Tasbih Cinta – 24

0
121
views

Hari ini aku berada di bogor.
Aku akan merasa kesepian lagi.
Menikmati rasa sendiri ini sangat menyiksa.
Nisa…..
Aku tahu kamu telah bersuami dan takkan mungkin aku dapatkan. Aku bisa melihat bagaimana Randy menggenggam hatimu dan aku sangat yakin Randy takkan melepaskan wanita sebaik kamu.
Padahal kalau seandainya kamu rasakan batinku bergejolak ingin marah.
Tahukah kamu bagaimana rasanya saat sesuatu berharga yang kamu memiliki di ambil seseorang?

“Ahhh …. sudahlah…”

Pikirku masih terus menyebut namamu
Anisa Nayla mantan kekasih hatiku
Entahlah harus berapa lama aku bertahan seperti ini menahan gejolak cinta yang begitu memburu.

“Aku benar benar tidak bisa melupakan mu Nis”

***

Hari ini Hari ke 2 aku di bogor.
Aku menikmati cuaca pagi disini yang sangat sejuk. Tapi tidak dengan perasaan ku. Karena perasaan ku masih saja panas mengingat dan membayangkan Nisa dan Randy saling beĊ•sama dengan kemesraannya.

“Arrggghhh…Nisa milikku Ran…kembalikan lah. Aku bisa gila karena cinta ini”
Aku bergumam sendiri dengan meremas rambutku yang mulai panjang.
Tanganku mulai mengepal kuat penuh amarah yang tertahan.

Aku berdiri kemudian duduk menikmati segelas kopi susu yang aku bikin.

“Aku akan stop kerja di toko pak Ali.”
Lirih Sandy sambil menikmati kopi instant itu

“Bagaimana bisa aku terus bekerja di sana. Sedangkan hatiku begitu tersiksa. Melihat semuanya yang ada di sana penuh kenangan yang indah yang sulit sekali aku lupakan ”
Pikir ku kembali

Tiba tiba.

“Selamat pagi kak”
Tiba tiba ada yang menyapa ku dengan pelan.
Aku melihatnya dengan senyum dan balasan

“Selamat pagi juga”

Ia tampak mendekat ke arah tempat ku duduk menikmati kopi ini.

“Sendirian aja kak?”

“Iya”

“Owh…baru pindah kost disini kak?”

“Iya.”

Aku heran kenapa orang ini begitu ramah terhadapku. Aku memang sedang menyewa kost disebuah rumah disini ada 4 kamar yang 2 kamar masih kosong penghuninya.

“Kamu mau minum kopi juga?”
Tawar ku berusaha menjawab keramahannya.

“Tidak kak. Aku mau masuk aja”

” Kamu penghuni di kost sini?”
Tanyaku heran

“Iya kak”
Jawabnya dengan tersenyum.

“Kenalin aku Sandy”
Aku mencoba berkenalan tidak mengapa pikirku sekalian cari teman.

“Yah kak. Aku ismail aku masuk dulu ya kak. Aku perlu istirahat dulu.”
Jawabnya kemudian berlalu masuk ke dalam.

***

Siang ini ku putuskan memasak mie instan yang telah aku siapkan dari rumah.
Aku langsung memutuskan makan di teras lagi siang ini karena aku benar benar menyukai suasana disini.
Saat asik makan mie instan ismail datang dan duduk di samping ku
Seperti ia baru selesai mandi bangun dari tidur siangnya.

“Kamu mau makan juga?”
Tawarku

“Enggak kak. Aku puasa.”

“Kenapa?”

“Gak kenapa kenapa kak. Puasa sunnah aja”
Jawabnya pelan.

Setelah aku lihat sepertinya ia sedang kesusahan. Aku bisa melihat saat ia menatap mie instan ku dengan tatapan “ingin” tapi ia cepat mengalihkan pandangannya ke depan.

“Buka puasa nanti ayo ikut aku. Kebetulan aku akan keluar sore ini.

“Mau kemana kak. Hari ini aku akan keluar mencari kerja ,”

“Kamu mau kerja?”
Tanyaku

“Iya kak”

“Aku dari jakarta kak. Mencari pekerjaan belum dapat pekerjaan yang mau menerima aku”

“Kalau kerja di jakarta Mau?”

“Emang ada?”

“Yah tanya aja . Soalnya aku dari jakarta loh. Mau cari kerja juga kesini liburan aja melepas lelah.”

“Enak ya kak bisa liburan”

“Rencana nya ini mau kemana siang ini.”
Tanyaku kemudian.

“Ya lanjut lagi cari kerjaan. Kemarin aku sudah cari kerjaan cuma dapat kerja bantuin orang tukang cat sebuah rumah di ujung jalan sana. Tapi hanya 5 hari saja kak.”
Katanya tertunduk lemas

“Yah semangat dong biar 5 hari itu alhamdulillah”

“Iya kak. Alhamdulillah”

Hari ini aku mendengar kisahnya. Namanya Ismail. Ia seorang pemuda berusia 20 tahun yang di tinggal meninggal dunia ayahnya. Kemudian mamanya nikah lagi.
Dan sepertinya ayah tirinya tidak menyukainya.
Akhirnya disini lah ia tinggal di sebuah kos kecil dan kebetulan hari ini adalah pertemuannya dengan sandy.

***

“Itu motor kamu ?”
Tanyaku saat melihat ia akan pergi bekerja sesuai janjinya

“Iya kak.”

“Ya udah hati hati ya kerja. Kalau ada perlu apa apa bisa telepon aku ya.”

“Terima kasih kak”

Sepertinya aku merasa menjadi seorang kakak disini. Aku teringat saat aku melalui masa masa sulit di tinggal orang tuaku. Bahkan tuduhan receh saudaraku andrian kejadian meninggalnya papa dan mama ku. Bahkan sampai sekarang pun andrian Tidak peduli sama ku . Aku benar benar menyesali sikap kakak andrian itu. Saat saat seperti itu Tidak ada yang merangkul ku kecuali. Mamanya Nisa yah..tante Mira.

“Arrggghhh….”

Aku kembali mengingatnya

Apa yang harus aku lakukan. 1 minggu waktu ku disini. Setelahnya aku akan kembali pulang. Dan bekerja seperti biasa. Aku berencana akan melamar beberapa perusahaan. Karena aku juga mempunyai pengalaman bekerja dengan baik.

Aku hanya butuh fokus dan bersikap profesional dalam bekerja. Tidak seperti dulu yang hidupku kacau berantakan.
Dan aku berjanji jika saja aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Aku akan berbicara dengan istrinya almarhum pak Ali. Agar Ismail bekerja di toko itu.
Karena aku yakin ismail lebih membutuhkan pekerjaan di jakarta dibandingkan di sini.

Semoga saja rencana ku berjalan dengan baik.

***

“Besok kakak akan pulang.”
Ucapku malam itu saat melihat ismail baru saja pulang.

“Yah. Sudah 1 minggu ya kak”
Jawabnya tersenyum kecil
Sepertinya ia kelelahan

“Kamu sudah makan?”
Tanyaku.

“Alhamdulillah ini mau makan. Tadi sholat magrib di mushola dekat jalan ternyata ada pembagian sedekah buat jamaah.”
Jawabnya tuntas

“Alhamdulillah”
Jawabku

“Kebetulan aku membawanya pulang kita bisa makan berdua kak?”
Lanjutnya kemudian membuatku terkejut dan merasa terharu.

“Tidak. Kamu makan saja ismail. Kakak sudah makan tadi sore.”
Jawabku dengan tersenyum.

Ismail masuk ke dalam mengambil sepiring dan sendok lalu Ia ikut duduk bersamaku kemudian ia makan setelah menawarkan untuk mencicil sedikit menu yang ia dapat.

“Kamu mau ikut sama kakak?”

“Kemana?”

“Ke jakarta, mau?”

“Hmmmm…”

“Kakak punya tempat tinggal di sana kamu bisa menginap dirumah kakak sementara waktu.”

“Apa gak menganggu kak? Mengganggu orang tua kakak atau bahkan istri Kakak?”

Aku tertawa pelan mendengar ia berbicara istri

“Apa aku sekarang lebih pantas dilihat seseorang yang sudah mempunyai istri ismail? ”

“Aku rasa iya kak. Sudah pantas”
Jawab ismail ikut tertawa kecil.

“Aku tidak ada istri”

“Masa?”

“Gak percaya?”

“Heheheh….enggak kak”

“Mau ikut kakak ke jakarta. Sekalian cari kerjaan.?”

“Mau kak asal tidak merepotkan kakak.”

“Oke kalau begitu bersiaplah. Kita bisa berangkat besok pagi”

“Siap kak!”

***

Seharian ini aku beristirahat di rumahku. Setelah lelah menempuh perjalanan dari bogor ke jakarta . Ismail tampak tertidur di sofa ruang tengah. Ia mungkin kecapekan .

Ini Rumah yang dulu selalu ada rasa cinta. Semenjak kepergian orang tuaku semua hidupku berubah menjadi buruk
Entahlah. Aku menyebutnya ini seperti kutukan.
Hidupku penuh kutukan.
Penuh kutukan setelah menemukan cinta sejati di dalam hati Anisa.

***

“Besok kakak akan mulai pergi melamar pekerjaan.”

“Ya kak. Maaf kalau boleh tahu ismail harus kerja apa disini.?”

“Bentar kakak telepon bos dulu. Biar kamu yang gantikan kerja kakak di toko bos Kakak.”

***

“Assalamualaikum.”

“Wa’alaikum salam”

Aku sedikit terdiam mendengar jawaban salam itu ternyata dari Nisa

“Sandy?”

“Mama kemana.? Aku mau ngomng sesuatu?”

“Kenapa kamu tinggalkan tanggung jawabmu kepada toko ayahku?”

“Aku tidak berbicara meninggalkan tanggung jawab. Aku hanya ingin berlibur satu minggu. Hanya itu saja.”
Jawabku

Terdengar helaan napas Nisa yang membuat jantungku berdegup kencang

“Apa Randy tidak memberi mu kabar? Aku telah membicarakannya sama Rendy”
Lanjutku kemudian.

Aarggghh mereka berdua memang tak sering saling bertukar cerita???
Kadang aku heran dan membayangkan apa keluarga Anisa dan Randy bahagia.

“Ya udah. Kalau begitu kapan kamu mau mulai buka kembali tokonya. Mama sekarang ikut aku. udah gak dirumah jakarta lagi.” Jawab Nisa membuat aku terkejut

“Besok aku akan segera membuka toko ayahmu lagi . Tapi dengan pegawai baru?”

“Maksudmu apa Sandy?”

“Aku sudah bilang kan sama kamu Nisa. Kalau aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari peggantiku menjaga toko kesayangan ayahmu.”

Ku dengar kembali desahan pelan nafas Nisa. Aku yakin dia kecewa dengan keputusanku. Tapi tidak mengapa. Ia juga telah membuat ku kecewa dengan keputusannya.

“Aku harus membicarakan sama mama”

“Itu lebih baik. Dan insyaAllah pengganti yang aku bawa akan menjadikan toko ayahmu lebih baik dari yang aku jalankan.”

Hening

“Assalamu’alaikum”
Jawab Nisa singkat kemudian mematikan sambungan telepon

“Wa’alaikum salam”

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here