The Thrill Of love #16

0
97
views

Entah apa dihatiku jumat siang ini setelah melaksanakan shalat jumat selalu terbayang wajah kekasih ku Helmia.
Aku tidak bisa melupakan bayang bayangnya meski kutahu aku hanya membencinya karena cemburu.
Yah cemburu kepada Zaid yang tidak punya perasaan itu.
Tapi aku akan mengalahkan ego ku ini. Besok sabtu siang aku harus ke tangerang menemui Mia aku benar benar rindu kepadanya.

“Mas Aldi mau kemana?”
Tanya Atiyah saat melihat ku mulai beberes dikamar.

“Mas ada urusan sebentar sayang dan selasa nanti mas pulang kebetulan senin dan selasa ini disekolah gak ada jadwal.”
Jawabku kepada Atiyah istriku . Aku melangkah ke hadapannya dan mencium keningnya dengan kasih sayang.

“Hmmm…hati hati mas tolong jangan lama lama Atiyah takut cuma berdua dirumah bersama Faqih.”
Jawab atiyah dengan memeluk ku.

Aku mengangguk pelan dan merangkulnya mesra menghilangkan rasa khawatirnya kepada ku yang akan pergi sesaat dan akhirnya aku terbuai dengan indahnya merajut cinta berdua Atiyah.

📌📌📌

“Mas udah ashar”
Kata Aisyah sesaat ia memegang pipiku dengan lembut

“Hmmm….”
Jawabku dengan membuka mataku dengan berat sekali.

” aku sudah membuatkan kamu minuman untuk santai sore ini mas”
Ujar Atiyah dengan mengelus pipi ku kembali.

Tampak aroma wangi di tubuhnya wangi khas Atiyah setelah mandi membuat ku langsung memeluknya kembali.

“Ihhh..mas Aldi Ini udah hampir jam 5 mas gak baik shalat diakhir waktu.Faqih udah siap mau main bola bersama mas. Kan nanti mas Akan pergi besok?”
Jawaban lembut suaranya yang sangat membuat ku dengan sejuta rasa yang entah bagaimana lagi harus aku syukuri.

“Iya.. emang jam berapa sayang sekarang?”
Tanyaku dengan suara serak sehabis tidur siang yang sangat nyenyak.

“Pukul 4 lewat 30 mnit mas. Ayo mas buruan.”
Ucap Atiyah masih dengan suara lembut dan manja itu.

Aku bergegas menuju kamar mandi dan menyegerakan kewajiban utamaku
Aku kesorean sholat ashar kali ini.

17.00 aku sudah bersantai di depan teras melihat faqih bermain dilantai teras dengan mobilan barunya.
Faqih sudah memasuki usia 1 tahun 6 bulan ada rasa bangga di hatiku melihatnya tumbuh menjadi anak yang sholeh terbukti saat mau minum ia tak lupa selalu mengucap basmalah meski belum jelas dan fasih tapi bisa tertebak faqih sering berdoa selalu ketika mau memulai sesuatu dengan menengadahkan kedua tangannya dan diakhiri dengan mengusap wajahnya.
Pemandangan yang lucu dan indah bagiku tidak salah aku memilih Atiyah sebaginistri yang sholehah untukku pikirku.

Usaha penjualan baju ditoko depan ku akhir akhir ini meningkat. Atiyah membantu menjalankan toko dengan berbisnis online ia sangat cerdas dalam hal ini. Terbukti penjualan baju baju di toko ku yang kecil dan cuma di depan rumah bisa berjalan lancar dan meningkat.
Kadang aku harus kewalahan tiap malam untuk packing barang agar dikirim tepat waktu sesuai permintaan costumer.

Aku mencoba membeli sebuah mobil meski hanya mobil second setidaknya aku tidak mencicil alias cash.

📌📌📌

sabtu siang aku sudah siap mau ke tangerang menuju rumah bibiku Santi aku sudah tidak sanggup menahan rindu kepada Mia.
Ku ucapkan salam dan memeluk Atiyah dan ku akhiri memcium keningnya. Kemudian mencium faqih dengan gemas.

“Doain mas ya sayang…assalamu’alaikum”
Ucapku sebelum melangkahkan kaki ku kedepan.

Kulihat tatapan Atiyah dengan berkaca kaca aku tau dia sedang bersedih tapi aku juga harus fokus kepada Mia. Mia masih istriku dan tidak terbesit sekalipun untuk bercerai dengannya. Sungguh aku mencintai Mia sepenuhnya.
Hmmm
Ralat
Aku mencintai mereka berdua sepenuh hatiku.

Tapi apa yang terjadi saat malam tiba di tangerang aku tidak menemui Mia. Yang aku dapat hanya sebuah cerita kalau Mia telah tinggal di cibodas bersama teman seperjuangannya dulu mengisi kelas bimbel yang sedang berjalan dan membutuhkan pengajar.

Aku senang mendengarnya. Siapa yang tak senang dan bangga memilik istri yang sabar dan cerdas.

Bibi Santi bilang Mia telah meminta izin kepadaku.
Padahal aku tidak pernah mendengar permintaan izin darinya.

Segera ku langkahkan kaki ku menuju cibodas saat itu juga setelah mendapatkan alamat tempat tinggal Mia bersama temannya itu.

Rasa kesal dan capek itu berubah menjadi rasa semangat.

📌📌📌

Subuh aku sudah di sini sebuah masjid dan aku tertidur dimasjid setelah melaksanakan sholat subuh disini. Rasanya tubuh ini luar biasa capeknya. Tapi ku tahan demi menemui sang pujaan hati yang tinggal sekali langkah lagi.

Aku sudah merencanakan akan mencari kontrakan buat Mia di jakarta dekat dengan rumahku bersama Atiyah. Meski tidak tetangga setidaknya 1 kota agar aku mudah untuk menjangkaunya.

Ahhh…rencana yang sangat sempurna menurutku.

07.00

Aku melangkah ke alamat Mia yang diberikan bibi Santi.
Ku ketuk pintu itu sekali lagi dan tidak ada jawaban. Ku ketuk terus berulang ulang karena hatiku benar benar merasa gugup akan bertemu sang kekasih hati.

Aku benar benar menunggunya

Saat pintu itu terbuka aku terpesona melihat Mia yang selam ini aku rindukan ada didepan wajahku.

Assalamu’alaikum.”
Ucapku

“Wa’alaikum salam”
Jawab Mia pelan. Dan kulihat dia menundukkan kepalanya. Apa dia menangis pikirku saat itu

“Maafkan atas sikapku dulu Mia”
Kata ku dan Mia langsung memelukku dengan erat sekali aku mencium aroma tubuhnya aku benar benar rindu sekali hingga ku nikmati saja pelukkan itu.

“Silahkan kamu mau menghukum aku dengan apapun, kamu tetap cinta pertamaku Mia. Maafkan aku suamimu ini Mia”
Kataku masih menikmati pelukkan Mia

“Papa….”
Tiba tiba ada suara Aisyah membuat Mia menoleh

“Aisyah”
Jawab ku melambaikan tangan tanda agar Aisyah mendekat.

Aisyah mendekat kemudian ikut memeluk ku
Ku dengar Aisyah berbicara

“Aisyah bermimpi papa akan meninggalkan Aisyah bersama mama”

“Tidak sayang..papa sayang kalian berdua. Papa kesini datang untuk jemput kalian buat pulang kerumah kita.” Jawabku penuh semangat

“Tapi tidak bisa sekarang mas. Mia harus bicara dulu sama Nadia. Karena Mia sudah terlanjur akan mengajar disini bekerja menemani Nadia mengolah kelas bimbelnya.”
Tiba tiba Mia membuka suaranya yang manis itu.

“Ayo pa masuk nanti seperti om Zaid kemarin gak mau masuk karena di diemin mama”
celoteh Aisyah yang membuat ku terdiam.
Aku menahan amarah ketika nama itu disebut Aisyah sungguh aku benar benar membenci dia aku tidak suka dia dan rasanya hatiku hancur untuk kedua kalinya. Sepertinya aku harus kalah dari dia Zaid seperebut cinta ku.

“Om Zaid kesini?”
Tanyaku berusaha menahan amarah kepada Aisyah dengan membungkukkan badanku menghadap Aisyah. Kemudian Aisyah mengangguk pelan.

“Ayo pa kita masuk”
ajak Aisyah kembali

Aku menghembuskan napas pelan mencoba mengontrol emosi yang mulai memuncak.

“Mari mas kita bicarakan di dalam”
ajak Mia dengan suara yang lembut yang bagiku itu suara yang paling jelek menurutku.

Hening sesaat

“Ayolah papa Aisyah kangen masuk yukk nanti mama bikin minuman buat papa” ajak Aisyah kepada ku

“Tidak sayang. Papa masih ada urusan diluar. Papa pulang dulu ya”
jawab aku melirik tajam ke arah Mia.

“Mas..janganlah bersikap konyol seperti ini. Mia jelasin di dalam rumah”
Kata Mia memegang lengan ku agar tak pergi

“Kemauan kamu kan!”
Jawab ku menahan emosi

“Kita bisa bicara di dalam saat Aisyah gak ada”
Jawab Mia

“Kenapa agar Aisyah tidak tau kelakuan busuk mu?”
Ucap ku berbisik di dekat telinganya.

“Enggak mas. mas Zaid kesini bukan nemuin aku dan aku juga gak nemuin dia.”
Jawab Mia membela dirinya sendiri

Aku melepas tangan Mia dan melenggang pergi meninggalkannya

“Papaaaaa…..”
ku dengar Aisyah berteriak mencoba menyusulku tapi kurasa Mia menghalanginya.

Sungguh memuakkan bagiku.

Entah berapa kali harus ku katakan kepada Mia aku benar benar tidak bisa menerimanya ada nama Zaid didalam hidupku.

Kujalankan mobilku saat pagi itu menuju jakarta . Aku akan pulang kembali dan memikirkan kembali apa yang harus aku lakukan setelah kejadian ini.

Sungguh hatiku sakit sekali melihat Mia sang kekasih hatiku penghianat.
Tidak bisa menjaga kehormatan suami jika tidak ada. Wanita macam apa dia pikirku terus memaki maki Mia.

📌📌📌

Malam ini aku sudah sampai dirumah saat itu malam senin pukul 21.00. Kulihat rumah ku tampak sepi tidak ada suara anak bermain.

“Mungkin Atiyah dan faqih sudah tidur pikirku.

Aku mempunyai kunci sendiri untuk membuka rumah ku tanpa membangunkan istri dan anak ku.

📌📌📌

Paginya ku lihat Atiyah tampak repot di dapur membuat sarapan untuk faqih.
Kupeluk pinggangnya yang sudah tak terlalu ramping seperti dulu tapi masih tampak cantik dimataku.
Ia tersentak kaget dan terkejut dan hampir saja memukul ku dengan sendok di kepalaku kalau saja aku tidak menangkis serangannya.

“Mas Aldiiii….ihhhh..bikin gemes aja deh pagi pagi tau tau udah nongol maen meluk”
Celotehnya yang membuat ku tersenyum geli

“Maaf maaf..serius banget seh masaknya”
Jawab ku santai

“Mas pulang kok gak ngasih tau.katanya selasa pulang kok senin udah disini aja ”
Tanya Atiyah yang membuatku garuk garuk kepalaku yang tidak gatal ini.

“Iya kebetulan urusannya sudah selesai jadi segera pulang deh nemuin Atiyah. Lagian kangen juga ya seharian gak ketemu kamu”
Gombal ku yang membuat Atiyah tersenyum bahagia.

“Owh iya..mas mau makan nasi goreng aja ya?”
Tanya Atiyah kemudian

“Iya dong dari semalam belum makan” ucapku . Padahal seharian sabtu aku tidak memakan ralat hanya makan cemilan yang tidak mengenyangkan

“Tunggu ya Atiyah bikinin.”
Sahutnya segera membuka kulkas dan menyiapkan bahan bahan yang akan diolahnya menjadi nasi goreng spesial pastinya.

“Faqih masih tidur ya sayang?”
Tanyaku basa basi.

“Iya nih mas.Nyenyak alhamdulillah. Dia ngerti gak mau uminya capek ”
jawab Atiyah sambil sibuk memasak nasi goreng.

Aku tersenyum melihat pemandangan ini.

Ku nikmati pagi ini dengan perasaan bahagia melupakan kejadian kemarin yang sungguh meremukkan hatiku menjadi hancur.

📌📌📌

Hari ini entah minggu ke berapa ku melupakan Mia.
Satu bulan kurang lebih karena akhir akhir ini aku sibuk sekali antara mengajar dan urusan toko ku.
Karena biar bisnis ini online urusan antar jemput barang dan mengirimkan ketempat pengiriman aku harus turun tangan karena Atiyah tidak mungkin bisa ia benar benar termasuk ibu rumah tangga yang gak terbiasa keluar rumah ia juga tidak berani karena Atiyah orangnya penakut diluar dan lagian karena jarang keluar Atiyah tidak begitu tahu dimana tempat tempat pengiriman.
“Hanya aku andalannya.”
Kadang kalimat itu membuatku menjadi bangga diri menjadi seorang laki laki berstatus suami sejati.

“Ahhh..apakah ini hanya perasaan ku saja”.

Malam itu pukul 22 30 kulihat Atiyah telah tidur pulas disampingku begitu juga faqih telah menikmati mimpi indahnya di box ranjang kecil samping ranjang kami berdua.

Kulihat ponsel ku .

“Ahh udah lama aku gak pernah buka media sosial”
Pikir ku suatu itu

“Atiyah hampir setiap hari online sedangkan aku..ahh..aku malas beronline ria, entahlah aku malas membaca status status orang orang yang menurutku gak penting”
Pikirku

Ku geser layar hp ku kemudian aku terkejut.
Ada tulisan panggilan tak terjawab 2x dari Mia
Kembali ku teringat dia.
Dia masih berani menelponku?
Atau aku belum mengirimkan uang bulanan ku untuknya?
Okelah nanti besok segera aku kirim uang untuknya. Mungkin dia perlu uang
Pikirku saat itu tanpa berniat untuk menelpon kembali panggilan telepon dari Mia itu.

Semenjak dari kejadian panggilan tak terjawab dari Mia malam itu hari hari berikutnya aku lalui dengan kesulitan. Kadang aku malas bangun hingga kesiangan mengajar.
Kadang faqih gak bisa diam dan terus menjadi banyak ulah pada malam hari hingga membuat tugas ku harus tertunda.
Tiba tiba terlintas bayangan Mia masih melewati pikiranku dengan sering.
Lama lama rindu itu menjadi kuat
Sungguh aku merindukan Mia tapi mengingat kejadian itu aku mencoba membencinya.
Ternyata sulit sangat sulit sekali membuat ku menjadi tak terurus dan seperti orang gila.
Beberapa kali Atiyah berbicara kepadaku kadang aku seperti tidak nyambung apa yang di bicarakan Atiyah.
Sungguh ini benar benar menyiksaku.

Malam itu pukul 02.00 dini hari masih saja terus terlintas bayang bayang Mia di pikiranku. Hatiku terus mengharap hadirnya ia disampingku aku rindu dan tidak bisa berbohong cinta ini benar benar tidak bisa ku tipu cinta ini kuat sangat kuat hingga ku tak mampu menguasainya.
Aku bisa gila jika hal ini terjadi.
Aku harus ungkapkan aku harus siap jika harus di campakkan sekali lagi.
Aku tidak mau menjadi gila karena cinta bodoh seperti.

📌📌📌

Ini minggu siang aku sudah di depan rumah Mia. Kuputuskan minggu ini kesini ku berkata kepada Atiyah sebelum berangkat aku perlu ke cibodas untuk urusan ku dan akan segera pulang. Dan Atiyah emang benar istri yang sholehah tidak sedikitpun ia curiga kepadaku. Hingga amanlah semua cerita ku terhadap Mia.

Ku ketuk pintu dengan di iringi salam
Sunyi..
Ku ulangi kembali ketukan kedua.
Dan

Krakkk…!!!

Pintu terbuka dan tampak Aisyah di depan wajahku.

Apa yang terjadi diluar pikiran ku ternyata Aisyah berbalik kebelakang tanpa senyum sedikitpun. Tampaknya ia membenciku

“Aisyah sayang…”
Jeritku berharap Aisyah mau memelukku seperti dulu.

“Mama……”
Teriak Aisyah nyaring sekali
Rasanya aku mau masuk tapi aku ingat ini bukan rumahku.
Aku hanya terpaku menatap Aisyah yang terus saja memanggil mama.
Akhirnya ada seorang perempuan muda keluar menemui ku.
Sepertinya dia Nadia yang dibicarakan Mia kemarin pikirku.

“Assalamu’Alaikum”
Ucapku dengan ramah dengan senyum

“Wa’alaikumsalam”
Jawabnya dengan ramah juga.

“Anda siapa ya?”
Tanya dia dengan menyipitkan matanya.

“Saya Aldi suaminya Mia”
Jawabku penuh dengan semangat melihat ekspresi Nadia yang ramah.

Seperti wajah Nadia mulai berubah Nadia seperti mengenal siapa aku.

“Ngapain kesini?”
Tanya Nadia kemudian.

“Aku mau ketemu Mia dan aisyah ”
Jawab ku mantap

“Tak bisakah kamu itu tegas jadi laki laki?”
Ucapnya membuat ku merasa dihinakan.

“Maksudmu”
Kataku pura pura gak tau.

“Entahlah aku tidak mau ikut urus campur masalah hubungan kalian. Silahkan masuk”
Tiba tiba saja nada suara Nadia menjadi rendah.

Aku ucapkan syukur itu

“Kemana Mia dan aisyah?”
Tanyaku saat ia mau berdiri dari tempat duduknya.

“Mia di belakang mandi dan Aisyah sedang main dikamarnya. Dia sudah tidak mau lagi bertemu kamu. Dia sudah berjanji?”
Ucap Nadia

“Aisyah tidak mau ketemu dengan ku”
Tanyaku penuh dengan penyesalan.

“Kamu seperti melupakannya saat ia menelpon mu sama sekali tidak kamu hiraukan. Ada apa dengan kamu. Jika kamu membenci Mia tidak seharusnya kamu ikut ikutan membenci Aisyah. Dia masih kecil belum 5 tahun harusnya ia berbahagia itu adalah masa masanya senang.”
Kata kata Nadia menusuk hatiku.

“Aku tidak tahu itu yang menelpon aisyah”
jawabku datar

“Pasti kamu kira Mia kan. Mia tak seberani itu. Ia mau mundur jika kamu tak mau mendengarkannya. Rencananya Mia akan menguggat cerai lusa nanti.”

“Tidak .”
Kataku dengan menatap tajam arah Nadia sahabat Mia.

“Kenapa ? Jangan egois dong. Aku juga kasihan sama Mia aku akan bantu dia yang terbaik buat dia. Dia sahabatku” kata Nadia

“Apa kamu mau bantu aku jika aku punya rencana sebaliknya?”
Tanyaku mencoba menawarkan dan mencairkan suasana.

“Apa rencanamu? mau merusak hidupnya dengan cemburu mu yang sebenarnya tidak ada artinya sama sekali?”
jawab Nadia ketus

“Tidak.. aku mau kembali sama Mia merajut kembali kisah kami seperti dulu.”
Ucapku pelan.

“Bagaimana dengan Atiyah?”
Tanya Nadia

“Tetap seperti semula. Aku menyayangi mereka berdua.tolonglah bantu aku kembali dari pada kamu membantunya berpisah dengan ku”
Ucap ku penuh harapan.

“Kamu masih tetap mau poligami? Kenapa seh tidak kamu ceraikan satu saja biar tidak ada satu wanita yang menangis menahan rindu dan cinta yang menyiksa seperti ini”
Ucap Nadia

“Aku berniat di awal menikah bukan untuk bercerai dan aku akan mempertahankan keduanya. Dan aku akan berusaha belajar kembali” ucapku lantang dan membuat Nadia menganggukkan kepalanya

“Aku akan menunggu keputusan Mia aku akan bantu apa aja yang membuat Mia senang menjalankannya.” Ucap Nadia dan segera berdiri ke belakang untuk mengambil minuman buat mas aldi.

“”Terima kasih sebelumnya” ujar ku dengan senyuman tulus.

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here