Tasbih Cinta – 21

0
445
views

“Randy ini Sandy karyawan ayah yang bantuin ayah jaga toko disini. Ayah sudah tua gak bisa seperti dulu berlama lama duduk disini mengurus semuanya”

Jelas pak Ali saat mereka berdua Randy baru sampai di toko dan memperkenalkan Sandy dengan Randy.

“Hai Sandy. Kita bertemu lagi”
Jawab Randy dengan rasa khawatir tapi berusaha ia tutupi dengan senyum lebarnya.

“Hai juga. Apa kabar kalian?”
Tanya Sandy mencoba ramah

Randy tampak mengangkat kedua alisnya mendengar pertanyaan Sandy.

“Kalian??”
Tanya Randy curiga.

“Iya kalian . . Kamu maksud saya,”
Jawab Sandy merasa salah

“Alhamdulillah baik baik saja seperti kamu lihat saat ini. Kamu?”

“Alhamdulillah. Baik juga dan Belajar lebih baik dari yang kemarin kemarin”
Jawab sandy

Randy kembali mengangkat kedua alisnya
“Maksudnya?”

Tiba tiba pak Ali datang memecah kekakuan Sandy dan Randy

“Sandy barang yang sudah aku pack kemarin kemana? Hari ini harus dikirim”
Tanya pak Ali

“Sudah om. Sudah saya kirim tadi bang jaka kemarin mengambilnya untuk pick up sekarang katanya”
Jawab Sandy tegas

“Bagus. Hari ini tolong kamu susun barang ini. Ada beberapa baju dan gamis ini nanti kamu pisahin nanti pukul 11 dia akan mengambil semua barangnya.”
Jelas pak Ali sambil menunjukkan barang barang yang akan di siapkan.

Toko Ali sekarang gak hanya perlengkapan tulis saja sekarang sudah mulai masuk perlengkapan muslim juga.

“Iya Om. Segera Sandy beresin”

“Terima kasih . Oh iya Randy kamu bisa bantuin ayah kesini hitung pengeluaran kemarin karena ayah tidak sempat kemarin.”

“Siap ayah”

***

Setelah hari mulai siang .

“Randy..Ayah harus pulang dulu. Kamu tetap disini ya. Bantuin Sandy”

“Biar saya antar ayah”

Tidak perlu nanti kamu capek bolak balik .biar Sandy aja. Ini memang sudah tugasnya.”

“Gak papa. Biar Randy aja kapan lagi kita bisa bertemu berdekatan seperti ini ayah.”

“Hmmm..benar Kamu gak apa apa?”

“Iya ayah. Randy siap disini ”

“Heheheh..ayolah kalau begitu”

***

Saat sepulang dari toko Randy segera makan siang dan melaksanakan sholat dzuhur karena setelahnya ia akan kembali ke toko sesuai perintah ayahnya.

Rasanya agak malas Randy ke toko untuk bertemu dengan Sandy. Karena ia menilai Sandy sekarang jauh lebih berubah. Wajahnya begitu tampan adem dan sangat terlihat bercahaya. Tutur katanya sangat lembut. Randy takut Anisa akan berpaling saat melihat Sandy yang sekarang.

“Mas..kok melamun sih. Udah mau siap siap lagi kan ke toko?”

“Iya sayang. Tapi mas males ajah.”

“Kok gitu sih mas.”

” disana ada masa lalu kamu ”

“Sandy??? Loh kenapa jadi malas?”

“Enggak kenapa kenapa?”

“Duhhh mas. Jangan cemburu gitu dong sayang. Anisa disini kok menemani mas selalu.”

Randy tampak diam. Anisa mencoba memeluk suaminya . Anisa merasa mengerti apa yang dipikirkan suaminya itu.
Anisa mencoba memeluk suaminya itu memberi rasa keyakinan bahwa Anisa takkan berpaling dari Randy kapanpun dan saat dimanapun itu.

“Anisa…”

“Yah mas?”

“Kamu masih mencintai dia?”

“Mencintai mas Randy ku sayang”

“Tidak bukan itu maksud mas. Sayang,”

“Mas. Ini gak penting. Gak perlu dibahas. Kita sudah dewasa loh mas. Masa yang berlalu harus di ungkit karena hanya untuk membangkitkan masalah yang baru”

“Maafin mas. Mas hanya…”

“Udah mas..ayo segera berangkat. Mas harus bisa berdamai sama masa lalu Anisa. Anisa takkan berpaling dari apapun. Percayalah mas.”

“Terima kasih”

***

Di toko

“Udah makan Randy?”

“Udah”

“Owh ya udah aku mau makan dulu di atas ya”

“Yah. Silahkan”

Randy tampak sibuk mengurus ada beberapa pembeli masuk ke toko dan beberapa ada yang menawar. Sedangkan Randy belum terlalu faham . Kalu Randy ke atas memanggil Sandy.

“Ada pembeli. Aku tidak terlalu paham sama harga harganya”

“Yah aku segera turun”

Sandy bergegas turun setelah membereskan makanannya.

Setelah semua selesai. Sandy duduk menyendiri disebuah kursi di depan kasir tempat Rendy duduk disitu.

“Apa kabar anak Kamu?”

Tanya Sandy mencoba membuka pembicaraan. Karena ia merasa Randy seperti robot tidak mau bercerita. Padahal mereka berdua sesama pemuda yang paling tidak ada obrolan ringan terjadi.

“Baik.”
Jawab Randy singkat.

Sandy memegang janggutnya pelan. Ia mencoba bertahan akan keinginannya untuk bertanya bagaimana keadaan Anisa.

“sejak kapan kamu memelihara janggut dan jambang seperti ini?”
Tanya Randy mencoba berbasa basi.

“Sejak papa dan mama meninggal dan Adinda menuntut cerai”

“Apa?? Kalian bercerai?”

“Iya. Hanya persoalan anak dan kesalah fahaman yang sulit buat kami bisa kembali bersatu kembali”

“Anak titipan kenapa harus berontak dan tidak bersabar jika memang belum diberikan oleh Allah?”

“Iya betul. Tapi kalau masa lalu? Apa bisa diterima?”

“Maksud Kamu?”

“Tidak ada maksud apa apa. Hanya saja Adinda tidak bisa berdamai sama masa lalu ku. Tinggal terjadilah pertengkaran. Ia selalu mengecapku akan berselingkuh dan kembali kepada masa lalu ku. Padahal sedikitpun tidak. Tidak akan pernah ku lakukan.”

Randy termenung.
Jika saja ia tidak bersabar seperti siang tadi terus berprasangka buruk terhadap istrinya. Mungkin pertengkaran akan terjadi sebagaimana pertengkaran Sandy dan istrinya yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu.

“Randy? Kamu baik baik saja?”

“Iya..aku Baik baik saja.”

“Alhamdulillah.”

“Sekarang apa kamu tidak berniat menikah lagi?”

“Niat tentu ada. Calonnya belum ada. Aku akan mencoba memperbaiki diriku dulu. Agar bisa mendapat istri yang baik bisa bersabar dan tentunya berdamai dengan masa lalu yang bagiku tidak penting untuk dipermasalahkan”

“Iya masa lalu tidak perlu di ungkit kembali.”

“Benar.”

“Aku tau masa lalu kamu dengan Anisa”

“Benarkah? Bagaimana bisa?”

“Aku yang membaca beberapa chat kamu beberapa tahun yang lalu di mesengger istriku”

Sandy terkejut matanya membesar. Harinya menjadi gugup. Ia takut akan terjadi masalah baru.

“Maaf jika aku lancang. Tidak ada maksud untuk merebutnya. Aku hanya menagih janjinya yang dulu”

“Aku sudah berdamai dengan masa lalu Anisa dengan sarat. Tolong hapus semua akun yang berhubungan Sandy dan Adinda. Itu permintaanku dan Anisa menyetujuinya”

“Istri sholehah. Mudahan kelak aku akan mendapatkan istri yang sholehah seperti istri kamu. Menurut perintah suaminya apapun itu keadaanya.”

“Istri sholehah?”

“Istri sholehahmu”

“Heheheh…ya benar ”

“Ada pembeli lagi. Aku kedepan”

***

Hari ini Sandy Randy menghabiskan waktunya di toko.

Tak terasa hari sudah pukul 17.30
Sudah sangat sore dan sebentar lagi magrib.
Setelah menutup toko dengan rapat
Mereka berdua pulang dengan kendaraan masing masing.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here