The Thrill Of love #19

0
130
views

“Nadia?”
Kata Mia terkejut dengan kedatangan Nadia yang mendadak.

“Assalamu’alaikum Mia?”
Sahut Nadia tegas dengan senyum yang mengembang.

Mia langsung memeluk Nadia. Hatinya bergembira kedatangan sahabatnya itu.

“Dengan siapa Nad kamu kesini?”
Tanya Mia membantu Nadia memasukkan tas nya kedalam rumah.

Sepertinya mau menginap pikir Mia

“Sama siapa Ya?”
Tanya Nadia kembali dengan senyum senyum bahagia.

“Aku tak melihat mobil mu?”
Tanya Mia melangkah kedepan melihat kendaraan apa yang digunakan Nadia kerumahnya.

“Kamu kenapa sih ? ”
Nadia mulai jengkel dengan sikap Mia

“Yah tinggal jawab aja kan dengan siapa?”
Ucap Mia menatap netra bening Nadia

“Hmmm…Aku haus nih ada air minum?”
Tanya Nadia celingak celinguk seperti orang yang kehausan

“Oh iya. Tunggu sebentar”
Jawab Mia

Mia melangkah ke dapur. Setelah beres membuatkan minum untuk sahabatnya. Mia kembali ke kamar melihat keadaan suaminya.

“Siapa ?”
Tanya Aldi dengan penasaran

“Nadia,mas”
Jawab Mia mendekat kepada suaminya itu.

“Oh ya udah. Temuilah dia. Mas juga harus istirahat sebentar.”
Sahut Aldi pelan.
Mia mengangguk pelan. Dicium dahi Aldi suaminya.
Kemudian bergegas keluar menemui Nadia.

“Maaf menunggu lama. Ini minumnya Nad”
Ucap Mia ikut duduk setelah memberikan minum kepada Nadia

Nadia meminum minuman itu sedikit sedikit. Haus tenggorokkannya sudah lega.

“Terima kasih.”
Ucap Nadia kembali minum airnya

“Mas Aldi dimana?”
Tanya Nadia kemudian setelah habis meminum airnya.

“Ada dikamar?”
Jawab Mia dengan senyum kecil

“Pantes aja aura wajahmu bahagia. Ada mas Aldi ternyata”
Sahut Nadia menggoda.

Mia tertawa menimpali percakapan Nadia.

“Eh..ngomong ngomong. Kamu belum cerita ni kesini sama siapa?”
Tanya Mia kembali setelah tadi lupa akan pertanyaannya yang belum di jawab Nadia.

Nadia menatap netra Mia dengan sungguh sungguh

“Tapi itu gak penting juga kan Mia. Aku kesini kebetulan aja ada keperluan dengan temen. Jadi mampir aja kesini.”
Jawab Nadia kembali menuangkan air dan minum kembali seperti orang yang benar benar kehausan.

“Iya. Setidaknya aku tahu kamu kesini sama siapa?”
Tanya Mia kembali

“Penasaran?”
Goda Nadia dengan tertawa

“Ayolah Nad. Jangan bercanda dong.”
Timpal Mia merasa kesal.

“Hahahahah…Penasaran kan?”
Goda Nadia kembali masih tetap tidak mau bicara.

“Ihhh….gak juga tuh. Ngapain Penasaran
Kata Mia seraya ikut minum air yang udah ada di atas meja.

Nadia tertawa lebar.
Sudah lama tidak jahilin ini teman
Pikir Nadia saat itu.

Pembicaraan terhenti kala Aisyah mendekatinya.

“Udah bangun,sayang?”
Tanya Mia langsung memeluk Aisyah

“Tante Nadia?”
Jawab Aisyah langsung bersalaman dengan Nadia.

Nadia menyambut uluran tangan Aisyah dan langsung memeluknya erat.

“Duhhh…tante tuh rindu banget sama Aisyah. Baru bangun tidur Ya?”
Tanya Nadia kepada Aisyah

Aisyah mengangguk pelan.

“Iya padahal bangun juga udah siang hari ini. Masih aja kurang tidurnya.”
Kata Mia menimpali pembicaraan mereka.

“Pasti capek ya Aisyah?”
Tanya Nadia senang

Aisyah mengangguk cepat.

“Kemarin Aisyah jalan jalan sama mama dan papa,tante seru sekali loh”
Ujar Aisyah dengan raut kebahagian yang terlukis di wajahnya.

Nadia kembali memeluk Aisyah.

“Ya udah Aisyah lanjut buka buku nya aja”
Kata Mia mengajak Aisyah untuk menyambung kembali kegiatan membaca mereka yang sempat terhenti di siang tadi.

Aisyah mengangguk pelan.

“Aisyah ambil bukunya ya ma.”
Ucap aisyah dan melangkah ke kamar mengambil beberapa buku.

📌📌📌

“Maaf Nad, aku ke kamar sebentar”
Kata Mia setelah adzan ashar berkumandang

“Ciie….Masih sempet sempatnya ke kamar. Udah ashar tau!”
Timpal Nadia dengan netra sok sibuk melihat buku bersama Aisyah.

“Yeee. Emang Ashar huh”
Jawab Mia beranjak dari tempat duduknya.

Mia melangkah ke kamar menuju Aldi setelah mengambil segelas air minum hangat untuk Aldi
Dibukanya pintu perlahan kemudian Mia masuk ke kamar.
Dilihatnya Aldi telah terbangun.

“Mas sudah bangun.? Gimana keadaan mas sekarang?”
Tanya Mia khawatir

“Alhamdulillah ini sudah mendingan. Terima kasih udah merawat Mas”
Jawab Aldi

“Alhamdulillah kalau begitu. Ini minum dulu mas air putih hangat nya.”
JawaB Mia memberikan segelas air putih hangat untuk diminum suaminya itu.
Aldi meminum air putih hangat tersebut sampai setengah.

“Mas bisa minta tolong kepadamu?”
Pinta Aldi dengan suaranya yang pelan.

“Iya Mas? Ada apa?”
Tanya Mia.

“Itu ponsel mas di dalam tas tolong kemarikan kesini. Mas belum kasih kabar apa apa dengan Atiyah. Kasihan dia”
Pinta Aldi dengan suaranya yang masih pelan dan lemas.

Mia mengangguk pelan melangkah ke meja pojok ruangan mengambil tas Aldi kemudian merogoh ponsel seperti yang diminta Aldi.
Mia kembali melangkah ke arah Aldi memberikan ponsel yang telah ia ambil tadi.

“Terima kasih”
Jawab Aldi kemudian membuka ponselnya. Dan ternyata benda pipih itu sedang mati.

“Batere nya habis.”
Kata Aldi pelan

“Sini,biar Mia charger dulu”
Jawab Mia meminta ponsel Aldi.

Aldi memberikan benda pipih itu kepada Mia untuk di charger.

“Mas perlu bantuan untuk melaksanakan sholat?”
Tanya Mia dengan ramah dan santun

“Mas bisa sendiri.”
Jawab Aldi pelan.

Mia mengangguk pelan.

“Jika perlu apa apa. Panggil Mia ya mas.”
Jawab Mia lembut

“Yah pasti”
Jawab Aldi kembali

“Mia ke belakang dulu menyiapkan cemilan buat sore ini ”
Kata Mia beranjak dari duduknya.
Aldi menanggapi dengan senyuman.

Mia melangkah keluar kamar setelah memberikan senyum kecilnya yang indah untuk Aldi.

📌📌📌

“Mia mungkin aku harus pulang dulu”
Kata Nadia sesaat melihat Mia sudah kembali duduk bersamanya.
Nadia tidak mau menganggu moment Mia dan Aldi bertemu.
Karena Nadia tau mereka mempunyai waktu yang terbatas untuk bertemu.

“Kenapa terburu buru? Kamu tidak menginap terlebih dahulu?”
Ajak Mia dengan sungguh sungguh

“Ah..tidak juga. Nanti teman kembali menjemputku. Aku akan menginap bersama teman di hotel saja. Nanti jika sudah selesai urusannya besok. Aku kembali kesini lagi sebelum kembali lagi pulang kerumah ku.”
Cerita Nadia panjang mengubah rencananya.
Padahal rencana awal ia akan menginap dirumah Mia. Soalnya Mia bilang Aldi hari ini akan pulang kerumah Atiyah. Nadia ingin bercerita banyak tentangnya dengan Mia.
Tapi ternyata Aldi ada dirumah. Nadia tidak bisa tinggal disini. Ia akan menganggu kebersamaan suami istri itu. Nadia harus mengubah rencananya.

“Hmmm…baiklah Jika itu rencanamu. Rumah ini terbuka untukmu. Mampir lah kapan saja kamu mau”
Jawab Mia dengan jelas dan berharap

Nadia mengangguk pelan. Ia mengeluarkan ponselnya. Tampak mengetik sesuatu. Mia berdiri menyiapkan air minum dan cemilan di dapur.

Baru saja Mia sudah menyiapkan semuanya.

“Loh. Kamu udah mau pulang?”
Tanya Mia heran.

“Iya ini sudah sore. Temanku ada di depan udah jemput.”
Jawab Nadia memeluk Mia dan memeluk Aisyah.

“Oh Ya? Kenapa gak ajak masuk dulu. Ini cemilannya udah siap loh. Aku bikinnya untuk kamu.”
Jawab Mia dengan antusias

“Mia. Nadia harus pulang ini sudah sore loh”
Jawab Nadia seperti mengeluh.

“Ayo ajaklah masuk dulu temanmu. Aku akan menyiapkan minuman Satu lagi. Berapa orang di dalam?”
Tanya Mia dengan siap siap mau kerapu lagi.

“Oh tidak Mia aku terburu buru. Ini aku minum airnya.”
Kata Nadia meminum air tersebut

“Ini kue nya aku bawa aja buat cemil di mobil.”
Kata Nadia kembali mengambil beberapa kue di taruh di tisu.

“Bentar. Aku ambil kotak makan aja. Masa pake tisu.”
Kontan Mia keberatan.

“Tidak usah aku terburu buru. Temanku gak mau lama menungguku.”
Jawab Nadia terburu buru dan mengucapkan salam kemudian bergegas masuk kedalam mobil.
Nadia sedikit membuka kaca mobil
Dengan pamitan

“Da..da. Mia..Aisyah..”
Teriak Nadia dari dalam mobil dan kembali menutupnya.
Mobil melaju pelan meninggalkan rumah Mia dan Aldi.

Mia penasaran sekali. Siapa teman Nadia yang telah menjemputnya.

“Seperti nya dia bukan perempuan,”
Pikir Mia sempat melihat kepala dan rambut cepak disebelah Nadia saat Nadia membuka sedikit jendela kaca mobilnya.

“Apakah ia seorang laki laki itu adalah pasangannya?”
Pikir Mia menjadi melamun.

“Mia.”
Tiba tiba Aldi menyentuh bahu Mia kemudian Memeluknya.
Mia terkaget

“Melamun aja sayangku”
Ujar Aldi dengan tersenyum mengembang

“Eh..Mas Aldi,udah sehat Mas?”
Tanya Mia tiba tiba menjadi gugup.

“Alhamdulillah sehat. Berkat kegigihan kamu rawat mas. Terima kasih ya”
Kata Aldi melepas pelukkannya. Karena merasa tidak nyaman setelah tahu ternyata ada Aisyah yang masih sibuk bolak balik bukunya.

“Alhamdulillah. Gak harus berterima kasih Sama Mia mas. Itu sudah menjadi kewajiban Mia seorang istri”
Jawab Mia dengan sungguh sungguh.
Pikirannya tentang Nadia dan seseorang bersama Nadia telah terkikis dengan hadir Aldi saat ini.

📌📌📌

Sementara itu dirumah Atiyah. Faqih sudah mulai tenang setelah dari pagi terus saja rewel. Atiyah tidak sempat mandi ataupun makan dari pagi tadi. Ia sibuk mengurus faqih yang terus saja menangis dan rewel jika Atiyah melakukan sesuatu pekerjaan rumah. Seolah olah Atiyah tidak diperbolehkan Faqih melakukan apapun selain mengurus Faqih.
Hari ini Atiyah merasa kewalahan sekali.

“Bagaimana aku bisa menyambut mas Aldi yang akan pulang Hari ini jika penampilan aku acak acakan seperti Ini
Gumam Atiyah dengan tidak percaya diri.
Atiyah mencoba mulai melupakan cerita bu Intan tetangganya itu.
Semoga saja itu hanyalah fitnah pikir Atiyah menenangkan hatinya.

“Ayolah Faqih.mengertilah nak.”

Lama lama Faqih pun tidur.
Jam menunjukkan angka 13.30

“Sudah siang, aku harus bersiap siap menyambut Aldi setelah sholat”
Pikir Atiyah bergegas berdiri dan melangkah ke kamar mandi tujuan utamanya. Karena dari pagi ia belum mandi.
Hebat sekali bukan rewelnya Faqih hari Ini? Seolah olah tidak terima dan akan memberi tahu jika abi nya akan ingkar janji untuk pulang hari ini.

14.30 Atiyah udah siap rapi. Tapi tidak sedikit pun tanda tanda Aldi akan pulang. Padahal semalam Aldi berjanji akan pulang. Meski pagi tadi tidak ada kabar kembali. Atiyah memakluminya mungkin Aldi sibuk dengan mengajarinya pikir Atiyah mencoba berdamai.

Tapi setelah siang ini pun tidak ada kabar Atiyah kembali gusar. Hatinya khawatir. Ada apakah yang terjadi dengan Aldi.?
Apakah ia baik baik saja?
Atiyah terus berpikir menebak nebaknya.
Akhirnya ia melangkah ke kamarnya mengambil ponsel dan berusaha menghubungi suaminya.
Nadia sambung pun di tunggu Atiyah.
Tapi meskipun berkali kali ia mencoba tidak satu pun di angkat.

“Yaa ALLAH,apa yang telah terjadi?”
Lirih Atiyah menjadi benar benar takut Kehilangan.

Atiyah kembali menghubungi berkali kali tapi masih nihil tidak ada jawaban pun dari Aldi.

Faqih akhirnya kembali bangun.
Ia kembali melanjutkan rewelnya seperti pagi tadi.
Atiyah semakin gelisah. Pikirannya menjadi kacau.

“Duhhh…Faqih Udah bangun.mana ummi belum sempat makan ini”
Pikir Atiyah tiba tiba teringat jika ia belum makan dari pagi tadi. Ia hanya sempat minum susu dan beberapa roti saja untuk mengganjal lapar karena kesibukannya dengan Faqih.

Sampai magrib pun ia tunggu tidak ada kabar.
Atiyah mulai kecewa dan putus asa.

“Mungkin apa yang telah di ceritakan bu Intan itu benar. Mungkin suamiku telah mempunyai istri baru”
Pikir Atiyah menjadi lemah tak berdaya.
Rasa semangat itu tiba tiba menjadi hilang.

“Aku tidak bisa membayangkan jika saja itu benar.”
Lirih Atiyah mulai menangis.

Faqih kembali tertidur. Dicobanya kembali menghubungi Aldi. Tapi ternyata nomor suaminya itu sudah tidak aktif lagi.
Atiyah segera menunaikan shalat magribnya. Ia sempat membaca quran menenangkan hatinya yang begitu terpukul.
Antara kecewa sakit hati sedih menjadi satu. Atiyah tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehidupan rumah tangganya kelak untuk kedepan hari.
Tetesan demi tetesan air mata itu keluar Atiyah benar benar benar terpukul hari ini.

20.00
Atiyah kembali ke kamar bersama Faqih. Faqih sudah mulai tenang.
Atiyah meraih ponsel untuk melihat dan berselancar di dunia maya.
Sekilas ia melihat panggilan tidak terjawab dari suaminya.

Entahlah rasa semangat yang menggebu gebu tadi siang hilang seketika padahal tadi Atiyah sangat menunggu kedatangan Aldi menunggu kabar dari Aldi. Tapi saat ini rasa semangatnya hilang ditelan rasa kecewa.

Atiyah mendesah pelan. Ia tidak menjawab dan memperdulikan telepon dari suaminya itu. Ia terus berselancar di dunia maya.
Kecewanya terlalu berat ia rasakan.

Malam itu Atiyah tidur dengan keadaan yang sangat sedih. Air mata tumpah begitu saja terus saja mengalir meskipun Atiyah mencoba menata hatinya untuk melupakan.
Tapi ternyata sulit.
Sulit sekali bagi Atiyah.

‘Cinta itu bisa membuat melambungkanmu terbang jauh melayang dengan rasa bahagia yang tak terbatas.
Tapi,
Cinta itu juga mampu menghempaskan angan angan dan rasa mu dalam sekejap dan sekali hentakan.
(Atiyah)’

Klik

Pesan itu Atiyah tulis buat statusnya di dunia maya. Sebelum ia tertidur menyelami mimpi berharap menemukan kebahagiaan yang abadi.

Klik!

tiba tiba saja suasana menjadi menjadi gelap.

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here