The Thrill Of love #23

0
37
views

“Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk-ku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”.

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. [Al-Baqarah]

📌📌📌

Atiyah selesai sholat nya. Ia memakai kembali jilbab segi empatnya bewarna coklat muda.
Atiyah Mengenakannya dengan rapi. Kemudian ia bergegas keluar meninggalkan mushola.
Langkahnya menjadi cepat setelah ruang inap suaminya sudah di depan mata.

Atiyah segera masuk. Dan melihat Mia dan Aldi satu ruangan .
Saat itu Mia sedang mengambil air panas di ‘dispenser’ dekat pintu masuk kamar.
“Kemana bibi Santi?”
Tanya Atiyah merasa Aneh dengan apa yang ia lihat.
Aldi memanggilnya dengan lembut
” Atiyah”
“Ya mas”
Atiyah mendekat. Matanya menatap tajam ke arah Mia
“Apa yang kamu lihat,sayang?”
Tanya Aldi memegang tangan Atiyah. Mencoba memahami perasaan Atiyah
Atiyah menghentikan tatapannya.
“Kenapa mas hanya berdua di sini. Bibi Santi kemana sama anak anak?”
“Bibi Santi keluar tadi faqih rewel jadi bibi Santi mengajaknya keluar.”
Jawab Mia kemudian mendekat dan memberikan segelas air hangat yang baru saja ia ambil dari dispenser
“Kenapa harus bibi Santi yang keluar. Kenapa gak kamu aja?”
Tanya Atiyah tiba tiba merasa geram melihat pemandangan di depan matanya.
Mia memberi Aldi suaminya segelas air putih hangat dan di sambut dengan Aldi dengan senyuman
“Atiyah…,”
Ujar Aldi lembut mengelus tangan istrinya Atiyah
“Kenapa gak kamu yang keluar menemani anak keluar sementara aku sedang sholat. Kenapa?!”
Tanya Atiyah kembali dengan meninggi.
“Atiyah….”
Lirih Aldi menggenggam tangan Atiyah dan Atiyah melepaskan genggaman tangan itu.
“Atiyah. Mia hanya menemani mas disini. Kenapa kamu menjadi seperti Ini?”
“Itu masalahnya. Kenapa harus Mia yang menunggu mas disini. Dia tidak pantas disini!”
Ucap Atiyah membuat Mia tersadar dari diamnya.
“Maksud kamu apa?”
Tanya Mia terkejut ingin memberontak tapi masih ditahannya.
“Kamu bukan siapa siapa nya Aldi suamiku. Apakah itu pantas satu ruangan disini ?”
Ucap Atiyah entah kenapa menjadi emosi.
“Atiyah. Sudahlah. Sejak dulu mas sudah cerita tentang Mia kan sama Tiyah kalo mas masih ada saudara keluarga.”
Jawab Aldi mencoba menengahi.
“Atiyah tahu. Yang jadi pertanyaan Atiyah adalah apa pantas???”
Tanya Atiyah sepertinkehabisan kata kata.
“Maksud sayang apa?”
Tanya Aldi berpura pura bertanya maksud dari pertanyaan istrinya Atiyah itu. Walaupun Aldi tahu maksud semua perkataan dari Atiyah.
Atiyah diam tidak bergeming tiba tiba saja Atiyah terisak punggungnya bergetar. Ia mencoba menahan air mata itu tapi air mata terus keluar dengan sendirinya.
“Yah sudah Mungkin Atiyah benar. Ini tidak pantas.”
Ucap Aldi mencoba mengalah dengan keadaan.
“Baik. Jika Mia membawa masalah di kehidupan rumah tangga kalian Mia minta maaf. Mia tidak ada niat untuk menghancurkan keluarga kalian. Mia hanya ingin kita saling merangkul. Bukankah kita adalah keluarga?”
Mia membuka suara setelah dari tadi diam mendengarkan.
Aldi menoleh arah Mia menatapnya dengan serius. Aldi menunggu apakah Mia akan bercerita.
Karena sampai saat ini Aldi pun tidak mampu untuk menceritakan yang sesungguhnya tentang status hubungannya dengan Mia. Aldi tidak ingin kehilangan Atiyah.
Aldi mencintai keduanya.
“Mas…Atiyah…maaf Mia pulang dulu. Semoga setalah ini silaturahmi kita tak kan putus. Kita sesama muslim adalah saudara.”
Jawab Mia membuat napas Aldi berhembus lega.
Padahal baru saja perasaan Aldi tegang takut kehilangan.
“Mia. Maafkan jika hari ini menyinggung suasana hatimu. Kembalilah kembali jika kamu berkenan kerumah kami.”
Jawab Aldi lembut
Atiyah masih saja terisak. Atiyah tidak mampu berkata apapun lagi.
Hatinya hari ini tiba tiba saja bergejolak penuh amarah. Ia sendiri tidak tahu kenapa dirinya menjadi seperti ini.
Mia melangkah keluar dari ruangan. Ia bergegas berkeliling mencari Aisyah dan menemukannya di samping taman sedang menikmati sekotak susu bersama Faqih dan Santi.
“Yukk Aisyah kita pulang”
“Bentar ma. Aisyah mau pamit sama papa dulu tadi kan belum sempat banyak ngobrol sama papa. Aisyah punya banyak cerita untuk papa,”
Air mata Mia lolos dari tahanan netranya
“Sabar sayang. Papa tidak bisa berbicara banyak dulu. Nanti kita kesini lagi.”
“Kalau papa tidak bisa berbicara tetapi papa bisa mendengar kan ma? Aisyah ingin bercerita untuk papa dan papa cuma mendengar saja ma. Ayoo!”
“Aisyah. Mama ada kerjaan. Papa sekarang udah tidur. Nanti di marahin dokter loh kalau kita kembali dan gangguin papa”
“Mama….”
“Ayolah…”
Santi membuka suaranya serakah tersiam menikmati pemandangan percakapan seorang ibu dan anak di depannya.
“Ya udah oma temenin pulang ya. Biar Aisyah ada temen cerita lagi. Ada mama ada oma ada Faqih juga. Ayo.”
Ajak bibi Santi membuat Aisyah terdiam memikirkan sesuatu.
Bibi Santi mendekat kembali ke arah Mia dan membisikkan sesuatu telinganya
“Bibi ke ruangan Aldi bentar. Kita pulang bareng”
Jawab Santi bergegas meninggalkan Mia berdiri mematung.

📌📌📌

“Kehidupan emang seperti ini mia. kadang jalan kita bahagia kadang kala pu kita mengalami kesedihan ”
Kata Santi saat selesai mendengarkan cerita dari Mia kejadian di rumah sakit hari ini.
“Insyaallah Mia ikhlas.”
“Bibi suka jika kamu berbicara seperti itu. Semua keputusan ada resikonya masing masing”
Mia mengangguk pelan
“Apakah ada rasa cemburu itu Mia?”
“Ada bi. Cuma Mia menahannya. Karena cemburu Mia tidak ada artinya sama sekali Mia harus sabar dan mengalah sampai maut memisahkan.”
“Mia..sabar itu tidak ada batas. Bibi faham kondisi Mia saat ini bagaimana. Jikalau bibi pun di posisi Mia. Bibi gak sanggup. Tapi kamu hebat,Mia bisa berjalan sejauh Ini, kamu kuat,Mia”
“Semua orang mengatakan seperti itu. Mia tahu itu cuma untuk menyemangati Mia saja.”
Mia beranjak dari tempat duduknya. Aisyah dan Faqih telah tertidur pulas setelah pulang dari perjalanan tadi.
Mia masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Tidak sopan memang dengan sikap begini. Tapi hati Mia saat ini juga sedang berontak sama dengan hati Atiyah yang tiba tiba saja menjadi amarah yang tak terkendali yang terjadi dirumah sakit tadi.
Hingga Mia tidak peduli lagi denga siapa yang datang dan apa yang telah terjadi.
Tok…tok..tok…
Bunyi ketikkan pintu terdengar tiga kali dari luar. Santi beranjak dari tempat duduknya melenggang ke arah ruang tamu.
“Zaid?”
Jawab Santi melihat Zaid dan di sebelahnya ada seorang wanita cantik dan manis.
“Assalamualaikum bi”
Sapa Zaid ramah dengan senang
Santi termenung sesaat setelah menjawab salam dari Zaid.
“Sepertinya kita pernah bertemu Ya? Tapi dimana? Bibi lupa,”
Tanya Santi mencoba mengingat ngingat gadis cantik di depan matanya.
“Saya Nadia,bi. Temennya Mia waktu ngajar di bimbel”
Jawab Nadia ramah dan bersalaman dengan Santi. Santi pun menyambutnya dengan senang.
“Ohhh…iya Ya bibi lupa. Mari masuk kita ngobrol di dalem”
Ajak Santi dengan ramah
Nadia dan Zaid tersenyum memasuki rumah Mia dan Aldi.
“Tunggu sebentar ya. Bibi ambilkan minum dulu”
Kata Santi kemudian melenggang ke dapur.
10 menit kemudian Santi kembali membawa minuman dan sepiring berisi beberapa potong brownies buatan Mia.
Zaid tertegun sesaat menatap brownis di depan matanya.
Dulu ia sempat memuji rasa kenikmatan brownis buatan Mia ini.
‘Brownis dibuat dengan cinta….cinta sama Mas Aldi kan?’
“Hah sudahlah..itu Masa lalu
Pikir Zaid du dalam hatinya
“Ayo di cicip dulu. Bibi kedalam dulu Mia sedang di kamar.”
Kata bibi berusaha menenangkan dirinya.
Meskipun ia sendir bingung tapi ia tidak mau mereka tahu kalau hari ini hati Mia sedang hancur dan terluka.
Santi mencoba mengetuk pintu kamar Mia dengan pelan. Berharap Mia keluar.
Karena ruangan tamu sedikit berhadapan dengan pintu kamar Mia tentu Zaid dan Nadia melihat Santi saat mengetuk pintu kamar Mia berulang ulang meskipun tidak ada jawaban dari Mia.
“Sepertinya Mia sedang tidur”
Kata Santi mencoba tersenyum. Dan berbohong. Karena ia tidak tahu sedang apa Mia di dalam kamarnya.
Nadia mengangguk pelan. Tapi Nadia merasa heran melihat Mia seperti itu.
“Tidak seperti biasanya?”
Pikir Nadia didalam hati nya.
“Kok bisa Mia tertidur di saat seperti Ini? Apakah Mia sedang sakit bi?”
Tanya Nadia heran
“Tidak. Mungkin ia kecapekkan saja.”
Jawab Santi dengan bimbang
Zaid menatap netra Santi
“Ada apa yang sebenarnya terjadi bibi. Siapa tahu kedatangan kami yang tiba tiba seperti ini bisa membantu masalahnya,”
Jawab Zaid mencoba berusaha ingin tahu tentang Mia.
“Tidak. Mia hanya kelelahan ia baru saja pulang dari rumah sakit.”
“Siapa yang sakit?”
Tanya Zaid dengan cepat
“Aldi,”
“Apa? Sakit? Aldi sakit?Sakit apa Aldi? Dimana dia sekarang?”
Tanya Zaid dengan memborong banyak pertanyaan
Santi pun terdiam sejenak, kemudian menceritakan penyakit Aldi.

📌📌📌

“Aldi?”
Sapa Zaid saat masuk ruangan rumah sakit yang di tempati Aldi.
Aldi menatap Zaid dengan tatapan benci. Rasa benci itu tak mampu ia hilangkan meskipun telah lama ia berusaha melupakan.
“Maafkan aku,di, bagaimana kabar mu saat Ini?”
Tanya Zaid di temani Nadia.
“Alhamdulillah sekarang sudah mulai membaik. Besok aku akan diperiksa kembali jika semua normal aku udah di izinkan pulang besok pagi.”
Jawab Aldi mencoba mengacuhkan rasa bencinya karena ada Atiyah di sampingnya. Ia tidak ingin Atiyah mengetahui semua ceritanya.
“Mari mas duduk”
Kata Atiyah dengan heran dan memberi 2 bangku kepada Zaid dan Nadia.Atiyah heran kenapa Zaid kesini tanpa Mia istrinya. Karena di mata Atiyah Zaid adalah suami Mia.
Kenapa malah dengan wanita Ini?
“Perkenalkan saya Nadia tunangan Zaid”
Ucap Nadia ramah setelah merasa terganggu dengan tatapan Atiyah. Hingga ia berusaha mengenalkan dirinya terlebih dahulu.
Zaid terkejut dengan sikap Nadia yang memperkenalkan diri dengan memakai kata ‘tunangan’ dengan dirinya Serentak ia ingat kondisi saat ini.
Meskipun Zaid tahu apa yang telah dilakukan Nadia adalah benar. Berbicara dan mengenalkan diri dengan yang sesungguhnya dan benar.
Tapi tidak dengan netra milik Zaid dan Aldi saat ini mereka berdua terkesiap dengan seribu bahasa.
Bahkan Mereka seperti sulit untuk menelan air salivanya sendiri.
Flashback on
“Kamu disini aja temani bibi”
Kata bibi setelah mendengar niat Zaid untuk kerumah sakit menjenguk Aldi.
“Terima kasih bi. Tapi Nadia ikut mas Zaid saja. Sekalian Nadia pengen berkenalan dengan Atiyah.”
Jawab Nadia dengan ramah.
“Hmmm…bagaimana Ya apa gak terlalu ramai disana”
Jawab Santi mencoba menghalangi tapi ia tidak tahu dengan alasan apa
“Cuma berdua kan bi. He he he”
Jawab Nadia dengan ramah
Zaid mengangguk kepalanya tanda setuju. Ia tidak mengingat apa yang akan terjadi jika saja Atiyah tahu hubungannya dengan Nadia.
Dan Zaid lupa akan perannya sebagai suami Mia di Kehidupan Aldi dan Atiyah.
Dan Nadia tidak mengetahui tentang peran Zaid di kehidupan Aldi dan Atiyah
Zaid melangkah keluar setelah salam dengan Santi.
Mobil Zaid menghilang setelah sekian detik di depan pandangan Santi

Flash back off

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here