The Thrill Of love #22

0
34
views

Mia gelisah hari ini.
Dari kemarin perasaannya sudah tidak enak. Seperti ada sesuatu yang buruk terjadi.

Berkali kali ia mondar mandir di ruang tamu dengan memainkan ujung jilbabnya dengan cemas berharap kedatangan suaminya.
Untuk keluar rumah mencari suaminya tempat mengajar pun Mia tidak mampu.

Ia masih bertahan menunggu karena tidak mau kehadirannya diketahui banyak orang. Karena sudah pasti kejahatan akan di sudutkan kepadanya yaitu ‘perebut suami’.
Padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi.
Mereka hanya tidak mengerti.
“Mama? Kenapa papa belum pulang lagi?”
Tanya Aisyah tiba tiba memeluk Mia dengan tiba tiba.
Hati Mia bergetar halus ia merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Tapi ia berusaha menenangkan hatinya dengan prasangka yang baik kepada tuhannya Allah SWT.

“Papa sedang sibuk,sayang?”
Jawab Mia berusaha membalas pelukkan Aisyah dengan erat
“Bolehkah Aisyah menelpon papa? Aisyah rindu papa,”
Pinta Aisyah dengan wajah memohon
Ingin menolak permintaan Aisyah pun Mia tidak mampu.
Mia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tapi kemudian ia menolak permintaan Aisyah
“Tapi tidak sekarang,sayang,”
Jawab Mia tenang.
Aisyah tampak kecewa mendengar jawaban Mia.
Tapi ia berusaha menuruti perkataan anaknya.
Drreetttt….!
Ponsel Mia bergetar
“Nadia?”
Lirih Mia setelah melihat tertera nama Nadia memanggil diponselnya.
Hari itu entah mengapa Mia mencurahkan kegelisahan hatinya kepada sahabatnya Nadia.

Mia merasa seorang diri menahan rindu cemas dan khawatir untuk melakukan apapun ia tidak tahu. Hidupnya seperti penuh dengan kebimbangan dan keraguan.

Nadia menyadarinya. Nadia terus membujuk sahabatnya dengan halus dan bersemangat. Ia tampak menyemangati Mia kembali tidak seperti dulu. Jika dulu Nadia pasti akan memberikan komentar negatif saat mendengar Mia rapuh.

Sekarang banyak nasehat baik dan lembut terlontar dari kata kata Nadia.
“Kamu tenang saja. Aku akan cari tahu mas Aldi. Mungkin istrinya tidak mau melepas suaminya. Percayalah. Mas Aldi sangat mencintaimu”
Ucap Nadia setelah mendengar cerita Mia via telepon
Mia mengangguk pelan.meski ia heran dengan kepribadian Nadia yang sekarang lebih sedikit ada perubahan yang lebih condong menjadi wanita ‘perasa’
Tapi Mia mensyukurinya.
Semoga kelak Nadia akan menemukan jodohnya.
Mia meletakkan kembali ponselnya di meja ruang tamu. Hatinya masih khawatir. Dan ini lebih baik dari sebelumnya bercerita dengan Nadia.
2 hari Aldi tidak memberi Mia kabar. Mia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Terakhir komunikasinya saat malam Aldi sedang menyelesaikan tugasnya di kediamannya bersama Atiyah. Besoknya tidak ada kabar apapun dari Aldi. Ingin menghubunginya pun Mia tidak mampu. Karena ia takut akan timbul perpecahan di keluarga Aldi dan Atiyah jika Mia menelpon Aldi karena otomatis Mia masuk kedalam kehidupan Aldi dengan sepengetahuan Atiyah.

Karena malam terakhir Aldi menelpon Mia memberi tahu kalau Atiyah sudah mulai curiga.
“Yaa Allah ini rumit sekali”
Pikir Mia di dalam hatinya yang penuh kegundahan.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

Sementara itu Atiyah dirumah sakit menunggu suaminya sadar. Sudah 2 hari Aldi tidak sadar. Atiyah gelisah faqih saat ini sedang berada bersama bibi Santi.

Atiyah sengaja menelpon bibi Santi agar datang kesini membantunya mengurus Aldi yang tidak sadarkan diri.
Netranya terus mengalirkan air yang penuh dengan kesedihan.
Perkataan dokter yang telah ia dengar hari ini sangat membuatnya jiwanya terguncang. Aldi sangat di cintainya jika akan berpisah sepertinya Atiyah belum siap dengan sepenuhnya. Tapi harapannya berusaha terus menyakinkan bahwa ini semua akan baik baik saja.

Flash back off

“‘Menurut data dan setelah kami periksa bapak Aldi terkena meningitis.
peradangan yang terjadi pada membrane atau selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang.'”
Jelas pak dokter yang dihadapan Atiyah
Atiyah lemas seketika.

Bagaimana tidak Aldi mampu menutupi ini semua.
Atiyah bahkan marah dan sempat mendiamkan suaminya itu selama 1 minggu akibat sifat Cemburunya karena mendengar pembicaraan bu Intan tetangganya.

Atiyah menyesali sikapnya selama ini.
Terbeait sebuah hadist yah Atiyah pernah mendengar sebuah hadist
โ€œKetika Rasulullah menyebut-nyebut kebaikan Khadijah, timbullah kecemburuan di hati Aisyah. Aisyah menceritakan, โ€œApabila Nabi Shallallahuโ€™alaihiwasallam mengingat Khodijah, beliau selalu memujinya dengan pujian yang bagus. Maka pada suatu hari saya merasa cemburu hingga saya berkata kepada beliau; โ€˜Alangkah sering engkau mengingat wanita yang ujung bibirnya telah memerah, padahal Allah telah menggantikan untuk engkau yang lebih baik darinya. Serta merta Rasulullah bersabda: โ€œAllah AzzaWaJalla tidak pernah mengganti untukku yang lebih baik darinya, dia adalah wanita yang beriman kepadaku di saat manusia kafir kepadaku, dan ia membenarkanku di saat manusia mendustakan diriku, dan ia juga menopangku dengan hartanya di saat manusia menutup diri mereka dariku, dan Allah AzzaWaJalla telah mengaruniakan anak kepadaku dengannya ketika Allah tidak mengaruniakan anak kepadaku dengan istri-istri yang lain.โ€ (HR. Ahmad)
“Mas Aldi tidak pernah memuji wanita lain selain diriku sendiri. Apa yang harus aku cemburukan? Aldi tetap sempurna dimataku.
Apakah jika aku terus mempercayai orang lain akan merusak rumah tangga Ku? Atau jika akan membuat sebuah fakta yang baru? Aku sayang kamu mas.”
Lirih Atiyah ketika mengingat hadist tersebut.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

โ€œHai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.โ€ (Al-Hujurat: 12)
Terakhir Atiyah membaca 1 ayat alquran yang membuatnya telah salah dalam berprasangka ia membaca mengacaknya surat alhujurat setelah selesai membaca surat yaasin berharap kesembuhan dan kesadaran untuk Aldi.

Atiyah termenung menghayati arti dari surat alhujurat.
“Aku bingung apakah aku telah berprasangka atau emang nyata. Aku bingung siapa yang harus aku percayakan bu Intan,suamiku atau diriku sendiri”
Lirih Atiyah dengan kesedihannya yang terdalam.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

Hari ini syukur itu terucap berkali kali oleh Atiyah.
kondisi Aldi sudah membaik. Sudah 5 hari ia berada dirumah sakit tanpa kesadaran.
Hari ini Aldi telah sadarkan dirinya meskipun masih tampak lemas tidak berdaya. Aldi tampak memiliki semangat baru yang terpancar dari Wajahnya.

Setelah dipindahkan diruangan khusus rawat.
Aldi terus menatap penuh cinta kepada Atiyah. Hatinya merasakan bahagia berada di sini meskipun dirinya sakit Tapi hatinya kuat menyemangatinya.
Bibi Santi hari ini pulang setelah memastikan semua baik baik saja.
Rencananya bibi Santi akan kerumah Mia memberi tahu kabar Aldi.
Karena bagaimanapun bagi bibi Santi Mia berhak tahu tentang ini.
“Kenapa mas Aldi gak kasih tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
Kata Atiyah pelan.

“Mas sayang Atiyah,mas tidak mau Atiyah bersedih.”
Ucap Aldi lirih yang bingung harus menjawabnya dengan apa.
“Apakah karena ini juga mas Aldi ingkar janji tidak pulang saat itu?”
Tanya Atiyah penuh penasaran.

Aldi menggenggam pelan tangan istrinya Atiyah. Ia menganggukkan kepalanya pelan pelan menanggapi pertanyaan Atiyah.
Dari lubuk hatinya ia menyukai keadaan yang seperti ini. Saat hati dan hati berbicara dengan penuh saksi kecintaan.
Tangis Atiyah kembali pecah melihat aNggukkankepala Aldi. Hatinya seketika merasa bersalah dan penuh dosa.

“Apakah Atiyah termasuk istri durhaka dimata mas Aldi?”
Tanya Atiyah berkata lirih dengan sesegukkan.
Aldi menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak,sayang”
Jawab Aldi membuat Atiyah sedikit merasa bersyukur.
“Dimana faqih?”
“Sama bibi Santi”
Aldi diam sesaat.
“Kamu harus sabar Atiyah. Ini bukan penyakit yang serius. Mas Hanya butuh dukunganmu agar kuat menghadap ujian ini”
Ucap Aldi lemas tak berdaya.
Atiyah kembali tenggelam dalam tangisnya. Sungguh kesedihan ini sangat dalam buat hidupnya.

Ia merasakan getaran cinta itu membujuknya menikmati semua ini dan melupakan semua kesalahan.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

“Kenapa mas Aldi tidak memberi kabar sedikit pun kepada Mia?”
Tanya Mia khawatir setelah mendengar cerita bibi Santi baru saja.
Bibi Santi menghembuskan napasnya pelan. Dilihatnya Faqih masih sibuk bermain dengan Aisyah.
“Bibi juga baru saja mengetahui kabar ini setelah Atiyah menelpon bibi. Selanjutnya bibi hanya fokus kepada Aldi.”
Cerita Santi menyesali sikapnya yang tidak terbesit untuk mengabarkan Mia juga.
“Apa karena Mia seperti ini? istri ‘simpanan’?”
Tanya Mia terputus
“Kata siapa istri simpanan. Kalian itu sama dimata Aldi. Tidak perlu ditambah dan dilebihkan”
Jawab Santi merasa kasihan
“Baiklah. Tapi Mia merasa mas Aldi tidak peduli dengan perasaan Mia”
“Ayolah Mia. Kamu sudah dewasa. Kamu harus mengerti perjuangan Aldi mempertahankan kalian berdua.”
Potong Santi saat Mia belum selesai berbicara.
Mia diam di dalam hatinya ia berusaha menyemangati dirinya sendiri.
“Mia harus kerumah sakit sekarang.”
“Bukan sekarang waktunya Mia”
“Kenapa? Apa karena posisi mia….”
“Sudah. Kamu tidak perlu memperumit keadaan. Mia bersabarlah. Besok kita kerumah sakit bersama sama. Beri Atiyah dan Aldi waktu untuk bersama
Mia terpukul mendengar penjelasan Santi yang sepertinya memihak Atiyah Aldi.
Benar apalah daya Mia seorang istri yang belum dinikahi secara sah dimata negara.
Ia tidak mempunyai hak untuk apapun atas suaminya. Terbesit rasa menyesal yang terlambat.
“Andai aku istri sahnya mas Aldi di mata negara. Mungkin kehidupan Ku tidak sesulit ini”
Lirih Mia pelan di dalam hatinya.
Mia menyadari kekurangannya.
Kali ini ia mengatakan kalah dalam pertarungan cinta ini.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

“Bibi Santi,mia”
Sapa Atiyah melihat tamu hari ini yang begitu spesial dimatanya.
“Mia…apa kabar Kamu?”
Tanya Atiyah senang menyambut Mia.
“Alhamdulillah,baik. Bagaimana kabar mu? Dan mas Aldi bagaimana sudah membaik?”
Tanya Mia berusaha tegar setelah tadi sempat melihat Atiyah dan Aldi saling menggenggam tangan untuk menguatkan.
Hatinya hancur melihat itu. Cemburu mulai menguasai dirinya.
“Kalian datang bersama?”
Tanya Aldi
“Iya. Bibi Santi menjemput Mia.” Jawab Mia mengusap air matanya yang hampir menetes.
Mia menahannya.
Santi tampak mengangguk setuju menjawab jawaban dari Mia.
“Bagaimana kabar mu Di?”
Tanya Bibi Santi mendekat kepada Aldi.
“Alhamdulillah bi seperti yang bibi lihat saat ini. Aldi baik baik saja”
“Alhamdulillah kalau begitu”
Suasana diruangan rumah sakit yang di inap Aldi tampak ramai dipenuhi dengan suka cita. Seolah olah kesedihan tak pernah melintasi mereka. Aisyah tidak banyak bertanya karena telah dilarang Mia. Menjadi syarat ntuk bertemu Aldi tidak memanggil papa saat ada Atiyah. Aisyah pun setuju. Ia tidak banyak berbicara meski Aisyah sendiri tidak faham dengan apa yang terjadi.
Mia terus saja mencuri pandang kepada suaminya. Melihat Atiyah yang begitu mesra mengurus Aldi.
Sedangkan Mia ia tak punya kesempatan banyak. Mendekat suaminya itu pun ia tak mampu.
Aldi melirik sekilas ke arah Mia saat atiyah keluar ruangan ingin melaksanakan sholat zuhur.
Santi seperti mengerti dengan keadaan. Santi berusaha memberikan ruang untuk Aldi dan Mia . Santi pergi meninggalkan ruangan dengan alasan mengajak Faqih dan Aisyah bermain di luar ruangan.
Aldi mengangggukkan kepalanya
“Mas.benarkah tentang penyakit itu?”
“Benar,sayang, tak perlu khawatir. Mas bisa menghadapinya. Doakan mas ya,”
“Mas…”
“Ya?”
“Maafin Mia ya,mia gak tau harus ngomong apa sama Mas saat ada kesempatan seperti ini.”
“Ayo peluk Mas ,sayang,”
Mia mendekat memeluk suaminya itu. Meski pelukkan tidak sempurna. Tapi Mia merasakan sensasi cintanya yang begitu sempurna.
“Mas..Apakah Mas akan meninggalkan Mia? Mia gak sanggup mas”
Kata kata Mia menusuk hati Aldi tapi ia harus kuat. Pelukkanya semakin erat
“Semua akan ada saatnya pergi dan kembali,Mia”
Jawab Aldi dengan kesedihan tertahan
“Mas..kenapa Mas berbicara seperti Itu?”
“Karena mas mencintai Mia”
Ucap Aldi.
“Jika saja mas Pergi kamu harus kuat.”
Kata Aldi memeluk Mia
Mia menahan rasa khawatirnya yang mendalam.
“Tidak mas akan sehat,percayalah
Aldi menganggukkan kepalanya.
“Aamiinn…terima kasih doanya”
Jawab Aldi dengan tersenyum.
Mia melepas pelukkannya ia duduk disamping Aldi dan menggenggam tangan Aldi seperti ingin menyalurkan kekuatan buat suaminya.
Aldi menikmatinya.
“Semoga banyak dosa kita luruh melakukan ini. Menggenggam tangan penuh rasa cinta karena Allah. Dosa akan berguguran melalui celah celah jari Ini.”
Kata Aldi dengan di jawab anggukan kepala oleh Mia.
“Andai kamu tahu cinta ini tidak akan berkurang meskipun aku telah memiliki Atiyah. Mas Aldi tetap mencintaimu apapun itu yang terjadi.”
Kata Aldi seraya mencium tangan Mia yang di genggamnya.
“Mia juga mencintai dan menyayangi mas”
Jawab Mia dengan tangisan tertahan.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here