Tasbih Cinta – 23

0
522
views

“Wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun tapi tak mampu menyembunyikan cemburu meski sesaat” – Ali bin Abi Thalib

Ini hari ke dua Nisa tanpa suaminya.
Yah…. suaminya telah memberikan izin kepada Nisa tinggal di sini sampai 1 minggu saja. Setelah itu suaminya akan menjemput kembali Nisa.
Hati suami berat memberi izin tapi ia berusaha berdamai.

***

“Bagaimana hasil hari ini sandy?” Tanya Nisa saat Sandy memberikan beberapa lembar catatan pengeluaran dan pemasukkan malam hari ini.

“Kamu bisa lihat disana sudah aku tulis semua, kamu mengerti ? Atau perlu aku jelaskan lebih banyak? ” jawab Sandy menatap sekilas mantan kekasih hatinya itu.

Nisa tertunduk. Hatinya berdebar. Entah mengapa ia merasakan gugup kali ini bertemu Sandy. Padahal hari kemarin ia sudah bertemu Sandy juga. Tidak ada masalah sama jantungnya.

“Ini memang salahku”
Bathin Nisa mencoba menetralkan perasaannya.

Diam sesaat

“Kamu kenapa?” Tanya Sandy kemudian

“Enggak..aku lagi membaca laporannya jawab Nisa berbohong. Padahal ia hanya mencoba berusaha menenangkan hatinya.

“Oke kalau begitu. Aku pulang sekarang ” jawab Sandy

“Iya. Silahkan. Terima kasih.”
Jawab Nisa cepat.

“Iya. Sama sama”
Jawab Sandy kemudian bergegas pulang.

***

Hari ke tiga

“Bagaimana urusan toko ayah ?”
Tanya Randy melalui telepon kepada Anisa di sela jam kerjanya

“Alhamdulillah. Sandy mengurusnya dengan baik.semua berjalan lancar” jawab Nisa pelan

“Owh ” jawab Randy dengan malas. Ia sangat malas sekali mendengar nama Sandy di sebut melalui lisan istrinya itu.

“Kenapa sayang?” Tanya Nisa memahami suasana hati suaminya Itu

“Enggak apa apa?”
Jawab Randy cepat

“Jawab dong sayang. Kok sepertinya mas ada masalah?”
Tanya Nisa hati hati.

“Mana zahra?”
Tanya Randy mengalihkan pembicaraan

“Hmmmmm,,,,,,”
Nisa mendesah pelan.
“Bentar mas.”

Nisa berdiri menemui Zahra bersama mamanya dan memberikan telepon itu kepada Zahra.
Zahra tampak bahagia

***

Hari ke 4

“Terima kasih San”
Ucap Nisa saat memberi laporan hari Ini

“Sama sama”
Jawab Sandy

Hening

“Kenapa?”
Tanya Nisa bingung.
Ia bingung kenapa Sandy tidak bergerak untuk pulang. Padahal ia sudah tidak bertanya apa apa

“Kenapa?”
Jawab Sandy

Nisa tersenyum kecil.
Ia menikmati rasa ini. Rasa rindu yang telah lama hilang.
Ia lupa telah memiliki suami dan anak.
Ia terlalu menikmati pertemuan ini.

“Nisa….” sapa Sandy yang merasa Nisa telah melihat dan menikmati melihat wajahnya.

“Hmmm….maaf….”
Ucap Nisa kemudian berdiri.
“Kamu gak pulang?”

“Iya..aku mau pulang.salam buat zahra ya”
Ucap Sandy kecil

“Iya. Nanti aku sampaikan. Kebetulan ia lagi sama mama.”

***

Hari ke 5

“Nisa”

“Ya ma?”

“Besok Randy datang ya jemput kamu?”

“Iya ma. Besok malam ma kayaknya.”

“Hmmmmm,,,,”

“Kenapa ma?”

“Mama bakal kesepian disini”

“Bagaimana kalau mama ikut Nisa aja?nanti Nisa akan bilang ke mas Randy. Mas Randy pasti menyukai mama tinggal dirumah kami.”

“Tidak..mama masih ingin disini. Disini tempat mama memulai cinta yang begitu hangat. Mama takkan bisa melupakan tempat ini. Rumah ini bersejarah buat mama”

Tangis mama pecah dengan cepat Nisa memeluk mama.
Nisa memahami posisi mama yang rapuh.
Nisa bisa merasakan ketika kehilangan cinta itu.
Nisa ikut menangis melihat mamanya

“Mama…mama…Nisa sangat sayang sekali sama mama. Mama harus kuat. Andai kata ayah disini melihat mama Nisa yakin ayah akan bersedih melihat mama yang terlihat rapuh”

“Mama tau Nisa. Adakah obat meredam cinta?”

“Yaa Allah ma…”

“Nisa…maafkan lah ayahmu jika membuat mu berpisah dengan cinta”

“Maksud mama?”

“Mama yakin sampai saat ini cinta mu masih untuk Sandy”

“Mama…Sandy orang lain. Tidak boleh dipikirkan lagi”

“Mama tahu.”

“Udah mama tenang dulu disini”

“Andaikata ayahmu mengizinkan Sandy menikah dengan mu. Mungkin saat ini mama takkan kesepian. Toh sudah pasti kamu dan Sandy akan tinggal disini”

“Mama….Ini Tidak boleh ”

“Sandy orang baik. Masa lalu orang tidak berhak kita urus. Ayahmu terlalu ….terlalu…..”

Tangis mama kembali pecah.
Ia mulai berpikir dan berbicara yang tidak masuk akal.

“Udah..mama hanya capek.”

“Mama gak cape Nis. Mama tuh….”

“Udah mama….Nanti kalau mas Randy udah datang jemput Nisa. Nisa nanti bilang minta waktu 1 bulan lagi disini nemenin mama ya. Biar mama gak kesepian”

Mama mengangguk pelan.
Nisa pun memeluk mamanya dengan erat. Ia faham sama keadaan mama nya saat ini sangat berat.

***

Hari ke 6

“Semua sudah beres.sepertinya besok aku izin dulu sampai beberapa hari Nis.”
Kata Sandy malam ini saat memberikan laporan toko hari ini.

Nisa menyipitkan matanya

“Kenapa?”

“Aku hanya ada perlu pergi sesuatu urusan”

“Owh…”

Nisa ingin tahu apa urusan Sandy. Tapi ia menahannya. Dan sepertinya Sandy mengetahui perasaan Nisa saat ini.

“Nisa…?”

“Ya?”

“Hmmm….Adakah rasa Itu?”
Tanya Sandy dengan menunjukkan dadanya.

“Maksud kamu?”

“Aku yakin kamu tahu maksud ku,”

Nisa terdiam sesaat. Ia berusaha menjaga jarak meski hatinya harus berkata “iya”

“Aku tidak berniat merebut mu dari Randy Nis.percayalah ”

“Sandy..kita berdua sudah sama sama dewasa saat ini.”

“Aku tahu”

“Terus,,,,”

“Tapi kita sudah lama saling kenal. Aku tahu bagaimana sifatmu dan…”

“Yah….Terus ….”

“Maaf nis…”

Nisa mengangguk pelan .

“Aku hanya ingin tahu isi hatimu dengan isi hatiku. Agar aku tahu apakah isi hati kita berdua tetap menyatu meski kita tidak mungkin bersatu”

“Sandy,,,”

“Aku tau aku salah. Aku sudah bilang kan dari awal kan. Aku takkan merebut mu dari Randy”

“Terus”

“Aku hanya mau kamu jujur saja. Setelahnya aku akan pergi”

“Kamu selalu berkata itu sandy . Tapi kamu tetap kembali dan takkan pernah pergi,”

“Kamu keberatan aku disini?”

Nisa terdiam.

“Nisa…kamu keberatan aku di sini?”

“Sandy….”

“Jawablah dengan jujur”

“Maaf..aku akan jujur tapi Nisa juga mohon jangan pergi San”

Sandy terkejut dengan jawaban Nisa

“Tetaplah kerja di sini di toko alm ayah Nisa”

Ucap Nisa pendek dengan hembusan pelan napasnya

Hening sesaat

“Rencananya beberapa hari aku akan pergi dari sini. Aku nggak kuat disini Nisa. Sungguh”
Jawab Sandy lirih

Nisa tampak menundukkan pandangannya

“Bagaimana dengan toko ayahku Sandy?”
Jawab Nisa kemudian menatap Sandy

“Aku akan mencari penggantinya yang pas. Aku akan berusaha semaksimĂ l mungkin. Aku harus pergi Nisa”

“Karena siapa kamu lakukan ini San.? Karena Nisa? Jangan sandy. Nisa akan pulang. Dan kita takkan ketemu lagi kan setiap hari?”

“Tidak ada pilihan lain.bertemu Kamu Nis aku tersiksa bahkan Kamu pergi pun aku tersiksa. Aku juga gak faham kenapa aku menjadi seorang pria yang bodoh seperti. Bodoh mencintai seorang wanita yang telah bersuami.”

“Cukup Sandy, kita bisa berteman selayaknya sahabat seperti biasa. Seperti kamu dan kakak ku shaleh bersahabat,?”

“Ini tidak bisa di samakan. Katakanlah sekali lagi Nis. Aku mohon. Adakah rasa itu untukku? Biarkan hatiku tenang untuk mengenang jawaban kamu kali ini.”
Ucap Sandy lirih

Nisa menghembuskan napasnya pelan.
Ia tidak mungkin mengatakan apa yang telah ada di hatinya.
Bahwa Nisa benar benar mencintai Sandy.
Tapi Nisa menahannya. Sungguh aku berdosa jika menghianati suami sendiri pikir Nisa.

“Aku akan pergi,”
Jawab Sandy pelan berbalik belakang

“Tunggu san.”

Sandy menoleh pelan. Ditatapnya Nisa penuh cinta

“Kamu melupakan sesuatu?”

“Apa?”

“Laporan toko”

Sandy mendesah. Ia sangat berharap pernyataan cinta dari sang mantan kekasihnya itu. Tapi apalah daya ia tidak bisa memaksakan rasa ini.
Sandy tidak menjawab pertanyaan Nisa. Ia benar benar kecewa.

“Sandy?”

“Kamu lebih memperdulikan itu dari pada cintamu sendiri! Nisa?”
Ucap Sandy kesal tidak dapat menahan gejolak hatinya

Nisa terkejut begitu pun Sandy karena

Karena di depan tampak suami Nisa datang dengan wajah kesal mendengarkan ucapan terakhir Sandy.

“Nisa?”
Ucap Randy lirih

“Mas..”
Jawab Nisa mendekat suaminya itu kemudian bersalaman tangan.

“Kamu…..?”

“Maaf Sandy kamu ada tujuan apa malam malam kesini berbicara tentang cinta ?”

Sandy tertawa pelan hatinya bergejolak merasa kalah dalam pertandingan.
Ia mencoba tegar

“Dan kamu Nisa. Coba jelaskan apa maksudmu mengatakan cinta kepada Sandy? Kamu tahu posisi kamu sekarang Apa?”

“Mas…Nisa gak bilang kalau Nisa cinta sama Sandy. Mas harus percaya Nisa. Ini semua tidak seperti yang mas kira. Nisa masih menjaga harga diri Nisa seorang istri”

Sandy bergegas pergi meninggalkan rumah . Hatinya kalut melihat pertengkaran Nisa.

Mama datang menghampiri Nisa dan Rendy. Matanya masih tampak sembab selesai menangis. Mama masih menyesali kepergian suaminya pak Ali yang begitu cepat.

“Tak bisakah kalian berbicara pelan? Zahra tidur,”
Ucap mama tegas melihat Nisa dan Rendy sedikit bertengkar saling menyalahkan.

“Mama….Maaf ma”
Jawab Randy kemudian bersalaman kepada ibu mertuanya itu.

“Kamu juga baru datang udah langsung main debat sama Nisa. Baru juga 1 minggu kamu sudah berpikiran dan menduga duga sama Nisa. Harusnya kamu berbicara pelan dengan hati hati berbicara tentang ini”
Jawab mama Nisa

Nisa menyipitkan matanya
Ternyata mama mendengar semuanya.
Apakah mama mendengar pernyataan Sandy juga??
Pikir Nisa takut.

” iya ma.”

Randy melangkah pelan meninggalkan Nisa. Hatinya bergemuruh menahan emosi . Emosi karena Cinta. Tapi ia menahannya.

“Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran, sedangkan kecemburuan seorang laki-laki adalah keimanan.”

***

Setelah makan malam Randy masih saja cuek sama Nisa. Setelah mencium dan bertemu Zahra anaknya yang sedang tidur dikamar mertuanya. Randy dan Nisa kembali ke kamarnya

“Mas…Mas percaya kan sama Nisa?”

“Iya”

“Mas”

“Ini udah malem”

“Mas…”

“Apalagi Nisa?”

“Mas gak kangen Nisa?”

“Mas mau tidur!”

“Mas gak kangen Nisa Ya?”

“Kalau gak kangen mas gak di sini kan jemput kamu!”

“Terus kenapa mau tidur?”

“Yah…Mas ngantuk”

“Gak bisa di tahan Mas?”

“Kamu mau Apa?”

“Kok kasar gitu Mas?”

“Yah..Maaf. Nisa mau Apa?”

“Mau bilang sesuatu?”

“Apa?”

“Bisa Nisa tinggal di sini sampai iddah mama selesai?”

“Apa??!!!”

“Kenapa Mas?”

“Kamu tega sama Mas?!”

“Kasihan mama mas”

“Kasihan sama mama atau mau bertemu Sandy?”

“Mas…kok ngomong gitu?

“Fakta kan? Nisa mencintainya!? ”

“Nisa gak pernah bilang kalau Nisa mencintai Sandy kan?”

Hening

“Boleh kan Mas? mas kesini aja tiap sabtu dan minggu malam senin mas pulang kembali?”

“Gak boleh ”

“Hmmmmmm..”

“Faham?”

“Iya mas. Terus mama gimana? Kan kasihan sendirian”

“Ajak tinggal sama kita aja bagaimana?”

“Nisa udah bilang mas. Tapi mama gak mau”

“Hmmm…..”

“Gimana Mas?”

“Entahlah.. Mas sudah ngantuk.”

***

Siang ini Nisa tampak sibuk membereskan pakaiannya bersama mama.
Alhamdulillah mama berhasil dibujuk Randy pagi ini untuk tinggal sementara bersamanya sampai iddah habis. Karena tidak mungkin Nisa terus bersama mama disini dan jauh dari suami.
Dan mama mengerti. Ia memahami kondisi dan keadaan saat ini.

Randy menghubungi Sandy. Tampaknya minggu pagi toko sepeninggalan ayah mertuanya masih belum buka.

“Kamu dimana?”
Telepon Randy kepada Sandy

“Aku di bogor, ”
Jawab Sandy

“Loh bukannya kamu ada tugas di sini? Kenapa harus ke bogor?”

“Aku sudah membicarakannya semalam dengan Nisa. Apakah Nisa tak berbicara dengan mu?”

“Hmmmmm…”

“Kamu suami yang tidak bisa mengerti Wanita!”

“Mau kamu apa san!?”

“Aku mau liburan!”

“Kamu kira aku bercanda?”

“Aku mau liburan gak usa ganggu aku sampai 1 minggu. Ok”

Klik

Telepon di matikan Sandy

Randy mengeram kesal. Tangannya mengepal.

***

“Sudah siap?”

“Alhamdulillah. Ayo ma?”
Ajak Nisa bersemangat

Zahra di gendong Randy.
Mereka memasuki mobil yang dibawa Randy.

***

Hari ini mereka telah sampai dirumah. Zahra tampak kelelahan.
Randy menggendong zahra masuk ke dalam.
Nisa segera ke kamar zahra dan membereskan tempat tidur Zahra yang seminggu sudah tak berpenghuni.
Mama berjalan melangkah pelan masuk ke ruang tengah. Pandangannya masih terbayang almarhum suaminya tercinta Ali.
Mama begitu sangat terpukul.
Harapannya dengan ikut Nisa di sini semoga ia bisa sedikit melupakan kesedihannya.
Memang takkan hilang. Setidaknya hanya kenangan yang tertinggal.

“Semoga ini keputusan baik”

Gumam mama sambil memijit pelipisnya pelan.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here