The Thrill Of love #30

0
157
views

“Assalamu’alaikum”
Salam Aldi saat sudah sampai di depan rumah bunda.
Ibu mertuanya.

“Wa’alaikumsalam”
Jawab bunda dan membukakan pintu tamu nya.

Bunda terkejut ada rasa benci juga sempat terlintas di dalam hatinya. Tapi mencoba ia menghapusnya.
Untuk apa?

Ia tidak boleh ikut larut dalam perasaan anaknya. Meskipun bunda merasa tersakiti juga sama halnya dengan perasaan anaknya tercinta. Mereka satu hati. Ketika hati Atiyah sakit begitu pula berarti Aldi telah menyakiti bunda.

“Bunda…”
Teriak Aldi pelan mengambil tangan mertuanya untuk diciumnya memohon maaf telah menyakiti Atiyah anak semata wayangnya.

Hati bunda tertegun melihat sikap Aldi. Setetes air mata Aldi di lihatnya cukup sebagai bukti bahwa ia menjalankan semua perintah tentang pernikahanya sesuai syariat dengan baik.
Bunda menganggukkan kepalanya mengusap kepala Aldi menantunya yang begitu lama mencium punggung tangan bunda
Air matanya pun lolos dengan cepat tanpa sempat bunda menahannya.

“Masuklah.”
Jawab bunda dengan suara yang tertahan.

Aldi mengangkat wajahnya. Ia kemudian duduk bersimpuh dihadapan mertuanya.

“Berdirilah. Masuk,Kita selesaikan didalam”
Jawab Bunda dengan lembut.

Aldi menganggukkan kepalanya ia berdiri kemudian mengekor Bunda nya masuk kedalam rumah itu.

“Silahkan duduk. Bunda ambil air minum dulu.”
Kata bunda dengan pelan.

Aldi mengangguk kecil tanpa menjawab apapun sungguh ia bingung apa yang harus ia lakukan disini setelah meminta maaf kepada Atiyah secara langsung.

Netranya menelusuri tiap tiap sudut rumah bunda dan sepanjang pandangan netranya terus mencari cari
Berharap menemukan separuh jiwanya yang telah pergi.

Nihil
Tidak ada tanda tanda kalau Atiyah ada disini.
Tidak lama kemudian bunda datang menghampiri membawa segelas air putih yang dingin.

“Hari ini cuaca sangat panas kamu sangat haus kan? silahkan diminum?”
Tawar bunda dengan ramah setelah menghapus sisa sisa air matanya.
Aldi tertegun menatap mertuanya yang sangat baik menurutnya. Terbesit rasa malu telah membawa diri yang sangat menyakiti hati anaknya

“Terima kasih bunda”
Jawab Aldi meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit sedikit.
Memang benar kata bunda hari ini cuaca sangat panas. Bahkan ia sangat kehausan ia belum sempat minum dan makan apapun sepulang mengajar tadi ia langsung meluncur kesini.
Kerumah Bunda,lebih tepatnya ibu mertuanya.

“Kamu baru pulang mengajar?”
Tanya bunda membuka pembicaraan setelah melihat pakaian Aldi.

“Iya bunda.”
Jawab Aldi singkat

“Kalian ada masalah? Masalah Mia dan Atiyah?”
Tanya bunda dengan to the point

Aldi terkejut tiba tiba saja ia sulit untuk menelan air salivanya sendiri.
Apa yang telah terjadi
Apakah Atiyah telah menceritakan semuanya?
Apakah bunda telah mengetahui banyak tentang semuanya?
Apakah bunda sama halnya dengan Atiyah yaitu sakit Hati atas kebohonganku?
Apakah aku sudah jelek dimata Bunda?
Apakah aku bukan menantu yang baik untuk anaknya?
Pikiran Aldi berkecamuk dengan banyak pertanyaan tanpa mampu ia ucapkan.

Bunda menghela napasnya. Kemudian ia tersenyum mencoba menguatkan.
“Bunda sudah tahu meski kamu tidak mau menceritakannya?”
Jawab Bunda berusaha tenang

“Tapi…jika kamu mau bercerita sesuatu hal sesuai posisi yang saat ini kamu bisa ceritakan sama Bunda. Karena bunda yakin cerita kalian adalah sama.”

Sambung bunda mencoba tegar meski hatinya ingin sekali membenci menantu yang telah menyakiti hati anaknya.
Tapi sekali lagi bunda berusaha menguasai pikirannya dengan sehat tanpa melihat siapa yang dihadapinya sekarang.

“Bunda..”
Lirih Aldi pelan tanpa tahu harus memulainya dari mana

“Atiyah sudah tahu dengan pernikahan kamu dan Mia”
Jawab bunda

Aldi menganggukkan kepalanya pelan
“Bantu aku bunda. Aku mencintai Atiyah,”
Jawab Aldi dengan memohon

“Apa langkah kamu selanjutnya setelah Atiyah mengetahui semuanya?”
Tanya bunda dengan penasaran.

“Aldi tidak tahu bunda. Aldi kesini ingin mengajaknya kembali kerumah.”
Jawab Aldi penuh dengan kesedihan.
“Aldi sayang Atiyah,bunda. Aldi mencintainya”
Sambung Aldi Kemudian dengan tetesan air matanya

“Bagaimana dengan Mia?”
Tanya bunda dengan tatapan yang serius

“Aldi hanya mau meminta maaf kepada Atiyah. Dan Aldi juga mau bertanya dan meminta sesuatu dari Atiyah tolong izinkan Aldi berpoligami. Itu saja bunda.”
Jawab Aldi dengan mengesampingkan rasa malunya.

Bunda menganggukkan kepalanya.
Bunda memejam kan netranya berharap ketenangan Setetes air matanya keluar kembali setelah ia mampu menghapusnya tadi.

“Bunda?”
Kata Aldi lembut

Bunda membuka netranya kembali. Di liatnya netra Aldi bunda yakin Aldi begitu bisa dipercaya.

“Apakah bunda keberatan dengan keputusan Aldi? Bunda kecewa dengan Aldi? Maafkan Aldi bunda. Maafkan Aldi”
Kata Aldi kemudian memegang tangan bunda nya.
Bunda mencoba tersenyum menatap Aldi suami dari anaknya itu.
Ini sangat menyakitkan untuknya begitu pula Atiyah
Tapi ia tidak berhak mengharamkan poligami ini
Ia yakin ini keputusan yang sangat berat buat anaknya Atiyah.

“Dimana Atiyah Bunda? Izinkan Aldi bertemu dengannya,”
Kata Aldi memutuskan lamunan sesaat bunda.

“Atiyah keluar bersama anak anak ditaman tadi ia di temani Lili tetangga sebelah.
Beberapa hari ini bunda meminta jasa pembantu untuk Atiyah ia harus bisa banyak istirahat karena ia baru saja selesai menjalankan masa masa melahirkan.
Kebetulan tetangga sebelah meminta Lili pembantu kepercayaannya untuk mengurus dan membantu Atiyah.
Karena ia akan pindah rumah sedangkan ia kasihan sama Lili yang akan menjadi pengangguran.”

“Apakah bisa dipercaya Bunda?”
Tanya Aldi kurang menyakinkan.
Ia takut banyak cerita diluar sana betapa banyaknya pembantu yang sering asal asalan dalam mengurus anak dan rumah.
Setidaknya dalam pikiran Aldi ia tidak mau kehilangan. Kehilangan anak dan istrinya hanya karena salah pilih pembantu rumah tangga.

“Insyaallah bisa percaya. Kamu harus percaya sebagaimana Atiyah percaya padamu selama ini.”
Ucap bunda yang sangat menyentuh jiwa dan hati nya.
Ini seperti perkataan balas dendam
Tapi bunda kemudian tersenyum menatap Aldi.
Aldi mencoba bertahan dan menahan segalanya
Karena benar ini semua adalah salahnya.
Atiyah percaya padanya melebihi apapun itu.

“Bunda mau sholat dulu sebentar. Apa kamu mau menunggunya di?”
Tanya bunda beranjak dari tempat duduknya.
Aldi berdiri dari tempat duduknya.
“Aldi udah sholat tadi setelah mengajar bunda. Aldi tunggu di depan saja”
Jawab Aldi menghapus sisa sisa air matanya
Bunda melenggang pergi meninggalkan Aldi setelah memberikan anggukkan kepalanya dan sekilas senyuman.

10 menit berlalu Aldi masih disini di depan rumah bunda. Ia tidak melihat tanda tanda Atiyah akan kembali.

“Hari sudah siang hampir mendekati pukul 2 Apa yang telah ia lakukan jam segini. Hari ini cuaca sangat panas. Bagaimana keadaan faqih? bagaimana keadaan putri?”
Lirih Aldi didalam hatinya
Banyak pertanyaan berputar putar dalam pikirannya.
Membuat kepalanya sedikit oleng kemudian ia tahan dan mencoba duduk menenangkan hatinya.
Setelah tenang Aldi mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Mia untuk meminta pendapat selanjutnya.

“[Sayang,lagi sibuk?]”

“[Iya baru selesai beres beres. Nanti setelah ashar lanjut bikin brownies lagi.ini lagi nyantai. Mas sendiri Bagaimana?]”

“[Alhamdulillah. Istirahatlah sayang maaf jika mas menganggu.]”

Chat Aldi terhenti tiba tiba Aldi merasa ia terlalu banyak merepotkan Mia. Mia sudah terlalu banyak ia repot kan dengan sakitnya dengan masalahnya. Dan Aldi sendiri belum mampu berbuat banyak untuk Mia hanya mampu memberikan cinta ia punya.
Adilkah ini?

“[Gpp sekalian istirahat chatingan sama suami sendiri]”
Chat Mia kemudian.

Aldi tidak membalas chat dari Mia hatinya merasa banyak salah dan hutang budi.

“[Mas lagi sibuk?Mas lagi dimana?]”
Tanya Mia kembali

Aldi mengetik sesuatu membalas pertanyaan istrinya.

“[Mas dirumah atiyah]”
Balas Aldi dengan singkat

Hening seketika
Aldi merasakan Mia merasakan sakit hati sama halnya ketika Atiyah mengetahui bahwa Mia adalah istri Aldi juga.
Tapi Aldi tahu Mia orangnya kuat ia yakin Mia bisa bertahan atas nama cinta.

Aldi kemudian menyimpan ponselnya kembali setelah tadi berniat ingin meminta pendapat Mia ia kemudian mengurungkan kembali niatnya.
Aldi melangkah kedepan ia keluar dari rumah bunda nya menaiki mobilnya mencoba mencari Atiyah di taman.
tiba saja hati kecilnya berkata ada sesuatu yang buruk terjadi.

10 menit kemudian Aldi sudah ditaman. Ia mencari Atiyah tapi nihil. Tidak ada tampak orang disana sedang bersantai. Hari ini udah siang. Tentu orang lebih memilih santai dirumah ketimbang santai di taman.
Aldi kemudian melangkah kembali menuju mobilnya. Baru saja ia duduk ia seperti melihat seorang wanita muda sedang menggandeng anak kecil

“Faqih?”
Lirihnya pelan meyipitkan netranya berusaha menyakinkan dengan jelas dengan apa yang ia lihat.

Aldi keluar dari mobilnya ia melangkah tergesa gesa menuju wanita muda itu.

“Hey!!”
Teriak Aldi dengan keras

Wanita muda itu seperti ketakutan

“Hey..!!”
Teriak Aldi kembali berharap wanita muda itu berhenti dari perjalanannya.

Tapi ternyata wanita muda itu takut bukan kepalang keringatnya keluar dengan banyak. Tanpa aba aba ia langsung saja menggendong Faqih dan membawanya lari menghilang dari pandangan Aldi.

“Hey….berhenti!”
Teriak Aldi.
Wanita itu berlari dan terus berlari tanpa mendengarkan teriakkan Aldi.

Aldi terus mengejarnya. Tapi tampak dari jauh wanita itu menaiki motornya kemudian menghilang dari pandangan matanya.

“Faqihhh!!!”
Teriak Aldi dengan keras berharap putranya mendengar suaranya.

Mereka telah hilang dari pandangan Aldi.

“Apa yang telah terjadi yaa Allah..”
Lirih Aldi bersimpuh dijalan disiang hari

Aldi melangkah gontai menuju parkiran mobilnya kembali. Ia duduk dan mencoba mengatur napasnya. Hatinya menjadi gelisah.

Tanpa membuang waktu Aldi langsung menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan menuju rumah bunda.
Ia ingin protes pada ibundanya bahwa Atiyah sedang Tidak aman bersama Lili pembantu baru yang diceritakan bundanya tadi siang

Dengan langkah tergesa gesa ia memasuki rumah bunda.
Ia terkejut melihat wanita dirumah bunda. Wanita yang telah membawa lari Faqih dari hadapannya tadi di taman sekarang berada dirumah bunda dan begitu pula sebaliknya wanita itu ia seperti tampak ketakutan dan sangat terkejut.

“Apa yang terjadi di. Kamu kenapa?”
Tanya Bunda heran melihat wajah Aldi yang tiba tiba saja menjadi berang menatap wanita muda itu.

“Wanita ini telah mencelakakan anak saya. Iya kan?!”
Bentak Aldi mencoba mendorong bahu wanita muda yang bernama Lili itu.

“Aldi!! Stop. Dia Lili bukan orang yang mencelakakan Atiyah dan anakmu.Atiyah hilang.”
Teriak Bunda

Aldi terdiam

“Dia baru saja menceritakan Atiyah hilang dari hadapannya di taman. Atiyah menitipkan Faqih dengannya dengan alasan ada sesuatu yang harus dibelinya bersama putri. Dan selama 30 menit Lili menunggu Atiyah tidak kembali.”
Cerita bunda.

“Lanjutkan ceritanya Lili. Mudah mudahan kita bisa memikirkan jalan selanjutnya ”
Kata bunda serius meski hatinya sedang kacau.

“Aku tidak berani pulang bu. Aku takut pulang tanpa Atiyah dan Putri disampingku. Setelah aku berjalan hampir 10 menit laki laki ini berteriak memanggil sesuatu, aku takut terjadi apa apa dengan Faqih cukup sudah Atiyah dan Putri menghilang. Aku tidak ingin Faqih juga menghilang karena laki laki ini.”
Cerita Lili dengan tangisnya.

“Aku abi nya. Ayo faqih kembali sama Abi”
Ucap Aldi membujuk Faqih memeluknya.

Suasana saat itu menjadi tegang.
Air mata bunda pun kembali terulang tanpa ia mampu untuk menahannya.

Bunda kehilangan anaknya sekaligus cucunya

“Bunda yakin Atiyah anak yang baik dan bunda yakin Atiyah akan baik baik saja.. Ayo Aldi bantu bunda mencarinya.”
Kata bunda dengan lemas.

“Tidak usah bunda dirumah saja. Kesehatan bunda seperti menurun bunda terlalu kecapekkan.biar Aldi saja.”
Tawar Aldi dengan lembut

“Kamu! Kamu tidak bisa menjaga anak ku. Bahkan menodai hatinya dengan banyak kebohongan!bagaimana aku bisa percaya denganmu!”
Teriak Bunda dengan deraian air mata
Kali ini emosi bunda keluar dengan sendirinya.
Padahal bunda sudah berusaha menahannya untuk tidak ikut mengalir di suasana hati anaknya.
Tapi kali ini bunda tidak mampu menahannya lagi
Aldi terdiam. Ia benar benar malu dengan dirinya sendiri.
Ternyata mertuanya belum terlalu bisa menerima dengan keadaanya.

“Baiklah bagaimana cara Aldi agar semua baik baik saja. Aldi akan lakukan apapun itu,bunda?”
Tanya Aldi mencoba bijak saat ini

Lili terdiam dengan wajahnya yang tertunduk. Ia takut . Ia takut sekali. Ini baru beberapa hari ia bekerja di keluarga bunda. Ia tidak menginginkan sesuatu hal yang buruk terjadi.
Semua terjadi secara tiba tiba saja.

“Maafkan bunda. Ayo kita cari Atiyah sekarang. Dan kamu Lili ayo ikut tolong gendong Faqih.”
Kata bunda mencoba menetralkan perasaannya kembali.
Lili menganggukkan kepalanya dengan rasa takut. Ia takut disalahkan atas semua ini.

Mereka kemudian masuk kedalam mobil milik Aldi menelusuri tiap jalan taman dan keluar komplek perumahan bunda mencari Atiyah yang menghilang.

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here