Tasbih Cinta – 26

0
493
views

Hari Ini ulang tahun ku yang 35 tahun.
Shaleh memperkenalkan aku dengan adik sepupu istrinya yang statusnya juga sama seperti aku. Aku duda dan dia janda.
Lebih tepatnya Janda muda karena dia baru menikah 2 bulan saja kemudian sudah bercerai.
Itu juga sudah 2 tahun yang lalu.
Bukan hanya perkenalan biasa. Aku akan menjalankan proses ta’aruf dengannya.

Naura ramadhani namanya. Nama yang indah seperti artinya Sinar di bulan ramadhan. Semoga kamu selalu menyinari hidup ku kelak bukan hanya di bulan ramadhan tapi di semua bulan bulan sampai akhir hidupku.

Apa kalian bilang aku telah melupakan Anisa sepenuh hatiku?

Kuharap jawabannya tidak mengecewakan kalian semua.

Jawabannya tetap sama. Hatiku tetap milik Anisa. Sampai kapanpun dan bagaimanapun
Tapi tidak dengan jasadku. Aku bukan siapa siapa untuk nya.
Mungkin lebih tepatnya. Aku adalah pria yang tak pantas untuknya. Aku telah merusaknya. Dan kehidupan aku juga sudah rusak rasanya tidak pantas jika aku terus memaksa takdirNya untuk berharaf kepadanya agar Anisa kembali kepelukkan ku.
Seperti berharaf agar bumi dan langit akan berpelukan. Itu mustahil sekali karena membuat dunia hancur seketika.

Aku akan melupakannya di pikiran ku. Biarkan nama Anisa bersemayam di hatiku tanpa ada yang tahu.
Dan semoga saja dengan proses ta’aruf ini aku bisa menghilangkan bekas bekas ukiran nama Anisa di hatiku.

“Semoga saja”
Lirihku pelan

Karena mudah saja bagi Allah untuk membolak balikkan hati manusia. Untuk mereka yang benar benar mau berusaha menjadi lebih baik.

Naura Ramadhani. Wanita yang baru saja melangsungkan pernikahan kemudian bercerai karena mengetahui ternyata suami yang di cintainya telah berselingkuh. Naura mengatakan Tidak sanggup di poligami saat mantan suami berkata akan menikahi selingkuhannya.
Naura siap mundur cantik mengorbankan perasaanya. Mengalah untuk menjaga hati.
Naura butuh waktu 2 tahun untuk bisa ‘move on’ dan menerima tawaran ta’aruf dari Shaleh untuk ku.

“Hmmm…. bukan waktu yang lama.”

Tidak…
ini sepertinya lebih baik. Karena lebih parah dengan aku yang butuh waktu bertahun tahun bahkan hampir 10 tahun untuk bisa ‘move Ini dari cinta ku dari Anisa.
Naura hebat di mataku. Insyaallah kami berjuang bersama untuk menjadi muslim muslimah yang lebih baik lagi.

Hari ini aku mencoba. Dan aku rasa aku cocok dengannya.
Usianya yang masih 20 tahun saat ini terlihat mempesona dimata ku. Dengan pashmina lilit panjang berwarna coklat muda menambah rasa desiran halus di hatiku. Aku berharap cinta itu benar benar datang untuk ku.

Naura Ramadhani telah menyandang status janda di saat usianya 18 tahun. Bukankah itu sangat menyakitkan untuk usia begitu telah di tinggalkan cinta.
Aku saja disaat umur 23 tahun di tinggal cinta seperti orang gila. Bagaimana dengan Naura??
Aku tidak bisa membayangkannya. Itu pasti sulit ia lalui.
Sepertinya kami senasib. Yah Senasib sama sama berjuang untuk bersemangat menjemput impian selanjutnya.

Hari itu juga keputusanku mantap untuk menyegerakan proses ta’aruf ke langkah selanjutnya.
Alhamdulillah semua menyetujui dan akan disegerakan.

***

Sudah pukul 7 malam. Malam ini aku akan menjalankan akad nikah bersama Naura.
Yah calon istriku.
Hatiku menjadi gugup detak jantungku menjadi lebih cepat dari biasanya.
Aku sedikit demi sedikit berhasil melupakan Anisa.

Sedikit itu gak banyak. Tapi aku syukuri setidaknya perubahan itu ada.

Aku berjanji di dalam hatiku. Aku akan mencoba menjadi suami yang lebih baik lagi. Karena pengalaman pernikahanku yang sangat kelam.
Yaitu ‘perceraian’
Sesuatu yang paling di benci oleh Allah.
Dan aku benar benar berdoa agar pernikahan ku hari ini berjalan lancar dan sakinah mawaddah wa rahmah sampai kami menemukan ajal.
Aaminn…

“Heiii…gugup Kamu Sandy?”

Tiba tiba saja Shaleh menepuk punggung ku keras. Yah keras sekali sampai aku berteriak kesakitan.

“Halah, Sandy gitu aja kesakitan. ” kelakar Shaleh menggodaku.

Aku hanya tersenyum menanggapi pandaan Shaleh. Aku tidak bisa bercanda di saat saat seperti ini.
Hatiku seperti menjadi lembut pelembut sutra. Mudah merasakan dan aku merasakan ‘sesuatu’ yang membuat jantungku terus saja memompa dengan cepat. Dengan reaksi mengeluarkan keringat keringat di dahiku.
Aku tidak bisa menutupinya itu.

“Seperti baru pertama kali aja sand”
Ucap Shaleh ingin menepuk punggungku sekali lagi tapi aku cepat menepisnya.

“Hahahaha, reflek Ya tangan kamu. Berarti kesadaran kamu masih waras nih”
canda Shaleh kembali.

“Anisa hadir kah?”
Tiba tiba saja lisan ku mengucap nama Anisa. Padahal aku berusaha tidak untuk mengatakannya.
Aku juga sedikit terkejut dengan ucapanku. Tapi benar pertanyaan itu keluar saja melalui lisan ku.
Aku menyesal telah menanyakannya

Tapi,

Yah aku berharap Anisa hadir disini. Melihat ku menikah dengan Naura.
Agar kami bisa saling melihat. Kita berdua berhak bahagia. Meski kita pernah jatuh cinta.
Tapi kita harus memilih.

Tapi untungnya Shaleh mengerti. Ia tersenyum kecil kepadaku.

“Anisa lagi menunggu hari untuk melahirkan anak ke duanya”
Jawab Shaleh

Aku mengangguk pelan

“Tapi tadi Anisa sudah menelpon aku untuk minta tolong ucapkan selamat untuk Sandy dan Naura dan salam persahabatan selalu dari Nisa. Persahabatan seperti almarhumah tante Lia dan Mira”
Cerita Shaleh

Aku tersenyum sedih mendengar cerita Shaleh.

“Sekalian Anisa titip doa kepadamu doakan dia juga agar persalinannya lancar ”
Lanjut Shaleh

“Aamiinn. Aku selalu mendoakan untuk kebaikan adikku.”

Ucapku mencoba tenang dan seperti tulus.
Yah aku akan berusaha menganggap Anisa sebagai Adik. Bukan sahabat. Karena sahabat akan begitu menyakitkan untuk di pahami.
Untuk perasaanku dan juga perasaanya.

“Aamiin…”
Jawab Shaleh

***

Hari hari berikutnya aku jalani kehidupan rumah tangga ku bersama Naura. Dia wanita yang sangat lembut hatinya.
Cerdas pikirannya.
Bagaimana dengan Anisa?
Aku tidak menghubunginya lagi setelah menikahi Naura.
Aku mencoba melawan hawa nafsu ku yang selalu mencari celah merusak pernikahan ku yang kedua.
Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku berhasil.

Terbukti kini 1 tahun menjalankan rumah tangga aku semakin akrab dengan Naura. Kami mencoba berbisnis berdua berbekal modal yang cukup usahaku bekerja dengan teman Shaleh dulu. Kami membuka kedai. Menjual berbagai menu yang kekinian. Istri ku Naura cerdas dalam pemikirannya dan dia masih muda ia tahu semua tren tren apa yang harus dipromosikan. Meski bukan seperti kedai coffee seperti di mall. Tapi kedai kami sangat ramai peminatnya.

Kami belum di karuniakan anak oleh Allah. Alhamdulillah Naura sangat bersabar. Ia benar benar menikmati perannya sebagai istri.
Bangun pagi menyelesaikan tugasnya. Menyiapkan aku bekal. Dan sampai sore siap menyambutku dengan khas senyumnya yang selalu membuat ku rindu.
Dan selalu ingin memeluknya

Kini aku membenarkan istri sholehah adalah segalanya buat ku.
Istri sholehah merangkap segala tentang kehidupan ku.
Sedikit demi sedikit nama Anisa mulai pudar di hatiku.
Di hatiku penuh nama Naura. Istri sholehah ku.

Kini aku tau dan memahami kalau takdir itu akan berubah sebagaimana usaha kita. Mungkin dulu usahaku sangat belum maksimal dan juga rasa ketidak yakin kepada Allah memnuat ku jauh dari tuhanku. Aku lupa bagaimana caranya melupakan cinta kepada manusia Bahkan justru aku melupakan begitu besarnya cinta tuhanku sendiri
kepada ku tuhanku, ALLAH SWT.

Aku berdoa semoga secepatnya aku mendapatkan keturunan meski umurku saat ini sudah melewati angka ’35’
Aku yakin aku masih kuat.

Aku tertawa kecil jika membayangkan ‘laki laki masih perkasa’
Itu percakapan ku dulu bersama Shaleh.
Aku selalu mengingatnya.

Kebahagiaan itu hadir di dalam hati karena banyak bersyukur.
Dan aku akan selalu menjalankannya. Selalu dan selalu bersyukur apapun itu terjadi.

Tapi sedih ku masih satu sampai Sekarang hubunganku dengan Andrian kakakku belum membaik. Ia sepertinya masih tampak membenciku.
Beberapa kali aku mencoba hubungi Andrian ia masih tampak kesal dan kecewa sama aku.
Aku akui. Kesalahan yang aku lakukan dulu mungkin baginya sangat besar. Tapi aku sudah mencoba untuk lebih baik lagi.
Aku sudah bersabar dan pasrah akan balasan dari Allah di dunia ini. Semua balasan sudah aku dapatkan termasuk kehilangan orang tua ku istri bahkan pak Ali.
Aku berharap balasan di akhirat di hapuskan oleh Allah. Sungguh aku sudah bertobat dari semua kesalahan aku dulu.

Semoga Allah mengampuni dosa dosaku.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here