The Thrill Of love #25

0
57
views

Nadia izin pulang saat setelah selesai menemani Mia dirumah sakit.

“Kalian perlu waktu berdua di sini. Aku pamit dulu.”
Ucap Nadia dengan tersenyum
Ia bahagia melihat sahabatnya berbahagia.

“Kamu mau pergi dengan Zaid?”
Tanya Aldi penasaran.

“Bukan urusan mu.”
Jawab Nadia sedikit jutek ia tidak suka dengan Aldi karena berpoligami.
Satu saja Nadia muak dengan kebohongan Aldi tapi Mia sahabatnya.

“Yah aku tahu kamu membenciku. Tapi Zaid adalah sahabatku mau bagaimana pun kamu membenciku. Kamu akan sering bertemu dengan ku.”
Jawab Aldi sangat santai.
Aldi bernapas lega setelah tahu Zaid akan menikah dengan Nadia. Ia tidak akan merasa bersaing lagi seperti dahulu. Itulah Aldi sekarang bisa mengatakan Zaid adalah sahabatnya.

Mia tersenyum lebar melihat Aldi yang sudah terlihat tidak membenci Zaid.

“Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak suka Kamu telah melakukan poligami! Itu saja.!”
Jawab Nadia tegas dan netralnya melirik Mia sesaat

“Kenapa. Poligami tidak dilarang dalam agama kita?”
Jawab Aldi kemudian menyipitkan kedua netranya

“Aku tahu. Tapi kamu lihat sekarang semua berantakkan”
Jawab Nadia mulai melembut dan pelan. Nadia masih melihat keadaan saat ini mereka dirumah sakit.
Nadia tidak mau kekacauan yang seperti kemarin kembali terjadi lagi.

“Kita hanya perlu bersabar. Suatu saat itu pasti akan terjadi. Dan aku tetap pendiriannya jika itu terjadi aku takkan pernah berpisah dengan dua wanita yang aku cintai. Mia dan Atiyah.”
Jawab Aldi sampai tuntas dan tegas.

Nadia menganggukkan kepalanya

“Ini bukan saatnya adu argumen kita semua saudara. Mas tidak boleh banyak pikiran sekarang. Biar cepet sehatnya.”
Jawab Mia menimpali percakapan antara sahabat dan suaminya.

“Terima kasih.”
Sahut Aldi pendek melirik netra Mia istrinya

“Semoga berhasil kalau begitu. Dan aku permisi pulang dulu.”
Jawab Nadia segera mengakhiri percakapannya dengan Aldi. Lalu bergegas keluar ruangan.

📌📌📌

“Bagaimana pun aku tidak suka dengan poligami!”
Sahut Nadia setelah bertemu Zaid dan mendengar kan penjelasan poligami yang memang berlaku di agama islam.

“Saya tahu. Makanya itu perempuan yang rela di madu pahalanya besar.”
Jawab Zaid dengan tersenyum.

“Adakah pahala lain selain di madu.itu menyakitkan.”
Tanya Nadia tanpa menatap Zaid. Ia malas saat ini berdebat dengan Zaid.

“Ada,”
Jawab Zaid pendek

“Apa itu,mas?”
Tanya Nadia penasaran. Ia menatap netra Zaid menunggu penjelasan.

“Banyak. Apalagi ketika kamu telah menjadi istriku”
Jawab Zaid dengan tersenyum menggoda.

“Maksud Mas?”

“Mas ingin memastikan perasaan mu Nadia. Jika kamu tidak keberatan pernikahan kita majukan saja lebih cepat agar kita bisa meraih pahala bersama sama,”
Jawab Zaid pelan dan pasti

Nadia menghembuskan napasnya kasar.
Mengingat kejadian dirumah sakit hatinya menjadi tidak nyaman.
Apalagi telah mendengar penuturan dari Zaid sendiri kalau ia pernah mencintai Mia.

“Kenapa diam???”
Tanya Zaid heran

“Tidak ada apa apa,”
Jawab Nadia pendek

“Kamu masih ragu dengan cintaku?”
Tanya Zaid penasaran.

“Ya benar. Aku masih ragu.Aku perlu waktu untuk benar benar menyakinkan kepada diriku sendiri. Aku tidak ingin seperti Mia”
Jawab Nadia ketus

“Mas bukan Aldi,sayang”
Jawab Zaid mencoba merayu

“Tapi mas menyetujui poligami!”
Jawab Nadia masih tidak terima

“Mas menyetujuinya bukan berarti mas akan melakukannya.”
Jawab Zaid menyakinkan

“Tapi suatu saat kita gak tahu kan jika mas sudah menikah dengan Nadia. Dan hidup Nadia akan sama seperti Atiyah. Mas pergi kepada cinta pertama mas.Mia”
Jawab Nadia tegas dengan berapi api. Ia tahu saat ini cinta pertama Zaid adalah Mia. Saat ini Nadia menyinggungnya.
Meski hatinya saat ini sangat mencintai Zaid. Tapi ia sangat takut suatu saat ia akan seperti Atiyah.

“Nadia..percayalah. Mas bukan Aldi,sayang”

“Kalian bersahabat kan? Bukankah bersahabat itu tabiatnya sama? Dan Nadia akan jadi Atiyah yang ditipu bertahun tahun”
Jawab Nadia kembali merasa putus asa.
Menolak hati ini akan berontak karena jauh di lubuk hati ada cinta untuk Zaid.
Sedangkan Menerimanya hati ini seperti ketakutan. Ketakutan akan menjadi Atiyah yang selalu dibohongi.

“Mas takkan melakukan itu percayalah. Kita boleh berjanji. NAdia mau mendengar janji mas? Cukup kamu Nadia satu orang yang mengisi hati mas untuk menjadi seorang istri dan ratu buat mas didalam hati ini”
Jawab Zaid dengan pelan dan lembut

Nadia terdiam.

Hari itu Nadia mendengar janji Zaid dengan sepenuhnya.
Mereka berjanji saling mencintai dan saling melengkapi apapun keadaanya.

“Semoga istiqomah”
Lirih Nadia pelan di dalam hatinya

📌📌📌

“Kamu harus jaga kesehatan Atiyah”
Kata Santi saat mengompres Atiyah dengan air hangat.

“Atiyah hanya pusing mikirin banyak hal”
Jawab Atiyah pelan.

“Kamu tidak perlu memikirkan yang tidak tidak. Insyaallah Aldi baik baik saja”
Jawab Santi mencoba menenangkan hatinya.

“Oh iya. Bagaimana mas Aldi disana? Kenapa bibi pulang disini membawa Faqih?”
Tanya Atiyah heran

“Aldi dirumah sakit keadaannya sudah membaik. Dia dirumah sakit dijaga perawat. Bibi sudah pesan satu perawat untuk Aldi. Atiyah tenang lah. Fokus kesehatannya ya”
Cerita Santi membuat Atiyah lega. Ia ha ya takut Mia kembali.
Hanya itu. Karena baginya saat ini Mia telah bercerai dengan Zaid.

📌📌📌

“Salah satu kisah Nabi yang bisa dijadikan pelajaran dalam memaknai pernikahan adalah kisah Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim yang telah menikahi Sayyidah Sarah pun tidak luput dari berbagai ujian dalam kehidupan. Namun, karena kecintaan keduanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka mereka pun saling menjaga.

Nabi Ibrahim menikah dengan Sayyidah Sarah mendapatkan ujian namun sang istri tetap mendampingi. Hal inilah yang melahirkan cinta Nabi Ibrahim supaya bisa menjaga amanah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang merupakan seorang perempuan. Karena pasangan yang telah dititipkan adalah merupakan ujian kehidupan sebagai titipan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dititipkan kepada makhlukNya

Tidak ada alasan menolak poligami

“Dan tidakkah patut bagi laki-laki dan perempuan yang (benar-benar) beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS al-Ahzaab:36)

📌📌📌

Hari ini Aldi sudah membaik. Ia akan pulang.

“Atiyah sedang sakit bagaimana kalau mas ikut Mia pulang? Insyaallah Mia masih sehat dan kuat untuk merawat Mas Aldi.”
Tutur Mia dengan lembut

Aldi menyetujui rencana istrinya.
Atiyah dan Faqih sudah ada Santi merawatnya.
Lagipula ini kesempatan Aldi meraih kebersamaan bersama Mia. Karena sudah lama mereka terhalang suatu untuk bertemu dan bersama.

Mia memberikan senyumnya atas kebahagiaan yang telah ia dapatkan hari ini.

Langkah Mia sangat bersemangat hari ini. Ia membuka pintu rumahnya mengajak suami dan Aisyah masuk kedalam rumah.
Hari ini Mia merasakan kemenangan.

“Aku akan menggunakan waktu ini sebaik mungkin”
Pikir Mia didalam hatinya.

📌📌📌

Sementara itu di kediaman Atiyah. Faqih selalu menangis menahan rindu seorang Abinya.

“Bibi. Kayaknya Atiyah harus kerumah sakit hari ini”
Ujar Atiyah masih dengan lemah.

“Kamu belum terlalu sehat kan Tiyah.?”
Tanya Santi merasa takut. Santi mendekat Atiyah mencoba memijit kaki Atiyah yang sedang bersandar di atas ranjang.

“Kamu masih belum sehat. Bagaimana kalau hari ini kita kedokter dulu periksa keadaan kamu?”
Saran Santi kemudian untuk mengulur waktu

“Insyaallah Atiyah gak papa. Kasihan Faqih bi. Dia begitu rindu.”
Jawab Atiyah menatap Faqih yang sedang bermain mobil mobilan di kamarnya.

“Tapi kamu juga harus sehat bugar terlebih dahulu biar bibi yakin kamu akan baik baik saja.”
Jawab Santi dengan tersenyum.

“Bagaimana dengan Faqih bi?”
Tanya Atiyah ragu

“Makanya Atiyah cepet sehat biar bisa kembali dan berkumpul dengan suami dan Faqih”
Bujuk Santi

“Atiyah takut Mia datang kembali bi. Atiyah takut Mia merebut mas Aldi dari Atiyah. Makanya Atiyah ingin melihat dan memastikan mas Aldi baik baik saja”
Jawab Atiyah dengan panjang lebar dan membuat Santi terdiam

Santi sedih mendengar penuturan Atiyah yang baru saja terucap di bibir Atiyah.

“Sabar Atiyah. Mungkin kamu saat ini di uji?”
Jawab Santi mencoba memahami posisi Atiyah

“apakah bibi Tahu bagaimana kehidupan Mia setelah bercerai dari mas Zaid?”
Tanya Atiyah menatap netra Santi. Santi menggelengkan kepalanya berharap pembicaraan ini terhenti.

“Oh iya. Bagaimana bulan ini apakah kamu sudah haid?”
Tanya Santi mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.

Atiyah memutar bola matanya dan berpikir mengingat ngingat sesaat.

“Hmmm.sepertinya belum bi. Ini tanggal berapa?”
Tanya Atiyah kemudian.

“Ini sudah tanggal 15 apakah sudah lewat tanggalnya?”
Tanya Santi dengan berdebar debar. Ia takut Atiyah hamil kembali. Karena menurutnya kehidupan Atiyah sangat menyedihkan jika saja ia tahu suaminya mempunyai istri lagi selain dirinya.
Lagi pula bagaimana dengan Mia jika saja Atiyah Hamil lagi.
Mia akan merasa tersingkirkan lagi seperti dulu.
Itu sangat menganggu psikologisnya.

“Iya sudah lewat 5 hari bi”
Jawab Atiyah

“Kamu sudah periksa.?”
Tanya Santi cemas

“Enggak belum mungkin ini hanya kecapekkan aja Atiyah butuh vitamin aja kayaknya”
Jawab Atiyah memejam kan kepalanya

“Atiyah periksalah nanti besok pagi. Biar jelas”
Usul Santi dan mendapatkan jawaban anggukan kepala Atiyah

📌📌📌

“Mas. Ini Mia udah siapkan makan siang hari ini. Mau makan di kamar atau…”
Belum selesai Mia berbicara Aldi langsung memeluk istrinya itu dan berbisik di telinganya.

“Di manapun asal sama kamu. Insyaallah mas sehat.”
Jawab Aldi dengan senyum bersemangat seolah olah sudah lupa dengan penyakit yang di ceritanya.

Mia menganggkkan kepalanya.
“Kalau begitu.ayooo.”
Ajak Mia memegang lengan Aldi dengan mesra.

Siang itu mereka makan berdua saja. Aisyah sedang tidur siang.
Merekapun seperti bebas melakukan apa saja dirumah yang cuma dihuni mereka berdua.

“Alhamdulillah.nikmat”
Ucap Aldi setelah selesai makan siangnya.
Mia pun tersipu malu menatap Aldi dengan semangat makan masakan yang telah ia masak itu.

“Andai waktu akan menghentikan kebersamaan ini aku seperti takkan rela.
Sungguh suamiku Aldi pengisi kekosongan hati
Mengirimnya dengan cinta dan menumbuhinya dengan bunga bunga kasih sayang
Yang saat ini sedang bermekaran.
Ahhh….indahnya .. ”

Siang itu setelah makan dan menunaikan sholat zuhur berjamaah. Mia dan Aldi memasuki kamarnya melepas rindu dan kasih sayang.
Kemudian terlelap dalam tidur siangnya.

📌📌📌

“Mas sudah Ashar.”
Mia membangunkan Aldi suaminya.

Aldi berdehem

“Iya. Mas bangun”
Jawab Aldi kemudian meluruskan badannya. Aldi menatap kamar yang saat ini ia tempati sangat berantakkan

“Kamarnya berantakkan ya mas. Mia beresin dulu”
Ujar Mia merasa yakin Aldi seperti melihat suasana kamar yang sedikit berantakkan.

“Gak usah. Kita sholat bareng dulu. Mumpung Aisyah masih tidur kayaknya.”
Jawab Aldi memegang pergelangan tangan Mia yang akan berdiri.

“Ok deh mas,Mia mandi dulu ya”
Jawab Mia di bala anggukan kepala dari Aldi.

📌📌📌

“Alhamdulillah positif,bi”
Jawab Atiyah setelah 3 hari baru sempat melakukan tes yang dibeli Santi di apotek terdekat.
Karena 3 hari ini tiba tiba faqih ikut ikutan sakit dan demam. Rewelnya sepanjang hari.
Hingga Santi sedikit kewalahan dan lupa akan rencananya membelikan Atiyah ‘tespack’.

“Alhamdulillah
Jawab Santi bergetar.

“Atiyah harus kerumah sakit. Mengabarkan mas Aldi bi”

Kata Atiyah penuh semangat.

“Atiyah.sebentar ya. Faqih masih lemah. Nanti aja. Lagi pula mas Aldi kan gak dirumah sakit lagi.”
Jawab Santi mencoba membuat alasan.

“Loh. Kok mas Aldi gak nelpon Atiyah?”
Tanya Atiyah sedikit kecewa.

“Nelpon kok setiap hari malah. Tapi selalu menelpon Atiyah saat tidak tepat. Kadang menelpon Atiyah saat masih tidur”
Jawab santi

“Itu bukan alasan bi!”
Jawab Atiyah mulai merasa tidak beres. Ada rasa kecewa yang mulai bergelayut didalam hatinya

“Ya udah gimana Atiyah kabari Aldi melalui telepon dulu jika Atiyah sudah sehat suruh Aldi pulang biar kumpul lagi. Karena kasihan Aldi. Dia baru aja sehat. dia harus banyak istirahat”
Cerita Santi panjang lebar.

“Ini kabar gembira bi. Mas Aldi pasti bergembira saat mendengar aku telah hamil”
Jawab Atiyah bersemangat.

“Bibi tahu. Coba kamu hubungi Aldi dulu,”
Saran Santi dengan gugup

Atiyah mengangguk tanda setuju. Ia mengambil ponselnya diatas nakas da memencet telpon mas Aldi.

“Hallo assalamualaikum sayang?”
Sapa Aldi penuh dengan semangat.

“Wa alaikum Salam. Mas sudah sehat bener nih kayaknya”
Jawab Atiyah melepas rasa kecewanya.
Bahagia itu menghilangkan rasa kecewa.

“Alhamdulillah berkat doa Atiyah,sayang. Dan Atiyah sendiri Bagaimana?”
Tanya Aldi penuh rindu.

“Kalau mas sudah sehat ayo gantian mas yang merawat Atiyah sekarang,”
Jawab Atiyah penuh manja.

Saat ini Aldi benar benar merindukan manja istrinya satu ini. Aldi tersenyum membayangkan keceriaan Atiyah saat menelpon dirinya.

“Kamu masih sakit sayang? Insyaallah besok mas pulang. Mas sekarang nginep kost deket sekolah. Sekalian aja biar dekat jarak buat ngajar biar gak kecapekkan sehat terus. Biar gak mgerepotin Atiyah lagi.”
Cerita Aldi dengan gembira.

“Iya. Bibi Santi udah cerita tadi. Oh iya mas Atiyah mau ngasih kejutan spesial buat Mas Aldi.”
Kata Atiyah antusias

“Hmmm..kejutan Apa tuh..bikin Mas penasaran aja pengen cepet pulang”
Jawab Aldi penuh ceria

“Tapi mas janji besok pulang kan.?”
Tanya Atiyah kemudian

“Iya…sayang…Insyaallah Mas usahain pokoknya besok pulang. Abis udah kangen berat nih”
Jawab Aldi merasa menjadi anak muda kalau sudah berhadapan dengan istrinya yang bernama Atiyah.

“Mas….Atiyah positif hamil lagi. Sayang”
Jawab Atiyah penuh semangat.

Aldi terdiam seribu bahasa.
Rasanya tidak mungkin secepat itu ALLAH memberikan anugerah anak disaat ia sedang melawan berjuang sakit. Sudah tentu secara ekonomi ia tidak mampu mencari banyak rezeki seperti dulu lagi. Karena saat ini prioritasnya kesehatan. Menjaga kesehatannya. Menjaga pola makannya menjaga istirahat nya.

“Mas…Mas.. ko diam sih?”
Tanya Atiyah masih dengan semangatnya.

“Mas takjub. Begitu cepat ya Allah kasih rezeki anak kepada kita”
Ujar Aldi dengan lemah.

“Harusnya bersyukur mas.”
Jawab Atiyah masih dengan bersemangat

“Alhamdulillah yaa robb. Atiyah jaga kesehatan ya. Jangan capek capek lagi. Oh iya besok mas pulang mau di bawain apa?”
Tanya Aldi mencoba berusaha menjadi yang terbaik di mata Atiyah.

“Yang penting mas Aldi pulang dulu deh. Atiyah pengen meluk mas Aldi ajah gak mau dibawain apa apa. ”
Jawa Atiyah spontan membuat Aldi mendesah pelan

“Sipp kalau begitu sayang. Sampai jumpa besok Ya?”
Jawab Aldi mengakhiri teleponnya. Karena ia melihat Mia seperti bersedih melihatnya berteleponan ria dengan Atiyah.

“Yah mas..assalamu’alaikum”
Jawab Atiyah dengan manja.

“Wa’alaikum salam”

Jawab Aldi dan mematikan saluran teleponnya.
Ia melangkah menuju tempat Mia duduk bersama Aisyah yang sedang menonton televisi.

“Lagi nonton apa nih?”
Sapa Aldi kepada Mia dan aisyah

“Kan bisa liat sendiri?”
Jawab Mia ketus

“Yeee….mama Kenapa sih. Aisyah lagi nonton ini pa. Papa gak tau ya ini film upin ipin”
Jawab aisyah dengan semangat

“Oh iya iya. Papa baru inget ini upin ipin ya”
Jawab Aldi berpura pura. Matanya terus menatap Mia disampingnya.
Mia tampak acuh dengan Aldi yang duduk di sampingnya.

“Mama tinggal dulu ya Aisyah sama papa. Ok”
Ucap Mia bangkit dari tempat duduknya menghindari Aldi
Tiba tiba saja rasa cemburu menguasai hatinya. Padahal dulu Mia sudah terbiasa menahan rasa itu. Tapi kali ini tidak bisa.
Hatinya sangat sensitif untuk menerima kalau suaminya ternyata telah menikah lagi.
Air matanya terus keluar seiring langkah kakinya menuju kamar dan merebahkan badannya di atas ranjang melepas kecewa bercampur cemburu.

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here