Tasbih Cinta

0
914
views

Bagian Satu


Hembusan angin sore adalah hal yang paling aku sukai. Menerawang langit senja yang indah sudah menjadi rutinitas dalam hidupku. Sesekali ku hirup udara dingin ini, lalu mengembuskannya secara perlahan.

Perkenalkan, namaku Afifah Zahira. Aku adalah seorang mahasiswi jurusan Sastra di Universitas Trisakti, Bandung.

Aku tinggal bersama kakak perempuanku, Jihan Zahira, yang bernotabene sebagai seorang pelayan restoran.
Kami tinggal di rumah minimalis sederhana peninggalan orangtua.

“Fifah, ayo masuk! Sudah mau maghrib.”

Suara kak Jihan membuyarkan semua anganku di senja ini. Dengan menghela napas panjang, aku putuskan untuk masuk ke dalam rumah.

“Fifah, apakah kamu masih menunggunya?” tanya kak Jihan penasaran ketika aku berada di ambang pintu.

Aku mengangguk mantap. “Aku masih setia menunggunya, Kak.”

“Tetapi, bagaimana jika dia mengkhianati janjinya?”

“Jika dia berkhianat, cukuplah ALLAH yang membalasnya ….” jawabku dengan tersenyum tipis, “bukankah, tugas kita hanya mendoakan kebaikan untuk orang yang telah menyakiti kita?” tungkasku.

Kak Jihan mengelus puncak kepalaku. “Terimakasih ALLAH, karena Engkau telah memberiku seorang adek sepertinya.”

“Apa sih, kak? Berlebihan sekali,” gerutuku.

Kak Jihan tertawa geli, dia tau kalau aku tidak suka di puji berlebihan seperti tadi. Dan mungkin beberapa orang juga beranggapan sama sepertiku jika di puji demikian.

“Kamu pergi ambil air wudhu dahulu, kakak akan menunggu. Selepas itu kita pergi ke masjid bersama,” ucap Kak Jihan yang langsung di balas anggukan olehku.

‘Wahai akhi, aku telah menutup pintu hatiku untuk pria manapun. Karena janjimu dengan menjadikan ALLAH sebagai saksi yang membuatku tetap menanti kehadiranmu.’

3 Tahun Silam

Suara dari para pelajar SMA Taruna, sukses membuat koridor yang panjang itu seakan telah menjadi pasar kaget. Beberapa siswi terlihat tengah duduk dengan bercakap-cakap ria. Sedang beberapa siswanya bermain bola basket di lapangan.

Dengan sedikit rasa malu, aku dan sahabatku–Sabira Munif– berdiri di depan perpustakaan.

“Kak Fifah, plis! Mau ya jadi pacarku?” pinta seorang pemuda dengan penuh harap.

“Maaf dek … kakak tengah mencoba istiqomah,” balasku

“Kalau begitu, kita ta’arufan saja kak, bagaimana?” tawar pemuda yang bernama lengkap Hamam Firdaus.

Aku terkekeh. “Kamu tau apa makna ta’arufan?” tanyaku balik.

“Tentu saja. Ta’arufan itu maknanya berkenalan, dan setelah itu menikah,” jawabnya polos.

“Berarti, kakak tak perlu menjawab lagi, ketika kamu kembali menyatakan cinta.” Aku tersenyum simpul. “Jika benar kamu mencintaiku … maka tunggulah beberapa tahun lagi dan yakinkah kakakku,” tegasku kemudian pergi meninggalkan Firdaus. Di susul Sabira berlari mengejarku.

“Wah, berani sekali dia menyatakan cinta kepada kakak kelas.” Sabira berdecak kagum. “Padahal, sudah tiga puluh kali kamu menolaknya,” sambungnya.

Aku hanya tersenyum dengan terus berjalan menuju kelas.

“Hm, apakah kamu sedikitpun tidak ada rasa untuknya?”

Aku terhenyak dan berhenti melangkah.
Aku melirik Sabira yang berada tepat di sampingku.

“Rasa keju atau rasa cokelat?” gurauku.

“Aku serius, Fifah!” ujar Sabira.

“Aku juga lebih serius dari kamu,” balasku datar.

“Rasa-rasanya aku bisa gila bicara denganmu!!” gertak Sabira melenggang pergi.

Aku tersenyum geli melihat tingkah Sabira yang lucu menurutku. Ya, Sabira memang mudah marah, namun hanya sesaat.
Aku terus memandangi punggung sahabatku yang telah menjauh.

“Rasa? Setidaknya rasaku sama dengannya.” Aku berlari mengejar Sabira dengan senyuman di bibir.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here