The Thrill Of love #08

0
75
views

“Kamu mau kemana Atiyah”
Tanya Mia suatu pagi yang sangat cerah.

“Maaf Mia aku harus segera pulang, mas Aldi sudah dirumah.”
Jawab Atiyah dengan wajah bahagianya

“Pulang??? Mas Aldi sudah dirumah??? Hmmm sejak kapan??”
Tanya Mia sedikit penasaran.

“Iya sejak kemarin sore. Aku tidak melihat chat nya dan teleponnya yang begitu banyak. Kemarin kita terlalu sibuk berdua bukan sampai aku tidak peduli sama hp aku”
Jawab Atiyah

“ii iya tapi, tapi kenapa gak mas Aldi saja menjemputmu untuk pulang bersama?” Tanya Mia kembali lagi dan membuat Atiyah sedikit diam

“Aku gak bilang aku dirumahmu Mia” jawab Atiyah

“Kenapa? Bilang aja dirumah ku disini ada bibi Santi juga biar mas Aldi jemput kamu kasihan juga kalo kamu sendirian kesana”
Kata Mia mencoba berbicara seperti itu karena masih ingin melihat wajah suaminya.

Atiyah merenung membayangkan saat ia berjalan perjalanan yang jauh seorang diri.

Tiba tiba bibi Santi keluar dari kamarnya dan ternyata bibi Santi telah mendengar semuanya

” ya udah . Kita kesana sama bibi aja. Bibi akan kesana beberapa hari sekalian mau ketemu Aldi juga”
Jawab Santi di sambut senyuman Atiyah yang sedikit membuka mulutnya dengan bahagia.

“Bibi kesana?”
Jawab Mia sedikit menyesal dengan keputusan Santi

Bibi santi menganggukkan kepalanya.

“2 jam lagi yah Atiyah. Bibi harus bersiap siap dulu.”
Kata Santi melirik Atiyah kemudian bergegas masuk ke kamarnya.

Mia menuju kamarnya dan menangis dalam diam. Dia tidak menyangka Aldi tidak menjawab sedikit pun chat dan teleponnya sekalipun tapi malah memberi kabar untuk Atiyah atas keberadaanya yang membuat wajah Atiya merona dengan kebahagiaan.

“Ini tidak adil mas Aldi kamu zholim ”
Batin Mia mencoba berontak dalam tangisnya yang mendalam. Di tatapnya Aisyah masih tertidur pulas setelah ikut Mia bangun selepas subuh tadi dan menyambung tidurnya kembali.

Tiba tiba suara pintu ruang tamu diketuk
Mia bergegas menghapus air matanya yang baru saja mengalir. Di tahannya napas sedikit demi sedikit dan mencoba menghembuskan napasnya pelan pelan
Mia melangkah menuju ruang tamu dan membuka pintu rumahnya

“Assalamu’alaikum”
Sapa Zaid kepada Mia

“Wa’alaikum salam mas, sendirian” tanya Mia mencari sosok di belakangnya yang mungkin Zaid membawanya.
Membawa suaminya Aldi maksudnya. Meskipun itu mustahil. Mia masih berharap.

“Iya sendirian. Aldi gak mau juga kalau diajak bareng mas”
Jawab Zaid yang membuat mata Mia melebar mendengar nama Aldi disebut di dalam rumahnya

“Ssttttt! apaan sih mas”
Jawab Mia dengan tangan telunjuk di depan bibirnya isyarat diam

“Kenapa ?”
Tanya Zaid pura pura

“Ada Atiyah di dalam mas” jawab Mia

“Owh”
Jawab Zaid

“Ayo masuk tapi om dedi lagi gak ada dirumah. Dan sebentar lagi juga bibi Santi akan keluar mengantar Atiyah pulang kerumahnya. Jadi waktu mas sedikit untuk bertamu disini.”
Jawab Mia dengan wajah mempersilahkan Zaid masuk kedalam rumah.

“ayo masuk aku gak punya waktu banyak untuk menerima tamu”
Lanjut Mia kembali.

Zaid melangkahkan kakinya masuk dan duduk diruang tamunya dilihatnya Mia dengan tegar

“Wanita yang hebat”
Kata Zaid didalam hati

“Kamu terlalu memaksakan cinta Mia” kata Zaid mencoba membuka bersuara

“Mana ada mas cinta yang di paksakan” jawab Mia ketus

“Ada itu kamu. Terlalu memaksakan yang membuatmu menderita menahan perih luka yang sangat dalam”
Jawab Zaid dengan tatapan mata yang serius seperti tahu apa yang sedang dirasakan Mia.

“Aku gak menderita mencintainya”
Jawab Mia ketus. Mia mulai sedikit sadar dengan rasa yang di miliki Zaid

“Mas bisa melihat dari wajahmu. Bahkan mas bisa katakan kamu habis menangis?”
Jawab Zaid dengan tebakkannya yang benar.

“Sudahlah mas Aku menangis bukan menderita aku menangis bahagia. Mas hanya menjalankan tugas mas saja menemani aku bukan berarti menemani dengan seterusnya”
Jawab Mia panjang

“Bukankah peran mas sudah selesai menemani hidupmu dan kali ini mas usulkan lepaskan saja genggaman cintamu kepada Aldi”
Kata Zaid tiba tiba

Mia menarik napas nya

“Tidak semudah itu apa yang mas bilang”
Jawab Mia dengan gelaran napasnya.

“Mudah,kamu tinggal katakan ingin berpisah dengannya”
Jawab Zaid

Mia terkejut mendengar kata kata Zaid terakhir bagi Mia itu kalimat yang terbilang sangat nekat baginya

“Tidak baik berkata seperti itu mas”
Jawab Mia entah mau ngomong apa lagi dengan Zaid yang seperfinya telah di mabuk cinta

“Aku mau ngomong sama bibi Santi untuk mengatakan yang sebenarnya tentang perasaan aku”
Kata Zaid

“Mas! Mia sudah punya suami dan tolong mas jangan katakan ini dengan bibi Santi dia telah banyak urusannya ditambah dengan urusan cinta mas yang terlalu memaksakan”
Jawab Mia

“Memaksakan???” Sahut Zaid dan dijawab balasan diam seribu bahasa oleh Mia.

“Mana bibi Santi aku mau menemuinya” tanya Zaid sekali lagi

“Tolonglah mas disini ada Atiyah, aku janji kita akan selesaikan saat Atiyah nanti sudah pulang kerumahnya”
Bujuk Mia dengan menahan Zaid yang sudah berdiri dari tempat duduknya.

Zaid duduk kembali dengan perasaan tenang dan merasa menang. Ancamannya kali ini berhasil.

Tiba tiba Santi dan Atiyah keluar dari kamarnya

“Loh mana faqih?”
Tanya Mia mencoba berbasa basi melepas ketegangannya

“Ada di kamar tadi bobo sebentar lagian juga perjalanannya 2 jam lagi kan.”
Jawab Atiyah tersenyum

“Heheheh.yang gak sabaran ketemuan” goda Mia dengan sabar

“Heheheh ciieee kamu juga yang lagi ketemuan sekarang berhadapan”
Balas Atiyah menggoda

“Zaid udah lama disini? sudah dikasih Mia minum?”
Tanya Santi mencoba mencairkan suasana

“I iya nih baru juga nyampe” jawab Zaid dengan senyumnya.

“Ehh mas. Kok nggak keliatan tas besar atau apa itu oleh oleh buat Mia dan Aisyah?”
Tanya Atiyah sedikit heran melihat zaid yang tidak membawa apa apa.

“Aduh Atiyah kamu ini polos amat ya, tas di paket dong biar gak bikin pegel pegel bawa nya”
Jawab Zaid santaimenanggapi pertanyaan Atiyah sambil tertawa.

Akhirnya suasana dirumah menjadi cair dengan tertawa bersama .

‘Tertawa bahagia dan tertawa sedih
Tidak ada perbedaan semua sama
Didalam hati terasa perih
Di bibir tertawa lepas
Di dalam hati menangis
Di bibir tertawa gembira
Di dalam hati terluka
Dibibir tertawa lebar’

Menunggu 2 jam berlalu Mia mengantarkan segelas kopi hangat dan kue bolu coklat ke atas meja untuk Zaid pagi ini
Atiyah kembali ke kamarnya .menemani Santi dan juga sibuk mengurus faqih yang udah bangun tidurnya yang hanya sejenak.

“Nikmat”
Kata Zaid setelah meminum kopi buatan Mia

“Alhamdulillah”
Jawab Mia dengan senyumnya

“Ini kue buatan kamu”
Tanya Zaid dengan tangan telunjuknya menunjuk arah sepotong kue diatas meja.

“iya mas kemarin Aisyah pengen kue coklat jadi selesai subuh tadi aku bikin” jawab Mia

“Enak juga terasa coklatnya pasti bikinnya pake cinta ”
Jawab Zaid mencoba memulai suasana yang sempat hilang tadi

“Udahlah mas aku udah nikah”
Jawab Mia ketus dengan wajah tidak suka

“Kenapa? cinta dengan Aldi kan?”
Jawab Zaid mulai meninggi

“Mas!!!”
Bentak Mia dengan matanya melotot menatap Zaid

“Ok ok..”
Jawab Zaid dengan tertawa kecil hatinya sungguh senang bisa melihat senyum dan marahnya Mia hari ini

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

– ู…ุณู†ุฏ ุฃุญู…ุฏ (46/ 454) ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุจูุฑูŽูŠู’ุฏูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู‘ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุญูŽู„ูŽููŽ ุจูุงู„ู’ุฃูŽู…ูŽุงู†ูŽุฉู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุจู‘ูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู…ู’ุฑูุฆู ุฒูŽูˆู’ุฌูŽุชูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽู…ู’ู„ููˆูƒูŽู‡ู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู‘ูŽุง

dari โ€˜Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata: Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: โ€œTidak termasuk golongan kami orang yang bersumpah dengan amanah dan barangsiapa merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya atau budak dengan tuannyanya, maka ia tidak termasuk golongan kami.โ€ (H.R.Ahmad)

– hadits dikatakan jika Rasulullah SAW bersabda, โ€œRasulullรขh โ€“ shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œSiapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba sahaya dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami, dan siapa yang merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah dari kamiโ€™โ€. [Hadรฎts shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzรขr, Ibn Hibbaรขn, Al-Nasa-i dalam al-Kubra dan Al-Baihaqi].

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

“Aku permisi pulang Mia 2 minggu lagi aku ke jakarta dan bulan mulai depan mungkin aku akan sibuk dengan cafe baru ku disana bersama teman teman” kata Zaid ketika akhir akhir saat mau pamit

“Kamu punya cafe?”
Tanya Mia mencoba bertanya

“Tergoda kah kamu kalo mas mu ini sudah punya cafe? ”
Ujar Zaid dan membuat Mia terdiam kembali dengan mimik wajah yang sangat tidak menyukai cara Zaid

“Ok ok, ya itu cafe sama teman teman aku sepertinya sekarang sudah mulai ramai dan mungkin mas akan sibuk karena mas bagian chef nya”
Jawab Zaid membuat matanya melebar.

“Hahahaha santai aja Mia. Apa mas harus menggoda kamu sekali lagi?”
Tanya Zaid dengan senyumannya dan membuat Mia melotot untuk kedua kalinya.

“Mas!!!”
Bentak Mia

“Hahahaha ok ok mas pamit dulu setidaknya mas sudah mendapat jawaban dari kamu kalau besok besok mas kembali lagi kesini. Ok?”
Kata Zaid segera berlalu dari rumah Mia tanpa menunggu balasan jawaban dari Mia.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

“[Mas Aldi gak dirumah? Atiyah sudah dirumah ini]” chat Atiyah saat beberapa panggilan darinya tidak dibalas mas Aldi.

Atiyah baru juga sampai malam ini dirumahnya meskipun badannya terasa lelah perjalanan ini tapi tidak mengurangi semangatnya menemui Aldi.

“Ya udah kita tunggu aja sampai besok lagian ini udah malam duduk diluar seperti ini”
kata Santi mencoba mengajak Atiyah masuk kerumah.

“Iya bi”
Jawab Atiyah dan terus memandang toko kecil di depan rumahnya itu teringat akan kebersamaanya sama Aldi yang sangat indah untuk di kenang.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ

Trettt..trettt…trett

Hp Atiyah bergetar sengaja Atiyah tidak menghidupkan suara untuk teleponnya di malam hari agar menjaga tidur nyenyaknya untuk sang buah hati Muhammad Faqih

Dilihatnya jam di dinding kamarnya menunjukkan angka 4 pagi.

“Sebentar lagi subuh”
Ucap Atiyah segera duduk pelan pelan agar Faqih tidak terbangun
Ia segera meraih ponselnya nya dan matanya melebar melihat ponsel nya ternyata ada 5 panggilan tak terjawab dari Aldi dan 1 chat yang belum dibaca.

“Aku gak bangun mas Aldi telepon”
Lirih Atiyah kemudian membuka chat dari Aldi

“[Mas Aldi segera otw sayang. Tunggu mas Aldi ya.]”
Chat Aldi membuat hati Atiyah berbunga bunga meski awal Aldi meninggalkannya tanpa sebab kemarin meninggalkan luka yang membuatnya menangis berhari hari.
Itulah hebatnya cinta seorang istri mampu segalanya menahan perih dan menahan rindu dan mencoba membuka hati untuk memaafkan.

๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ๐Ÿ“Œ


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here