Tasbih Cinta – 22

0
120
views

Hari ini Anisa akan pulang dari liburannya bersama Randy dan Zahra. Mereka berpamitan saat siang hari itu selepas zuhur. Dan Sandy tiba tiba ada saat mereka berpamitan.

“Mau kemana?”
Kata sandy

“Pulang sand. Doain ya biar selamat sampai kerumah”
Jawab Randy bersahabat

Anisa terdiam menundukkan kepalanya pura pura mengelus kepala anaknya Zahra.

“Aaminn..fii amanillah”
Jawab sandy

“Ya udah ayo siap siap ”
jawab mama sambil memimpin Zahra.

Anisa berjalan kedepan bersama mama dan Zahra.

Suasana canggung Anisa rasakan.
Mungkinkah rasa itu masih ada?

“Sudahlah Anisa. Kamu sudah bersuami”
Tiba tiba mama membisikkan kalimat itu di telinga Anisa.

“Maksud mama?”
Tanya Anisa pura pura

“Mama tau apa yang kamu pikirkan. Tapi ingat kamu sudah memiliki suami yang wajib kamu cintai dan berkhidmah sepenuh hati.”

Jawab mama pelan sambil mencium zahra

“Nisa…Nisa…Nisa Gak memikirkannya kok ma. Cinta Nisa hanya buat Randy”
Jawab Nisa mencoba mengelak

“Bagus la kalau emang begitu. Mama senang mendengarnya. Doain Sandy mendapatkan jodoh yang terbaik setelah ini. Dia benar benar telah mengubah dirinya menjadi lebih baik”

Jawab mama sambil memegang tangan Anisa.

“Tentu ma. Nisa akan lakukan. Semoga juga dia istiqomah”
Jawab Anisa pelan.

Randy datang menghampiri mama dan istrinya itu.

“Udah siap semua Kan? Gak ada yang ketinggalan Kan?”
Tanya Randy sambil melirik Anisa.

“Tentu dong mas. Ayo kita pulang”
Jawab Anisa bersemangat

“Hati hati diperjalanan.”
Jawab Ayah

“Iya ayah. Doain Nisa selalu ya”
Anisa menatap sekilas Sandy kemudian tersenyum kecil.

“Pulang dulu sand”
Sambung Anisa mencoba menetralkan perasaannya yang canggung

“Iya. Hati hati.. fii amanillah.”
Jawab Sandy dengan balasan senyuman

“Assalamu’alaikum”

***

Perjalanan itu membuat Anisa lelah.
Sampai dirumah sudah malam.

“Bagaimana liburannya.seru Kan?”
Tanya Randy saat mereka di kamar

“Alhamdulillah mas. Nisa suka banget.”

“Semoga ada hasil ya nanti.”

“Hasil positif. Aamiinn”

***

Bulan berikutnya ternyata Anisa mengalami telat datang bulan. Hal itu sangat membuat Randy bahagia.
Saat mereka mencoba tes . Ternyata benar Anisa Hamil.
Mereka berdua lebih semangat menjalankan hari hari nya. Karena emang sepertinya Randy menginginkan anak lagi .
Tapi ternyata takdir tak sesuai rencana.
Anisa keguguran di bulan ke 5

***

“Maaf mas Nisa gagal”

“Mungkin ini yang terbaik sayang. Janganlah bersedih.”

“Mas..”

“Iya mas disini”

“Maafin Nisa”

“Gak ada yang harus di maafkan Nisa. Ini sudah takdir. Kita harus menerimanya. Begitu juga dengan mas. Mas sudah menerima segalanya dengan baik.”

“Mas…”

“Sayang..berhentilah menangisi ini. Nisa harus ikhlas. Kuatkan sayang. Mas disini selalu bersamamu.”

“Nisa gak kuat mas”

“Nisa kuat”
Sambil memeluk istrinya

Nisa menggelengkan kepalanya pelan

“Nisa kuat sayang. Kamu wanita yang hebat. Berjuang bersamaku beberapa tahun. Mas Tau kamu wanita yang tegar. Ayo sayang kamu harus yakin ini yang terbaik insyaAllah. Perbanyaklah istirahat sayang agar kesehatan kamu kembali normal. Dan kita akan datang menemui mama.”

Tangis Anisa pecah saat itu bagaimana tidak disaat ia mengalami keguguran. Ayah kesayangannya juga meninggal dunia keesokan harinya. Saat terkena serangan jantung mendadak.

Hatinya hancur. Kehilangan anak yang benar benar diharapkannya. Dan juga kehilangan seorang ayah yang begitu tulus menyayanginya.

***

Hari ini Anisa kembali kerumahnya.
Rasanya ia akan segera berangkat menemui mamanya. Sungguh hatinya sangat terpukul dengan peristiwa ayahnya yang meninggal sedangkan ia tidak bisa melihat tubuh ayahnya meski untuk yang terakhir kali.
Ia hanya melihat dari video call Sandy. Karena mama nya pun tak sanggup untuk berbicara.
Mama sangat terpukul sekali.

“Nisa ingin pulang hari ini mas”

“Minggu depan ya. Mas antar kamu sampai kesana”

“Tidak mau mas. Mau hari ini atau besok”

“Tidak bisa. Hari ini atau besok. Mas masih ada tugas penting beberapa hari ini.”

“Mas. Tolonglah berilah izin buat Nisa. Nisa mau berangkat sendirian kesana”

“Apa?! Tidak sayang. Liat kamu masih lemah sayang. Mas tidak mau terjadi apa apa sama kamu.”

“Mas…tolonglah”

“Bersabarlah sayang. Mas akan usahakan semampu mas. Mas akan selesaikan tugas mas dengan cepat. InsyaAllah rabu depan kita berangkat. Mas akan antar kamu kesana. Sabar ya sayang,,lagi pula tunggu lah kesehatan dek Nisa sampai membaik dulu ”

“Mas….”

“Sayang….bersabarlah”

***

Hari ini adalah hari rabu sesuai rencana mereka hari ini mereka akan berangkat menuju rumah mama Anisa.
Meski telah terlambat. Anisa tidak peduli. Ia benar benar terpukul dengan keadaannya saat itu.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”

“Mamaaa!!”

“Anisa…!!”

“Kamu sehat nak?”

“Alhamdulillah ma.”

“Ayo masuk sini zahra mama gendong”

Mama menyambut baik dengan penuh suka cita meski terlihat aura wajahnya yang sedang bersedih. Tapi ia tidak menunjukkannya di depan Anisa.

“Mama kesepian sekali Nisa disini”
Cerita mama saat itu diruang keluarga. Tampak bulir bulir air mata mama turun dengan pelan.
Hati Anisa kembali bergetar halus. Ia benar benar terpukul dengan keadaan ini.

“Mama harus kuat. InsyaAllah ini yang terbaik. Dan Anisa selalu mendoakan untuk ayah”

Jawab Anisa dengan air mata yang tidak mampu ia bendung lagi.

“Kenapa secepat itu. Rasa nya ini hanya mimpi Nisa”
Jawab mama pelan.

“Kita tidak bisa mengelak dengan kematian ma. Itu semua sudah diatur oleh Allah”

Jawab Nisa mencoba menenangkan mamanya.
Mama tampak mengangguk pelan dan kemudian tangisnya pun keluar mama memeluk Anisa dengan erat.

“Maafkanlah kesalahan ayahmu dulu sayang”

“Kesalahan apa? Ayah sempurna buat Nisa. Harusnya bisa yang meminta maaf kepada Ayah. Nisa anak yang tidak tau diri”

“Tidak…Nisa Kamu anak yang baik ayah udah bangga mempunyai anak yang baik dan cantik seperti kamu”

Akhirnya mereka berdua menangis mengingat kebaikan kenaikkan dan kebersamaan mereka bersama pak Ali ayahnya Anisa.

***

“Ini mas sudah 2 hari disini. Lusa mas sudah harus kerja lagi”

“Mas..”

“Iya?”

“Bisakah aku disini menemani mama beberapa pekan lagi?”

Randy tampak diam.

“Mas..kasihan Mama ia sendirian dsini. Nisa pengen nemenin mama dulu sementara waktu. Nanti mas Randy jemput Nisa kembali jika urusan kerja mas Randy sudah selesai.”

“Hmmm..Nisa..tidak Baik seorang suami Istri yang berbeda tempat dan berpisah jauh”

“Mas..izinkanlah Mas. Hanya sepekan saja. Anisa masih ingin menemani mama.”

Randy tampak diam kembali memikirkan permintaan istrinya tercinta.
Bukan ia tidak mengizinkan. Yang ia takutkan adalah Sandy.
Yah sandy masih berstatus karyawan kepercayaan pak Ali. Otomatis setiap waktu Sandy akan kerumah tante Mira mertuanya ini untuk memberikan hasil penjualannya setiap hari.
Dan Randy berpikir Tante Mira saat ini sedang menjalankan iddah.

Dari Zainab binti Ummu Salamah dari Ummu Habibah ra. Berkata: “aku mendengar Rasulullah saw bersabda:” tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkabung atas orang yang mati lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, maka masa berkabungnya selama empat bulan sepuluh hari.”

Ini berarti tidak akan terjadi pertemuan Sandy dengan tante Mira. Selama ini untuk sementara beberapa minggu kemarin toko alm Ali belum buka.
Mama masih bersedih. Hingga kemarin toko baru buka. Dan saat pertemuan dan memberi hasil toko. Sandy menemui Randy.

Dan sekarang Randy memikirkan untuk selanjutnya
Bagaimana Sandy akan datang kesini menemui mama yang saat ini sedang iddah. Apalagi nanti Anisa akan tinggal disini. Sudah pasti Anisa akan menyambut Sandy. Dan mereka akan sering bertemu.
Dan sudah banyak cerita mereka yang sering bertemu akan tumbuh bunga bunga cinta yang begitu indah. Apalagi Randy tahu bagaimana perasaaan Sandy terhadap Nisa.

“Tidak sayang”
Jawab Randy berat atas permintaan istrinya kali ini.

“Atas dasar apa sayang? Nisa janji akan selalu menghubungi mas setiap saat.”
Anisa masih mengemis izin dari Randy

Atas dasar Apa?
Haruskah Randy menjawab atas dasar cemburu?
Cemburu bagaimana?
Ini masih belum tentu terjadi?

Hati Randy berontak ingin menolak. Tapi rasanya tidak pantas rasanya memberi tahu alasannya karena cemburu.

Randy masih terdiam seribu bahasa.

Anisa masih menatap wajah suaminya. Berharap izinnya ia dapatkan.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here