The Thrill Of love #24

0
119
views

Dusta atau bohong adalah perbuatan haram. Tidak ada keringanan untuk berdusta dalam Islam, kecuali karena darurat atau kebutuhan yang mendesak. Itu pun dengan batas yang sangat sempit.

“Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)”

“Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan).” (HR. Muslim)
Disini maksudnya berbohong untuk merayu dan menggombal kepada pasangannya untuk kelestarian dan meningkatkan kasih sayang keluarganya.

“Apa yang terjadi mas Zaid?”
Tanya Atiyah bingung.
“Hmmm..apa yang terjadi? Tidak terjadi apa apa?”
Jawab Zaid dengan rasa ketakutan dan kebingungan yang luar biasa.
Ia takut akan kehilangan cinta sekali lagi. Setelah dengan Mia. Nadia adalah pilihannya sendiri setelah tidak mampu mengambil dan menyentuh cinta untuk Mia.

Meskipun rasa Cinta Zaid belum sepenuhnya dimiliki oleh Nadia. Tapi Zaid telah berjanji kepada dirinya ia akan segera berusaha semaksimal mungkin mencintai Nadia sepenuh hatinya karena Allah swt.
Zaid menutupi semua cerita masa lalu nya.
Nadia sahabat Mia. Sudah pasti mereka memiliki sifat yang sama pikir Zaid saat itu.

bukankah jika kita ingin melihat sifat seseorang maka lihatlah dulu dengan siapa dia berteman.
Nadia menatap heran kearah Zaid
“Ada apa Ini,mas?”
Tanya Nadia penuh keheranan.
“Kamu itu perebut suami orang. Cantik cantik gak tau diri!”
Atiyah kembali lepas kendali. Emosinya kembali memuncak melihat Nadia di depan matanya.

Aldi memegang kepalanya yang mulai berdenyut denyut.
“Sabar kita akan jelaskan nanti,”
Jawab Zaid berusaha menekankan suaranya yang sudah mulai kebingungan.

“Kamu sudah meninggalkan istri mu sendiri lalu kamu mendekati perempuan Ini! Pantas aja Mia kesini meminta perhatian kepada suami ku. Ternyata Mia haus dari cinta suami yang suka berselingkuh.”
Nadia tidak terima dengan ucapan terakhir Atiyah meskipun ia sendiri tidak mengerti apa hubungannya Mia dengan Zaid. Nadia menampar pipi kiri Atiyah dengan keras hingga pipi Atiyah tampak kemerahan.

“Stop Nadia!!!”
Teriak Zaid cepat menghalangi saat Nadia mencoba mengulangi tamparan kedua.
Nadia menjadi emosi, sifat pemarah dan tidak sabaran kembali di dalam dirinya. Ia tidak terima dengan perkataan terakhir yang terlontar dari lisan Atiyah.
Atiyah menangis menatap Zaid dengan tajam. Hatinya rapuh.
Atiyah saat ini bingung dengan semua yang terjadi dikehidupannya bahkan Atiyah sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi dalam hidupnya.

Rumit. Ini rumit sekali.
“Mas membela dia? Wanita yang tidak tahu terima kasih.”
Jawab Nadia keras dengan tatapan yang tajam.
“Ini rumah sakit,sayang. Hentikanlah berbicara seperti itu”
Jawab Zaid melembut berusaha menenangkan hati Nadia dengan memanggilnya ‘sayang’.
Aldi memegang kepalanya menahan rasa denyutan di kepalanya namun tak mampu berkata apapun. Tapi Atiyah Zaid dan Nadia tak menghiraukan Aldi menahan perih di kepalanya karena mereka fokus pada permasalahan baru yang mereka hadapi.
“Sayang kata mu mas? Penipu kamu mas! Kamu lihat bagaimana Mia setelah kamu tinggalkan demi wanita rendahan seperti ini! Kemana jiwa dan perasaanmu?!”
Teriak Atiyah semakin emosi
“Atiyah!!”
Teriak Zaid mencoba membungkam semuanya perkataan Atiyah baru saja . Zaid memandang Nadia sejenak memikirkan jawaban yang tepat untuk Atiyah. Tanpa menyakiti Nadia.

Tapi lagi lagi Zaid salah berbicara. Zaid seperti tidak ada kesiapan saat diserang tiba tiba seperti ini. walaupun terjadi karena kelalaiannya sendiri.
“Aku sudah cerai dengan Mia. Tidak ada kata merebut untuk Nadia. Mia bukan siapa siapa lagi untukku saat ini sekarang ataupun selanjutnya. Dan dia namanya Nadia. Dia gadis yang akan aku nikahi bulan depan nanti. Gadis yang sangat aku cintai.”
Tegas Zaid tanpa memikirkan perasaan Atiyah lagi. Saat ini pikiran Zaid hanya 1 untuk menenangkan hati calon istrinya itu.
Meskipun ia telah berbohong tentang cinta. Zaid yakin suatu saat cinta itu akan datang dengan sendirinya.

Atiyah terdiam mendengar perkataan Zaid. Baginya ini sangat menyakitkan. Andai Atiyah menjadi Mia Atiyah tidak akan sanggup seperti itu.
Sedangkan Nadia. Ia kecewa. Nadia melangkah keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Ia baru mengetahui ucapan ucapan Zaid.
Zaid pun melangkah keluar menyusul Nadia.
Atiyah menatap Aldi. Ia baru sadar dan ingat kepada suaminya. Dilihatnya ternyata Aldi kesakitan menahan sakit kepalanya yang luar biasa
“Mass…!!!”
Teriak Atiyah menjadi gelisah.
Aldi diam tidak menjawab. Aldi terus menahan rasa sakit di kepalanya.
“Dokter..!!! Suster!!!”
Atiyah melangkah keluar ruangan meminta bantuan. Ia seperti orang gila berteriak dengan ketakutan.

📌📌📌

“Sepertinya gejala bapak Aldi kembali lagi.”
Kata dokter setelah memeriksa Aldi bersama perawat.
“Padahal sebelumnya semua baik baik saja.”.
Sambung dokter
Atiyah menganggukkan kepala penuh dengan menyesal. Menyesali sikapnya yang tak bisa menahan diri membuat suaminya tercinta ambruk lagi menahan rasa sakit.
“Jaga kondisinya agar tetap bersantai jangan terlalu memberatkan dengan sesuatu yang membuatnya banyak pikiran dulu”
Saran dokter dengan ramah.
Atiyah menganggukkan kepalanya lagi hanya itubyang ia bisa lakukan tanpa ucapan dan diiringi tetesan demi tetesan air mata.
“Mungkin bapak Aldi stress karena terlalu banyak pikiran sehingga penyakit pembengkakan kelenjarnya kambuh lagi dan menjadi infeksi. Saya permisi dulu.”
Ucap dokter setelah banyak menjelaskan tentang penyakit yang di derita suaminya.

📌📌📌

Hari ke-8 di rumah sakit Aldi sudah sedikit lebih tenang dan lebih sehat.
Tapi tidak dengan Atiyah. Kesehatan Atiyah menurun semenjak pertemuannya dengan Zaid dan Nadia.
Ia tidak bisa menjaga kesehatan. Jauh di dalam hatinya masih memikirkan nasib Mia yang telah menjadi janda.
“Apakah yang di maksud bu Intan madu mas Aldi adalah Mia?”
Pikir Atiyah di dalam hatinya.
“Atau…apa bu intan hanya salah dengar. yang telah menikah lagi bukan mas Aldi tetapi mas Zaid yang akan menikahi Nadia”
Sambung Atiyah dengan pikirannya yang sangat rumit.
“Mas Aldi dan mas Zaid bersahabat. Mungkin saja bu Intan keliru”
Pikir Atiyah terus terbayang bayang wajah cantik Nadia.
“Dia memang cantik. Tapi sungguh kecantikkannya tidak ada artinya sama sekali”
Lirih Atiyah di dalam hatinya.

📌📌📌

Sementara itu diteras depan disebuah kost wanita tampak Zaid sedang berusaha menjelaskan kepada Nadia perihal peran dirinya di kehidupan Atiyah dan Aldi.
Meskipun Nadia ragu untuk menerimanya tapi ia berusaha mengunyah penjelasan Zaid dengan baik.
Baru kali ini Nadia merasakan Cinta yang begitu hebat untuk Zaid. Tapi ia tidak bisa percaya sepenuhnya dengan penjelasan Zaid. Karena bisa jadi ternyata Atiyah benar.
“Jika Tidak pernah saling menikahi mungkin saling mencintai,,”
pikir Nadia saat itu.
Karena di pikiran Nadia rasanya tidak mungkin ada seorang laki laki yang rela melakukan hal seperti itu meski hanya berpura pura jika tidak ada maksud lain.
“Mungkin Atiyah benar,mas,”
Sahut Nadia kecewa.
“Tidak Nadia. Percayalah,”
Jawab Zaid
“Ya Nadia percaya mas tidak pernah sungguh sungguh telah menikahi Mia. Tapi kalau soal cinta?mas pasti mencintai Mia kan?”
Jawab Nadia menatap netra Zaid di depan nya untuk memastikan jawaban Zaid.
“Kenapa kamu berbicara seperti itu.?”
Jawab Zaid semakin merasa bersalah.
“Nadia bukan seperti Atiyah yang selalu percaya seperti itu saja meskipun telah di bohongi berkali kali.”
Ucap Nadia tegas.
“Nadia…”
“Nadia bisa melihat di mata mas Zaid ada setetes cinta untuk Mia.”
Jawab Nadia lirih dan hancur. Tapi dengan berat hati ia harus menerima
“Tidak. Mia sudah menjadi seorang istri tidak baik bertanya seperti itu.”
“Sudah mempunyai suami tidak akan menghilangkan rasa cinta,mas”
“Nadia itu masa lalu. Tidak penting”
Balas Zaid melemah.
“Jadi, benar begitu? Mas mencintai Mia?”
Tanya Nadia membuat Zaid terdiam . Zaid sepertinya tidak mempunyai pilihan untuk berbicara seperti apa lagi agar hubungannya dengan Nadia berjalan baik dan lancar.
Ia harus jujur tentang semuanya
“Masa lalu,sayang”
Jawab Zaid dengan ragu. Zaid sangat kebingungan saat ini. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana dan mengapa.
Nadia mengangguk pelan
“Benar itu masa lalu. Dan Nadia gak nyangka masa lalu mas ternyata dengan sahabat Nadia sendiri. Coba mas bayangkan semua ini telah terjadi kepada Nadia.”
Nadia kemudian terdiam sejenak kemudian melanjutkan pembicaraannya
“Mia bahkan tidak bercerita banyak tentang Zaid. Mungkin karena ia tidak ingin Nadia tahu jikalau saya mencintai Mas Zaid Nadia tidak akan tahu kalau Nadia telah mengambil ‘bekas’ Cinta sahabatnya sendiri. Itu kotor mas bagi Nadia kotor!
Nadia gak mau seperti Itu!”
Kata Nadia dengan Nada sedikit tinggi
“Tidak ada ‘bekas’. Kami berdua tidak mempunyai hubungan apapun. Kenapa Nadia berbicara seperti itu”
Tanya Zaid lembut berusaha menenangkan hati calon istrinya
“Bukan bekas. Tapi pernah mencintainya. Itu sangat buruk.buruk sekali!”
Timpal Nadia tegas dengan sedih
“Kenapa harus buruk?
Itu semua Allah yang mengatur.
Cinta?
Apakah kita bisa memilih untuk siapa hati mencintai dan untuk siapa kita di cintai? Kita tidak bisa memilih itu.
Kita hanya bisa mengendalikan rasa cinta itu.

Jika hati telah mencintai seseorang yang tidak patut untuk kita cintai,kita harus pergi dan melawannya,itu mungkin cinta karena nafsu.
Sama seperti saat mas dulu mencintai Mia. Ituuu….”
Zaid terdiam menghirup udara pelan pelan dan menghembuskannya pelan pelan. Ia akan kembali mengorek masa lalunya untuk meyakinkan calon istri yang di depannya saat ini. Meski ini sulit karena mengingat kebersamaan itu membuat Zaid semakin terluka.

“Mencintai Mia membuat mas tahu kalau Mia adalah bukan wanita yang pantas untuk mas dan Mia sangat memegang cinta sucinya kepada Aldi. Dulu mungkin aku termasuk orang yang paling banyak bersalah dan berdosa. Berusaha maksimal mungkin dan berusaha memisahkan mereka, Mia dan Aldi agar mas bisa memiliki Mia.
Tapi nyatanya mas sadar.

Memisahkan orang yang sudah menikah termasuk dosa yang sangat besar.
Alhamdulillah mas harus banyak bersyukur.
Setidaknya mas tidak terlanjur jauh dalam melangkah berbuat dosa.”
Cerita Zaid panjang lebar membuat Nadia terus menitikkan air matanya.
“Dan sampai saat ini pun mas Zaid tidak pernah mampu menghapus rasa cinta Mas untuk Mia?”
Sahut Nadia dengan datar
“Kata siapa? Mas sudah melupakan. Cinta mas bukan buat dia. Cinta mas hanya untuk Nadia. izinkanlah mas membuat Mu bahagia Nadia. Mas tulus mencintaimu karena Allah semoga kita bisa menyempurnakan separuh agama kita dengan menjalankan pernikahan”
Jawab Zaid dengan lembut. Kali ini ia berusaha menggombal untuk memenangkan rasa ini.
Memenangkan untuk kelanjutan hubungannya ke jenjang pernikahannya.

📌📌📌

Hari ini masih pagi Nadia tergesa gesa menuju rumah Mia tanpa sepengetahuan Zaid.
Banyak hal yang ingin dia ceritakan dengan Mia.
Ia akan menceritakan semua yang telah terjadi beberapa hari ini. Dan juga Nadia akan memberi tahu tentang hubungannya dengan Zaid.
Nadia ingin melihat bagaimana perasaan dan ekspresi Mia setelah mendengarkan semuanya.

“Alhamdulillah”
Jawab Mia tenang dan datar. Hatinya masih terus memikirkan Aldi.
Terakhir kemarin lusa ia mendengar kabar kalau suaminya itu kondisinya menurun.
Bibi Santi pergi kerumah sakit menemani Atiyah. Atiyah sedang tidak sehat.
“Kamu ada masalah lagi Mia? Biasanya kamu selalu bercerita dengan ku. Kenapa kali ini ekspresinya seperti tidak semangat?”
Mia menggelengkan pelan kepalanya.
“Sebentar aku bikin minum dulu”
Ucap Mia pelan berusaha menghindari pertanyaan Nadia.
“Tidak perlu aku akan pulang sebentar lagi.”
Jawab Nadia kecewa.
Tiba tiba ponsel Mia berbunyi. Mia mengambil ponselnya dan menjawab telepon yang ternyata dari Santi.

“Apa? Mia kesana? Bagaimana dengan Atiyah.?”
“Oh iya iya. Mia segera kesana. Nanti Faqih dan Aisyah Mia ajak sekalian ya.”
Mia mematikan sambungan teleponnya.
“Aku harus kerumah sakit. Mau ikut?”
Tawar Mia menjadi semangat. Wajahnya menjadi cerah dan bersemangat.
“Apa apaan ini. Aku tidak mengerti jalan pikiran mu?”
Jawab Nadia bingung.

“Aku harus bersiap siap. Tunggu aku ya nanti temani Aku ke rumah sakit membawa anak anak.”
Perintah Mia tanpa menjawab pertanyaan Nadia. Hatinya terlalu bersemangat untuk bertemu dengan sang kekasih.
Mia memesan taksi online via ponselnya.
Saat di perjalanan dirumah sakit hati Mia terus merasa bahagia.
“Ada apa Mia. Wajahmu seketika berubah menjadi cerah”
Tanya Nadia.

“Atiyah akan pulang. Badannya tiba tiba menjadi drop. Dia perlu istirahat. Bibi Santi membujuknya agar istirahat di rumah. Dan mas Aldi bibi Santi akan merawatnya. Tadi bibi Santi menelpon ku memberi tahu kabarnya. Atiyah sudah pulang. Ia minta aku segera menemani Aldi dirumah sakit, ini kesempatan besar untukku menemui kekasih hati. Bukankah aku harus bahagia?”
Jawab Mia tanpa jeda dengan panjang lebar.
Nadia menghembuskan napasnya kasar. Kepalanya menggeleng geleng. Dia sendiri bahkan bingung dengan rasa cinta yang sedang ia rasakan saat ini.
“Dasar cinta itu aneh!!”
Sahut Nadia dengan pelan dan di dengar Mia
“Kamu akan merasakannya sebentar lagi”
Sahut Mia tidak mau ngalah
Tiba tiba
“Mas Zaid”
Lirih Nadia kecil setelah memeriksa ponselnya yang bergetar.
Ada panggilan mas Zaid di ponselnya
Mia melorotnya dengan tersenyum lebar
“Aku bilang juga Apa!”
Ucap Mia menggoda tanpa tanggapan dari Nadia.

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here