The Thrill Of love #15

0
38
views

“Wa’alaikum salam”
Jawabnya santai

“Nadia??”
Ucap Mia ragu kepada sang penelpon

“Iya ini aku Nadia. Semangat banget seh kamu main handphone aku”
Ucap Nadia yang membuat Mia merasa terciduk memainkan ponsel milik Nadia.

“Gak sengaja Nad. Tadi aku cari kontak yang bisa dihubungi. Karena aku khawatir banget kalian belum pulang” jawab Mia jujur

“Iya iya aku paham kok Mia. Aku nelpon juga mau ngabarin kamu. Aisyah tadi keluar kedepan rumah bermain sama anak bibi jihan. Ini baru pulang lututnya berdarah abis jatuh lari lari tadi di depan rumah. Ini masih rewel. Nanti kalau dia udah tenang aku ajak pulang”
Cerita Nadia membuat hati Mia sedikit lega

“Tapi ngak apa apa kan Nad?”
Tanyaku cemas

“Udah gak papa Mia. Biasa kok cuma lecet sedikit ajah. Kamu tenang aja aku urus Aisyah dengan baik disini.”
Jawab Nadia

“Terus apa gak kemalaman nanti kamu pulangnya?”
Tanya Mia

“Gak malam kok 30 menit lagi ya. Aku mau bujuk Aisyah dulu,atau Kamu mau berbicara padanya?”
Tanya Nadia kemudian

Mia mendesah pelan

“Iya.”

📌📌📌

35 menit berlalu hingga datang masuk sholat magrib Aisyah dan Nadia belum. Pulang juga. Mia memutuskan untuk shalat magrib dulu.
Segera Mia mengambil wudhu di belakang dan melaksanakan kewajiban utamanya yang tak pernah tinggal sekalipun.

19.00

“Assalamu’alaikum…”
Sapa Nadia dari pintu depan membuat Mia terkejut dan berlari kecil menuju ke ruang tamu depan.

“Wa’alaikum salam”
Jawab Mia membuka pintu dan terkejut pada orang disamping Aisyah.

“Mama..ada om Zaid nih tadi ketemu dijalan.”
Jawab Aisyah penuh semangat.

“Nadia….”
Tanyaku seperti tidak yakin pada pemandangan di depan ku.

Aku heran dan penasaran. Tapi tampaknya Zaid tidak berbicara.dan sepertinya ia enggan menatapku.

“Iya Mia..ini Aisyah yang menemukan dia dijalan dan ngotot mau salim dulu.” Jawab Nadia cemas.

Hening sesaat

“Ya udah ayo masuk dulu mas.”
Ajak Nadia

“Terima kasih aku…”
Jawab Zaid sepertinya bingung.

“Kenapa mas ? Gak papa masuk aja dulu sebentar itung itung melepas rindu kepada Aisyah”
Ucap Nadia yang membuat mata Mia melebar.

“Maksud kamu apa sih nad”
Jawab Mia dengan mata melotot.

“Loh..kan Aisyah yang mengajak mas Zaid kesini?”
Jawab Nadia.

“Iya ma .kasihan tadi motor om Zaid rusak dijalan om Zaid dorong motornya.nanti om Zaid haus.”
Cerita Aisyah.

“Tidak sayang, bukan rusak tapi kehabisan bensin,tapi tadi tante Nadia udah kasih tau tempat pom bensin terdekat.om pulang dulu ya”
Jawab Zaid membelai Aisyah tanpa menatapku sedikitpun.

Terlintas rasa sedih itu ada.
Sedih karena dulu aku sering bertukar pikiran dengannya.
Tapi saat ini telah berbeda. Menatapku sepertinya adalah dosa.

“Yakin mas”
Tanya Nadia sesaat Zaid ingin berbalik pulang.

Zaid memberikan tanda jempolnya dengan senyuman kepada Nadia.

📌📌📌

Nadia tidak tau siapa itu mas Zaid . Ia hanya tau siapa itu mas Aldi dan Atiyah.
Dulu Mia memang pernah cerita ada seorang laki laki yang mengatakan cintanya untuk Mia yang menyebabkan kesalah fahaman membuat hubungannya bersama mas Aldi sedikit terguncang. Tapi Mia tidak menyebutkan kalau laki laki itu bernama Zaid.

📌📌📌

“Siapanya kamu sih mas Zaid?”
Tanya Nadia saat malam itu Aisyah telah tidur.

“Kenapa? Suka?”
Tanya ku melirik arah Nadia

“Gak juga laki laki pasti sama. Aku gak pernah terpikir menyukainya. Apalagi ku lihat dari bola mata mu sepertinya mas Zaid adalah laki laki yang tidak beres” cerita Nadia.

“Hufffhh..sembarangan kamu ya”
Jawab Mia ketus

“Terus??”
Tanya Nadia penasaran.

“Kenapa penasaran sih kan kamu bisa tanya Aisyah”
Jawabku berbalik badan menuju meja makan dan siap untuk memakan nasi plus ayam goreng kecap yang tadi dibeli Nadia.

“Kata Aisyah mas Zaid baik sering datang kerumah Aisyah yang dulu”
Kata Nadia menyusul arah Mia.

“Terusss…”
Jawab Mia dan memulai menikmati makannya

“Heran..berarti kalian pernah satu rumah ya?”
Tanya Nadia masih berlanjut.

“Penasaran?”
Tanya Mia berhenti sejenak mengunyah makannya.

“Enggak juga…ngapain juga!”
Jawab Nadia ketus.

Mereka mulai makan bersama saat malam itu pukul 21.00.

“Nad,mas Aldi menelponku tadi sore” kata ku mencoba ingin curhat kepada Nadia.

“Masih saja kamu pikirkan laki laki tidak beres seperti itu”
Jawab Nadia masih dengan ketus.

“Dia masih suamiku Nad”
Jawab Mia lembut

“Dan kamu akan menunggunya karena rasa Cinta,,,iya kan?? Kamu mau bilang itu kan??”
Potong Nadia sepertinya kesal sama aku.

“Apa salah? ”
Tanyaku

“Gak salah Mia. Cuma kamu punya perasaan yang harus kamu jaga. Kamu harus tau jika dengan bersama nya kembali bikin hidup mu menjadi sedih buat apa kamu korbankan cintamu” jawab Nadia.

“Bukankah cinta harus bekorban?”
Tanya ku lagi.

“Iya berkorban cinta juga gak hanya sebelah pihak saja itu tidak adil. Egois namanya. Jadi aku pikir mending kamu akhiri dan kembali sama mas Zaid”
Ucap Nadia spontan membuat mata ku melebar.

“Apaan seh?”
Jawabku ketus

“Mending kamu ikhlasin tuh mas Aldi sama Atiyah. Gak ada gunanya juga mau pikirin tuh laki laki gak tau diri cuma mau enaknya aja salah faham sedikit main kabur kaburan”
Sambung Nadia kembali.

“Tapi mas Aldi gak mau ceraikan aku Nad tadi aku udah bilang di telepon tadi sore”
Jawabku

” bujuk aja terus lama lama akan pisah juga”
Ucap Nadia lagi

“Astaghfirullahal adzim Nadia…”
Aku mengucap istighfar mengelus dada ku. Mungkin Nadia lagi emosi pikir ku.

“Aku seperti yakin mas Zaid adalah pasangan mu dulu sebelum kamu jatuh cinta pada mas Aldi”
Kata Nadia dengan suara pelan.

“Tebakan mu salah jauh”
Ucap ku dengan mendengus kesal.

“Terusss…??”
Tanya Nadia

” masih penasaran nih yeee”
Aku masih mencoba menggoda Nadia

“Kamu tuh ya aku mau bantuin hidup kamu ya bukan mau ambil bekas mu..ingat ya”
Tegas Nadia dengan cemberut.

“Bekas apa maksud kamu. Bahkan aku pun tidak ada hubungan apa apa sama mas Zaid.”
Aku menjawab jujur karena tidak terima mas Zaid dibilang Nadia bekas ku.

“Terus pengaggum rahasia kamu gitu?”
Sambung Nadia

“Entahlah nad aku hanya kenal nama ia masih ada saudara sama mas Aldi” jawab ku pendek tapi tidak mencoba cerita banyak tentang Zaid.

“Loh!!! Jadi dia tau dong hubungan kamu sama mas Aldi kayak gimana?”
Tanya Nadia dengan menatap serius ke arah ku

Aku mengangguk pelan
“Emang kenapa Nad?”

“Coba kamu nurut tadi permintaan Aisyah ajak mas Zaid mampir dulu. Ajak minum Dulu kek”
Jawab Nadia lagi

” biar apa?? Biar kamu tau siapa mas Zaid biar kamu bisa tau siapa pasangannya biar kamu menghilangkan rasa penasaran mu kepadanya. Biar rasa cinta mu makin tumbuh. Gitu??”
Ucap ku panjang lebar

“Wewwww..pendek banget sih pikiran mu. Apa apa dibilang cinta,suka,penasaran. Gak ada yang lain apa”
Jawab Nadia kesal

Akupun tertawa kecil melihat aksi sahabatku itu cemberut .

“Eitt dah ketawa dia”
Sahut Nadia berdiri sambil membereskan sisa makannya dan membawa piring makan ke belakang. Aku ikut berdiri ikut Nadia menuju ke belakang.

“Kenapa?”
Tanya Nadia jutek

“Kok marah sih?”
Jawabku merasa bersalah.

” gak marah bete aja mau curhat tapi diajak main main gitu”
Jawab Nadia dengan rasa kesalnya.

“Ok ok kita lanjut lagi yuk diruang tengah ngobrolnya.”
Jawab kuntersenyum.
Sudah lama aku tidak jahil seperti ini.

“Ngantuk ah…sudah malam”
Jawab Nadia ketus

“Gak boleh loh langsung tidur kita kan baru selesai makan. Kamu mau jadi ndut?”
Godaku dengan senyuman kecilnya

“Emang kenapa kalo ndut, gak ada yang salah sama ndut”
Jawab Nadia

“Tar mas Zaid jadi gak suka loh sama kamu”
Aku menyahut pembicaraannya

“Bilang aja cemburu.”
Jawab Nadia

“Hmmm..ngapain cemburu ke dia”
Jawab ku asal dan tepat

“Lagian kamu kok gitu banget kalo bahas mas zaid.heran banget”
Kata Nadia

“Ngobrol ya. 1 jam saja setelah itu baru deh kita tidur”
Ajakku kepada Nadia dengan wajah memohon

Hening

Kemudian Nadia menganggukkan kepalanya sambil berjalan menuju ruang tengahnya. Ia menghidupkan televisi dan mulai menonton tivi tanpa menghiraukan aku disebelahnya.

“Kok nonton tv seh nad”
Tanyaku yang sekarang menjadi kesal.

“Emang kenapa?”
Jawab Nadia dengan harapannya ke televisi.

“Kan kita mau curhat”
jawab ku

“Kan kamu mau curhat aku denger aja kan tugasnya?”
Ledek Nadia

“Kok gitu sih. Gak rame lah”
Jawabku dengan cepat

” lagian kalau aku nanggepin cerita kamu. Kamunya selalu salah tanggap bikin aku males kan jadinya”
Jawab Nadia melirik netra ku. Aku yakin ia menyindirku.

Aku tersenyum kecil.

” iya gak lagi serius kita cerita serius aku cuman suka aja tadi ngeledekin kamu. Bener deh”
Jawabku dengan tersenyum

“Sekarang?masih?suka?”
Tanya Nadia lagi sepertinya ia memastikan apakah humor ku masih ada.

“Gak lah..kan kita mau cerita serius”
Jawabku menyakinkan dengan menaik turunkan alisku sambil tersenyum kecil kepada Nadia.

Nadia memberi tanda 2 jempolnya yang terawat itu tanda setuju.

📌📌📌

“Kamu bisa faham kan maksud aku Nad”
Ujar ku setelah bercerita serius tentang telepon Aldi tadi sore.

“Yah aku paham perasaan mu Mia. Tapi aku gak suka cara mas Aldi”
Jawab Nadia masih saja tidak suka dengan mas aldi.

“Bagaimana menurutmu. Gak papa kan kalau aku mau menunggu?”
Tanyaku kembali.

“Gak masalah sih asal kamu siap untuk terluka kembali. Yang jelas kalau aku gak mau nunggu lagi pokoknya berakhir” jawab Nadia sepertinya mantap sekali.

“Kenapa Nad?”
Tanya Mia

” yah aku gak mau di duain”
Jawab Nadia dengan netra menatap ku

“Yah aku paham juga maksudmu”
Jawabku kemudian melemah.

” jadi kamu harus punya keputusan sendiri. Jika kamu mau mempertahankan nya ya udah pertahankan. Resikonya juga kamu harus siap hadapi. Dan jika kamu gak sanggup yah tinggalkan resikonya juga harus kamu siap tanggung. Ntuh ada Aisyah yang masih harus kamu perjuangkan masa Depannya gak mungkinlah kamu jadi gila jika mengakhiri ini semua terus anakmu Aisyah jadi gak terurus. Jadi intinya kamu harus siap hadapi semua apapun pilhanmu itu”
Tegas Nadia panjang lebar

” dan satu lagi jangan kamu tanya bagaimana menurut aku yah karena menurut aku dan menurut kamu akan berbeda jawaban karena kita berbeda pandangan yang pada akhirnya membuat kamu bingung dijalan memutuskan yang mana terbaik.
Tapi . Tanyakan hati mu. Aku yakin hatimu baik karena aku tau hatimu bersih dan aku yakin hatimu takkan salah membuat sebuah keputusan.”
Jawab Nadia dengan menepuk pelan pundak ku.

Nadia benar

Aku mengangguk pelan dengan senyum kecil

📌📌📌

Tok to tok….

“Minggu pagi gini siapa ya yang bertamu?”
Tanyaku saat asik nonton tv diruang tengah bersama Aisyah.

Aku bergegas melangkah keruang tamunya karena suara ketukan pintu terus berbunyi.

Setelah pintu terbuka aku terkejut karena melihat Aldi suamiku ada didepan mataku saat ini.

“Assalamu’alaikum.”
Ucap Aldi yang membuatku entah merasa senang bercampur sedih juga berbahagia.

“Wa’alaikum salam”
Jawabku pelan dengan menundukkan kepalaku dan mengusap air mataku yang mencoba keluar sedikit demi sedikit.

“Maafkan atas sikapku dulu Mia”
Kata Aldi dan membuatku refleks memeluk tubuh suamiku itu deengan cepat dan erat sekali. Rindu. Aku rindu sekali.

“Silahkan kamu mau menghukum aku dengan apapun kamu tetap cinta pertamaku Mia. Maafkan aku suamimu ini Mia”
Kata kata suamiku itu dengan membelai punggungku yang mulai bergetar.

“Papa….”
Teriak Aisyah keras karena terkejut siapa tamu yang datang.

“Aisyah”
Jawab suamiku melambaikan tangannya tanda agar Aisyah mendekat.

Aisyah mendekat kemudian ikut memeluk papanya itu.

“Aisyah bermimpi papa akan meninggalkan Aisyah bersama mama” cerita Aisyah kemudian.

“Tidak sayang papa sayang kalian berdua. Papa kesini datang untuk jemput kalian buat pulang kerumah kita.” Jawab suamiku yang membuat aku terkejut mendengarnya.

“Tapi tidak bisa sekarang mas. Mia harus bicara dulu sama Nadia. Karena Mia sudah terlanjur akan mengajar disini bekerja menemani Nadia mengolah kelas bimbelnya.”
Cerita ku kembali dengan hati hati

“Ayo pa masuk nanti seperti om Zaid kemarin gak mau masuk karena di diemin mama”
Celoteh Aisyah yang membuat terdiam diriku dan suami ku.
Aku melihat
Tampak sekali rahang suamiku mengeras mendengar nama ZAID ia tidak suka dan bahkan membencinya.

“Om Zaid kesini?”
Tanya suamiku kepada Aisyah dengan membungkukkan badannya menghadap Aisyah. Kemudian Aisyah mengangguk pelan.

“Ayo pa kita masuk”
Ajak Aisyah kembali

Suamiku menghembuskan napasnya pelan mencoba mengontrol emosinya yang mulai memuncak.

“Mari mas kita bicarakan di dalam”
Ajakku dengan hati hati karena aku tahu sekarang wajah suamiku sudah memerah menahan amarah.tidak secerah tadi.

Hening sesaat

“Ayolah papa Aisyah kangen masuk yukk nanti mama bikin minuman buat papa”
Ajak Aisyah dengan ramah.

“Tidak sayang. Papa masih ada urusan diluar. Papa pulang dulu ya”
Jawab suamiku dengan melirik tajam ke arahku.

“Mas..janganlah bersikap konyol seperti ini. Mia jelasin di dalam rumah”
Jawabku memegang lengan suamiku agar tak pergi

“Kemauan kamu kan”
Jawab suamiku

“Kita bisa bicara di dalam saat Aisyah gak ada”
Jawabku penuh hati hati dengan wajah memelas.

“Kenapa? Agar Aisyah tidak tau kelakuan busuk mu?”
Ucap suamiku berbisik di dekat telingaku.

Aku menggelengkan kepalaku.

“Enggak mas.. mas Zaid kesini bukan nemuin aku dan aku juga gak nemuin dia.”
Jawabku pelan mencoba bersabar atas tuduhan suamiku itu

Suamiku melepas tangan ku dan melenggang pergi dengan mobil barunya.

“Papaaaaa…..”
Aisyah berteriak mencoba menyusul papanya tapi aku menghalanginya.

“Sabar sayang papa sedang terburu buru ada tugas mendadak nanti papa akan kembali lagi kok”
Bujuknya kepada Aisyah dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.

“Tadi kata papa mau jemput ma kenapa tiba tiba papa pergi.”
Jawab aisyah masih terus menangis.

“Iya nanti papa datang lagi kok..”

“Ada apa Mia?”
Tiba tiba saja Nadia menyapa dengan rambut kusutnya karena ia baru saja bangun dari tidurnya mendengar Aisyah berteriak.

📌📌📌

“Kenapa sih gak kamu panggilkan aku atau kamu bilang aja mas Zaid pacar aku.bereskan?”
Jawab Nadia dengan emosi saat mendengar cerita Mia ketika Aisyah telah tertidur dan terhibur setelah dibelikan Mia buku gambar di warung sebelah rumah.

“Kamu masih tidur dan kejadian ini terasa cepat sekali Nad. Aku heran kenapa bisa begini jalan ceritanya.”
Jawabku dengan menangis tersedu.

“Sabar Mia. Apa aku harus menemui mas Aldi menjelaskan semuanya?” Tanya Nadia.

“Sudahlah Nad itu akan memperumit jalan ceritanya saja.”
Ucapku kemudian

“Aku harus melakukan apa untuk menyelesaikan jalan cerita kamu yang hampir saja selesai.”
Jawab Nadia memegang kepalanya dengan kesal.

“Aku akan membantumu,Mia.”
Kata kata Nadia mampu meredam kesedihanku.

📌📌📌


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here