Telat Menikah Bukan Aib

0
156
views

Tahun ini usiaku menginjak tiga puluh tahun, usia yang sudah sewajarnya menikah. Tapi apalah daya diusia sedewasa ini aku masih sendiri. Bukan karena aku pemilih, tapi memang kisah asmara ku tidak terlalu seberuntung teman-teman ku. Beberapa teman sudah ada yang menikah dan memiliki anak, bahkan sudah ada yang berapa kali kawin cerai.

Banyak tetangga yang membicarakanku, mengapa aku tak pernah sekalipun membawa pacar ke rumah untuk di kenalkan pada orang tua. Ada saja bahan mereka untuk menghibahku, aku dianggap perawan tua, tidak laku lah dan sebutan lainnya.

Sebenarnya aku malas menanggapi ocehan tetangga, tapi semakin didiamkan malah semakin menjadi. Setiap kali menghadiri acara nikahan teman ada saja yang usil menanyakan, sudah ada calon belum? Kapan nyusul? Bla bla bla.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” ucapku membalas sapaan tamu yang datang ke rumah. Oh, ternyata Mbak Narti tetangga depan rumah.

“Lagi apa, Ris. Sibuk gak?” tanya Mbak Narti sambil duduk di sebelahku.

“Gak lagi ngapain-ngapain ko, Mbak” balasku.

“Begini, Ris. Hhmm, gimana ya ngomongnya,” gumam Mbak Narti.

“Ada apa Mbak? Mbak mau pinjam uang,” tuduhku langsung yang membuat dirinya gelagapan.

“Gak … gak lah, Ris. Utang yang kemarin saja belum dibayar, masa mau pinjam lagi,” sanggahnya. “Begini lho, Ris. Kamu kenal Pak Haji Bambang?”

“Iya kenal kenapa, Mbak?” jawabku penasaran. Tetangga ku ini selain juaranya ghibah juga paling pintar mengambil hati orang.

“Hhmm, dia … mau ngelamar kamu, Ris” tembaknya.

“Apa?! Gak, gak. Risa gak mau, Mbak” tolakku langsung, apa-apaan aku gak mau dijadikan istri ketiga lelaki itu. Pokonya tidak!

“Lho, kenapa gak mau? Dia itu kaya, tanahnya banyak. Dia juga sudah minta ijin bapak mu, tapi bapak bilang nunggu kamu bilang ‘iya’ dulu baru beliau datang kesini” ungkapnya. “Dari pada kamu gak nikah-nikah, hayoo,” katanya lagi.

Sepulangnya Mbak Narti, aku memikirkan cara bagaimana menolak Pak Haji. Memang sih beliau terbilang belum terlalu tua, usianya sekitar empat puluhan dan masih terlihat gagah. Hanya saja aku tidak mau dijadikan istri ketiga, kupikir kalau dia duda aku tak akan keberatan menjadi istrinya.

***

Keesokan paginya, sebelum berangkat kerja aku menemui ibu yang sedang sibuk membuat sarapan di dapur. Semalam ibu dan bapak pergi dan pulang malam jadi aku tak sempat membahasnya. Kulihat ada sekarung beras dan sebuah dus berisi indomi dan bahan-bahan dapur lain, ‘apa ibu yang berbelanja sebanyak ini’ batinku.

“Ibu belanja sebanyak ini?” tanyaku penasaran.

“Apa, oh itu … itu.”

“Kan belum akhir bulan ini tumben ibu dah belanja.”

“Itu … itu pemberian dari Pak Haji, Ris” tuturnya pelan.

“Haji Bambang, maksud ibu?!” tebakku langsung dan dijawab dengan anggukan olehnya. “Apa ibu rela Risa jadi istri ketiga Pak Haji? Apa ibu gak malu? Risa malu, Bu. Pokoknya ibu pulangin lagi semua barang pemberian dia Risa gak mau tau!” timpalku lagi.

Sebenarnya aku tak tega membentak ibu, tapi aku benar-benar marah sekali saat ini. Belum apa-apa dia sudah berani memberikan apa saja pada keluarga ku, belum lagi tanggapan orang nanti.

***

Sudah kuduga, akhirnya kudengar juga kasak-kusuk itu dari mulut-mulut tetangga yang kepo. Banyak yang menanyakan kebenaran itu pada ibu, untungnya hanya ditanggapi dengan senyuman oleh ibu.

Sudah beberapa malam ini Haji Bambang selalu datang ke rumah, sekedar mengobrol dengan bapak tapi ia juga selalu membawa buah tangan untuk keluargaku. Aku semakin risih dibuatnya, apalagi banyak tatapan aneh tetangga yang ingin tahu.

“Mbak gimana di terima gak?” tanya adikku menyelidik. Aku hanya mengangkat bahu, aku malas meladeninya.

Tak lama bapak masuk ke kamar ku dan bertanya soal Haji Bambang padaku,

“Bagaimana, Nduk. Di terima gak itu?” tanya bapak hati-hati. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala, kudengar bapak menghembuskan napas pelan.

“Ya wes, ndak pa pa.”

Bapak berlalu dari kamarku dan menuju ruang tamu. Tak berapa lama kudengar suara motor berlalu dari halaman rumah, kemudian sunyi.

***

Satu bulan berlalu, kehidupan keluarga kami kembali tenang meskipun masih banyak tetangga yang membicarakan tentang penolakan ku terhadap Haji Bambang. Namun kami sekeluarga tak ambil pusing soal itu, anggap saja angin lalu.

Malam itu bapak kedatangan teman lama, Pak Karyo namanya. Beliau seorang guru ngaji, kebetulan sedang berkunjung ke tempat saudara jadi sekalian beliau mampir ke rumah.

Ibu memintaku untuk membawakan kopi dan beberapa camilan untuk disuguhkan oleh bapak dan tamunya. Saat sedang menatanya di atas meja tamu bapak memperhatikan ku dengan mimik serius.

“Apa ada masalah sama mbaknya?” pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Pak Karyo, aku mengerutkan dahi tanda tak mengerti.

“Masalah apa ya, Pak,” ucapa bapak.

“Itu lho, ada aura hitam yang menutupi wajah anakmu.”

Aku dan bapak amat shock mendengarnya, bagaimana bisa?

“Ada yang mengirim sesuatu ke mbaknya, entah dia dendam atau apa yang pastinya aura mbaknya di tutup. Supaya tidak ada laki-laki yang mau mendekati,” tandasnya lagi.

Ibu dan adikku segera menuju ke ruang tamu, setelah mendengar penjelasan dari Pak Karyo tadi.

“Perbanyak sholat dan rajin puasa senin kamis, dan tak lupa tahajud. Mohon ampunan pada gusti Allah, insha Allah aura kiriman itu akan hilang dengan sendirinya,” nasihatnya padaku. “Sebenarnya saya tau siapa orang yang mengirimnya hanya saja, saya mengerti pasti kalian sekeluarga sudah paham,” ucapnya lagi.

##

*Terinspirasi dari kisah nyata teman saya.
Mohon krisannya kakak.

by: Usagi Nee-Chan

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here