Tasbih Cinta – 25

0
104
views

“Bagaimana ini bisa terjadi? Mama belum kenal pasti siapa ismail?”

Jawab mama setelah mendengar cerita Anisa selesai menerima telepon penjelasan dari Sandy tadi pagi.

“Percaya sama Sandy ya Ma?”
Jawab Anisa pelan

“Kenapa harus percaya sama dia? Kita juga berhak curiga. Mungkin dia sedang menyusun strategi untuk menghancurkan sesuatu. Bisa jadi kan?”
Sahut Randy tiba tiba saja ikut bergabung dengan pembicaraan Nisa dan mamanya.

“Mas…Kita tidak boleh berprasangka buruk…Mungkin?….”

Belum sempat Anisa melanjutkan pembicaraan Randy langsung memotong pembicaraan Nisa

“Semua orang bisa saja berubah dek Nisa..termasuk orang yang kamu cintai”
Ketus Randy menatap tajam ke arah Nisa.

Mama Nisa tante Mira tidak terima pembicaraan menantunya yang ia pikir sungguh tidak ada adab berbicara seperti itu di depan mertua.

“Randy!!! Apa yang kamu maksud”
Sahut Mira dengan nada tinggi

“Maaf ma.”
Jawab Randy sedih

Randy sendiri bingung atas sikapnya beberapa hari ini.
Biasanya ia bisa menjaga dan menahan amarahnya. Cemburu ini merusak akal pikirannya.
semenjak melihat Sandy bertemu Nisa istrinya malam itu. Hati Randy terbakar.
Yah terbakar api cemburu yang membuat pikirannya tak terkendali.

Randy mendekatkan dirinya kepada ibu mertuanya. Mira.

“Maafkan Randy mah. Benar Randy tidak bermaksud jahat. Selain…..Selain….”
Ucap Randy bergetar mengambil tangan tante Mira dan mencium punggung tangan mertuanya untuk meminta maaf.

“Tidak apa apa. Mama mengerti perasaan mu. Hanya saja mama kecewa jika kamu terus berprasangka terus seperti ini.”
Jawab Mira pelan

“Mas. Nisa juga minta maaf jika terus membuat mas menjadi seperti ini. Nisa juga gak ada maksud buat menghancurkan rumah tangga kita. Itu hanya masa lalu mas”
Jawab Nisa sedih

“Benar. Mas hanya takut masa lalu itu kembali dak kamu menerimanya”
Jawab Randy

“Sudahlah ini Tidak Penting untuk kita bahas. Kalian berdua sudah dewasa. Udah saling kenal dan mengerti. Kalian bukan lagi pengantin baru yang harus sibuk sama masalah salah faham dan cemburu saja ”

Randy terdiam .

“Mama benar ”
pikir Randy

***

“Mas saja yang berbicara kepada Sandy ya. Urusan toko?”
Tanya Nisa ke esokkan paginya.

“Kenapa harus mas?”

“Mas ngerti lah posisi Nisa kalo menghubungi Sandy.”

“Ya udah. Sini”

Hari itu mas Randy menghubungi Sandy dan membicarakan masalah karyawan baru yang di ajak ya ismail.
Untuk masalah keuangan Mira masih mempercayakan kepada Sandy.
Meski Sandy tidak sepenuhnya menjaga toko. Karena disela kosong pembeli ia di sibuk kan mencari pekerjaan baru.
Tapi keuangan tidak pernah salah dan selalu berjalan lancar.

***

1 minggu telah berlalu. Sandy masih saja belum mendapatkan pekerjaannya.
Ismail tampak lebih semangat menyusun barang di toko.

Sandy menatap ismail kerja sangat bersemangat sekali pikirnya.

Tiba tiba penasaran Sandy berkata kepada ismail yang sibuk menyusun barang.

“Kamu pernah jatuh cinta is?”
Tanya Sandy menatap ismail menunggu jawaban.

Ismail menoleh sejenak ke arah Sandy kemudian tersenyum.

“Kenapa tersenyum?”
Tanya Sandy penasaran

“Cinta itu sangat menipu kak buatku. Aku haraf aku tak menemukan cinta kepada manusia . Karena cukup orang tua ku saja yang telah di tipu karena cinta”

Sandy termenung mendengar jawaban ismail adik angkatnya.
Suasana siang ini sepi. Pembeli mungkin belum bersemangat ke toko
Sandy duduk menatap keluar melihat orang orang pejalan kaki yang sibuk sama dunia kehidupannya masing masing

Tiba tiba

“Assalamualaikum?”

“Wa’alaikum salam. Yaa Allah…shaleh? Kapan datang? Waduh…sahabat setia ku”

Ucap Sandy terkejut melihat kedatangan Shaleh.

“Alhamdulillah. Sorry gak ada kabar untuk kamu. Aku benar benar sibuk beberapa tahun ini.bagaimana kabar mu sahabat?”

“Dan Apalagi saat papa dan mama mu itu….”
Ucap Shaleh kemudian di sambung sandy

“Gak masalah. Semua udah taqdirnya.”

“Semoga jangan perjalanan mereka Sandy,aku turut berduka”
Jawab shaleh

“Bagaimana kabar mu?”

“Alhamdulillah seperti yang kamu lihat?”
Jawab Sandy tertawa dan memeluk erat sahabat lamanya

“Dia siapa?”
Tanya Shaleh setelah melepas pelukkan Sandy.

“Owh iya. Kenalin ini pegawai toko baru.”
Jawab Sandy memanggil Ismail untuk mendekat

“Ismail kak.” Ucap ismail ramah sambil memberikan tangannya untuk berjabat tangan

“Shaleh.”
Jawab Shaleh menyambut jabatan tangan dari ismail

Ismail pergi kembali lanjut dengan kerjanya karena ada pembeli yang datang.

“Kamu kenapa?” Tanya Shaleh

“Kenapa bagaimana?” Jawab Sandy

“Ada masalah?” Tanya Shaleh

“Gak ada,” jawab Sandy

“Kenapa harus ada ismail? Kamu kelelahan?”
Tanya Shaleh masih penasaran?

Sandy terdiam

“Ayolah. Kamu bukan orang yang baru aku kenal.”
Jawab Shaleh menepuk bahu Sandy

Hari itu Sandy menceritakan bagaimana pertemuannya dengan ismail. Termasuk sebelum bertemu ismail tentang ungkapan rasanya untuk Nisa.

“Apalagi yang harus kamu harapkan dari Nisa. Dia telah bersuami bahkan telah mempunyai anak.”
Ucap Shaleh kecewa

“Aku tau”
Jawab Sandy pendek

“Ayolah move on dong.”
Bujuk Shaleh

“Insyaallah jika aku sudah mendapatkan kerja lain mudah mudahan aku takkan teringat lagi sama tempat ini.”

“Kenapa harus tempatnya kamu salahkan?”

“Karena tempat ini milik seorang bapak yang anaknya sangat aku cintai”
Jawab Sandy

“Halahhh….sudah lupain saja”

“Tidak segampang itu ferguso”

“Hahahahahah”

Shaleh tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu.

“Gini Sand. Aku bantu. Kebetulan temen aku ada tawaran buat kamu. Temen aku punya cafe di pusat kota. Dia sih mau cari pekerja baru buat urusan masak memasaknya.”
Cerita Shaleh

“Aku harus memasak?”

“Yah sepertinya begitu? Tapi janji harus move on”

“Hmmm…..”

“Tenang saja. Kamu akan di ajari mungkin Nanti ikut training dulu sampai 1 bulan. Selanjutnya kamu akan di beri keputusan lanjut atau tidak. Tapi sepertinya aku yakin kamu akan lulus. Tampang mu sangat cocok jadi tukang masak. Ehh…chef ” cerita Shaleh tertawa

Sandy mendengar cerita Shaleh sahabatnya itu bersyukur sekali mempunyai sahabat seperti Shaleh yang selalu ada untuknya. Selalu siap membantu.

“Dan yang terakhir. Aku mohon menikahlah.”

“Aku sudah pernah menikah”

“Cobalah sekali lagi. Umurmu sudah tua. Ayo. Kamu tidak ingin punya anak dan cucu begitu?”

Sandy menatap Shaleh dengan tersenyum

“Semua orang ingin kok. Hanya butuh cinta”
Jawab Sandy pendek

“Bukan butuh cinta. Tapi butuh move on. Udah…buruan move on aku tunggu sekarang disini”

“Gila move on di tunggu.”
Jawab Sandy tertawa

***

Keesokkan harinya di rumah Nisa.
Shaleh menelpon Mira

“Aman tante Mira,”
Kata Shaleh di telpon

“Kamu sudah ke sana Shaleh?”

“Sudah dari kemarin tante. Sepertinya ismail sangat baik.pekerjaannya bagus.”

“Alhamdulillah”

“Insyaallah Shaleh akan kembali kerja disini tante.kebetulan toko Shaleh di tempat Shaleh tidak bisa di selamatkan lagi?”

“Astaghfirullah ada apa yang terjadi”

“Gak papa. Shaleh nanti akan sambil mengawasi toko tante bersama ismail. Beri Shaleh waktu dulu mengurus semua ditempat tinggal Shaleh. Mudah mudahan bulan depan Shaleh bisa mulai pindah kerja disini lagi.”

“Kenapa harus kamu dan Ismail? Sandy kemana?”

“Biarkan ia kerja sesuai hobinya ma. Sandy sudah banyak membantu kita kan? Sekarang bebaskanlah dia untuk bisa memilih,”

“Sandy udah gak mau kerja sama tante?”

“Enggak…Sandy butuh suasana baru. Ayolah mama pasti faham kan bagaimana perasaanya. Shaleh juga udah beri ia kesempatan bekerja pada teman Shaleh. Mudah mudahan ia di terima doain aja ya tante.”

“Insyaallah.”

“Ya udah dulu nanti kalau ada waktu Shaleh mampir kesana ya tante ajak keluarga kecil Shaleh.Assalamualaikum tante”

“Wa’alaikum salam”

***

1 tahun telah berlalu Mira harusnya sudah mau ke jakarta 5 bulan sebelumnya. Tapi Nisa selalu menahannya. Karena Nisa senang sekali bisa bersama mama kesayangannya.
Tapi Mira merasa tidak enak tinggal di rumah anaknya Nisa.
Shaleh sudah pindah di jakarta semenjak 8 bulan sebelumnya.
Hari Ini Mira akan pulang ke rumahnya.

Sore itu Anisa tampak sibuk membantu mamanya packing buat perjalanan pulang besok bersama anak satu satunya Zahra yang sudah mulai masuk sekolah.

“Alhamdulillah selesai semuanya ”
Ucap Mira tersenyum.

“Nisa akan selalu merindukan mama”
Jawab Nisa memeluk mamanya.

“Iya mama juga akan selalu merindukan kamu.”
Balas mama dengan pelukkan erat.

***

Keputusan Mira sudah bulat untuk pulang kerumahnya.
Ia akan mencoba membuka lembaran baru dan semangat yang baru meneruskan perjuangan almarhum suaminya.
Mira bertekad ia sendiri yang akan mengurus toko milik almarhum Ali bersama Ismail.

“Tua bersamamu meninggal bersamamu adalah khayalan ku saja”
Lirih Mira saat telah sampai dirumah nya di jakarta.

Tampak Shaleh menyambutnya.
Iya selama setahun Shaleh menempati rumah Mira bersama anak istrinya. Dan sekarang ia akan kembali kerumah orang tuanya.
Karena baginya Mira adalah tante kesayangannya.

Anisa tidak bisa mengantar Mira hari Ini.
Anisa sedang hamil muda ia sering mual dan pusing.
Karena itulah Randy tidak mengizinkan Anisa ikut mengantar mama ke sumatera.
Mengingat Anisa kandungannya lemah dan pernah keguguran. Sudah pasti membuat Randy khawatir jika Anisa ikut.

***

“Tanpa mu Ali. Aku akan memulai kisah hidup yang baru. Aku takkan bisa melupakan cintamu. Meski aku tau umurku sudah tidak muda lagi tapi cintaku selalu merasa baru untukmu. Ali.”

Lirih Mira pelan menahan rindu saat malam di jam menjelang subuh seusai sujud terakhirnya.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here