kembali melamun sepanjang perjalanannya. Putri sudah bangun ia mengambil apron didalam tas kecilnya. Dan mulai menyusui bayinya dengan santai.
Itulah alasannya tidak meninggalkan Putri dengan Lili. Atiyah sangat ingin anaknya asi eksklusif.
Jadi apapun itu Atiyah mengusahakan putri selalu bersamanya.

1 jam perjalanan Atiyah telah sampai diperkarangan rumah bunda.
Ternyata perjalanan yang sangat jauh pikirnya dan ada beberapa tempat yang macet membuatnya sampai lebih lama di rumah bunda.
Atiyah melangkah keluar dari taksi setelah membayar tarif argo yang sesuai dan kesepakatan.

“Seperti tidak ada orang dirumah?”
Pikir Atiyah tanpa rasa bersalah.
Tiba tiba saja tubuhnya merasa lelah sekali. Ia mencoba membuka pintu rumah bunda.

“Alhamdulillah tidak terkunci”
Ucap Atiyah dengan bahagia.

Atiyah melenggang masuk rumah bunda dan mengunci rumah dari dalam. Ia melangkah masuk kedalam kamarnya setelah meletakkan putri yang telah tertidur terlebih dahulu.
Kemudian Atiyah segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan tergesa gesa takut putri keburu bangun.
Setelah beres semuanya. Atiyah berusaha melupakan sejenak pertemuannya dengan Zaid.

“Aku harus santai menghadapi semuanya.Ada putri disampingku bagaimana pun itu Aku tidak boleh stres.Mungkin aku perlu istirahat sebentar”
Pikir Atiyah menenangkan hati dan perasaanya,Atiyah ikut larut tertidur di samping putri kecilnya.

📌📌📌

Sementara itu di mobil Aldi masih sibuk mencari Atiyah di pinggiran jalan berharap menemukan Atiyah.

“Sudah 1 jam kita mencarinya.”
Kata Aldi pasrah

“Kamu akan berhenti mencarinya?”
Tanya bunda dengan menatap tajam kearah menantunya itu.

Aldi tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam.

“Jika kamu capek. Hentikan saja mobilnya bu da akan cari taksi lain bersama Lili.”
Jawab bunda dengan ketus

Aldi menggelengkan kepalanya
“Bukan begitu bunda ”
Jawab Aldi dengan desahan napasnya yang pelan.

“Apa maksud kamu sekarang?”
Tanya bunda dengan meninggi.

“Kita istirahat dulu sebentar. Itu ada kafe kecil. Kita kesana dulu. Kita coba menghubungi Atiyah Mungkin?”
Tanya Aldi memberi usul segar kepada mertuanya yang sudah mulai emosi.
Ia menatap sebuah kafe yang bernama
Filmore Coffee

“Baik,kalau begitu”
jawab Bunda dengan serius

Aldi ingin masuk ke kawasan kafe itu tanpa sengaja ia melihat Zaid.
Untuk memanggilnya terlalu cepat buat Aldi.
Secepat kilat Zaid hilang di depan pandangannya.
Aldi segera memarkirkan mobilnya.

Aldi merogoh kantong celananya mengambil sebuah ponsel. Dan mencoba menghubungi sahabatnya Zaid.

“Hallo” sapa Aldi cepat saat panggilannya baru saj tersambung

“Ya,di? Maaf,Aku lagi didalam perjalanan,”
Jawab Zaid dengan suaranya yang keras karena tercampur suara bising dijalan raya.

“Iya aku tahu. Bisakah kamu berbalik sebentar. Aku sekarang di Filmore Coffee kamu baru saja melewatinya.”
Pinta Aldi dengan cepat tanpa basa basi.

Zaid tertegun mendengar pembicaraan Aldi. Ia merasa takut terjadi sesuatu.

“Yah. Aku segera kesana lagi” jawab Zaid setelah memikirkannya sesaat

“Oke terima kasih.”
Kata Aldi lalu mengakhiri panggilan teleponnya.

Setelah pembicaraan dengan Zaid terhenti Aldi mengajak mertua dan pembantunya untuk masuk kedalam kafe tersebut.
Aldi memesan beberapa minuman. Sembari menunggu kedatangan Zaid.

“Untuk siapa minuman Ini?”
Tanya Bunda heran mengerutkan keningnya.

“Untuk Zaid bunda, ia akan segera kemari. Kita akan coba meminta bantuannya juga siapa tahu Zaid bisa membantu.
Ucap Aldi dan tanpa jawaban dari bunda. Bunda hanya mengangguk kecil

Beberapa saat kemudian Zaid masuk kedalam kafe tersebut.
Aldi melambaikan tangannya.
Zaid segera mendekati kearah meja mereka. Dimana di sana telah berkumpul Bunda Aldi anak anak dan lili.

Perasaan Zaid mulai gugup.

“Assalamu’alaikum. Apa kabar di?”
Sapa Zaid merangkul Aldi.

“Alhamdulillah. Baik .ayo silahkan duduk bergabung. Aku sudah pesan minuman buat kamu”
Kata Aldi dengan santai.

Setelah beberapa saat Zaid mendengar cerita Atiyah yang kabur. Zaid baru mengerti dari pertemuannya dengan Atiyah yang baru saja berakhir.

“Aku baru saja bertemu dengannya”
Kata Zaid diakhir cerita Aldi

“Benarkah?”
Tanya Bunda tidak yakin

“Dimana di? Apa yang kamu lakukan bertemu dengan istri ku?”
Tanya Aldi dengan heran sekaligus mulai emosi. Karena prasangka buruknya sudah bermacam macam

“Disini. Di kafe ini lah kami bertemu sesaat. Filmore Coffee”
Jawab Zaid mantap

“Apa yang kamu lakukan dengan istriku. Tidak puas kamu kacaukan hidupku dengan Mia dahulu? Kini, sekarang. . ”
Bentak Aldi kemudian terputus karena menyadari ada Bunda yang dari tadi selalu memperhatikannya.

Bunda dan Lili terdiam ia berdua tidak terlalu mengerti persoalan dua pria Di hadapannya ini.

“Jangan lagi kamu salah faham.”
Ucap Zaid merasa bersalah telah bertemu istri dari sahabatnya sendiri dan tanpa sepengetahuan sahabatnya,Aldi.

“Terus…Apa mau kamu!”
Kata Aldi dengan cepat dan mengeraskan suaranya

“Atiyah meminta kepastian kepadaku bagaimana hubungan mu dengan Mia. Hanya itu,Lagipula yang mengajak bertemu bukanlah diriku melainkan Atiyah.”
Jawab Zaid membela diri.

Aldi menganggukkan kepalanya netranya kini menatap bunda dengan wajah serius.

“Kalau begitu dimana Atiyah sekarang?”
Tanya bunda kemudian masih belum yakin

“Terakhir saya dengar darinya akan pulang katanya. Tapi saya tidak tahu akan pulang kemana”
Kata Zaid kemudian. Zaid sendiri sedang bingung

“Bukankah kamu bersamanya. Mengapa kamu tidak tahu banyak dengannya!”
Kata kata bunda juga merasa Zaid bohong dan suara bunda meninggi dengan tatapan seperti ingin menyudutkan Zaid

“Memang saya sedang bersamanya. Kemudian istri saya menelpon. Saya meninggalkannya sejenak. Hanya beberapa menit kemudian saat saya kembali Atiyah sudah tidak ada. Dan saya sudah menghubunginya. Atiyah bilang dia sudah di dalam taksi”
Cerita Zaid dengan lengkap tanpa ia kurangi. Lelah ia sudah mengikuti semua permainan Aldi. Dan Zaid takkan masuk lagi kedalam permainan ini.

“Menelpon? Kenapa saat kami menelpon tidak aktif?”
Tanya Aldi heran menatap Zaid dengan tajam

“Benarkah. Kapan kamu menelponnya.?”
Tanya Zaid heran mencoba tenang

“Beberapa sering sekali sebelum menuju kesini”
Cerita Aldi dengan rasa penasaran

“Saya tidak tahu di. Benar di saya gak bohong. Saya tidak tahu akan hal itu”
Kata Zaid kemudian melembut. Karena Zaid tahu Aldi pria yang keras dulu.

“Baiklah jika saya kembali dan menemukan cerita berbeda dari Atiyah. Saya tidak akan pernah memaafkanmu dan saya akan kembali menemui kamu!”
Ucap Aldi tegas kepada zaid

Zaid kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Silahkan”
Jawab Zaid segera berdiri karena merasa benar dan tidak berbohong

“Terima kasih atas informasinya.”
Ucap bunda dengan tulus kepada Zaid setelah mendengar cerita Zaid

“Sama sama Bunda.”
Balas Zaid dengan menundukkan kepalanya sedikit tanda menghormatinya

“Maaf saya ada perlu saya harus pamit. Istri saya telah menunggu.”
Pamit Zaid kemudian segera melangkah keluar dari kafe tersebut setelah salam dengan keluarga sahabatnya,Aldi.

📌📌📌

“Kalau begitu. Mari kita pulang. Mungkin Atiyah sedang dalam perjalanan”
Kata Aldi dengan terburu buru.

“Mudah mudahan Atiyah dan Putri ada dirumah setelah kita pulang nanti”
Jawab bunda

“Insyaallah. Yakin aja bunda. Doa dari seorang ibu tidak pernah meleset”
Kata Aldi seperti menghibur bunda

Mereka kemudian melenggang keluar dari kafe tersebut setelah Aldi selesai membayar beberapa pesanan yang ia nikmati.

📌📌📌

1 jam berlalu. Mereka telah sampai dirumah.

“Pintunya terkunci dari dalam,di”
Kata Bunda setelah memastikan pintu benar benar terkunci atau sekedar macet
Tapi benar pintu dalam keadaan terkunci

“Lili coba kamu periksa pintu belakang,”
Saran bunda.

“Baik bu”
Sahut Lili segera ke belakang setelah memberikan Faqih kepada Aldi.

Beberapa saat kemudian.

“Masuk dari belakang aja bu. Pintu belakang tidak terkunci ”
Jawab Lili

“Baik.”
Jawab bunda

Bunda Aldi Lili dan Faqih melangkah ke belakang menuju pintu dan masuk kedalam rumah.

“Lili bersihkan dapur siapkan teh hangat dan susu buat Faqih”
Saran bunda kepada Lili.
Lili menganggukkan kepalanya kemudian ia bergegas ke dapur menjalankan perintah bunda.

Bunda melangkahkan kakinya ke kamar Atiyah berharap ada sosok anaknya tercinta.

“Alhamdulillah…teman mu benar,di”
Ucap Bunda dengan perasaan bahagia menatap Aldi.

Aldi pun begitu hatinya berdesir halus. Ia melangkah ingin mendekati istrinya. Separuh jiwanya yang hilang.
Tapi bunda melarangnya dengan isyarat.

Aldi mengangguk pelan. Rindu itu tertahan untuk sekian kali.
Di dekapnya Faqih yang berbaring di ruang tengah menikmati siaran kartun televisi.
Faqih tidak banyak berbicara sekarang.
Tidak seperti dahulu lagi pikirnya.

“Kebahagiaan itu seperti hilang termakan waktu”
Lirih Aldi dengan memeluk Faqih dengan erat.

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here