Tasbih Cinta – 18

0
78
views

Hari berganti hari bulan berganti bulan begitupun tahun pun berganti dengan tahun berikutnya.
Tapi cinta???
Cintaku takkan berganti dengan apapun.
Meskipun pernikahan aku dengan Randy baik baik saja.
Dikatakan sangat bahagia aku tidak menikmati kebahagiaan itu.
Bisa dikatakan pernikahan dengan Randy adalah bukti bakti kepada ayahku. Menikah dengan pria baik baik. Yang pantas untuk menjadi imam ku.
Hari ini tahun ke dua aku berteman dengan Adinda istrinya mantan kekasihku.

Ada rasa keingintahuan lebih kepada kehidupan rumah tangga mereka. Apskah aku gila??
Tapi aku tidak segila seperti yang kalian pikirkan aku menahannya tidak lain untuk menjaga harga diriku sebagai seorang perempuan yang terlahir dari rahim seorang ibu yang baik baik.

Beberapa hari yang lalu aku akan pulang ke sumatera bersama suamiku. Yah aku kesini kerumah mama dan ayahku 1 minggu untuk bertemu karena aku sudah benar benar rindu. Sebelum pulang ke sumatera aku meminta izin suami ku bertemu dengan Adinda sahabatku. Ya lebih tepatnya istri dari mantan kekasihku.

Aku hanya ingin melihat nya. Hanya satu kali saja. Ego ku sangat jahat saat itu. Aku tak mau mengacaukan kehidupannya. Aku takkan merebutkan nya. Aku hanya ingin menjawab pertanyaan pertanyaan dahulu dari Sandy yang belum terjawab dari mulutku.
Seperti ada rasa sesal di hati yang begitu menganggu pikiranku.
Aku datang menemui Adinda agar Sandy menatap mataku dan lihatlah masih ada rasa bahkan penuh cinta ini kepada Sandy.
Dosa???
Aku tau ini dosa. Aku berharap ia tau jawaban atas kehadiranku dengan Adinda tak perlu dengan kata kata tapi cukup dengan mata. Aku yakin Sandy mengerti.

Dan aku ingin sekali mengatakan. Meski kita jauh dan tak saling memiliki. Kita tak perlu saling menjauhi kita bisa seperti dulu saling kenal dan saling membantu. Akrab bahkan kita seperti keluarga.
Tapi kau salah.

Sepulang dari sumatera aku mendengar cerita dari adinda bahwa suaminya sekarang lebih banyak pendiam dan acuh kepada Adinda.
Yaa..allah…
Seperti aku salah dalam membuat keputusan menemui Adinda kemarin.
Akankah mereka bertengkar?

Kulihat medsos Sandy

“Akankah aku bertahan dengan segala situasi seperti Ini?”

Yaa Allah..Ini status saat malam kami bertemu?
Padahal hanya sekilas. Ternyata benar Sandy bisa membaca di mataku bahwa masih ada cinta dihatiku. Tapi tidak untuk dimiliki.

Ku harap Adinda segera berbaikan dengan sandy. Sungguh yang aku lakukan bukan untuk memisahkan mereka berdua. Sungguh aku hanya ingin menyakinkan dan menetralkan perasaanku saat itu.

Saat ini lah perasaan menyesalku baru hadir.

***

Ini sudah 1 minggu setelah pertemuan ku dengan Adinda.

Malam ini Randy suamiku ada tugas dikantor .ia akan pulang saat pukul 10 malam nanti katanya.

Ku coba meraih gawaiku mengetik sesuatu di status media sosial ku.

“Semakin mencintainya ”
Segera ku beri tag nama suamiku.

Aku terpaksa sedikit berbohong berharap Sandy membacanya dan membencinya dengan sepenuh hatiku.

Aku juga bingung dengan sikapnya saat itu. Aku menyesal telah bertemu Adinda.

Apa yang terjadi.
15 menit setelah aku membuat status itu
Sandy mengirimkan pesan melalui ‘inbox’ kepadaku.
Tanganku gemetar. Aku takut membaca penuh isi inbok itu.

Aku takut suatu saat suamiku membacanya dan marah karena telah berbohong dengan perasaanku.
Padahal bisa saja aku menghapusnya setelah membaca isi pesan itu.
Aku benar benar tidak berani membukanya.
Segera ku letakkan gawai diatas ranjang. Pikiran ku semakin kacau.
Aku segera menuju kamar anak ku. Ku lihat zahra masih tertidur nyenyak.
Ku lihat jam masih menunjukkan angka 20.30.

“Yaa Allah…”
Segera ku peluk anakku dengan rasa takut.
Aku takut.
Entahlah apa yang aku takutkan.
30 menit aku memeluk anakku tapi mataku tidak bisa terpejam sedikitpun.
Akhirnya aku kembali ke kamarku. Dan kembali meraih gawaiku.
Ku lihat inbok dengan tangan gemetar. Aku takut..
Ku klik dan pelan ku baca 1 inbok yang membuatku terpesona

“Mencintai seseorang akan memberikan kita kekuatan, dan dicintai seseorang akan memberikan kita keberanian yang besar”

Ku lihat inbok selanjutnya. Ku baca hati hati dengan perasaan takut

Ketika kamu mencintai seseorang, beranikan dirimu tuk mengungkapkan. Jika tidak, beranikan juga dirimu tuk melihat dia dicintai orang lain.
Apa kabar sayang?

Sandy telah berani menurutku. Aku tidak akan membalasnya mengingat aku dan dia masing masing telah mempunyai keluarga yang harus dijaga.

Tapi ternyata chat di inbok itu kembali menyapaku

“Aku merindukan mu. Aku merindukan senyumnya saat dahulu kita lewati bersama.”

Aku tidak bisa diam seperti ini aku harus mempertegas dia. Membalas chat nya dan tidak perlu mengungkapkan cinta dengan tulisan. Bagiku ini sangat beresiko. Cukup bicara di dalam hati.

Ku klik sesuatu untuk Sandy

“Bisakah kamu jaga hati dan diri?”

Ku ketik balasan kepada Sandy. Dan tidak lama kemudian sandy membalas inbok Anisa

“Aku masih disini mencintaimu”

Aku mendesah pelan. Jika ku balas sudah pasti chat ini akan terus berlanjut. Dan aku takkan berani bermain api seperti ini.
Ku abaikan saja inbok dari Sandy
Dan chat itu kembali menyapaku.

“Aku sudah menemukan jawaban mu semalam ini. Dari mata mu aku yakin cintamu masih untuk ku. Dan aku takkan menganggu kehidupan mu seperti janjimu dulu. Aku cuma ingin tahu isi hatimu kepadaku.
Terima kasih atas pemberian cintamu
Meski aku tak bisa bersamamu. Tapi rasa semangat itu tumbuh lagi ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Satu pintaku. Teruslah bersahabat dengan istriku dan aku.
Aku takkan merebut apapun itu. Karena kita sudah memiliki hidup masing masing.
Yang penting perasaan kita tetap satu dan sama seperti dulu

Aku terbawa perasaan saat membaca chat Sandy di inbok itu.
Tanganku segera membalas nya karena aku yakin Sandy takkan bermacam macam dengan perasaannya ini.

Semangat itu tumbuh dari diri kita sendiri. Cinta hanya mempermanis sebuah cerita.
Aku masih disini seperti dulu dan takkan berubah apapun itu untuk hubunganku dengan Adinda . Semoga kia berdua termasuk keluarga bahagia selalu.

Tidak butuh waktu lama Sandy membalas chat ku dengan jelas.

Terima kasih atas segalanya.sayangku

Aku sedikit terkejut membaca chat terakhirnya. “Sayangku” aku sudah tidak ada hubungan apa apa lagi tapi ia masih memanggil dengan kata sayang . Ini tidak pantas untukku pikirku saat itu kembali normal.
Ku lihat Sandy masih tertulis online saat itu. Aku segera keluar dari aplikasi chat yang menghubungkan chat kami berdua itu. Lalu aku beranjak dari ranjang. Tanpa minat sedikitpun membalas chat nya yang terakhir. Hatiku masih gelisah. Takut dengan apa yang akan terjadi suatu saat nanti.
Aku menuju dapur membasahi tenggorokan ku yang mulai kering. Rasa haus itu bercampur rasa gugup. Aku merasa seperti melakukan dosa yang sangat besar. Melalui lisan aktivitas chat dan status aku semakin yakin ini akan berbuah masalah. Aku berusaha menenangkan perasaanku.

Tok tok tok

Terdengar suara ketukkan pintu di depan rumahku.
Hatiku sedikit berdebar debar rasanya naluri ku berkata ini akan terjadi sesuatu yang buruk .

Aku terus berpikir yang tidak tidak. Ini masih pukul 21.30. Bukankah Randy pulang 30 menit lagi???

Tok tok tok

Hatiku semakin takut. Tiba tiba bayang Sandy melintas di pikiranku. Bayangan saat kami melakukan dosa. Dosa yang kami lakukan atas nama cinta. Dosa yang hampir menjatuhkan kami ke zina yang paling hina.

Yaa Allah….hatiku hancur mengingatnya. Air mata ini tiba tiba saja keluar dengan sendirinya. Perasaanku menjadi kalut dan kacau . Aku seperti sedang di awasi.
Yaa Allah aku benar benar takut.

Tok…tok…tok…

Kali ini ketukan pintu lebih keras.

Aku melangkah pelan ke arah ruang tamu setelah menutup rapat pintu kamar anakku.

***


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here