The Thrill Of love #29

0
428
views

Wanita itu tergesa gesa melangkahkan kakinya kerumah orang tuanya.
Dengan kondisi lemah ia masih bisa sanggup memimpin 1 bocah laki laki di tangan kirinya dan tangan kanannya menggendong bayi perempuan yang cantik.

“Assalamu’alaikum bunda…”
Salam wanita itu bernama Atiyah.

Bunda menyambutnya dengan heran dan kesedihan. Setelah memeluk dan menatap anak kesayangan itu Ia yakin sekarang rahasia Aldi menantunya itu sudah terbongkar dengan sendirinya.

“Apa kabar nak? Kenapa sendirian? Kemana suamimu?”
Tanya bunda dengan hati hati meski ia bisa menebak sekarang hubungan anaknya dengan suaminya sedang tidak baik. Ada masalah.

“Duh bunda. Atiyah capek. Mas Aldi juga seperti sibuk. Atiyah masuk dulu ya.”
Jawab Atiyah pelan dan halus dengan raut wajah yang tidak bahagia.

Bunda hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya dengan pelan dan senyum kecilnya yang tulus.

“Sini putri biar bunda yang gendong. Bunda rindu”
Tawar bunda melirik putri dan Faqih.

“Ayo faqih sama oma dulu ya.bunda mau mandi dulu”
Kata Atiyah segera berlalu masuk kedalam rumah menuju kamarnya untuk menenangkan dirinya.

Bunda menghela napasnya.
“Atiyah masih berupaya tegar.semoga ia kuat menghadapi semuanya”
Lirih bunda kemudian segera mengajak cucunya bermain.

📌📌📌

Sementara itu dirumah Aldi tampak ada seorang menggeser pagar rumahnya. seorang wanita masuk dengan seorang anak SD

“Assalamualaikum..”
Kata Wanita itu yang bernama Mia mengucapkan salam ketika sudah di depan pintu rumah Aldi Atiyah.
Jantungnya berdebar kencang tidak menentu. Hatinya menahan rindu sekaligus ketakutan. Ia takut suaminya marah. Hanya itu saja.

“Wa’alaikumsalam”
Jawab Aldi kemudian membukakan pintu.

“Maaf Mas. Mia akhir akhir ini benar benar sibuk”
Kata Mia memulai pembicaraan.

“Yah. Duduklah..”
Jawab Aldi terkesan cuek. Padahal sekarang ia sedang berhadapan dengan wanita yang selalu ia puja puja. Yang sangat ia cintai.

“Sekali lagi Mia minta maaf mas. Jangan marah sama Mia mas. ”
Jawab Mia dengan air mata memohon maaf dari suaminya. Tangannya mengulurkan kedepan suaminya untuk bersalaman.

Aisyah pun heran.

“Mama salah apa? Harusnya papa yang meminta maaf sama mama!”
Jawab Aisyah berontak melihat apa yang telah ia lihat di hadapannya. Ia tidak menyukai keadaan seperti ini. Baginya Aldi papanya salah telah meninggalkan mereka dengan lama.

Aldi terdiam menatap netra putrinya dengan tulus. Ia bersimpuh memeluk anak nya.

“Maafin Papa nak. Maafin papa”
Jawab Aldi memeluk erat Aisyah dengan air mata. Seketika ia sadar dengan siapa ia sedang berbicara.

Mia menghapus air matanya.
Ada rasa haru di hatinya.cintanya semakin menjadi melihat dua orang yang sedang berpelukan dihadapannya

“Mas Aldi tidak boleh banyak pikiran. Ayolah mas.”
Kata Mia membantu Aldi suaminya berdiri

Aldi berdiri semampunya kemudian memeluk Mia dengan erat sebagaimana ia memeluk putrinya Aisyah tadi.

“Kita diluar mas. Nanti orang melihat.”
Jawab Mia masih takut dan ragu mencoba melepaskan pelukkan suaminya itu.

“Biarkan Mia. Biarkan mereka semua tahu. Bahwa kamu adalah istriku juga sama seperti Atiyah!”
Jawab Aldi dengan tegas. Ia mencoba mengeluarkan segala emosi dan beban di pikirannya.
Air mata Mia kembali keluar menahan rasa bahagia yang sangat luar biasa.
Inilah yang ia tunggu. Kalimat yang sangat ia senangi.

Biarkan Mia. Biarkan mereka semua tahu. Bahwa kamu adalah istriku juga sama seperti Atiyah!

Kalimat terakhir suaminya itu terus berputar berulang ulang kali di pikirannya.
Rasa bahagia bersemayam di hatinya.

“Mia…kamu masih mendengar Mas?”
Tanya Aldi melepas pelukkannya setelah ia bertanya sesuatu dan tidak direspon Mia sama sekali.

“Mm..Maaf Mas. Mas tanya Apa?”
Tanya Mia ragu khawatir suaminya marah.

“Ayo masuklah kita berbicara didalam. Ayo Aisyah.”
Ajak Aldi dengan wanita di hadapannya.

Mia duduk di ruang tengah Aldi yang terkesan lebih mewah dengan apa yang ia miliki.
Tapi bagaimanapun ia takkan pernah iri hati kepada Atiyah.

“Setidaknya aku tulus mencintainya mas Aldi suamiku”
Lirih Mia didalam hatinya mencoba memahami keadaan.

“Mia. Kamu sudah baca kan chat Mas?”
Tanya Aldi kemudian.

“Hmmm..sudah Mas..hmm. bentar. Aisyah?”
Tanya Mia melirik putrinya Aisyah.

“Ya ma?”
Jawab Aisyah penuh tanda tanya.

“Aisyah mau kedepan? Melihat lihat tanaman bunda Atiyah? Cantik cantik loh. Tapi jangan keluar dari pagar.,”
Tawar Mia dan di jawab anggukan kepala dari Aldi.

“Atau ke kamar Faqih ajah. Banyak mainan disitu”
Tawar Aldi kemudian

Aisyah beranjak dari tempat duduknya.

“Aisyah ke kamar aja ya pa. Mau main.”
Jawab Aisyah antusias.

Mia dan aldi mengangguk tanda setuju.
Dilihatnya Aisyah berlalu dari tempat duduknya menuju kamar Faqih.

“Jadi bagaimana menurut Mia? Mas harus bagaimana? Mas gak bisa jika keadaannya seperti Ini,”
Aldi memulai pembicaraannya.

“Mas coba jemput Atiyah. Katakan mas membutuhkannya. Tidak ada yang salah dalam berpoligami. Tapi katakanlah dengan jujur yang salah adalah cara mas yang berpoligami”
Jawab Mia mencoba memberi arahan positif.

Aldi menyipitkan netranya ke arah Mia ada rasa tidak suka diakhir kalimat terakhir yang telah disebutkan Mia tadi. Seperti kesalahan ini hanya tertumpuk untuknya.

“Maksud Mia?”
Tanya Aldi meminta penjelasannya. Karena sekarang Aldi sudah jauh lebih baik dalam menghadapi masalah.

“Katakanlah mas. Kita yang salah. Karena itu membuat wanita menjadi merasa sempurna wanita suka disanjung.”
Jawab Mia kemudian diam sesaat menunggu jawaban Aldi suaminya. Mia takut Aldi marah dan terjadi sesuatu yang membuatnya takut.

Tapi nyatanya Aldi tersenyum melihat netra istrinya itu.

“Kamu benar. Mas yang salah maafin mas terutama buat Kamu entahlah sudah berapa kali mas meminta maaf dari kamu Mia.”
Jawab Aldi kemudian tertunduk lesu.

Mia mengangkat wajahnya kembali. Ia duduk mendekat suaminya itu.di elusnya punggung suaminya dengan hati hati dan tulus.

“Mia mencintaimu mas. Tiada ada kata dan salah apapun yang mampu menutupi segala rasa duka dan luka di dalam hati ini. Rasa cinta ini sangat kuat mas”
Jawab Mia mencoba menyemangati diri suaminya.

Aldi menoleh sekilas netranya menatap wajah segar Mia yang kini sedang tersenyum di hadapannya

“Terima kasih Mia. Maafin mas sudah selalu berburuk sangka dengan mu dulu sayang”
Jawab Aldi dengan spontan memeluk Mia yang sedang ada di hadapannya saat ini.

“Jika keadaan mas sudah membaik. Bertemulah dengan Atiyah.”
Saran Mia ia mencoba memberi saran meski hatinya berontak tidak mengatakan hal itu.

Aldi mengangguk pelan menanggapi saran dari Mia.

📌📌📌

Malam itu di kediaman bunda. Faqih dan Putri sudah tertidur pulas dihadapan televisi yang sedang menyala.
Bunda beranjak dari tempat duduknya menuju dapur ia sengaja membuat air teh hangat untuk anaknya tercinta. Berharap ada satu cerita yang ia dengar dari lisan Atiyah. Meski ia sendiri tahu dan bisa menebaknya kisah Aldi yang sudah terbongkar.
Insting seorang ibu sangat hebat.

“Atiyah…”
Panggil bunda saat Atiyah baru saja selesai memindahkan Faqih dan putrin untuk tidur ke kamarnya.

“Yah Bunda?”
Jawab Atiyah dengan kurang semangat

“Mari duduk dulu. Bunda baru saja bikin teh manis yang hangat. Sudah lama sekali kita tidak berbicara santai seperti ini kan?”
Tawar bunda dengan senyumnya yang indah.

Atiyah mengangguk pelan. Setetes demi setetes air matanya keluar dengan sendirinya.
Sesungguhnya ia tidak sanggup berhadapan dengan bundanya saat ini tapi Atiyah juga tidak mampu menghindari dan menolak ajakan bundanya yang tercinta.
Hati kecilnya berkata

Kamu perlu waktu untuk mencurahkan segala rasa yang sedang kamu alami. Dia orangtuamu. Kenapa kamu tidak mempercayai bahkan dengan bundamu sendiri.

Atiyah mengangguk pelan menjawab ajakan bunda nya.
Ia duduk di sofa berhadapan dengan televisi yang menayangkan berita. Tapi mereka berdua larut dalam perasaan yang sama.
Perasaan sama sama merindukan suasana yang dulu.

“Peluklah bunda jika Atiyah menginginkannya?”
Kata bunda mencairkan suasana. Ia tahu Atiyah saat ini perlu sandaran untuk menghadapi masalah rumah tangganya.

Atiyah menatap netra bunda nya dengan haru. Untuk memeluknya pun ia malu.
Ia hanya datang kerumah bundanya saat saat ia kesusahan,Saat ia hamil saat ia akan melahirkan dan kini saat ia sedang ada masalah besar.
Tapi
Dimana ia saat saat bahagia.?

“Yaa Allah aku penuh dosa”
Lirih Atiyah pelan didalam hatinya yang terdalam Atiyah tanpa ragu kemudian memeluk bunda nya tercinta dengan erat.

Bunda menyambut pelukkan Atiyah dengan hangat. Ia benar benar merindukan suasana saat seperti ini. Suasana Atiyah yang selalu manja kepada dirinya.

“Maafin Atiyah bunda. Sudah begitu banyak salah sama bunda”
Kata Atiyah dengan suara yang bergetar menahan isak tangisnya.

Bunda menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa sanggup berkata apapun
Mereka larut dalam suasana saling merindu. Air mata menjadi saksi mereka berdua seorang ibu yang merindukan pelukkan anaknya.

“Apa yang telah terjadi dalam rumah tanggamu,sayang?”
Tanya bunda dengan lembut membelai dan mengelus rambut Atiyah yang saat ini berada di dekapannya.

“Mas Aldi punya istri lagi bunda.”
Jawab Atiyah menahan rasa luka di hatinya. Ia langsung saja to the poin

“Kenapa kamu menangis? Bukankah itu tidak berdosa,sayang?”
Tanya bunda mencoba menguatkan hati anaknya tersayang.

“Atiyah tahu. Tapi bunda sungguh hati Atiyah tidak bisa menerimanya ”
Jawab Atiyah dengan jujur dan membuatnya semakin sakit.

“Setidaknya itu lebih baik daripada banyak yang terjadi di sana dimana suaminya selingkuh tanpa ikatan apapun”
Hibur bunda berusaha tidak memojokkan anaknya.
“Tapi percayalah semua yang terjadi ada hikmahnya”

“Atiyah tahu bunda. Tapi Atiyah gak sanggup seperti ini.”
Jawab Atiyah melepas dekapannya ia menatap teduh netra Bunda nya.

“Jika Atiyah gak sanggup memeluknya maka katakanlah!”
Jawab bunda dengan serius.
“Atiyah tidak boleh memaksa sesuatu”

Atiyah menatap tidak percaya dengan kata kata terakhir dari lisan bunda nya itu

“Hidup ini masih panjang. Jika Atiyah tidak suka.lepaskanlah Aldi . Biarkan ia hidup dengan istrinya. Jika Atiyah mencintainya dan menyayanginya. Apapun itu yang terjadi pada Aldi dan Tiyah rasa itu takkan mampu bisa menguranginya.itulah yang namanya cinta”
Kata bunda dengan sejuk

“Kita juga berhak bahagia sayang pikirlah sesuatu yang ada di dalam hatimu dan Tiyah harus tahu bahwa perceraian itu meski halal tapi itu sangat dibenci oleh Allah.”
Lanjut bunda dengan halus.

Atiyah terdiam seribu rasa.
Untuk melepaskan Aldi ia tidak bisa.
Untuk menerima Aldi ia tidak mampu.
Sakitnya rasa ini sangat hebat.
Cintanya termakan luka dan rasa sakit yang begitu menganga lebar
Ini benar benar dasyat sekali rasanya.

“Adakalanya ini hanya ujian untuk Tyah kadangkala setelah ujian datangnya hadiah yang tak terkira buat kita.”
Sambung bunda dengan memberi semangat yang luar biasa untuk anaknya itu.

Atiyah menganggukkan kepalanya dengan pelan dan menghapus air matanya yang berlinang.

“Apapun itu keputusan Atiyah. Bunda sudah yakin Atiyah pasti bisa memikirkan yang terbaik untuk kehidupan Atiyah selanjutnya. Bunda selalu disini menemani Atiyah Apapun itu yang terjadi dan bagaimanapun keadaan Atiyah nanti karena cinta bunda untuk Atiyah takkan pernah habis dimakan waktu.”
Hibur bunda dengan air matanya yang berlinang.
Rasa cinta seorang ibu adalah segalanya. Cinta yang begitu hebat

Tangis Atiyah pecah sesaat mendengar kata kata bunda nya baru saja diucapkan.
Hatinya terpukul. Ini adalah cinta tulus yang ia dapatkan. Tapi ia tak pernah menyadarinya. Atiyah mendekati ibundanya dan memeluk erat kembali Bunda nya dengan deraian air mata penuh luka dan cinta.

“Maafin Atiyah bunda”

📌📌📌

Di kediaman Atiyah tampak Mia sedang bersiap siap akan pulang.

“Mas bisa kerumah jika ada yang perlu mas butuhkan.”
Tawar Mia dengan tulus.

Aldi mengangguk pelan. Berat rasa ditinggalkan Mia. Ia tidak mau hidup sendiri seperti Ini. Baginya ini menyakitkan.
Tapi berharap Mia menemaninya itu tidak mungkin. Masalahnya akan semakin besar jika Mia tinggal satu atap dengannya. Meski mereka telah halal.

“Doakan suamimu ini Mia”
Jawab Aldi berusaha tegar.

“Sama sama doakan Mia juga ya mas. Ayo Aisyah salam sama papanya.kita pulang”
Ajak Mia setengah semangat menatap Aisyah

“Loh papa gak ikut pulang. Disini sendirian loh pa?”
Tanya Aisyah heran dengan Aldi

“Papa masih banyak kerjaan. Sayang”
Jawab Aldi mencium puncak kepala putrinya Aisyah.

“Besok kan minggu pa?”
Tanya Aisyah

“Iya tapi tugasnya belum selesai sayang?”
Jawab Aldi tertawa menanggapi celoteh anaknya itu

“Aisyah hari ini bolos sekolah untuk ikut mama menemui papa. Apapun yang terjadi Aisyah oengen ketemu papa.Masa papa gak bisa bolos tugas nemuin kita. Hanya sehari saja?”
Tanya Aisyah dengan lugas dan tegas.

Aldi terdiam mencerna perkataan anak semata wayang dari istrinya. Mia.

“Yah secepatnya Papa pulang kerumah jika semua tugas sudah selesai ya”
Jawab Aldi mencoba santai meski rasa ragu itu menyelinap di dalam hatinya

“Ya sudahla kalau begitu. Aisyah selalu merindukan papa.menunggu papa”
Jawab Aisyah kemudian bersalaman kepada Aldi.

Aldi berdiri menatap punggung dua wanita yang di hadapannya kini semakin melangkah jauh dari pandangannya. Dan bayang bayang nya pun kemudian hilang dalam gelapnya malam.
Pikirannya kembali mengingat Atiyah.
Hari sudah malam. Aldi masuk kedalam rumahnya.
Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi istrinya Atiyah.
Tapi masih nihil. Tiada jawaban.

📌📌📌

Sendirian melangkah sepi
Harapkan kehadirannya
Sunyi disini
Menunggu tawa candanya
Harum tubuhnya
Membuatku semakin yakin
Diri ini terlalu hina untuk dimilikinya
Andai waktu bisa berputar
Aku ingin tidak mengenal cinta
Karena cinta ini benar benar menyiksa
Aku berdiri disini
Kuat menghadapi semuanya
Rela melakukan apapun
Demi kebahagiaannya
Hatiku tulus untuknya dua hatiku yang begitu sempurna untuk ku miliki.
Aku tetap disini berdiri atas nama cinta sesuai syariatMu
Menghadapi segalanya sesuai taqdirMu
Aku yakin sebaik baik keputusan Adalah keputusan dariMu.

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here