Tasbih Cinta – 20

0
620
views

Anisa bersemangat membereskan pakaiannya siang ini. Besok ia akan berangkat ke kota kelahirannya. Ia akan bertemu mama nya. Sudah 1 tahun setelah mama dan papa Sandy meninggal Anisa juga tidak datang. Rindu itu benar benar tinggi.
Anisa membereskan pakaiannya dengan senyum senyum sendiri.

“Dek..kok senyum sendiri sih. Ngeri liatnya.”
Tiba tiba mas Randy sudah di samping Anisa.

“Ehhh..mas Randy..iya Mas.rindu banget sama mama dan ayah.”
Jawab Anisa masih dengan sibuk menyiapkan pakaiannya.

“Mas juga ikut senang loh. Alhamdulillah tahun ini sedikit longgar biar kita bisa liburan. Sekalian mau “hanimun” yang kedua ”
Ucap mas Randy sambil memencet hidung Anisa dengan lembut.

“Boleh…kita cari tempat yang sangat super romantis mas. Hihihi. Zahra pasti oma dan opanya senang zahra ikut mereka. Karena jarang sekali kita kesana”
Jawab Anisa dengan bersemangat menatap bola mata suaminya

“Kita atur lagi nanti disana. 5 hari di rumah mama ayahmu. 5 kita “hanimun” selanjutnya kita pulang sambil menunggu hasilnya. Hhaahahah”
Canda Randy diakhiri dengan tawa riang.

“Ide bagus mas.”
Ucap Anisa dengan ikut tertawa.

***

“Zahraaaa…cucu oma yang paling cantikkk”
Sambut mama Anisa Saat Randy dan Anisa baru juga sampai di rumahnya.

Anisa segera meraih tangan mamanya itu dan menciumnya kemudian memeluknya erat.

Ayah tampak diam merenung di ruang tengah tanpa melirik kedatangan Anisa dan Randy.

“Ayah kenapa ma?”
Tanya Anisa melirik mamanya itu

“Ayah tidak kenapa kenapa. Hanya saja pendengarannya sekarang kurang baik”
Jawab mama Anisa dengan tersenyum sambil berjalan melangkah arah ayahnya Anisa pak Ali .

“Sayang. . Ini cucu kita sudah datang.”
Tegur tante Mira kepada suaminya itu.

“Anisa?!”
Jawab pak Ali

Anisa dan Randy mengangguk pelan. Langsung memeluk ayahnya itu.
Rasa rindu itu pecah dengan tangisan kecil Anisa.

“Kenapa kamu menangis anak ku?”
Tanya Ayah setelah melepas pelukkan Anisa kemudian pak Ali memeluk Zahra.

“Anisa rindu ma….ayah…”
Jawab Anisa mencoba menahan tangisannya.

“Kayak anak kecil ajah. Malu sama Zahra”
Jawab pak Ali tertawa

Akhirnya Anisa Randy dan keluarga larut dalam pertemuan ini. Mereka bercerita dengan seru dan bahagia sampai menjelang ashar.

“Ayo kita shalat bareng Randy.”
Ajak pak Ali.

“Siap ayah”
Jawab Randy dengan posisi tangan seperti hormat.

“Ahh. Kamu sama Anisa tidak berbeda jauh. Masih seperti anak anak”
Jawab Ayah

“Hahahahahah”
Randy tertawa lepas.

***

“Anisa. Bantu mama potong kue ini ya.”

“Iya ma. Wahh.. udah lama gak makan brownies buatan mama.”

“Iya ini mama bikin brownies didalam kulkas juga ada jus melon sekalian nanti buat cemilan kita sore ini.”

“Iya mama..Zahra pasti suka. Zahra suka sekali sama melon ma.”

“Zahra atau kamu yang suka?”

“Ihhh..mama…”

***

Di teras depan.

“Taraaa…..browniesnya mas . . pak. . ”
Sapa Anisa dengan bercanda.

“Wah…..” jawab Rendy dengan senyum khasnya

“Ayoo..kita cicip dulu. Zahra..ayo ke sini.”

“Mama..mam…melon..mama..”
Celoteh zahra kegirangan.

“Besok kalian ada rencana apa?” Tanya pak Ali

“Anisa mau dirumah aja dulu mah selama 5 hari ini. Kangen banget”

“Terus kamu Randy?”

“Bantuin ayah aja deh di toko. Gak keberatan kan. Dari pada melamun dirumah Anisa juga pasti sibuk sama mama disini jawab Randy dengan melirik istrinya itu

“Ihh..mas Randy…”

“Bagus tak perlu diminta tolong dulu juga kamu udah ngerti maksud ayah ya ” jawab Ayah tanpa mendengar jawaban Anisa.

“Sudah pasti itu. Kan Randy menantu idaman ayah”

Jawab Rendy dengan bangga.

“Ihhh……bangga…” jawab Anisa

“Tentu dong ” jawab Rendy tertawa

***

Ke esokkan harinya saat semua sudah berangkat menuju ke toko. Tinggallah Zahra mama dan Anisa dirumah.

Sementara itu Zahra masih betah menonton tivi filem kartun kesayangannya. Ditemani mama dan Anisa tentunya.

“Ma. Sejak kapan ma pendengaran ayah terganggu?”

“1 bulan yang lalu. 2 minggu yang lalu ia dirawat sampai 2 minggu.”

“Karena apa ma?”

“Mama juga gak tau itu karena flu nya yang tak kunjung sembuh beberapa bulan terakhir sebelum dirawat”

“Ayah flu?”

“Iya hanya flu seperti biasa. Lama lama.pendengaran ayah berkurang badannya tiba tiba drop lemas. Saat itu mama panik sekali. Untung saja ada Sandy lewat depan rumah kita. Mama minta tolong dia antar ayah ke rumah sakit. Dokter bilang flu nya terlalu parah hingga oksigen tidak berjalan sampai ke otak jadi saraf ada yang terganggu terutama telinga. Tapi bisa sembuh kok”

“Sandy?”

“Iya..kenapa?”

“Ennggg.enggak”

“Mama tau kamu mau tau cerita tentang dia Kan?”

“Kok mama cerita gitu sih. Kan gak penting?”

“Emang sih gak penting. Tapi bagaimana pun mama ngerasa dia juga seperti anak mama juga.”

“Kok mama….”

“Sandy seperti frustasi. Hidupnya semakin kacau semenjak meninggal orang tua dia. Kakaknya marah besar sama Sandy karena tidak mau mengantar papa dan mamanya saat itu hingga kecelakaan itu terjadi.”

“Yah wajar…Sandy jahat. Sama orang tua gak mau mengurus”

“Sandy baru saja bertengkar hebat dengan istrinya saat itu. Entah saat itu Sandy kesini menemui mama.”

“Apa,,,!!”

“Ia bingung sama nasibnya sendiri sayang ”

***

Flash back

“Sudah beberapa kali mas kita mencoba tapi ternyata mas gak pernah mengerti kemauan Dinda”

“Aku mengerti kita sudah mencobanya. Hanya saja kita belum dipercayakan”

“Dipercayakan gimana maksud mas?”

“Mas gak percaya Dinda bisa ngurus anak?”

“Bukan mas yang gak percaya tapi Allah

“Kenapa kita gak mencoba lagi kerumah sakit mas kita periksa lagi ada apa permasalahan hubungan kita hingga saat ini kita belum mempunyai anak”

“Ayo kalau itu emang mau Kamu”

***

“Sandy ayo antar papa kerumah kakak mu.”

“Sekarang?”

“Iya kapan lagi?menunggu kamu punya anak..? Kelamaan”

Jawab papa yang selalu saja MEMBUAT sandy harus bersabar

“Tidak bisakah pa jangan bicara seperti itu di depan Adinda.”

“Hatimu itu kotor. Penuh dengan khayalan cinta bersama Anisa. Bagaimana kamu bisa mempunyai anak jika hidupmu selalu dengan pikiran yang Penuh”

“Mas….”
Adinda melemas mendengar pembicaraan papa mertuanya itu.

“Kamu..mencintai Anisa??? Sahabatku??”

“Itu bukan masalah yang harus kita bahas saat ini sayang.”

“Ayo papa mau berangkat sekarang kerumah kakak mu. Disana papa lebih baik. Bisa melihat anak cucu tumbuh sehat.”

“Papa bisa berangkat sendiri Kan?”

“Papa bilang kamu yang antar papa. Mengerti.?!”

Tiba tiba mama Sandy datang dengan tas yang lumayan besar

“Mama mau kemana?”

“Mama kerumah kakak mu sebentar ya . Ini papa kamu sudah rindu sama cucunya”

“Kan bisa dia kesini ma. Kenapa mama dan papa yang repot repot kesana?”

“Iya maksud mama juga gitu. Apalagi papa juga kurang memungkinkan buat menyetir mobil sendiri. Tapi itu papa kamu udah rindu sangat ”

“Iya..rindu sama cucu bukan seperti kamu gak bisa menghadirkan cucu dirumah ini.!”

“Duh papa..jangan emosian kayak gini. Papa harus kontrol emosi Papa”

jawab mama mengelus pelan punggung suaminya itu.

” Mama dan papa akan menginap disana beberapa hari. Kalian bisa berbulan madu disini tanpa ada gangguan lagi sayang.”
Jawab mama Sandy dengan berbisik pelan di telinga Sandy.

“Mama….” jawab Sandy lirih.

“Ayo siap antar mama dan ayah yah”

“Maaf mama ayah. Adinda dan mas Sandy juga harus berangkat sekarang kami ada janji saat ini”

“Owhh…betul Sandy?”

“Hmmm…betul Ma. Maafin Sandy ma gak bisa Antar. Atau tunggu beberapa jam lagi ma setelah mengurus janji ini Sandy antar mama dan ayah kerumah kakak.”

“Owh tidak perlu. Urus saja istri mandul kamu itu.” Jawab Ayah dengan bentakkan membuat Adinda bersedih dengan air mata yang tak tertahan lagi.

“Papa..sabar sayang…Adinda.maafin papa ya.” Jawab mama kecewa mendengar ucapan suaminya itu

Adinda mengangguk pelan.

“Papa sudah tua. Jadi haraf maklum sama sikapnya yang terkadang tidak terkontrol lagi ”

bisik mama pelan ke arah telinga Adinda. mencoba menenangkan hatinya

Adinda kembali mengangguk pelan.

“Sekarang ayo pa kita naik taksi aja.”
Ajak mama dengan senyuman.

Sandy dan Adinda kembali bertengkar setelah mama dan papa melaju dengan taksinya.

“Owh…Jadi Kamu ternyata mencintai Anisa?”
Kata Adinda dengan wajah menyeringai

“Jaga sikap kamu mas suamimu.!”

“Suami macam apa itu bermain dibelakang?”

“Mas gak bermain dibelakang Dinda percayalah itu hanya cinta monyet cinta masa lalu yang tidak penting!”

“Benarkah?? Cinta masa lalu yang tidak bisa dilupakan?”

“Ayolah. Kita berangkat sekarang kita urus persoalan Kita”

“Persoalan apa?”

“Tentang anak.. dinda…Kita sudah dewasa. Tidak perlu membahas sesuatu yang Tidak penting”

“Sakiitt mas. ANISA SAHABATKU MAS.!!”

“Adinda…”

“Mas jahattt….!!”

“Adinda…”

“Beberapa lama mas sudah berhubungan dengan Anisa dibelakang Adinda sudah beberapa lama mas membohongi Adinda?!”

“Adinda….”

“Jawab mas!!”

“Mas tidak ada hubungan apa apa lgi semenjak ia telah menikah. Percayalah.”

“Ini ada hubungannya yang tiba tiba Anisa menghilang setelah aku menceritakan semuanya tentang sahabat baruku Anisa kepada mas?”

“Maksud Dinda?”

“Mas menghubungi Anisa setelah tau aku sahabat dengan Anisa?”

“Iya. Hanya sedikit.”

“Mas jahat..itu jelas mas masih mencintai dia.”

“Maafin mas. Mas gak niat buat menduakan kamu Adinda. Mas sayang sama kamu….”

“Sayang sama adinda tapi cinta sama Anisa. Iya Kan?”

“Adinda…”

“Udah mas.”

“Dinda…”

Dinda beranjak dari tempat duduknya ia ke kamar kemudian mengambil pakaiannya dan menariknya di koper.

“Kamu mau kemana?”

“Dinda sudah capek disini mas”

“Dinda.. itu sudah berlalu.”

“Berlalu itu bisa kembali mas.”

“Dinda..jangan pergi tetaplah disini”

“Persoalan anak maafin Dinda mas. Dinda ubah keputusan. Dinda mau pulang kerumah Orang tua Dinda..”

“Dinda..”

Diam

Dinda melangkah cepat keluar kamar dan kedepan rumah tampak taksi telah menunggu di depan.
Sandy berusaha menghalanginya tapi hasilnya nol dinda masih bertahan dengan keputusannya untuk pulang.

10 menit taksi Adinda berlalu.
Sandy bersimpuh menangis. Baginya ia tidak mempunyai keluarga lagi yang benar benar menyayanginya.
Bahkan papa dan mamanya lebih menyukai kakaknya itu yang berhasil memberi cucu kepada mereka. Meski mama masih bersikap netral sandy merasakan mamanya menyukai kakaknya.

“Mereka orang orang yang berhasil. Mereka mampu membuat orang tua bahagia. Sedangkan aku. Aku hanyalah sampah yang tidak berguna”

Sandy melangkah gontai menuju rumah Anisa. Melihat rumah itu membuatnya sedikit tenang. Meskipun tidak ada Anisa disana. Tapi Sandy merasakan keluarga Anisa benar benar keluarga bahagia yang sangat diharapkannya.

“Sandy….” tante Mira menatapku saat aku duduk didepan rumahnya

“Ayo masuk.”

“Terima kasih tante”

Saat itu entah mengapa Sandy menumpahkan semua cerita hidupnya dengan tante Mira. Tante Mira terlihat sedih.

“Kamu harus kuat setidaknya kamu bisa terus kesini jika ada masalah masalah besar yang perlu kamu ceritakan. Tante disini akan membantu kamu.”

Jawab tante Mira saat Sandy selesai bercerita dan akan pamit pulang

“Terima kasih tante Mira”

***

Saat pulang sandy menyalakan televisi dan melihat beberapa berita sekilas tentang adanya kecelakaan beruntun.

Segera ia melihat beberapa taksi online. Hatinya tiba tiba bergetar menyebut nama mama dan papanya.

Sandy meraih teleponnya dan melakukan panggilan untuk mama dan papanya.

“Tidak aktif”

” nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi”

Sandy tampak gelisah. Ia langsung berlari kedepan dan mengambil motornya menuju kerumah tante Mira. Yahh..Hanya tante Mira saat ini yang dia punya.

Dan dia kemudian menjadi lemah tak berdaya.

***

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un

Flash back off

***

“Sekarang bagaimana hubungannya dengan Adinda ma?”
Tanya Anisa

“Mereka bercerai.”
Jawab mama singkat

“Apa!?”

“Jadi….”

“Jadi sekarang Sandy seperti orang yang tidak punya tujuan. Bahkan kakaknya juga ikut menyalakan sandy atas kematian mama dan papanya.
Jadilah Sandy saat ini seperti orang yang benar benar terpukul”
Cerita mama

“Sandy dimana ma sekarang.”

“Sekarang sandy masih dirumah papa dan mamanya. Ia sekarang ikut ayah kerja ditoko.”

“Apalagi beberapa bulan belakangan ini ayah sakit sakitan. Sandy mengurus segala keperluan toko ayah”
Sambung mama

“Bagaimana dengan pekerjaannya?”
Tanya Anisa ragu

“Dia mengundurkan diri. Sebuah keputusan yang sangat disayangkan. Padahal Sandy termasuk orang yang cerdas”
Sambung mama

“Owh..”

“Jadi sandy adalah pegawainya ayah sama seperti kak Shaleh dulu.” Ucap mama pelan

“Hmmm…alhamdulillah..”
Ucap Anisa bahagia terharu. Akhirnya ayah bisa berdamai dengan Sandy.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here