The Thrill Of love #14

0
96
views

Hari ini minggu kedua aku berada di sini tempat aku menghilangkan luka bersama Aldi.
Berusaha tegar dan melupakan semuanya meski aku tidak di ceraikan mas Aldi aku masih berharap mas Aldi masih mengingat kisah kisah kami dulu saat bersama dengan penuh cinta.
Dan datang menjemput ku untuk merajut kembali kisah kisah yang rusak akibat kesalah fahaman.

“Mia hari ini jadwal mu kan yang mengajar privat anak anak kelas siang ini?”
Tanya Nadia memecah lamunanku.

“Ehh..iya nad..”
Kataku sedikit gugup karena terkejut mendapat sapaan Nadia dengan tiba tiba

“Kok terkejut gitu seh mia , heheheh ” tanya Nadia menyikut pinggangku

“Ihh..ngapain sihh main sikut sikut”
Ucapku mencoba mencairkan perasaan hatiku sendiri.

“Kamu lagi jatuh cinta?”
Tanya Nadia dengan menggoda.

“Cinta apaan…uhh..tuh liattt ada Aisyah bobo syantik”
Ucapku asal

“Apa maksudnya sama Aisyah,,cinta yah cinta..Aisyah yah Aisyah..hihihi..kayaknya beneran deh kamu lagi jatuh cinta”
Kata Nadia dengan nada mengejek ku.

Aku berdiri segera menuju meja disamping Aisyah tidur.

“Mau ngapain mia”
Tanya Nadia masih terus memperhatikan aku.

“Kamu kenapa sih nad banyak tanya banget”
Ucapku sedikit merasa risih

“Kok marah cuma nanya segitu doang?” Jawab Nadia

Aku segera mendekat Nadia.

“Aku mengingat mas Aldi nad,”
Ucapku lirih dengan jujur

“Mas Aldi yang tidak punya perasaan tidak pantas kamu pikirkan mia.”
Uca Nadia ketus.

“Itulah yang bikin lamunan aku jadi panjang.kenapa begitu mudahnya mas Aldi melupakan aku. Padahal aku tau seberapa besar cintanya dulu kepadaku”
Aku berCerita dengan sedih.
Nadia sudah sering mendengar cerita ku bersama mas Aldi.

“Dulu. itu dulu kan Mia sayangg…cinta yang dulu sama sekarang kan beda rasa mia.”
Ucap Nadia dengan gaya nya yang sok tau.

“Kenapa banyak laki laki yang kembali kepada cinta pertamanya setelah sekian tahun berpisah bahkan sama sama telah berstatus berpasangan dengan yang lain lalu kembali kepada cinta pertamanya yang dulu. Kamu tau kan maksud aku?” Tanya ku kepada Nadia.

Nadia mengangguk pelan lalu ia menatap bola mata ku dengan tajam.

“Laki laki memang seperti itu ia bebas menemukan siapa cinta untuknya.”
Ucap nadia pendek dan ketus.

“Hanya itu menurutmu ?”
Tanyaku dengan sedikit air mata keluar dari sudut mataku.

“Itu salah satu alasan aku belum menikah sampai sekarang. Aku terlalu membenci para laki laki.”
Ucap Nadia tegas

“Tidak seperti yang kamu kira Nadia”
Jawab ku dengan pandangan ke Aisyah yang sedang tertidur pulas

“Tidak…?? Tapi kamu mengalaminya kan…kamu telah di campakkan oleh seorang laki laki begitu saja saat kamu benar benar telah bekorban banyak untuknya. Dan aku juga telah menyaksikannya saat papa aku meninggalkan mama hanya karena mama sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan biologisnya. Itu jahat bukan? Bukan hanya mas Aldi kamu saja Mia bahkan papa ku sendiri aku benar benar membencinya!”
Tegas Nadia dan membuat Aisyah terbangun dari tidurnya.

Aku segera melangkah ke arah Aisyah

“Mama . . Kenapa berteriak? ”
Tanya Aisyah dengan setengah menahan kantuk.

“Tidak ada yang berteriak sayang mungkin Aisyah hanya mimpi ya?”
Jawabku sambil membelai rambut Aisyah yang mulai tidak terawat. Karena aku tidak terlalu bersemangat lagi untuk menjalankan hidup ini.

Aisyah mengangguk pelan. Membuatku ikut berbaring disamping Aisyah.
Kulihat Nadia duduk menghadap kami entah apa yang dipikirkannya. Pandanganya seperti kosong.

“Mama Aisyah mimpi papa pergi meninggalkan Aisyah”
Ucap Aisyah dengan kesedihannya.

“Hanya mimpi kan? Mungkin Aisyah tadi gak baca doa ya sebelum tidur?”
Godaku agar membuat senyum terukir di bibir Aisyah.

“Aisyah selalu membaca doa kok ma.” Jawab Aisyah yang sudah mulai bagus kosakatanya.

Aku hanya mengangguk pelan.

“Aisyah haus gak?”
Tanyaku mencoba mencairkan suasana Aisyah.

“Iya ma.mau minum susu.”
Jawabnya dengan senyum mengembang

“Ya udah Aisyah cuci muka ya. Mama bikinin susunya buat Aisyah tersayang”
Ucapku kemudian bangkit dari tempat tidurnya.
Aku melangkah melewati Nadia sambil berbisik

“Kita akan bahas lagi ini nanti malam”
Nadia pun hanya mengangguk dan memberi tanda dua jempol tangannya yang sangat terawat itu.
Nadia sangat cantik dimata ku.

📌📌📌

“Ini susu nya Sayangnya mama”
Kata ku saat memberi susu kepada Aisyah yang sedang bersantai diruang tengah bersama Nadia.

“Terima kasih mama tersayang”
Jawab Aisyah yang sudah belajar berkomunikasi dengan baik.

Kulihat Nadia tampak tersenyum melihat aksi kami berdua Aisyah.

“20 menit lagi mama bakal kedepan mau ngajar ya sayang. Aisyah jangan rewel”
Ucapku kepada Aisyah sambil mengelus pipinya yang putih itu.

Aisyah hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat.

“Aku mau keluar nanti Mia biar kuajak Aisyah ikut aku aja nanti biar aku gak kesepian ”
Ucap Nadia dengan santai

“Mau kemana sih nad”
Tanyaku heran.

“Jalan aja mengitari kebun disini terus mau mampir kerumah bibi aku juga katanya dia mau jualan kue dan mau stiker buat logo jualananya. Jadi sekalian kesana bentar”
Ucap Nadia dengan pandangannya kedepan.

Aku hanya mengangguk pelan

“Emang mau ke mol”
Sambung Nadia melirikku dengan senyum mengejek

“Apaan sehh.cuma nanya doang kok” ucapku dengan balasan tertawa.

📌📌📌

Kujalani kerjaan aku membimbing anak didik ku agar siap menghadapi ulangan diaekolahnya yang beberapa bulan lagi.
Selalu ku panjatkan untuk mereka semua agar mampu melaksanakan ujian sekolahnya dengan sebaik mungkin.
Agar akunjuga merasa ilmu yang ku raih tidak hanya berhenti untuk diriku semata.

Jam belajar telah berakhir ku lihat anak didik ku mulai bangkit dari tempat duduknya memberi salam untuk ku dan segera pamit kerumahnya.
Jam dinding saat ini pukul 16.00
Aku segera membereskan semua buku buku yang kupakai untuk belajar bersama anak anak tadi dan bergegas masuk kerumah untuk berwudhu.
Yah aku belum melaksanakan sholat ashar.
Ini memang rumah milik Nadia semenjak papanya bercerai Nadia ikut mamanya kembali kerumah peninggalan mamanya yang saat ini bagian teras rumahnya di sulapnya menjadi ruangan bimbingan belajar anak anak didiknya.
Semoga mamanya Nadia senang memiliki anak yang mempunyai ilmu yang bermanfaat.

Pukul 16.30 kulihat masih sepi
Aisyah dan Nadia belum pulang juga.
“Kemana mereka?”
Seruku didalam hati ini.
Ada rasa gelisah mendera

Langkahku segera ke dapur memasak air untuk membuat teh siapa tahu nanti setelah teh selesai mereka pulang itu pikirku saat ini.

15 menit berlalu setelah teh selesai Nadia dan Aisyah masih juga belum kelihatan.
Bergegas aku masuk ke kamarku untuk menelpon Nadia.

Tapi kulihat ponsel Nadia tampak diatas meja belajarnya

“Huffff….hpnya ketinggalan
Tidak ada jalan lain. Aku harus menunggunya saja”
Pikirku saat itu.
Aku segera kedepan kembali menikmati teh hangat kembali.

Drrrrttt…

hp ku bergetar.

“Mas Aldi??”
Aku terkejut melihat layar hp ku terpasang nama ‘suamiku’ sang penunggu hatiku saat ini.

“Assalamu’alaikum”
Sapa Aldi.

“Wa’alaikum salam”
Jawabku penuh kemenangan.

“Aisyah kemana?”
Tanyanya

“Pergi keluar bersama Nadia”
Ucapku sedikit tapi masih berharap pembicaraan ini banyak dan lama.

“Owh”
Jawabnya tak kalah sedikit dari ku.

“Ada yang mau dibicarakan lagi mas?”
Tanyaku mencoba mengalah dengan bertanya?

“Maksudmu?”
Tanyanya ragu

“Mas Aldi tidak mau bicara dan bertanya sesuatu kepada Mia?tanya ku sekali lagi dengan suara yang lembut.

“Kamu menggodaku ”
Tanya nya dengan lembut juga.

“Hmmm…”
Aku terdiam. Hatiku terasa terbang jauh mendengar suara pujaan cintaku.

“Bukankah kita masih suami istri?”
Jawabku setelah tadi terdiam sesaat

“Iya.kenapa?” Aldi masih cuek dengan aku. Kadang aku berpikir untuk apa ia menghubungi ku jika masih terus seperti ini.

“Tidakkah mas Aldi menceraikan ku saja?”
Tanyaku kemudian

“Aku tak berniat menceraikan mu kenapa kamu selalu bertanya begini?”
Jawab Aldi tegas.

“Mia merasa tersingkirkan karena sikapmu mas jika mas tidak mampu berpoligami lepaskan saja Mia”
Ucapku dengan mata berkaca kaca. Meski aku tau aku tidak sanggup tanpanya. Tapi aku juga tidak mau menghancurkan perasaanku yang terus berharap dan juga menghancurkan perasaan Atiyah.

“Aku hanya belum bisa memaafkan sikapmu dulu.tidak lebih,hanya itu.”
Jawabnya

“Salah faham yang kemarin ? Yang jelas sekali bukan salah Mia. Ini hanyaaa..”
Belum sempat aku menjelaskan dengan lengkap sepertinya Aldi tidak menyukainya.

“Sudahlah tak perlu dibahas itu”
Jjawabnya memotong pembicaraan ku.

“Tak perlu kenapa,mas?”
Tanyaku

“Tidak penting”
Jawabnya

“Mia butuh kepastian,mas. Lepaskan lah Mia,mas”
Rengek ku meski hati berontak dan berlawanan dengan maksud yang terucap di lisan.

“Kenapa kamu maksa sekali. Aku akan datang menemui mu.”
Jawabnya

“Kapan? Menunggu kamu bosan sama dia baru kamu kembali kepada Mia?” Jawabku asal saja.

“Kamu hanya menebak dengan perasaan mu saja.”
Jawabnya pendek.

“Dan Mia yakin tebakan Mia benar” Jawabku cepat

“Aku takkan menceraikan kalian berdua Atiyah dan Helmia.ingat itu”
Jawabnya tegas

” dan mas Aldi harus Adil kepada kami berdua jika mas Aldi mau memiliki kami berdua.”
Jawabku juga.

“Tentu saja.”
Jawabnya

“Buktikan”
Kataku mencoba tegas.

“Mau bukti apa”
Jawabnya dengan tegas juga.

“Jemput Mia mas. Hidup kembali seperti dulu tidak masalah asal mas Adil seperti dulu.”
Ucapku

Hening….

“Kenapa??”
Tanyaku saat hening tanpa jawaban.

“Tunggu saja Mia.”
Ujar nya kemudian

“Sampai kapan”
Jawabku semakin tidak sabaran

“Beberapa minggu ini pastinya.”
Jawabnya lagi

Sesaat hening kembali lalu aku ucapkan kata salam saat tidak ada lagi pembicaraan.

17.00 Aisyah dan Nadia belum pulang juga ada rasa khawatir dihatiku

“Apa yang telah terjadi.”

Aku mencoba masuk ke kamar kembali dan mengambil ponsel Nadia. Karena aku berharap di situ ada nomor nomor yang mungkin bisa aku hubungi.

Bibi katanya dia mau kerumah bibinya.
Ku lihat kontaknya tertulis bibi . Banyak bahkan aku tidak tau bibi yang ditemui Nadia bernama siapa.

“Hfff….aku harus bersabar”
Lirihku saat tidak menemui jalan di ponsel nadia

Drrrtttt….
ponsel Nadia bergetar.

Aku segera menyambar ponsel milik Nadia dan segera mengangkat teleponnya.

“Hallo assalamu’alaikum…”

Ucapku dengan salam kepada sang penelpon di ponsel Nadia.

📌📌📌

Siapakah dia???


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here